Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 87


__ADS_3

Dalam perjalanan ferdy memarahi istrinya yang memang sudah kelewatan. Niat ingin menjenguk orang sakit tapi dia malah melontarkan kata-kata pedas yang menyinggung perasaan pak arman. Tapi sarah sama sekali tak mendengarkan ocehan suaminya itu. Dia malah melengos tak mau melihat kearah ferdy. Ferdy pun diam, karena percuma saja berbicara panjang lebar sarah tak akan mendengarkannya.


Sebelum pulang kerumah, mereka mampir kerumah bima. Sampai disana sarah langsung memasang wajah sinisnya, karena kebetulan yang menyambut kedatangan mereka adalah vella.


"Mama, papa, kanza." Sambut vella, dia langsung menjabat tangan ferdy dan menciumnya. Namun saat menjabat tangan sarah belum sempat mencium tangannya sudah dikibaskan. Sarah tidak sudi tangannya dicium oleh vella. Gadis yang memanfaatkan kekayaan anaknya, menurutnya.


Sarah langsung menyelonong masuk saja menyenggol vella yang berdiri di depan pintu. Hingga vella terdorong ke tembok.


"Astaga kamu nggakpapa kan vell?"


"Nggakpapa kok pah, silahkan masuk. Yuk kanza masuk juga."


Kanza memeluk erat vella, mereka sudah lama tidak bertemu karena vella sibuk mengurus ayahnya di rumah sakit. Kanza berbisik pada kiara meminta maaf atas kelakuan mamanya. Vella tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Dia sudah terbiasa dengan sikap mama mertuanya yang seperti itu.


Sarah langsung duduk dan berteriak memanggil pembantu disana. Dia meminta untuk dibuatkan minuman. Sementara bima belum keluar dari ruang kerjanya.


"Hey kamu, bikinin saya jus yang dingin. Rasanya hari ini panas banget." Suruh sarah kepada anis.


"Mohon maaf bu, kebetulan buah dirumah lagi habis. Mungkin ada yang lain," Ucap anis


"Sirup aja kalau gitu, sirup jeruk yang dingin." Ucap bu sarah lagi.


"Maaf itu juga nggak ada, persediaan dirumah lagi habis." Ucap anis


Brakkk.... Sarah menggebrak meja, membuat semuanya kaget.


"Apaan sih mah? Ngapain kamu pake gebrak-gebrak meja udah kaya preman aja." Tegur ferdy pada istrinya


"Istri macam apa kamu ini, kerjaan kamu tuh ngapain aja dirumah?! Apa-apa kok nggak ada.Jangan-jangan uang bulanan yang bima kasih, kamu buat foya-foya sama keluarga miskinmu itu." Ucap sarah dengan emosinya.

__ADS_1


"Bukan gitu mah," Vella mencoba menjelaskan namun dipotong lagi oleh mama mertuanya itu.


"Husst.. Nggak becus ya nggak becus aja. Nggak usah ngeless.." Ucap sarah.


Vella tak berani menjawab lagi, bima yang mendengar suara bising langsung keluar dari ruang kerjanya. Kebetulan bima hari ini kerja dari rumah karena vella kurang sehat, dia takut istrinya itu kenapa-kenapa. Jadi, bima siaga menemaninya dirumah.


"Sayang ada apa kok berisik? Loh mamah papah kok udah disini aja, Kapan sampainya?"


Bima langsung mencium tangan kedua orang tuanya. Ferdy sedikit mengalihkan pembicaraan agar sarah tidak kembali membahas masalah tadi dan berhenti memarahi vella. Sarah terus menatap tajam kearah vella. Tapi dibalas senyum oleh vella.


"Bim kamu tumben jam segini dirumah?" Tanya ferdy


"Iya pah, aku kerja dirumah hari ini. Soalnya vella lagi nggak enak badan. Aku takut mau ninggalin dia ke kantor." Jawab bima


Sarah malah semakin tidak suka mendengar itu, dia berfikir kalau vella hanya pura-pura sakit saja.


"Gapapa kok mah, ini aku sendiri yang inisiatif buat nemenin vella dirumah. Soalnya dia lagi mengandung anakku juga, cucu mamah. Jadi harus bener-bener aku jaga." Jawab bima


"Apaa?! Dia hamil?" Sarah sangat terkejut.


