
Keesokan harinya,
Winda benar-benar sangat cemas saat ini. Bagaimana tidak? Tiba-tiba dia di panggil oleh kepala sekolah, Pak Barno. Biasanya ia tidak pernah di panggil seperti ini.
Apakah Winda sudah membuat kesalahan? Ataukah ada salah satu orang tua murid yang tidak menyukainya? Atau cara mengajarnya ada yang salah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar di kepalanya. Winda mencoba menebak penyebab ia di panggil. Ruangan kepala sekolah sudah ada di depan mata Winda. Tapi ia belum juga masuk ke dalam ruangan itu.
Sudah 2 menit Winda hanya berdiri di depan ruangan tersebut. Mau tidak mau akhirnya Winda memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok
"Masuk." Sahut kepala sekolah itu dari dalam sana.
Winda memegang gagang pintu dan masuk ke dalam. Ia melihat pak Barno sedang duduk di kursi. Lalu ia melangkah mendekati atasannya itu.
"Silahkan duduk Bu." Perintah Pak Barno.
Winda pun duduk di kursi yang ada di hadapannya Pak Barno.
"Mm... ada apa ya pak, bapak panggil saya kesini." Tanya Winda penasaran.
"Ada sesuatu yang harus saya kasih tau ke Ibu." Jawab pak Barno.
"Sesuatu?"
"Iya, kalau begitu silahkan Ibu baca dulu." Perintah Pak Barno sambil memberikan sebuah map.
Winda mengambil map tersebut dan membacanya.
"Saya dikontrak selama satu tahun?" Tanya Winda.
"Iya." Sahut pak Barno.
"Tapi kok saya pak?"
"Kenapa? Kamu keberatan?" Ucap Pak Barno.
"Bukan begitu, pak. Tapi di sekolah ini kan banyak guru yang lebih senior dari saya dan pastinya banyak pengalaman dari saya pak." Kata Winda.
"Kamu benar, tapi yang saya lihat, murid-murid lebih cepat mengerti pelajaran yang kamu ajarkan. Maka dari itu, saya meminta kamu yang mengambil di lembaga itu." Ujar pak Barno.
"Baiklah, pak. Saya terima kontraknya." Ucap Winda dengan pasrah.
"Kalau begitu Ibu bisa balik ke ruangan." Kata pak Barno.
Winda menganggukan kepalanya dan segera keluar dari sana menuju ke ruangannya.
***
Joseph tersenyum puas saat ini. Tadi pak Barno meneleponnya dan mengatakan jika Winda sudah menandatangani kontrak itu.
Sebentar lagi Winda tidak akan bisa menjauhkannya, karena perempuan itu sudah terikat kontrak dengan lembaganya selama satu tahun.
Drrt.. Drrt.. Drrt
Handphone milik Joseph berbunyi. Tertera nama guru anaknya di sekolah, ia pun segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Joseph." Ucap Chori yang merupakan wali kelas anaknya Varrel.
"Iya, selamat pagi. Ada apa ya bu?" Tanya Joseph.
"Saya hanya mau memberitahukan pada bapak, jika saat ini Varrel sedang ada di ruang guru bersama saya. Dia sedang ada dalam masalah pak."
"Masalah apa?"
"Nanti saya jelaskan, pak. Apa bapak bisa ke sini sekarang?" Tanya Chori.
"Oke. Sekarang saya ke sana." Jawab Joseph.
Joseph langsung mematikan sambungan telponnya. Ia segera meraih kunci mobilnya yang berada di meja dan pergi menuju sekolah anaknya.
Joseph tak habis pikir sekarang, apa yang membuat ia di panggil. Apakah Varrel membuat masalah yang besar? Tapi seingatnya Varrel bukanlah anak yang suka mencari masalah. Ia bahkan tidak pernah begini sebelumnya.
Yang pasti Joseph akan mendapatkan jawabannya setelah ia sampai di sekolah.
***
Sesampainya di sekolah,
Joseph sudah sampai di sekolah tempat anaknya belajar. Ia segera menuju ke ruang guru. Joseph berjalan dengan gagahnya dan mempunyai wajah yang tampan. Tak sedikit guru yang melihatnya dengan tatapan memuja. Siapa yang tak kenal dengan Joseph? Pengusaha tampan dan muda yang sukses.
Joseph sudah berada di depan ruang guru, lalu ia membuka pintu ruangan tersebut. Semua orang yang ada di sana langsung menoleh pada Joseph. Joseph berjalan mendekati meja Chori. Ia melihat ada putra sulungnya duduk di sana sambil menundukkan kepalanya. Tidak lupa juga putranya bungsunya, Arka ada di sana sedang menangis sesegukkan.
Sekarang Joseph semakin bingung. Apa yang sudah Varrel perbuat dan apa yang menyebabkan Arka menangis?
"Daddy." Ujar Arka saat menyadari kehadiran Joseph.
"Udah, sekarang berhenti nangisnya. Daddy kan udah disini." Ucap Joseph mencoba untuk menenangkan putranya.
Tangis Arka mulai mereda, tapi ia tidak mau turun dari gendongan daddynya. Joseph yang paham akan keinginan Arka hanya membiarkannya. Ia menarik kursi yang ada di samping Varrel dan duduk di sana dengan Arka yang sekarang berada di pangkuannya.
"Sekarang beritahu saya apa yang terjadi Bu Chori." Kata Joseph.
Chori berdehem untuk menetralkan pikirannya. Ia benar-benar kagum dengan Joseph. Di balik sikapnya yang tegas dan dingin di luar sana, tapi ia sangat menyayangi anak-anaknya.
