
Di rumah sakit harapan kasih, Vella dioperasi. Dia harus melahirkan anaknya secara prematur karena pendarahan yang cukup parah. Fadly dan Lisa sudah memanggil Dira sebagai keluarga sebelum operasi Vella dilakukan. Sesuai dengan apa yang dikatakan dokter saat usg, Vella melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu langsung dimasukkan ke inkubator karena belum cukup umur.
Beruntungnya kondisi Vella tidak kritis setelah melakukan operasi. Dia langsung dibawa ke ruang perawatan. Namun saat ini Vella masih belum sadarkan diri.
"Dok bagaimana dengan kondisi bayinya?" Tanya Dira
"Alhamdulillah bayinya sehat meskipun lahir prematur, tapi masih tetap harus di observasi dan berada didalam inkubator sampai organnya benar-benar matang." Ucap dokter yang menangani operasi Vella.
"Jenis kelaminnya apa dok?" Tanya Ardan, karena sedari tadi naya terus bertanya tentang adiknya itu.
"Bayinya laki-laki. Suami bu Vella yang mana ya? Bisa di adzani dulu bayinya." Ucap Dokter sambil melihat dua laki-laki yang ada disana. Yaitu, Ardan dan Fadly.
"Emm kebetulan suaminya sedang sakit dok, biar suami saya aja yang adzanin." Ucap Dira seraya mengambil alih Naya dari gendongan suaminya.
Ardan pun pergi dengan diantar perawat menuju ke ruangan diamana bayi Vella berada.
"Emm mbak aku pamit dulu ya kalau gitu, udah malam." Pamit Lisa pada Dira.
"Iya Lis makasih ya,"
"Iya mbak sama-sama." Lisa langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan Fadly yang tadinya berdiri disebelahnya.
"Mbak aku pamit juga." Fadly segera menyusul Lisa yang sudah berbelok di lorong ujung sana. Fadly berhasil menyusul lisa yang langkahnya sangat cepat. Dia sampai terengah-engah.
"Kamu pasti mau ngajakin pulang bareng kan? Nggak usah aku naik taksi aja." Ucap Lisa dengan tetap fokus berjalan. Mobil Lisa masih terparkir di mall, tadi mereka ke rumah sakit dengan mengendarai mobil Fadly.
Fadly pun tak bisa menjawab apa-apa, dia membiarkan Lisa berjalan sampai ke depan rumah sakit. Namun sayangnya Lisa tidak berhasil mendapatkan taksi.
Tinn.. tinn.. Fadly lewat dengan mobilnya di depan Lisa, dia berhenti dan membuka kaca mobilnya. Belum sempat berbicara, Lisa sudah masuk saja kedalam mobilnya.
"Kenapa ngelihatnya kaya gitu? Mau nawarin tumpangan kan? Kalau enggak aku turun lagi," Ucap Lisa yang sebenarnya merasa malu bersikap seperti itu.
"Jangan, jangan, aku antar kamu pulang." Ucap Fadly yang langsung melajukan mobilnya. Kemudian suasana pun hening. Hanya terdengar suara mesin mobil dan juga radio yang diputar oleh Fadly.
Saat di lampu merah, Fadly ingin membuka pembicaraan tapi dia takut salah.
"Udah ijo tuh, jalan dong." Tukas Lisa karena Fadly tidak juga melajukan mobilnya saat lampu sudah hijau. Setelah itu suasana kembali hening sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan rumah Lisa. Mobil Lisa sudah berada di halaman rumahnya. Karena tadi dia sudah menyuruh sopirnya untuk mengambil mobil itu di mall.
"Oke makasih ya," Ucap Lisa seraya membuka pintu mobil. Awalnya Fadly diam saja namun kemudian dia ikut keluar dari mobilnya dan segera menghadang Lisa masuk kedalam rumahnya.
"Ada apa lagi fad?"
__ADS_1
"Emm aku mau bicara sedikit sama kamu. Boleh kan?"
"Yaudah, tapi aku nggak bisa ngajak masuk ntar mama papaku lihat. Mereka pasti nanya-nanya panjang lebar. Bicara disini aja. Langsung aja nggak usah berbelit-belit." Ucap Lisa
"Lis aku pengen memperbaiki hubungan kita," Ucap Fadly
"Memperbaiki gimana? Aku kan udah bilang aku nggak benci kamu. Aku juga udah maafin kamu. Udah baik kan kaya gitu,"
"Maksud aku, kita lanjutin hubungan kita dan rencana pernikahan kita. Kita mulai semuanya dari awal." Ucap Fadly
"Fad hubungan itu jangan dibuat mainan ya, aku emang cinta sama kamu. Tapi aku nggak mau kalau cuma jadi pelampiasan."
"Kali ini enggak lis, aku serius. Pliss kasih aku kesempatan. Aku sadar yang aku cinta itu kamu bukan Vella. Aku cuma terobsesi dengannya." Ucap Fadly sambil memegang kedua tangan Lisa.
Dari tatapan matanya Fadly memang benar-benar mengatakan hal jujur. Tapi Lisa tak langsung memberinya kesempatan. Dia memberikan syarat untuk Fadly.
"Aku kasih satu kesempatan, tapi ada syaratnya."
"Apapun itu lis, katakan." Tukas Fadly bersemangat.
