
Selesai makan siang bima mengantarkan vella pulang kerumah agar ia bisa beristirahat. Sampai dirumah mereka langsung mendapat laporan kalau tadi kiara datang kerumah marah-marah tidak terima.
"Mbak kiara kembali kesini? trus gimana nis?" Tanya vella penasaran.
"Dia pingsan mbak setelah tahu semua kebenarannya. Terus dibawa keluar sama pak satpam. Habis itu saya nggak tahu." Jawab anis
"Mas mbak kiara sudah kembali, aku jadi takut mas." Ucap vella
"Tenang aja sayang, ngapain takut. Rumah beserta isinya ini, semuanya sudah jadi milik kita berdua. Dia sama sekali nggak ada hak." Ucap bima menenangkan.
"Tapi butiknya gimana? Itu kan dulu hadiah dari mas buat mbak kiara,"
"Itu urusan aku sayang, udah kamu tenang aja." Ucap bima
Kemudian bima pamit kembali ke kantor lagi, sebelum berangkat tak lupa dia mencium kening istri tercintanya itu. Bima juga menyuruh vella untuk beristirahat, karena nanti malam mereka akan kembali ke rumah sakit lagi.
Sampai di kantor, bima mengecek hpnya yang sedari tadi tertinggal disana. Dia langsung membaca pesan masuk dari karyawan butik yang memberitahukan soal kedatangan kiara. Berhubung tidak ada kerusakan disana, bima menyuruh karyawannya untuk tetap tenang. Nanti dia akan mengurus masalah kiara.
Sementara kiara baru saja sadar dari pingsannya. Sopir mobil sewaannya membawanya berkeliling jalanan jakarta.
"Aduhh kok pusing ya, loh kok aku masih di mobil sih?!" Ucap kiara kebingungan
"Eh mbak udah bangun, ini mau diantar kemana ya saya bingung mau bawa mbak kemana," Ucap sopir
"Loh gue kan udah nyuruh nganterin ke rumah tadi udah gue kasih alamatnya kan?"
"Itu tadi bukan rumahnya mbak, tadi kan mbak diusir sampek pingsan." Ucap sopir menjelaskan, karena sepertinya kiara lupa kejadian tadi sebelum dia pingsan.
"Oh iya sialan! Kalau gitu anter gue ke alamat ini aja." Kiara memberikan alamat rumah desi. Dia tak lagi punya tujuan selain rumah desi.
10 menit perjalanan mereka sampai, Kiara turun dari mobil. Dia berjalan menuju depan gerbang rumah desi. Tapi sepertinya desi sedang tidak ada dirumah. Desi tinggal sendirian di jakarta. Kiara memencet bel berkali-kali, tapi tak ada yang keluar. Kiara memutuskan untuk menunggu saja disana.
Tak terasa kiara sudah 2 jam menunggu disana. Hari sudah menjelang sore.
"Turunin barang-barang gue sekarang." Suruh kiara kepada sopir
"Beneran mbak? Tapi ini orangnya nggak ada loh, apa mau saya carikan penginapan terdekat saja." Tawar sopir kepada kiara.
__ADS_1
"Nggak, nggak usah." Jawab kiara dengan tegas.
Sebenarnya dia ingin pergi ke penginapan atau hotel saja. Tapi dia sudah tidak punya uang sama sekali. Hanya desi satu-satunya harapan untuknya.
"Mbak mendung nih, yakin masih mau nunggu disini? Saya antar ke penginapan dekat sini ya," Sekali lagi sopir itu menawarkan.
"Enggak ya enggak! Udah deh lo cabut sana. Gue kan udah bayar." Jawab kiara dengan kasar.
"Yasudah saya pamit mbak, semoga nggak diusir lagi." Ucap sopir dengan ramah tapi sedikit menyindir.
Kiara langsung memelototinya. Sopirpun pergi meninggalkan kiara sendirian didepan gerbang rumah desi. Benar saja tak lama kemudian hujan mulai turun. Tapi beruntung tidak terlalu deras. Kiara menempel di tembok pagar rumah desi, dia berlindung dibawah pohon.
"Huffft... udah jam 4 sore aja. Desi kemana sih, mana hujan lagi. Pliss jangan deres dong hujannya." Ucap kiara mulai jenuh menunggu kedatangan desi.
Ciiiiiittt...... Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan gerbang. Kiara yang tadinya jongkok langsung berdiri melihat siapa yang datang. Pintu mobil terbuka, desi keluar dari sana. Kiara langsung mendekat kearahnya.
"Loh kiara?? Ini beneran elo?" Desi terkejut dan tidak percaya kiara sudah berada di depan matanya.
"Iya ini gue, gue udah nungguin elo dari tadi tau'. Capek banget pegel kaki gue." Jawab kiara dengan kesal.
"Sorry sorry, soalnya gue baru ngedate sama cowo baru gue." Ucap desi
"Haaa?!" Kiara sangat syok setelah melihat siapa pacar desi. Namun sebelum sempat berkomentar desi menarik kiara untuk masuk kedalam rumahnya dan menyuruh pacarnya itu segera pergi.
