
Satu minggu berlalu, Vella masih tetap larut dalam kesedihan. Dia masih suka menangis secara tiba-tiba. Bima selalu ada untuknya, dia selalu memeluk menenangkan istrinya.
Kabar meninggalnya ayah Vella sudah didengar oleh Kiara. Waktu itu dia ingin datang kepemakamannya untuk memperkeruh suasana disana, dengan membongkar rahasia 22 tahun lalu. Tapi saat itu Kiara sedang di garut untuk menemui kedua orangtuanya. Dia memboyong kedua orangtuanya ke Jakarta lagi. Kiara menyewa rumah untuk mereka tinggali.
"Mah pah, aku mau pergi dulu. Hari ini aku akan memulai perebutan kembali apa yang menjadi hakku." Ucap Kiara
"Iya sayang, buat kita kaya lagi. Mama bosan hidup seperti ini."
"Tapi tindakkan kamu ini kan bisa menyakiti orang lain kia, jangan sampai akhirnya kamu berurusan dengan polisi." Ucap Haris
"Tenang pah aman kok. Yaudah aku berangkat dulu." Kiara mencium punggung tangan kanan orang tuanya secara bergantian.
Kiara berencana mendatangi Vella dirumahnya, tapi Bima pasti ada dirumah. Bima akan menjadi penghalangnya untuk berbicara empat mata dengan Vella. Akhirnya dia mengurungkan niatnya, dia menunggu saat Vella sudah keluar rumah tanpa Bima.
.
.
"Sayang aku tinggal ke kantor sebentar ya, ada meeting penting yang tidak bisa aku wakilkan ataupun kulakukan dari rumah. Kamu nggak papa kan?" Ucap Bima sambil mengelus kepala istrinya yang sedang duduk merenung di kamar.
"Iya mas aku nggak papa kok." Balas Vella sambil melempar senyum tipis menatap suaminya.
"Aku janji nggak akan lama," Ucap Bima sambil mendaratkan kecupannya di kening Vella.
Sampai di kantor bima langsung masuk ruang meeting. Setengah jam kemudian meeting itu selesai tanpa kendala. Bima tak langsung pulang ke rumah. Dia ingin sedikit ngobrol penting dengan kakeknya. Mereka mengobrol di ruangan kakek Surya.
"Mau bicara apa kamu bim?" Tanya kakek Surya yang sudah duduk di kursi sofa ruangannya, Sementara Bima berdiri dengan ekspresi yang gelisah.
"Kek sampai kapan kita bisa menyembunyikan rahasia kebakaran pabrik orang tua Vella?"
"Katanya kamu sendiri yang akan mengungkapnya? Kenapa kamu begitu gelisah? Tidak ada orang lain yang tahu selain keluarga kita bim."
"Beberapa hari yang lalu ayah Arman memberikan buku harian mama rosaline. Disana tertulis jelas nama kakek dan juga masalah nenek yang mengancam menghancurkan usaha mereka, bahkan disana juga tertulis nenek mengancam akan membunuhnya agar tidak bertemu kakek lagi." Ucap Bima
"Terus Vella sudah membacanya?" Tanya kakek Surya yang sekarang sudah berdiri di dekat Bima.
__ADS_1
"Untungnya dia belum membacanya kek, Aku sobek bagian itu dan menyimpannya. Tapi hampir saja ketahuan. Untung saja Vella percaya apa yang aku katakan kalau itu hanya berkas lama kantor ini." Jawab Bima
"Yasudah, lalu apa yang kamu khawatirkan bim?"
"Saat mencari sobekan diary itu, Ayah berkata sudah memaafkan siapapun penyebab kebakaran itu. Tapi Vella tidak, dia bilang akan membenci siapapun orang yang sudah membuat mamanya meninggal." Ucap Bima dengan sedih.
Kakek Surya memegang pundaknya,
"Bima, semua ini bukan salah kamu. Vella tidak akan membencimu, Orang yang patut dia benci adalah kakek. Kamu menikah dengannya sebelum semua ini kamu ketahui. Jadi kamu tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di masa lalu. Kakek akan menjelaskan kepada Vella saat dia sudah melahirkan nanti."
Siska segera menyingkir dari tempatnya menguping, Karena Bima akan keluar dari ruangan Kakeknya. Siska sudah merekam semua percakapan Bima dan kakeknya.
"Gue harus temui sumber cuan gue, si wanita haus belaian pak Bima itu." Ucap Siska tersenyum menyeringai. Dia sudah membayangkan rekeningnya menggendut lagi karena terus mendapatkan informasi yang dibutuhkan Kiara.
Saat ini siska disuruh untuk pergi berbelanja untuk pantry kantor. Pucuk dicinta ulam pun tiba, dia bertemu dengan Kiara ditempatnya berbelanja.
"Hai mbak cantik," Sapa Siska dengan senyum ramah penuh arti itu,
"Ada apa nih, tumben lo nyapa gue kaya gitu, Dulu-dulu aja lo suka hina-hina gue." Balas Kiara dengan ketus.
"Hmm.. Tapi gue nggak bisa kalau lo minta 20juta lagi. Bangkrut lah gue." Keluh Kiara yang ingin tahu tapi tak mau rugi banyak.
"Kali ini 5 juta aja deh, gimana?"
"Oke, tapi awas kalau ini gak penting."
