Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
33


__ADS_3

Winda sudah sampai di kantor Joseph, setelah diantar oleh supir keluarga Joseph. Entah kenapa laki-laki itu tidak mengizinkannya membawa mobil sendiri.


Winda menenteng paperbag yang berisi bekal makan siang untuk Joseph. Sebenarnya Winda sudah dilarang pergi oleh Arka, karena Arka ingin bermain dengan Winda. Tapi Winda berhasil menyakinkan Arka jika nanti ia akan menemaninya main setelah pulang dari kantor.


Winda sudah berasa di depan ruangan milik Joseph, tapi tumben sekali ia tidak melihat Hani di mejanya.


“Apa mungkin Hani masih makan siang ya?” tanya Winda pada dirinya sendiri.


“Ah.”


“Joseph ahhh.”


Winda mendengarkan suara-suara aneh yang berasal dari ruangan Joseph. Suara apa tadi? Apa yang terjadi di dalam sana? Banyak pertanyaan yang muncul di benak Winda.


Hanya ada satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, yaitu melihatnya secara langsung.


Winda memutuskan untuk mengetuk pintu, tapi tidak ada respon sama sekali. Hingga Winda memberanikan diri untuk langsung membuka pintunya.


Akhirnya pintu ruangan Joseph pun terbuka sedikit. Winda pun melihat ke dalam ruangan itu untuk menjawab rasa penasarannya.


Setelah berhasil melihat apa yang terjadi di dalam, Winda membulatkan matanya. Untung saja ia sempat menutup mulutnya menggunakan tangan karena jika tidak, Winda yakin ia sudah teriak dengan keras saat ini juga.


Apa yang Winda lihat saat ini benar-benar menjijikan. Bayangkan saja, Joseph duduk di kursi kerjanya dengan seorang perempuan seksi di pangkuannya.


Apalagi suara-suara yang mereka hasilkan dari kegiatan itu. Winda bukanlah anak kecil yang tidak tau apa-apa, bahkan Winda sangat tau apa yang mereka lakukan di dalam sana.


“Kenapa dada aku sesak banget ya ngelihat mereka seperti itu.” Batin Winda.


Dan sepertinya Winda telah mengganggu aktivitas panas mereka, karena Joseph menyadari kehadirannya. Winda yang ketahuan mengintip pun gelagapan dan hendak menutup pintu.


"Nggak usah di tutup Win, kamu tunggu aja di sana!" Ucap Joseph setelah melepaskan bibirnya dari pay*dara perempuan yang berada di atas pangkuannya.


Perempuan yang berada di pangkuan Joseph pun menggeram kesal, karena Joseph menghentikan aktivitas mereka begitu saja.


“Joseph kok kamu berhenti sih?” tanya perempuan itu sambil mengelus da*a bidang milik Joseph.


“Hentikan Dilla, aku masih ada urusan yang penting.” Ucap Joseph.


“Urusan apa? Kita kan belum selesai.”


“Bukan urusan kamu, lebih baik kamu tinggalin aku dulu.” Kata Joseph.

__ADS_1


“Oke, tapi nanti kita lanjutin lagi ya.” Pinta Dilla yang hanya dijawab anggukan oleh Joseph.


Dilla bangun dari pangkuan Joseph, lalu membenarkan pakaiannya yang berantakan. Begitu juga dengan rambut pirangnya.


“Sampai jumpa.” Ucap Dilla sambil mengedipkan sebelah matanya pada Joseph.


Joseph mengabaikan Dilla dan memilih merapikan penampilannya. Dilla berbalik dan hendak pergi dari sana, tapi ia melihat perempuan di depan pintu.


“Apa mungkin gara-gara perempuan ini ya yang akhirnya Joseph ngusir aku. Ck, nggak ada cantik-cantiknya sama sekali.” Batin Dilla.


Dilla melangkahkan kaki jenjangnya keluar ruangan itu. Saat ia berpapasan dengan Winda, Dilla melirik dan memberikan tatapan meremehkan. Winda yang di berikan tatapan itu oleh Dilla hanya mengalihkan pandangannya. Setelah itu, Dilla kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi dari ruangan itu.


Winda menatap Joseph yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya. Winda meneliti penampilan laki-laki itu, dasi yang hilang entah kemana dan kemeja yang sudah kusut. Tidak lupa juga dengan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Winda, ayo masuk. Kenapa malah ngelihatin saya sih.” Kata Joseph.