"Kamu harus membuat ingatan Bima kembali sebelum pernikahannya dengan Kiara terjadi. Aku nggak tega melihat Vella sedih terus. Cuma kamu yang bisa dengan mudah menemui Bima dirumahnya." Ucap Lisa
......................
"Halo Bima, kamu bisa ke kantor enggak hari ini?"
"Bisa dong pah, kan memang itu yang kuinginkan. Aku bosan kerja dari rumah terus. Aku udah sehat."
"Tapi gimana dengan mama kamu, dia pasti akan melarangmu bim,"
"Mama nggak ada pah, yasudah aku berangkat sekarang."
Bima pun bersiap untuk ke kantor, saat akan keluar dengan mobilnya, dia dihadang oleh satpam dirumahnya.
"Mas Bima mau kemana? Kata nyonya mas nggak boleh keluar rumah kalau sendirian." Ucap Satpam.
"Saya mau ke kantor, ini ada urusan penting. Cepat bukain pintunya pak. Tenang aja saya ini sudah normal sudah sehat." Ucap Bima
"Tapi nanti nyonya marah mas kalau saya bukain pintunya."
"Itu nanti urusannya sama saya. Udah bukain cepetan."
__ADS_1
Akhirnya satpam membukakan pintu untuk Bima. Bima melajukan mobilnya keluar dari area rumah menuju perusahaan keluarganya.
"Mama kok aneh ya, aku kan bukan anak kecil lagi." Gumam Bima.
Bima pun sampai di perusahaan, dia disambut oleh dua satpam yang berada di depan perusahaan.
"Selamat siang pak Bima. Senang melihat pak Bima sudah sehat kembali." Ucap kedua satpam. Bima hanya tersenyum mengangguk.
"Oh iya selamat ya pak sekarang sudah menjadi ayah." Ucap satpam lagi,
"Maksudnya bagaimana?"
"Istri pak Bima kan melahirkan kemarin."
"Ah kalian ini aneh saya ini belum menikah. Yaudah saya kedalam dulu." Bima berjalan memasuki perusahaan dan langsung menuju ruang meeting. Karyawan yang dilewatinya semua mengucapkan selamat untuknya karena sudah menjadi ayah. Bima masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dua.
"Kenapa semuanya berucap seperti itu, Apa benar sebenarnya aku sudah menikah? Tapi aku nggak bisa mengingat apa-apa." Gumam Bima di dalam lift.
Bima pun sampai ke ruang meeting, disana sudah ada papanya dan Fadly. Tidak ada klien dari luar negeri seperti yang dikatakan papanya.
"Emm duduk bim, kliennya nggak jadi datang. Jadi kita hanya meeting bersama Fadly saja." Ucap Ferdi
"Langsung saja ya," Ucap Fadly dengan memenceti laptop di depannya. Dia ingin menampilkan file yang disebut papanya proyek sangat penting. Namun bukan proposal ataupun rancangan proyek, yang tampil di layar adalah foto pernikahannya bersama Vella. Fadly menampilkan slide demi slide foto kebersamaan Bima dan Vella. Dan di slide terakhir ada foto bayi yang masih didalam inkubator.
"Pah, fad apa semua ini? Kenapa ada fotoku sama wanita hamil yang beberapa kali kutemui." Ucap Bima bingung
"Bim dia itu istri kamu, Vella mariska. Slide terakhir itu anak kamu yang baru lahir. Kiara dan mama kamu udah bohongi kamu. Terutama Kiara dia memanfaatkan amnesia kamu ini." Tukas Ferdi
Bima merasakan pusing yang amat sakit di kepalanya. Kemudian dia langsung berlari keluar ruangan. Fadly dan Ferdi pun mengejarnya.
Dalam kegundahan hati dan pikiran Bima berlari tanpa melihat arah. Di depan kantornya dia menabrak seorang pria, pria itu adalah Davin.
"Wah kebetulan ketemu lo disini, gue cuman mau kasih tahu sebelum lo menyesal nantinya." Ucap Davin
"Maksud kamu apa?" Tanya Bima dengan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Lo itu udah dibodohi sama Kiara. Dia itu bukan wanita baik. Kalian dulu sudah pernah menikah, tapi Kiara selingkuh sama gue sampai akhirnya kalian cerai. Dan Mama lo sendiri sengaja misahin lo dari Vella istri lo yang sedang mengandung itu." Ucap Fadly membuat Bima semakin merasakan sakit di kepalanya.
"Jadi laki-laki jangan bodoh kenapa? Lo nggak sadar apa permainan mama lo selama ini? Dia sengaja mindahin adik kandung lo dan pecat semua pembantu juga sopir demi lo susah mengingat kembali. Kalau lo nggak percaya, ini bukti surat perceraian lo dengan Kiara." Imbuh Davin dengan menunjukkan berkas perceraian Bima dan Kiara di hpnya.
Ingatan Bima perlahan kembali, dia mengingat masa pertemuan pertamanya dengan Vella, hingga masa saat Kiara ketahuan selingkuh waktu itu.
__ADS_1
"Gue rasa cukup, lo sangat bodoh kalau lo mau kembali dengan perempuan yang dulu udah hianatin lo. Sementara lo itu punya istri yang lebih segalanya dari dia." Ucap Davin yang kemudian pergi.
"Apa semua ini apa.. Arrghh.." Gumam Bima sebelum akhirnya dia pingsan.