
Seorang wanita berhijab tengah menangis terisak di dalam kamarnya. Dia baru saja bertengkar dengan suaminya lagi. Wanita ini adalah sifa. Davin berucap akan menceraikannya.
"Ya allah kenapa engkau mengujiku se perti ini, Ku pasrahkan semua kepadaMu." Ucap Sifa dalam tangisnya.
"Nggak usah nangis lagi." Ketus Davin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nanti mama kamu itu nyalahin aku lagi karena bikin kamu nangi, nyakitin kamu." Ucap Davin
"Mas kamu nggak sadar emangnya udah nyakitin perasaan aku dengan kata-katamu tadi?"
"Hey Sifa aku menyakitimu? Kamu yang lebih menyakiti aku. Selama ini aku nggak pernah cinta sama kamu. Kamu itu bukan sosok istri yang aku inginkan!"
"Mas aku akan berusaha jadi seperti apa yang kamu mau, aku nggak mau kita pisah. Perceraian itu dibenci Allah." Ucap Sifa
"Nggak usah bawa nama Allah, Disini aku nggak bahagia aku nggak puas sama kamu. Kamu jangan halangi aku untuk mendapatkan istri yang aku inginkan. Aku akan tetap menceraikan kamu meskipun semua orang menentangnya." Ucap Davin, kemudian dia pergi dari sana.
Sifa kembali terisak mendengar perkataan suaminya lagi. Tapi dia langsung menghapus air matanya. Air mata tidak membuat suaminya iba padanya. Dia sudah pasrah, kalau memang berjodoh pasti akan diberi jalan untuk tetap bersatu nantinya.
.
.
Satu minggu sudah Bima tidak bertemu dengan Vella. Dia sengaja memberikan ruang untuk Vella, siapa tahu dia akan bisa berfikir jernih tentang masalah ini.
Hari ini Bima kembali mendatangi panti untuk menemui Vella, dia berharap amarahnya sudah mereda. Tapi ternyata Vella sudah pulang kerumah ayahnya. Bima pun langsung menuju kesana.
Tokk... tokk... tokk
"Siapa tuh mbak dateng pagi-pagi gini?"
"Mungkin yang pesen roti ini, tapi belum siap aduh. Kamu bukain pintunya ya vell, tangan mbak terlanjur menopping ini." Ucap Dira
Vella pun melangkah membukakan pintu. Tapi ternyata yang datang Bima. Vella buru-buru menutup pintunya lagi.
"Sayang sayang tunggu," Bima menahan pintunya.
"Apalagi mas, buat apa mas kesini?"
__ADS_1
"Sayang aku kangen sama kamu, aku juga kangen calon anak kita. Aku minta maaf udah nggak jujur sama kamu. Tapi ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Bima
"Nggak seperti yang aku pikirkan apa?"
"Aku itu juga baru tahu masalah ini sayang."
"Ahaha, omong kosong mas. Kamu ngapain sampek nyobek diary mama trus disembunyiin dari aku kalau bukan untuk menutupi semua misi kamu dengan kakek. Aku tahu dari awal kamu menikah sama aku cuma karena ingin menebus kesalahan."
"Enggak gitu sayang,"
"Udahlah mas pergi dari sini," Kemudian Vella masuk kedalam mengambil dompetnya.
"Dan ini semua aku kembalikan sama kamu." Ucap Vella sambil memberikan dompet dan juga cincin pernikahan yang dia pakai.
"Hey sayang kenapa? Maksudnya apa?"
"Aku akan mengurus perceraian kita, Dan satu lagi aku gamau anakku punya ayah pembohong besar kaya kamu."
Braakk.... Vella menutup pintu dengan keras. Bima menggedor-nggedor pintu itu.
"Pergi mas pergi! Aku lihat kamu lagi! Kamu dan semua keluarga kamu jahat mas!" Teriak Vella sambil terisak tangisnya. Ketika bertemu Bima dia selalu terbayang bagaimana menderitanya mamanya saat itu. Terbakar secara hidup-hidup.
Ardan pun keluar dari kamar dengan menggendong naya ketika mendengar Vella berteriak. Vella tidak bisa menjawab apa-apa hatinya terasa sakit. Sebenarnya dia tidak ingin hal seperti ini terjadi. Dia begitu mencintai suaminya dengan tulus. Tapi apa yang sudah ditutupi oleh suaminya itu juga akhirnya menutupi hati Vella untuk memberi maaf padanya.
