
Anak-anak di panti sedikit menghibur kegundahan hati Vella. Saat ini dia sedang duduk di taman dikelilingi banyak anak-anak yang sedang bermain, bercanda tawa.
"Dek kamu kenapa kok ngelamun sih," Ucap Dira yang baru bergabung duduk di kursi taman dengan Vella.
"Ah enggak kok mbak, aku nggak ngelamun. Aku tuh ngerasa seneng liat mereka semua ceria, Padahal mereka ini nggak punya orang tua. Ya selama ini aku enggak bersyukur aku masih ada ayah yang ngerawat dari kecil nggak kaya mereka harus tinggal di panti."
"Iya tapi mereka disini juga dapet banyak kasih sayang kok." Ucap Dira
"Mbak,"
"Iya kenapa dek?"
"Kalau aku bercerai sama mas Bima, berarti anak aku akan kekurangan kasih sayang dari ayahnya," Ucap Vella dengan tatapan sendu, matanya sudah berkaca-kaca ingin mengeluarkan air mata lagi.
Dira merangkul pundak adiknya itu. Dia tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Pernikahanku sama mas Bima diawali dengan kebohongan. Dia menikahiku hanya sekedar untuk menebus kesalahan neneknya. Mas Bima baik, sayang sama aku. Sampai aku nggak sadar tipu muslihatnya selama ini." Ucap Vella
Naya menangis, Dira pun meninggalkan Vella untuk menenagkan anaknya. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di sebelah Vella. Vella yang menyadari itu adalah Bima langsung berdiri hendak meninggalkan taman. Tapi Bima memegang tangannya.
"Sayang kamu boleh marah sama aku tapi dengerin penjelasan aku dulu."
"Penjelasan yang mana lagi mas? Udah cukup semuanya. Aku tahu semuanya. Udah nggak perlu kamu sandiwara lagi."
"Sandiwara? Sandiwara apa sayang? Aku nggak ngerti."
"Udahlah mas, aku nggak mau ketemu kamu lagi. Aku mau kita bercerai. Aku nggak bisa hidup dengan pria yang menyembunyikan kebenaran terpenting dalam hidupku." Ucap Vella sambil mengibaskan tangannya yang dipegang oleh Bima.
"Kamu sama kakek kamu jahat mas jahat!" Ucap Vella sambil menangis tersedu-sedu. Dia berlari kecil meninggalkan Bima. Bima terus mengejarnya. Tapi Vella mendorongnya dengan keras hingga terjatuh.
"Loh loh Vell kok nangis?" Tanya dira yang berada di dalam panti, namun Vella tidak menjawabnya malah langsung masuk kamar dan menguncinya.
Akhirnya Dira tahu apa yang membuat adiknya menangis. Karena Bima menyusulnya sampai kedalam panti.
"Ngapain kamu kesini?"
"Mbak pliss bantu aku, aku harus jelasin semuanya sama Vella."
__ADS_1
"Pergi dari sini! Kamu udah bikin adik saya menangis. Pergi.." Usir Dira
Bima pun pergi karena banyak anak kecil disana, dia tidak mau membuat keributan yang membuat anak-anak disana merasa takut.
Bima tak pulang kerumah ataupun pergi ke kantor. Dia pergi kerumah Desi untuk menemui Kiara. Tapi sampai disana ternyata Kiara sudah pindah. Bima pun meminta alamat rumah Kiara. Setelah mendapatkannya Bima langsung pergi.
"Halo beb," Ucap Desi yang menelfon Kiara untuk memberitahu kalau Bima barusan datang meminta alamatnya.
"Iya ada apa des?"
"Beb Bima barusan kesini dia nyariin elo,"
"Haa ngapain dia nyariin gue tumben banget."
"Gue nggak tau sih, tapi gue kasih alamat lo tadi. Mungkin dia hampir sampek sana."
"Oke oke thank you bestie, gue mau danda dulu daaa.."
Kiara kegirangan Bima datang kerumahnya. Dia berfikir mungkin rumah tangga Bima sudah retak sekarang dan Bima ingin kembali padanya.
"Eh Bima ada apa nih tumben kesini?"