"Kenapa sih mah kok kaya nggak suka gitu?" Tanya ferdy yang melihat gelagat istrinya.


"Hemm apa sih pah, aku kan mau punya cucu jadi seneng dong." Jawab sarah berbohong.


Sarah mulai merasa sangat panas seluruh tubuhnya, dia tak bisa menerima kenyataan kalau akan mempunyai cucu dari vella. Padahal dia tidak sudi punya keturunan dari keluarga yang rendahan. Beda kasta dengan keluarganya. Dan nantinya anak itu akan jadi pewaris harta bima. Sarah sangat tidak rela. Dia melamun cukup lama sampai bima memanggilnya dan membuyarkan lamunannya itu.


"Mah kenapa kok diem aja?"


"Eh enggak ehmm..emm tenggorokan mama agak seret nih," Jawab sarah sekenanya.

__ADS_1


Kemudian bima langsung menyuruh anis menyediakan minuman untuk orang tuanya itu. Anis datang membawa nampan berisi dua gelas air putih.


"Loh kok cuma air putih nis?" Tanya bima


"Maaf pak semua persediaan di dapur habis. Saya permisi kebelakang lagi."


"Sebenarnya kamu kasih uang belanja nggak sih sama istrimu ini bim? Masa rumah sebesar ini sirup aja nggak punya." Ucap sarah mulai mengomel lagi.


"Aku kasih kok mah, emang vella belum sempat belanja aja. Maaf ya mah pah adanya cuma air putih." Ucap bima


"Jadi istri orang kaya jangan sampai malu-maluin, untung tamunya cuma kita. Coba kalau kolega kerjanya bima. Masak rumah segede ini nggak ada apa-apa. Sesibuk-sibuknya istri kalau becus ya pasti terurus itu urusan dapur." Ucap sarah lagi


Vella berkali-kali meminta maaf kepada mama mertuanya itu.


Sementara kanza terus mengelus perut vella, dia merasa senang akan punya keponakan. Kanza senang berlama-lama disana. Tapi sarah sudah berpamitan kepada bima untuk pulang. Mau tidak mau kanza juga ikut pulang. Sebenarnya bisa saja dia pulang nanti malam diantarkan bima, tapi kanza ingin dekat dengan mamanya. Ini kesempatan untuknya, meskipun hanya duduk bersebelahan di mobil, dia sudah merasa sangat senang.


"Mama pamit dulu ya bim,"


"Iya mah makasih loh udah dateng kesini. Harusnya kan bima yang kesana," Ucap bima


"Oh iya kamu jangan mentang-mentang hamil terus jadi males. Jangan manja," Ucap sarah dengan tegas pada vella


"Iya mah," Jawab vella


Kanza melambaikan tangan kepada vella dan bima. Dalam perjalanan pulang, kanza bertanya pada mamanya karena dia merasa penasaran. Kenapa mamanya seperti tidak suka dengan vella. Padahal dia baik, ramah, sopan, penyanyang. Apalagi bima juga sangat mencintainya. Mendengar pertanyaan itu sarah langsung membentak kanza. Dia berkata anak kecil tak perlu ikut campur. Kanza langsung terdiam tak berani berkata-kata lagi. Sementara ferdi hanya melihat saja tak berani membela ataupun menegur istrinya itu.


Dalam perjalanan pulang itu, sarah baru teringat tentang masalah renovasi rumah pak arman. Dia lupa membahasnya dengan bima tadi. Menurutnya dia perlu menegur bima agar tidak terlalu buang-buang uang untuk keluarga vella.


Saat berhenti di lampu merah, tak sengaja sarah melihat sosok seperti kiara yang berada di mobil sebelahnya. Dia langsung membuka kaca mobilnya hendak berteriak memanggilnya tapi lampu sudah hijau. Mobil yang dikendarai kiara sudah melaju lebih dulu dan menghilang tanpa jejak. Sarah sedikit heran, karena orang tua kiara sudah bangkrut tapi kenapa dia masih tetap modis bahkan mengendarai mobil mewah.

__ADS_1


__ADS_2