"Begini, pak. Anak bapak Varrel sudah berkelahi dengan anak kelas empat. Dan ia sudah menyebabkan anak itu masuk rumah sakit." Ujar Chori.
"Berkelahi? Tapi setahu saya anak saya tidak akan melakukan itu." Kata Joseph.
"Tapi itu kenyataannya, pak. Bapak bisa tanya sendiri ke Varrel. Atau Arka, karena dia juga ada saat Varrel berkelahi." Ucap Chori.
Joseph langsung mengalihkan pandangannya ke Varrel yang masih menunduk.
"Benar begitu Varrel?" Tanya Joseph yang langsung di jawab anggukan oleh Varrel.
Joseph menghembuskan nafasnya kasar. "Kenapa kamu berkelahi? Daddy nggak pernah ngajarin kamu buat kayak gitu."
Varrel hanya diam tak menjawab. Arka yang melihat itu langsung melepaskan pelukannya dan turun dari pangkuan Joseph.
"Ini bukan salah bang Varrel, dad. Bang Varrel cuma mau belain Arka." Bela Arka sambil berdiri di samping abangnya.
"Bela kamu?" Ucap Joseph bingung.
"Iya, dad. Tadi ada kakak kelas yang ngebully Arka. Dia bilang kalau Arka sama bang Varrel itu anak pembawa sial. Makanya kita nggak punya mommy." Ujar Arka.
__ADS_1
Joseph tak percaya dengan apa yang di ucapkan anaknya. Jadi ada orang yang berani membully anak-anaknya.
"Iya, dad. Varrel nggak terima dia bilang gitu, makanya kita jadinya berkelahi." Tambah Varrel.
"Ibu dengar sendiri kan? Jadi anak saya tidak bersalah." Kata Joseph.
"Tapi Varrel tetap harus di skors, pak. Bagaimana pun juga ia sudah membuat kakak kelasnya masuk rumah sakit. Dia juga harus meminta maaf atas apa yang di perbuat." Ujar Chori.
"Anak saya nggak salah, kenapa dia harus minta maaf?" Ucap Joseph dingin.
"Tapi itu sudah menjadi konsekuensinya, pak. Mungkin anak itu memang bersalah dengan membully anak bapak. Tapi anak bapak juga bersalah karena bermain kekerasan." Jelas Chori.
"Baiklah, nanti saya akan minta maaf. Kalau begitu saya permisi. Ayo anak-anak!" Ucap Joseph.
Sebenarnya Joseph sama sekali tidak ada niatan untuk meminta maaf. Lagian menurutnya Varrel sama sekali tidak bersalah. Jika ia menjadi Varrel, ia juga akan melakukan hal yang sama. Berani-beraninya anak itu bilang jika anak-anaknya pembawa sial.
Tapi ia harus melakukan ini, ia tidak ingin ada orang yang akan mencap anaknya sebagai anak yang tidak baik.
***
Joseph dan kedua anaknya sudah sampai di rumahnya. Seharusnya yang pulang saat ini hanya ia dan Varrel, tapi Arka merengek ingin ikut. Dan Joseph tidak bisa menolak keinginan anaknya yang mengancam akan terus menangis jika tidak diajak pulang.
Arka sudah masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Varrel. Justru Joseph harus balik ke kantor saat ini, tapi ia memilih untuk menemui putranya terlebih dahulu. Apalagi ia juga tadi melihat wajah Varrel ada sedikit luka.
Sebenarnya Joseph sudah akan memanggil dokter pribadinya, tapi anaknya itu melarang. Dia mengatakan jika lukanya itu tidak terlalu parah, jadi bisa diobati sendiri.
Anaknya yang satu itu memang memiliki sikap yang dewasa, yang tidak sesuai dengan usianya saat ini.
Joseph membuka pintu kamar Varrel dan melihat Varrel yang sudah berganti pakaian. Joseph menghampiri putranya itu dan mengambil kotak obat yang ada di laci. Ia duduk di dekat Varrel dan mengobati lukanya dengan telaten.
"Aduh, dad. Pelan-pelan dong." Protes Varrel.
"Ini juga udah pelan-pelan kok." Sahut Joseph.
"Tapi sakit dad." Ujar Varrel.
"Sekarang aja kamu bilang sakit, terus tadi waktu berkelahi gimana?" Ucap Joseph yang langsung membuat Varrel mendengus kesal.
"Makanya lain kali jangan berkelahi lagi. Kalau udah kayak gini kamu juga yang sakit kan." Nasihat Joseph.
"Varrel kayak gini kan juga belain Arka, dad."
Joseph meletakkan kotak obatnya ke atas laci dan langsung memeluk Varrel dengan erat. Ia membiarkan anaknya itu menyandarkan kepalanya di dada bidangnya yang terbalut oleh kemeja kerjanya.
"Iya nak, daddy ngerti. Sekarang kamu istirahat ya, terus nanti jangan lupa makan siang sama adik kamu ya. Daddy harus balik ke kantor sekarang." Ujar Joseph.
Varrel mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kemudian Joseph mencium kening putranya dan pergi dari kamar tersebut.
***
Di lain tempat,
Winda masih memikirkan tindakan pak Barno. Ia memerintahkan Winda untuk menerima kontrak itu selama setahun. Bayangkan, dalam satu tahun Winda akan terikat kontrak dengan lembaga itu.
Winda bukannya tidak mau. Tapi, masih banyak guru lain yang ada di sekolah ini. Kenapa harus dirinya.
Bersambung...
__ADS_1