
Winda dan Joseph sudah sampai di kantor. Setelah tadi mereka mengantar Varrel dan Arka ke sekolah. Joseph langsung saja duduk di kursi kerjanya lalu melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Winda? Dia hanya duduk manis di sofa.
"Joseph." Panggil Winda.
Joseph pun mendongak dan melihat ke arah Winda.
"Kenapa saya nggak dibolehin pulang aja sih? Kenapa harus tungguin kamu disini? Memangnya kamu nggak tau ya, kalau saya sangat bosan disini." Ucap Winda kesal.
"Kamu kalau mau ngomong bisa satu-satu nggak? Main nyerocos aja kaya rel kereta api." Jawab Joseph.
"Habisnya saya kesal sama kamu. Udah biarkan saya pulang ya." Ucap Winda sambil memelas.
"Udah itu muka nggak usah digituin. Karena itu nggak mempan buat saya. Memang kenapa sih kamu pengen banget pulang?" Kata Joseph.
"Saya kan udah bilang kalau saya bosan. Lagian saya merasa kayak pajangan tau nggak." Ujar Winda.
"Kamu itu bukan pajangan, tapi calon istri saya dan calon ibu untuk anak-anak saya. Lagian kamu mau kalau pacar kamu di godain sama cabe-cabean kantor?" Kata Joseph sambil tersenyum.
"Lagi-lagi masalah pacar yang di bahas. Saya kan udah bilang kalau saya itu nggak mau jadi pacar kamu. Dan masalah kamu mau digodain atau enggak, itu bukan urusan saya." Ujar Winda.
Joseph menghembuskan nafasnya kasar. "Saya kan udah bilang sama kamu, kalau kamu tetap akan menjadi pacar saya. Udahlah, sekarang berhenti minta pulang! Selain pacar kamu, saya juga bos kamu. Jadi ikuti perintah saya! Duduk manis di sana!"
Joseph kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, sedangkan Winda hanya diam saja.
"Sabar Winda, sabar. Ini ujian buat kamu." Kata Winda pada dirinya sendiri.
"Kamu kok ngomong sendiri sih?" Tanya Joseph.
"Udah kamu diam aja, nggak usah banyak tanya."
Joseph mengendikan bahunya. Winda yang mulai bosan pun memainkan ponselnya.
********
"Ayo!"
"Ayo kemana?" Tanya Winda.
"Saya tanya sekarang jam berapa?"
"Kok malah tanya jam sih?" Ucap Winda sambil jam tangannya. "Jam 11.00."
"Ya ampun, jam pulang anak-anak." Pekik Winda.
"Nggak usah pakai teriak kali, ayo cepat!" Ujar Joseph sambil berjalan keluar ruangan.
Winda pun bangkit dari duduknya, lalu mengikuti langkah Joseph. "Saya aja yang jemput anak-anak, kamu di sini aja kerja."
Joseph menoleh sebentar ke Winda. "Kenapa saya harus diam di sini? Kita akan jemputnya bareng-bareng."
"Ya sudah, ayo." Ucap Winda sambil meninggalkan Joseph.
**********
Joseph dan Winda baru saja turun dari mobil, tapi sudah disambut oleh muka cemberut Varrel dan Arka.
"Daddy sama mommy kok telat sih jemputnya?" Tanya Arka.
__ADS_1
"Maaf ya nak, soalnya tadi macet." Jawab Joseph.
"Ya udah, ayo masuk! Kasihan kalian panas-panasan." Ajak Winda.
"Ih, mommy perhatian banget deh sama kita. Iya kan bang? Ucap Arka.
"Biasa aja." Sahut Varrel lalu masuk ke dalam mobil.
"Maafin abang ya mom. Biasa lagi bad mood." Ujar Arka.
Winda mengelus puncak kepala Arka. "Iya nggak apa-apa kok."
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka sampai di rumah.
Varrel dan Arka langsung masuk ke dalam setelah bersalaman dengan Joseph. Winda baru saja akan ke luar dari mobil, tapi Joseph lebih dulu memegang tangannya.
"Sekarang kamu jagain Varrel dan Arka, kasih mereka perhatian selayaknya seorang ibu. Karena kamu kan calon mommynya." Ucap Joseph yang hanya di jawab dengan deheman oleh Winda.
"Terus nanti kalau jam makan siang, jangan lupa ke kantor saya." Kata Joseph.
"Ke kantor? Ngapain?" Tanya Winda.
"Ya bawain saya makan siang lah."
"Nggak beli aja?"
