Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
29


__ADS_3

🌻HAPPY READING🌻


Winda dan Wisnu yang mendengar suara itu pun langsung menoleh ke arah suara. Tepat di samping mereka, berdiri orang yang paling dihindari Winda untuk saat ini. Siapa lagi jika bukan Joseph.


“Kenapa dia bisa ada disini sih, mengganggu banget.” Batin Winda.


Winda masih sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Wisnu? Pria itu langsung berdiri dan memandang Joseph.


“Winda kok kamu malah diam sih? Aku tanya sama kamu kenapa kamu malah ada disini, bukannya jemput anak-anak?” ujar Joseph dengan tenangnya.


“Emm.. maaf ya sebenarnya saya yang ngajak Winda kesini. Cuma sekedar minum kopi aja kok.” Jawab Wisnu.


“Kamu ngajak istri saya ketemuan? Bahkan tanpa izin sama suaminya.” Kata Joseph.


“Saya minta maaf sama anda, saya kira Winda udah minta izin sama anda.” Ucap Wisnu.


“Tapi dia nggak minta izin sama saya. Saya tegasin sama kamu ya, tolong jauhin istri saya. Kamu nggak mau kan jadi orang ketiga dalam rumah tangga saya?” kata Joseph dengan nada sinisnya.


Winda yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya, sudah kembali kea lam sadarnya setelah mendengar ucapan Joseph. “Joseph, kamu ini apa-apaan sih. Kamu itu kan bu---”


“Udahlah Win, nanti aja kamu bicaranya di rumah. Sekarang ikut aku pulang!” Ucap Joseph yang memotong ucapan Winda.


Joseph segera menarik tangan Winda dan membawanya keluar dari cafe itu tanpa melihat ke arah Wisnu lagi.


Wisnu hanya bisa menghembuskan nafasnya dan menatap punggung mereka yang mulai menjauh.


Joseph membukakan pintu mobil tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Winda dan menyuruh perempuan itu untuk masuk.


“Kamu itu apa-apaan sih? Lepaskan tangan saya.” Kata Winda sambil mencoba melepaskan tangannya dari Joseph.


“Nggak akan. Lebih baik kamu masuk mobil sekarang.”


“Nggak, ngapain saya masuk ke mobil kamu. Saya bawa mobil sendiri jadi nggak perlu tumpangan kamu.” Ujar Winda.


“Tapi saya maunya kamu masuk ke mobil saya dan duduk dengan tenang disana. Paham?”


“Saya nggak paham dan nggak akan pernah paham. Kamu itu apa-apaan sih nggak jelas banget. Pertama, kamu tiba-tiba saja datang kesini tanpa diundang. Kedua, kamu lagi-lagi bicara kalau saya ini istri kamu. Dan yang terakhir, kamu seenaknya tarik saya kesini dan paksa saya buat masuk ke mobil kamu.” Jelas Winda.


Joseph menghembuskan nafasnya kasar. “Saya akan jelasin itu semua ke kamu supaya kamu paham. Tapi nggak disini. Memang kamu mau kita jadi tontonan banyak orang-orang disini?”


Winda mengedarkan pandangannya dan benar saja jika saat ini mereka sedang menjadi tontonan banyak orang-orang.


“Saya tetap nggak mau. Saya bakal bawa mobil sendiri.” Kata Winda.


“Masuk ke mobil saya cepat, atau kamu mau saya cium sekarang?” Ancam Joseph.


Winda membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Joseph. Bisa-bisanya ia mengancam seperti itu. Tidak-tidak. Winda tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lebih baik ia mengalah saat ini, karena sepertinya Joseph tidak main-main dengan ucapannya. Buktinya saat ini pria itu mulai mendekatkan wajahnya ke Winda.


“Baik-baik, saya masuk.”


Joseph segera menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangan Winda dengan senyum kemenangan yang terukir di bibirnya.


Setelah Winda masuk, Joseph segera menyusul masuk ke bangku pengemudi dan melajukan mobilnya.


*****


"Loh kok kita kesini?" Tanya Winda begitu sampai di sebuah sekolah.

__ADS_1


"Mau jemput anak-anak kita dong." Jawab Joseph menggoda.


"Perlu dikoreksi, anak-anak kamu bukan kita."


"Iya-iya anak-anak saya dan calon anak-anak kamu. Karena kalau kita menikah mereka akan jadi anak kamu juga."


"Kamu nggak jelas banget deh, siapa juga yang mau nikah sama kamu." Ujar Winda.


"Mendingan sekarang kamu jelasin ke saya masalah tadi." Tambah Winda.


"Saya cuma kebetulan ada di sana dan lihat kamu sama pria itu." Ucap Joseph.


"Kebetulan? Kalau kebetulan, kenapa kamu pakai bilang kalau saya ini istri kamu dan seenaknya aja bawa saya pergi?" Kesal Winda.


Joseph menaikkan sebelah alisnya. "Kamu nggak lagi pikir kalau saya sengaja ikutin kamu kan?"


Winda langsung memalingkan mukanya saat mendengar ucapan Joseph. Ia tidak akan membiarkan pria itu tau jika memang itu yang Winda pikirkan saat ini. Tidak mungkin kan jika Joseph hanya kebetulan disana.


"Kenapa malah diam? Atau saya benar ya, kalau kamu memang berharap saya ngikutin kamu."


"Jangan kepedean kamu." Ucap Winda dengan tatapan masih melihat jendela.