Dira menengok dari jendela, Dia melihat mobil Bima baru saja pergi dari halaman rumahnya. Dia memeluk Vella untuk menenangkannya.
"Papa ate vella nangis lagi," Ucap naya
"Iya sayang tante vella lagi sedih. Yuk kita mandi aja yuk." Ucap Ardan
.
.
.
Dalam perjalanan perasaan Bima berkecamuk. Istrinya sudah mantap ingin bercerai darinya. Vella sama sekali tidak percaya dengan perkataanya lagi. Dia bingung, emosi, dan juga sedih. Kenapa masalah ini berimbas padanya. Bima menyesal tidak mengatakan tentang ini dari awal.
__ADS_1
"Aaaargg... Bodoh aku bodoh! Harusnya aku cerita dari awal. Kini sekarang Vella salah paham sama aku. Aku nggak mau cerai darinya, apalagi berpisah dengan anakku. Enggak!"
Bima melajukan mobilnya dengan kencang karena sedang emosi. Sampai dia hampir menabrak seorang pemotor yang sedang minggir di jalan. Tapi Bima tidak berhenti dia tetap melajukan mobilnya semakin kencang. Sampai pada pertigaan ada sebuah truk yang juga melaju dengan cepat. Bima menghindari agar tidak tertabrak, dia mengerem keluar dari jalan dan menabrak pembatas jalan hingga akhirnya jatuh ke sungai.
"Astaga kecelakaan... ada kecelakaan." Teriak orang-orang disana segera berkumpul. Mereka melihat mobil yang dikendarai Bima ringsek. Untungnya air di sungai sedang surut bisa dikatakan hampir kering. Jadi tidak menenggelamkan mobil Bima. Namun kecelakaan itu membuat Bima terluka sangat parah.
Tak lama kemudian polisi dan tim medis datang ke tkp. Wartawan juga banyak yang berdatangan untuk meliput berita itu. Bima dievakuasi dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.
Belum mengetahui anaknya kecelakaan, Sarah saat ini mendatangi rumah Vella. Dia berniat memperkeruh masalah Bima dan Vella.
"Ada apa mama kesini?" Tanya Vella.
"Udah cukup ya basa-basinya, sebelumnya kamu jangan GR ya. Saya kesini bukan untuk meminta kamu kembali pada Bima. Saya malah seneng kalau kalian bercerai. Semua yang ada dalam pikiranmu itu benar. Bima memang menikahimu hanya untuk menebus kesalahan neneknya." Ucap Sarah
"Yasudahlah saya gamau lama-lama disini. Silahkan urus perceraian secepatnya. Dan satu lagi, jangan berharap anak itu dapat nama keluarga saya." Imbuh Sarah yang kemudian pergi dari sana.
Vella terdiam, dia semakin membenci keluarga Bima. Mereka semua jahat menurutnya. Mereka mempermainkan perasaan Vella sekeluarga dengan uang.
Setelah dari rumah Vella, Sarah berniat shopping untuk merayakan perpisahan anaknya itu. Tapi saat sampai di depan mall dia mendapatkan telfon dari rumah sakit tempat Bima dirawat.
"Apa?! Anak saya kecelakaan dan sekarang sedang kritis? Ya ya saya kesana sekarang." Sarah kembali lagi ke mobil untuk menuju rumah sakit.
"Antar saya kerumah sakit harapan kasih sekarang." Ucap Sarah pada sopirnya.
Sarah juga langsung menelfon suaminya untuk mengabari keadaan saat ini.
"Halo pah, pah gawat pah."
"Halo mah, gawat kenapa mah? Ada apa?"
"Pah Bima kecelakaan."
"Astaga, trus dimana dia sekarang?"
"Di rumah sakit harapan kasih, mama ini lagi menuju kesana."
"Yaudah yaudah mama tenang, papa nyusul kesana sekarang."
__ADS_1
Bima masih setengah sadar ketika dilarikan ke rumah sakit kata-kata yang terucap sebelum dia tak sadarkan diri adalah nama Vella.