"Nggak lah. Saya maunya kamu yang bawain makan, kalau bisa kamu yang masak, kalau kamu nggak bisa masak suruh aja pelayan." Ucap Joseph dengan entengnya.
"Ya baiklah."
"Iya bawel banget sih." Gerutu Winda.
Joseph mendekatkan dirinya pada Winda.
Cup
Satu kecupan berhasil ia daratkan di kening Winda.
"Kalau gitu saya turun dulu." Pamit Winda.
Winda langsung masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Ia menyembunyikan wajahnya yang merah merona dari Joseph. Apalagi setelah Joseph mencium keningnya, membuat Winda deg-dengan.
Winda langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sepertinya sekarang ia akan membuat banyak makanan, karena mengingat bukan buat Winda saja melainkan Joseph dan anak-anaknya.
Ini pertama kalinya Winda masuk ke dapur milik Joseph. Tak kalah seperti ruangan lainnya, dapur ini pun sangat mewah.
Winda bertemu dengan beberapa pelayan di sana. Mungkin mereka sedang menyiapkan makan siang, tapi apa perlu sebanyak itu pelayan yang harus ikut menyiapkannya? Begitu pikir Winda.
Kehadiran Winda di sadari oleh para pelayan itu, kemudian mereka tersenyum ramah melihat Winda yang langsung di balas senyuman juga.
"Mbak Winda ada perlu apa? Kenapa ke dapur? Kalau ada perlu, mbak bisa panggil kami." Ucap Bi Suri yang merupakan kepala pelayan.
Winda tersenyum kikuk. "Emm, saya mau buat makan siang untuk anak-anak."
"Mbak Winda tenang saja, biar kami yang siapkan. Jadi mbak Winda nggak usah repot-repot." Sahut Bi Suri.
"Enggak repot kok Bi, ini juga perintah dari Joseph."
__ADS_1
"Oh dari bapak. Ya udah silahkan, kami juga akan bantu mbak Winda." Kata Bi Suri.
"Kalau boleh tau mbak Winda mau masak apa?" Tanya pelayan yang seumuran dengan Winda.
"Saya sih belum tau, kira-kira makanan kesukaan mereka apa ya?" Ujar Winda.
"Kalau den Arka, den Varrel, dan pak Joseph suka makanan yang pedas. Tapi untuk den Varrel, dia nggak boleh makan yang berbau dengan seafood." Jelas Bi Suri.
Winda mangut-mangut mendengar penjelasan dari Bi Suri. "Jadi Varrel alergi seafood ya?"
"Iya."
"Kalau gitu saya masak daging balado dan capcay aja deh Bi. Oh iya Bi, jangan panggil saya mbak ya. Panggil saya Winda aja." Sahut Winda.
"Baik mbak, eh Winda." Sahut Bi Suri.
Winda pun mulai memasak dengan sedikit bantuan pelayan yang ada di sana.
Saat jam makan siang, Winda ingin memanggil Varrel dan Arka. Tapi mereka sudah lebih dulu berada di ruang makan.
"Wah, ini mommy yang masak semuanya?" Seru Arka.
"Iya, semoga kalian suka ya."
"Pasti dong. Kalau mommy yang masak, apa aja Arka pasti suka kok." Kata Arka.
"Kalau tante Winda masak batu kerikil berarti kamu suka dong?" Ucap Varrel.
"Ya enggak dong bang, masa Arka makan batu kerikil."
"Katanya kamu suka apa aja." Cibir Varrel.
"Mom, lihat bang Varrel. Masa ngeledek Arka terus sih." Adu Arka pada Winda.
"Dasar tukang ngadu."
"Biarin." Ujar Arka.
"Udah-udah, lebih baik kita makan siang." Lerai Winda.
Kemudian Winda mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Arka, lalu juga untuknya sendiri. Sedangkan untuk Varrel? Winda tidak berani mengambilkannya. Seperti waktu itu saat Arka menyuruhnya, Varrel malah menolak.
Arka langsung melahap makanannya setelah berdoa. Begitu pun dengan Winda, tapi suara Varrel menghentikannya.
"Jadi cuma Arka aja yang di ambilin?" Tanya Varrel.
"Hah?"
"Arka aja nih yang di ambilin makanannya, Varrel kok enggak?" Kata Varrel.
"Hah?"
"Tante kok malah hah-hah aja sih. Tolong ambilin Varrel juga dong." Ujar Varrel.
Winda langsung menganggukan kepalanya dan mengambilkan makanan untuk Varrel.
Bersambung...
__ADS_1