
Drrtt...Drrtt...Drrtt
"Siapa sih yang ganggu pagi-pagi gini." Gerutu Winda.
Ia meraba mejanya untuk mendapatkan handphonenya yang sedang berbunyi. Setelah mendapatkannya, Winda melihat siapa yang meneleponnya.
Dan ternyata Joseph, orang itu sudah mengganggu acara tuturnya. Winda segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo." Ucap Winda dengan suara khas seperti orang baru bangun tidur.
"Kamu baru bangun ya?"
"Nggak penting saya baru bangun atau enggak. Ngapain kamu telpon saya pagi-pagi kayak gini?" Tanya Winda.
"Saya cuma mau mengingatkan kamu, kalau kontrak yang kamu terima sudah berlalu mulai sekarang." Jawab Joseph.
"Kontrak?"
"Iya, kontrak yang baru aja kamu tanda tangani kemarin."
Winda mulai mengingatnya sekarang, ia memang menerima kontrak kemarin. Tapi itu kan dengan sebuah lembaga pendidikan yang terbesar di Jakarta. Atau jangan bilang jika lembaga itu milik...
"Hallo, Win. Kamu masih disana kan?"
"Iya, saya masih disini. Seingat saya, kemarin saya menandatangani kontrak dengan sebuah lembaga. Jangan bilang kalau lembaga itu..."
"Iya benar, yang kamu maksud lembaga itu adalah sekolah milik saya. Kamu nggak baca kontraknya baik-baik ya? Jelas-jelas di sana tertera nama sekolah Askadinata, itu artinya milik saya. Kamu nggak lupa kan kalau nama belakang saya itu Askadinata?"
Joseph benar, kemarin Winda hanya membacanya secara sekilas saja. Ia bahkan melewatkan hal terpenting, nama dari lembaga yang mengontraknya selama satu tahun ke depan.
__ADS_1
"Halo Winda, kok kamu diam lagi sih?"
"Udah, nggak usah bertele-tele. Kamu nggak mungkin kan nelpon saya cuma buat ngomong gitu."
"Kamu benar, saya juga mau bilang kalau kontraknya akan di mulai hari ini juga."
"Terus?"
"Jam 8 saya tunggu kamu di kantor saya."
"Loh kok di kantor? Bukannya harusnya di sekolah?" Tanya Winda.
"Udah kamu jangan bawel, saya tunggu kamu. Jangan sampai terlambat, karena ini hari pertama kamu kerja sama saya."
"Hmm."
Tut...Tut...Tut
Winda tak ingin berlama-lama, ia segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor Joseph. Winda tidak memilki banyak waktu, karena jam sudah menunjukkan pukul 07.20 WIB.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Winda bersiap-siap. Ia sudah selesai dengan setelan pakaian kerjanya. Winda sarapan terlebih dahulu dengan roti selai stroberi sebelum pergi ke kantor Joseph.
***
Joseph sangat senang hari ini, karena ia akan lebih sering bertemu dengan Winda. Joseph tidak tau apakah ia sudah menyukai Winda ataupun belum. Tapi yang pasti ia akan membuat Winda jatuh cinta padanya. Sebelum menjadikannya mommy dari anak-anaknya.
Sekarang ia hanya akan menunggu selama hitungan menit untuk bertemu dengan Winda. Joseph pun memilih untuk menandatangani beberapa berkas terlebih dahulu sambil menunggu Winda.
Tok...Tok...Tok
__ADS_1
"Masuk." Ucap Joseph tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di tangannya.
"Permisi, pak. Ini tamunya sudah datang." Kata Hani dengan sopan.
Joseph langsung mengalihkan pandangannya dan menatap orang yang baru saja masuk ke ruangannya.
Di dekat pintu ada sekretarisnya. Tidak lupa juga di sampingnya ada tamu yang sudah di tunggunya sejak tadi, siapa lagi kalau bukan Winda.
"Oke, kamu boleh kembali ke tempat kamu. Jangan lupa suruh office boy untuk buatin minum ya." Perintah Joseph.
"Baik, pak."
Hamil pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Joseph dan Winda. Suasana tiba-tiba menjadi bening, tidak ada yang berbicara.
Joseph kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Winda hanya bisa melongo melihat Joseph yang bahkan menganggap Winda tidak ada di sana.
Winda tidak mungkin langsung duduk begitu saja, karena Winda sadar jika ia hanya tamu di sini. Jadi dia harus menjaga sikapnya saat ini.
"Kamu ngapain diam di sana? Mau jadi patung?" Ucap Joseph.
"Terus saya harus diam dimana? Kamu nggak nawarin saya duduk." Sahut Winda.
"Kamu itu sudah dewasa, jadi nggak perlu tunggu di suruh ngelakuin apa-apa. Itu ada sofa jadi kamu bisa duduk sendiri kan. Atau perlu saya gendong kamu ke sana?" Kata Joseph.
"Tapi saya kan tamu di sini, jadi nggak sopan kalau saya langsung duduk tanpa ditawarin. Dan terima kasih atas tawaran untuk menggendong saya, tapi sayangnya saya bisa jalan sendiri." Ucap Winda sambil berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan Joseph.
Winda mendaratkan bokongnya di sofa. Ia meletakkan tasnya di atas pangkuannya untuk menutupi pahanya yang terekspos karena rok yang ia kenakannya.
Tak lama kemudian pintu ruangan kembali diketuk dan menampilkan seorang office boy yang membawa nampan berisi minuman.
__ADS_1
Bersambung...