"Nggak usah basa-basi, aku tahu kamu kan yang jadi penyebab Vella marah sama aku. Ngomong apa kamu sama dia?" Ketus Bima dengan tatapan yang menyeramkan.
"Apaan sih Bim, aku nggak tahu apa-apa. Memangnya dia marah kenapa sama kamu? Trus kenapa nyalahinnya aku?"
"Istriku pergi dari rumah dan dia minta cerai dari aku setelah ketemu sama kamu di pemakaman sore itu. Pasti kamu ngomong macem-macem sampek Vella jadi salah paham sama aku."
"Enggak Bim, Sumpah aku nggak ngomong apa-apa waktu itu. Ya mungkin emang istri kamu udah nggak cinta sama kamu. Makanya minta cerai."
"Jangan asal bicara kamu. Aku tahu otak busukmu. Kalau sampai rumah tanggaku hancur aku akan bikin perhitungan sama kamu. Jangan harap aku akan kembali sama kamu cihh. " Ucap Bima kemudian dia pergi dari sana.
Kiara malah tertawa setelah dimaki-maki oleh Bima. Dia merasa senang karena akhirnya semuanya sesuai ekspektasinya. Rencana selanjutnya dia akan memaksa Sarah untuk menjodohkannya dengan Bima. Kalau tidak, video tentang dialah dalang dari tabrak lari Arman akan disebarkan.
"Kia itu tadi Bima mantan suami kamu kan?" Tanya Ina
"Iya mah, sebentar lagi akan menjadi suami aku lagi."
__ADS_1
"Tapi dia marah-marah gitu sama kamu. Mana mungkin dia akan mau kembali sama kamu." Ucap Ina merasa ragu.
"Biar aja marah-marah, aku malah senang banget. Soalnya rumah tangganya sekarang sudah hancur." Ucap Kiara sambil tersenyum menyeringai.
...****************...
"Loh Bima kamu udah pulang dari singapur," Sapa Ferdi
"Iya pa semalem."
Bima tidak pulang kerumahnya, dia pulang kerumah orang tuanya. Dia tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa selain orang tuanya. Kakek Surya masih belum bisa dihubungi saat ini. Bima harus segera menyelesaikan masalahnya ini.
"Eh hari ini bukannya masih ada jadwal ketemu klien disana Bim, Kok kamu udah pulang aja?" Tanya Ferdi lagi,
"Aku pulang lebih cepet, maaf aku batalin jadwal itu pah. Aku lagi ada masalah dengan Vella." Jawab Bima dengan mimik sedih.
"Masalah apa Bim, kenapa istri kamu itu?" Sahut Sarah
"Dia tahu semuanya tentang kejadian 22 tahun lalu mah,"
"Oh yang kebaran itu," Ucap sarah dengan santai
"Loh mama udah tahu semuanya?" Tanya Bima terkejut mamanya juga tahu hal ini.
"Kebakaran 22 tahun lalu, kebakaran apa?" Sementara Ferdi bertanya kebingungan karena dia tidak tahu masalah ini.
"Almarhumah nenek Sukma membakar pabrik milik orang tua Vella dan itu menyebabkan mama Vella meninggal." Ucap Bima
Sarah sangat senang mendengar itu semua, dia berharap Bima segera bercerai dari Vella.
"Aku harus gimana mah pah, mana kakek Surya masih lama pulangnya. Vella minta cerai dari aku, aku nggak mau cerai apalagi dia lagi mengandung anakku."
"Hemm, gimana ya bim mama nggak bisa lakuin apa-apa."
Bima juga tidak menemukan solusi masalahnya itu dirumah orang tuanya. Satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan masalahnya hanyalah kakek Surya. Namun kakek Surya baru akan kembali ke Indonesia sekitar satu bulan lagi. Bima kembali ke rumahnya. Anis, bi inah, dan juga Nino merasa sedih karena melihat majikan mereka sedang ada masalah. Padahal sebelumnya Bima dan Vella tak pernah bertengkar, mereka saling mencintai.
Di dalam kamar terasa sepi, kini Bima hanya sendirian. Bayangan yang selama ini menghantuinya kini benar-benar terjadi. Vella meninggalkannya setelah mengetahui semuanya.
__ADS_1