Winda tidak menjawab ucapan Joseph, ia langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di sana. Kemudian mengeluarkan makan siang yang ia bawa untuk Joseph dari paper bagnya.


Joseph menyusul Winda dan duduk di sampingnya. “Kamu udah dari tadi datangnya?”


Gerakan Winda yang menata makanan di atas meja pun terhenti. Lalu Winda menatap Joseph yang ternyata juga menatapnya.


Joseph yang merasa tersindir pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kok nggak ketuk pintu?”


“Saya udah ketuk pintu berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Malah saya dengar suara aneh yang semakin keras. Ya udah saya buka saja pintunya.” Jawab Winda.


“Emm, ya udah jangan di bahas lagi. Soalnya saya udah lapar baget, ngomong-ngomong kamu masakin saya apa?” kata Joseph mengalihkan pembicaraan.


“Iya, saya tau kalau kamu udah lapar banget. Sampai-sampai makan perempuan tadi.” Lagi-lagi Winda menyindir Joseph.


“Saya masakin kamu daging balado dan capcay.” Tambah Winda.


Joseph hanya terdiam, lalu ia mengambil seporsi makanan yang sudah Winda siapkan untuknya. Joseph memasukkan satu suapan makanan ke dalam mulutnya.


“Enak banget Win, ternyata kamu pintar masak ya.” Puji Joseph.


“Biasa aja.” Sahut Winda.


“Oh iya, kamu nggak makan juga?”

__ADS_1


Winda menggelengkan kepalanya. “Tadi saya udah makan sama anak-anak.”


Joseph pun tersenyum mendengarnya.


“Oh iya, tadi saya nggak lihat Hani di mejanya.” Kata Winda.


“Oh itu, tadi saya suruh Hani buat pergi.” Sahut Joseph lalu memasukkan suapan terakhir makanannya.


“Kok gitu? Emm, pasti supaya Hani nggak dengar suara-suara aneh yang kayak tadi ya?”


“Ngaco deh kamu. Sekarang kan jam makan siang dan kebetulan dia nggak bawa bekal makan siang. Jadi, saya suruh aja dia buat makan siang di kantin.” Ujar Joseph.


Winda memicingkan matanya setelah mendengar ucapan Joseph yang kurang masuk akal. “Masa sih? Tapi kok menurut saya ucapan kamu tadi kurang masuk akal ya.”


Joseph menghembuskan nafasnya kasar. “Kurang masuk akal gimana sih? Memang itu faktanya.”


"Ya gitu deh. Masa di saat kamu lagi berbuat mesum dan kebetulan banget Hani nggak bawa bekal dan akhirnya makan di kantin. Kan saya jadi nggak percaya." Ucap Winda.


"Kamu kok jadi bahas itu lagi sih? Oh saya tau kalau kamu pasti cemburu kan?" Tanya Joseph.


"Kamu sadar nggak sih kalau dari semua ucapan kamu itu omong kosong. Hubungan ini cuma menguntungkan kamu aja. Kamu ngakuin saya sebagai pacar dan suruh saya untuk melakukan pendekatan ke anak-anak kamu. Dan di situ saya menuruti permintaan kamu, tapi kamu? Kamu malah enak-enakkan main sama perempuan lain di kantor."


Joseph hanya bisa mendengarkan ucapan Winda, sedangkan Winda mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Lalu kenapa di saat bersamaan kamu suruh saya ke sini buat nganterin makan siang. Kamu sengaja ya supaya saya bisa lihat itu semua. Mau kamu itu apa sih? Saya sudah menuruti semua kata-kata kamu, tapi kamu sama sekali nggak pernah pikirin perasaan saya."


Mata Winda berkaca-kaca, tanda ia akan menangis. Tapi Winda masih bisa menahannya, karena ia tidak mau menangis di depan laki-laki ini.


"Winda." Panggil Joseph.


Winda tak menghiraukan Joseph, ia mengambil tasnya lalu hendak pergi dari ruangan itu.


Tapi tangannya dipegang oleh Joseph. "Kamu harus dengerin penjelasan saya dulu Winda."


Winda menghempaskan tangan Joseph, lalu pergi dari sana dengan langkah tergesa-gesa. Bahkan Winda tidak menghiraukan sapaan dari Hani yang sudah berada di mejanya.


Sedangkan Joseph hanya diam saja melihat kepergian Winda. Ia harus memberikan waktu untuk Winda sendiri.


"Ah, sial. Kenapa semuanya jadi kayak gini sih." Gusar Joseph sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2