"Bye honey, muuaachh.." Ucap desi pada pacarnya.
"Heh gila ya lo! Tua bangka kaya gitu lo pacarin?? Sumpah gak habis fikir gue," Ucap kiara yang syok melihat pacar desi ternyata om om tua.
"Iya gue gila karena duit, Hahaha. Buat apa coba gue pacaran sama orang yang muda ganteng tapi gue nggak dapet apa-apa. Mending ini lah minta apa-apa dikasih dong, meskipun harus main-main dibelakang istrinya." Jawab desi seraya membuka kunci pintu rumahnya. Setelah itu mereka masuk kedalam.
Kiara hanya bisa geleng-geleng kepala, ternyata ada yang lebih parah darinya. Tapi dia tak peduli yang penting sekarang dia punya tempat tinggal untuk sementara waktu.
"Gue udah tahu lo mau nginep dirumah gue kan. Lo bebas mau nginep sampai kapanpun disini. Gue turut prihatin atas apa yang terjadi sama keluarga lo," Ucap desi
"Makasih ya, lo emang satu-satunya bestie gue yang paling pengertian." Ucap kiara
"Eh iya btw kemana cowo lo si davin itu, kok lo dibiarin pergi sendiri bawa-bawa koper lagi?" Tanya desi penasaran dengan kehidupan sahabatnya selama ini.
__ADS_1
"Cowo breng*ek itu udah bikin kehidupan gue hancur, setelah bawa gue kabur dia malah ninggalin gue. Mungkin sekarang dia udah nikah sama cewe sok polos pilihan bundanya itu." Ucap kiara dengan kesal
Dia juga menceritakan kalau habis ditipu oleh cowok kenalannya di malaysia. Desi sangat prihatin dengan kesialan yang ditimpa sahabatnya itu.
"Gue sekarang udah nggak punya apa-apa, orang tua gue sih katanya di garut. Tapi ogah ah gue nyusul kesana." Ucap kiara lagi
"Hmm, eh tapi butik yang bima kasih ke elo kenapa sekarang pindah kepemilikan? Lo juga jual itu butik beb??" Tanya desi
"Gue nggak ngejual itu butik, emang dasar bima sialan main ngasih ke cewe miskin itu. Pokoknya gue bakal balas dendam sama mereka semua. Tapi masalahnya sekarang gue nggak punya uang. Mau kerja apa coba, dari dulu aja gue cuma ngandelin bokap." Keluh kiara,
"Hmmm gue ada ide yang sangat briliant.." Ucap desi dengan senyum senang diwajahnya.
Desi membisikkan ide itu pada kiara, awalnya dia merasa ragu tapi setelah diyakinkan oleh desi diapun langsung menyetujuinya. Karena kalau dipikir memang hanya itulah pekerjaan yang bisa dia lakukan untuk menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat.
🍀🍀🍀🍀
Jam tujuh malam vella dan bima kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan pak arman. Kali ini mereka datang bersama dengan fadly dan juga lisa yang berniat menjenguk.
"Makasih loh kalian udah mau datang kesini lagi, padahal ayah belum bisa buat dijenguk." Ucap vella
"Iya vell sama-sama, aku pikir pak arman udah sadar. Tapi aku yakin secepatnya pak arman pasti sadar. Aku cuma bisa bantu doa." Ucap lisa
"Iya iya amiin." Ucap vella
Mereka sudah berada di depan ruangan pak arman dirawat. Vella masuk terlebih dahulu, karena disana tidak boleh masuk bersamaan lebih dari dua orang. Namun di dalam kamar itu sudah kosong tidak ada ayahnya disana. Vella langsung memberitahu bima dengan panik.
"Mas ayah nggak ada!"
"Masa sih?" Bima gantian mengecek kedalam, memang tidak ada. Kamarnya juga sudah dibersihkan.
"Mas jangan-jangan ayah udah...." Seketika vella lemas dia sudah berfikiran kalau ayahnya sudah meninggal dan dipindahkan ke kamar mayat. Lisa pun merangkul dan menenangkannya. Sementara bima langsung mencari informasi ke perawat yang tadinya mengurus pak arman disana.
"Duh mas bima lama banget sih nanya susternya." Ucap vella sangat khawatir tentang ayahnya.
"Sabar vell, tenang ya pak arman pasti baik-baik aja." Ucap lisa menenangkan.
Tak lama kemudian terlihat bima berjalan mendekat. Tapi vella belum melihatnya karena dia terus menunduk berdoa.
__ADS_1
"Itu si bima, Eh tapi itu orang meninggal yang dibawa perawat. Kenapa bima bareng sama itu?" Fadly pun jadi berfikir kalau pak arman sudah meninggal.
Vella yang tadinya menunduk langsung mengangkay kepalanya melihat kearah bima datang. Seketika dia langsung pingsan. Karena bima berjalan bersama perawat yang membawa pasien sudah meninggal. Bima langsung berlari melihat istrinya yang jatuh pingsan.