Kiara langsung mentransfer uang sejumlah 5 juta ke rekening Siska. Setelah itu Siska memperlihatkan video dan menjelaskan semuanya. Kiara tersenyum senang, karena informasi kali ini lebih membantunya menghancurkan rumah tangga Bima dan Vella. Setelah selesai urusan dengan Kiara, Siska pergi.
"Oh bagus, gue bisa bikin alibi kalau Bima menikahi Vella hanya karena rasa kasihan karena Neneknya yang sudah membuat mamanya meninggal. Astaga kenapa nggak dari dulu aja sih gue tahu ini semua." Kiara benar-benar merasa senang.
...****************...
Setiap hari Vella mendatangi makam ayah tercintanya. Ini adalah hari ke-15 semenjak kematian Arman. Makamnya selalu penuh dengan tumpukan bunga harum yang dibawa Vella. Makam Ayah dan ibu Vella disatukan atas permintaan Vella.
Vella datang sendirian karena kemarin Bima pergi ke singapura untuk bisnisnya. Tapi besok dia sudah pulang. Harusnya setelah dari singapura, Bima ke jepang bersama Kakek surya. Tapi dia tak tega kalau harus meninggalkan istrinya lama di negeri orang. Saat ini istrinya masih membutuhkan dampingannya. Karena sedih yang teramat dalam setelah cinta pertamanya meninggal.
__ADS_1
Vella masih tetap menangis saat mengunjungi makam Ayahnya, tapi dia buru-buru menghapusnya. Dia tak ingin disana orang tuanya juga sedih melihatnya terus menangis.
"Mama, sekarang Ayah udah nemenin mama. Semoga kalian bahagia disana. Aku janji akan selalu jadi anak yang baik. Aku janji nggak akan menangis lagi. Oh iya sebentar lagi aku jadi ibu. Harusnya kalian masih ada disini." Ucap Vella sembari mengusap nisan Ayah dan Ibunya.
Vella yang sudah hamil besar kesulitan untuk berdiri setelah duduk di kursi rendah seperti berjongkok. Tiba-tiba seseorang memegang tangannya, membantunya berdiri. Sosok wanita yang membantunya berdiri itu tersenyum kepadanya.
"Mbak Kiara,"
"Ya, ini aku. Aku kesini mau ucapin bela sungkawa sama kamu. Maaf ya kalau aku telat. Jangan sedih berlarut-larut ya, Nggak baik buat ibu hamil." Ucap Kiara dengan sok perhatian padahal kedatangannya kali ini ingin memambah kesedihan Vella.
"Kok aneh mbak kiara kenapa ramah begini, padahal kemarin-kemarin dia jutek sama aku." Ucap Vella dalam benakknya.
"Oke nggak usah basa-basi lagi ya, cukup manis-manisnya. Gue kesini cuma mau ngasih tahu sebagai sesama perempuan." Ucap Kiara mulai menunjukkan sifat aslinya lagi.
"Maksud mbak apa?" Tanya Vella dengan wajah bingung.
"Bima itu nggak cinta sama lo, dia itu menikah sama lo cuma karena rasa kasihan." Ucap Kiara
"Mbak saya tahu mbak kiara belum move on dari mas Bima. Tapi saya mohon jangan hancurin rumah tangga saya dengan omong kosong seperti itu. Saya dan mas Bima itu saling mencintai." Ucap Vella yang langsung beranjak pergi meninggalkan Kiara. Dia tak mau menambah beban fikirannya jika terus mengobrol dengan Kiara.
"Penyebab kebakaran pabrik milik Ayah lo 22 tahun lalu itu adalah Nenek sukma, istri dari Kakek surya argantara. Bima menikahi lo cuma karena rasa bersalah Kakeknya, Karena istrinya sudah membuat ibu lo meninggal."
Vella langsung berhenti melangkah dan kembali menoleh kearah Kiara. Dia menatap Kiara dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Kakek Surya menyuruh Bima menikahi lo atas wasiat istrinya sebelum meninggal. Nenek sukma mau kakek Surya menebuskan semua kesalahnnya kepada keluarga ibu lo. Dan akhirnya dia menemukan Keluarganya, yaitu lo dan ayah lo. Itulah kenapa Kakek Surya dan juga Bima langsung bersikap baik sejak pertama ketemu lo. Mereka menghujani lo dengan harta kekayaan untuk menebus kesalahan nenek Sukma yang udah bikin ibu lo meninggal." Ucap Kiara dengan memutari Vella yang berdiri diam mematung.
Kiara juga menunjukkan video sebagai bukti. Vella menitikkan air matanya lagi tidak mempercayai ini semua.
"Informasi terkahir dari gue, lo pasti cari sobekan diary ibu lo kan? Bima yang sobek diary itu. Dia menyimpannya dirumah. Cari aja, lo akan nemuin titik terang disana." Ucap Kiara
"Gue rasa udah cukup ya, Semoga ini semua bisa ngebuka pikiran lo untuk ninggalin Bima. Karena keluarganya yang udah bunuh ibu lo." Bisik Kiara tepat di telinga Vella. Kemudian dia pergi meninggalkan Vella sendiri lagi disana.
Vella jatuh bersimpuh di sebelah makam kedua orang tuanya. Dia menangis dengan keras tak mempercayai kenyataan ini.
Nino yang mendengar tangisan Vella segera berlari menyusulnya. Dia melihat majikannya menangis histeris tapi dengan tatapan yang kosong.
__ADS_1
"Nona ... nona kenapa, nona mari berdiri kita pulang," Nino mencoba membantu Vella berdiri. Dia memapahnya hingga masuk ke dalam mobil.