"Saya nggak kepedean, memang itu kenyataannya. Oh iya satu lagi, saya nggak suka lihat kamu sama pria tadi." Ujar Joseph.


Winda menoleh ke arah Joseph. "Kamu bukan siapa-siapa saya, jadi kamu nggak usah ikut campur sama urusan saya."


"Tapi itu jadi urusan saya sekarang. Karena mulai saat ini kamu jadi pacar saya. Dan saya nggak terima penolakan, terserah kamu mau ataupun enggak. Intinya mulai sekarang kita resmi pacaran." Ucap Joseph.


Winda hanya bisa membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Joseph. "Kamu tadi ngajak orang pacaran atau kasih perintah? Kesannya jadi pemaksaan banget."


"Tapi saya nggak mau jadi pacar kamu." Tolak Winda.


"Tapi saya mau kamu jadi pacar saya dan itu udah jadi keputusan saya. Nggak bisa diganggu gugat lagi, ngerti."


Joseph mendekatkan wajahnya ke wajah Winda. Joseph tersenyum melihat Winda yang memejamkan matanya, seolah bersiap dengan apa yang akan dilakukan Joseph padanya.


Awalnya Joseph hanya ingin menggoda Winda, tapi melihat bagaimana reaksi yang diberikan perempuan itu Joseph langsung saja menempelkan bibirnya pada bibir Winda.


Joseph tak hanya menempelkan bi*irnya, tatapi juga mel*matnya.


"Ini Winda nggak lagi kesambet kan ya sampai dia balas ciu*annya, aduh surga dunia nih." Batin Joseph.


Joseph tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia terus mel*mat bibir Winda tanpa henti. Hingga membuat mereka kehabisan nafas, apalagi mereka berci*man di dalam mobil.


Joseph yang melihat Winda mulai kehabisan nafas pun melepaskan bi*irnya. Lalu ibu jari Joseph mengusap secara lembut ujung bi*ir Winda.


"Ini pertama kalinya kamu balas ciu*an saya." Ucap Joseph.


Wajah Winda merona mendengar ucapan Joseph dan segera menunduk. Joseph yang melihatnya pun langsung meraih dagu Winda sehingga membuatnya menatap Joseph.


"Kamu nggak usah malu sama saya, sekarang kan kita udah pacaran jadi wajar untuk ciu*an seperti ini."


Joseph kembali mendekatkan wajahnya dan berniat mencium Winda lagi, tapi perempuan itu telah menghindar.


"Nanti ada yang lihat." Kata Winda khawatir.


Joseph tersenyum mendengar ucapan Winda, ternyata perempuan itu takut jika kepergok orang saat berci*man.

__ADS_1


"Nggak akan ada yang lihat, jadi kamu tenang aja."


Baru saja Joseph ingin menempelkan bibirnya pada bibir Winda, namun sudah terdengar suara ketukan.


"Buka pintu mobilnya!"


"Kan benar, ada yang mergokin kita." Kata Winda dengan pipi yang merona.


Joseph langsung menjauhkan wajahnya dari Winda, kemudian menekan tombol agar kunci pintu mobilnya terbuka. Sedangkan Winda masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Padahal ia sudah tidak terlalu berdekatan dengan Joseph.


Tak lama setelah itu masuk Arka dan Varrel. Mereka segera duduk di kursi belakang.


"Daddy jahat banget sih, Arka kan capek tunggu diluar dari tadi. Mana panas banget, gima---"


Ucapan Arka terpotong begitu saja setelah menyadari adanya Winda di dalam mobil daddynya. Ekspresi yang sebelumnya kesal berubah menjadi bahagia.


"Kok ada tante Winda di sini?"


Pertanyaan itu bukan dari Arka, melainkan dari Varrel.


"Hah?" Kaget Winda mendengar pertanyaan dari Varrel.


"Nggak apa-apa dong kalau pacar daddy ikut jemput kalian." Ujar Joseph.


Arka dan Varrel langsung membulatkan matanya tak percaya, begitupun dengan Winda. Ia kira Joseph tadi hanya bercanda, tapi sekarang pria itu malah memberitahukannya pada anak-anaknya.


"Jadi ternyata daddy pacaran sama mommy?" Tanya Arka dengan antusias yang langsung di jawab anggukan oleh Joseph.


"Horeee, akhirnya mommy sama daddy pacaran. Arka senang banget." Kata Arka.


Winda menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Arka yang sangat senang dengan berita ini. Tapi bagaimana dengan Varrel?


"Gimana kalau sekarang kita berempat makan-makan untuk merayakan hari jadian mommy sama daddy?" Saran Arka.


"Baiklah kita mau makan di mana?" Tanya Joseph.


"Hmm, gimana kalau di restoran favorit kita?"


"Iya, kita makan di sana aja."


Joseph baru saja akan menyalakan mobilnya, sebelum Varrel mengeluarkan suaranya.


"Enggak, Varrel nggak mau makan-makan." Ucap Varrel.


"Tuh kan benar pasti Varrel nggak suka sama aku. Bahkan makan bareng saja dia nggak mau." Batin Winda.


"Abang nggak mau makan-makan gitu?" Kata Arka.


"Bukan gitu." Ucap Varrel.


"Lalu?"


"Varrel nggak mau cuma makan-makan aja, gimana kalau kita ke mall juga? Kita kan udah lama nggak kesana dad." Ujar Varrel.


Winda dan Joseph sama-sama tak percaya dengan ucapan Varrel. Apa berarti anak itu sudah bisa menerima Winda?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2