
Vella terus berjalan dengan cepat sampai Dira yang tidak hamil saja kewalahan mengikutinya.
"Dek mau sampek kapan jalan terus, kita cari taksi dulu ya, kamu lagi hamil loh nanti perut kamu sakit lagi. Stop dek stop," Dira menghentikan paksa langkah adiknya itu.
Dira mencoba menghentikan taksi, sementara Vella hanya diam saja. Namun matanya terus mengeluarkan airmata kesedihan.
Bukan taksi yang didapat, tapi malah sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tepat di depan mereka. Pria berkacamata keluar dari mobil itu.
"Eh Fadly, aku kirain siapa?"
"Iya mbak sama Vella mau kemana?" Tanya Fadly yang sudah berada tepat di depan Dira dan Vella. Namun tatapan Vella kosong, dia tidak menghiraukan kedatangan Fadly disana. Saat ini perasaannya sedang kacau.
"Mau pulang Fad, kita abis jenguk Bima di rumah sakit."
"Oh iya Bima baru kecelakaan ya, aku tahu dari berita tv. Gimana keadaan dia sekarang?"
"Dia udah baikan kok sekarang, yaudah ya fad itu ada taksi, aku harus cepet bawa Vella pulang kerumah. Dia butuh istirahat." Ucap Dira
"Eh biar aku anterin aja, yuk masuk mobil."
"Nggak ngrepotin nih?" Tanya Dira
"Enggak mbak ayuk masuk,"
Dira pun menuntun adiknya masuk ke dalam mobil fadly. Mereka duduk dibelakang. Vella menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya. Matanya terus mengeluarkan airmata. Namun dia sama sekali tak bersuara.
Dari spion Fadly melirik Vella, dia bertanya-tanya ada apa dengan Vella. Tumben sekali dia tidak diantarkan oleh sopir pribadinya.
"Vella kenapa ya? Kalau Bima udah baikan kenapa dia terlihat sedih sekali. Bahkan yang biasanya dia selalu menyapa, dari tadi dia diam. Tatapannya juga kosong."
Sampainya dirumah Dira mengantarkan Vella untuk istirahat di kamarnya. Kemudian Dira menemui Fadly yang menunggu diluar.
"Makasih ya fad udah anterin sampek rumah." Ucap Dira
"Iya sama-sama. Emm aku lihat-lihat Vella sedih, dia kenapa? Bukannya Bima katanya udah baikan?"
"Ya memang Bima udah bangun dari koma dan bisa dibilang kondisinya sehat kembali, Tapi..." Dira beranjak dari kursi yang dia duduki,
"Tapi apa mbak?" Tanya Fadly penasaran
__ADS_1
"Hubungan mereka sedang tidak baik." Jawab Dira
"Emm maaf kalau aku boleh tahu nggak baik gimana mbak? Memang mereka punya masalah apa? Apa ada hubungannya dengan Kiara?"
"Keluarga Bima ada hubungannya dengan kematian ibu Vella. Saat mengetahui itu Vella marah dan membenci Bima. Dari fakta dan bukti yang Vella dapatkan. Dia berasumsi kalau Bima menikahinya hanya untuk menebus kesalahan dimasalalu."
"Dan yang membuat dia sedih hari ini, Kiara mengatakan kalau dia sudah kembali bersama Bima. Parahnya Bima juga menunjukkan sikap bahwa mereka memang sudah balikan lagi." Ucap Dira menjelaskan semuanya. Fadly masih mencerna semua perkataan Dira itu.
"Sikap seperti apa mbak?" Tanya Fadly
"Bima memanggil kiara dengan sebutan Sayang." Jawab Dira
Fadly cukup terkejut mendengar penjelasan Dira. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jelas sekali kalau Bima itu sudah tidak menyukai mantan istrinya itu. Karena dia sudah berhianat. Tapi kenapa sekarang mereka malah bersatu kembali. Fadly merasa ada yang aneh. Dia berniat menyelidiki semuanya.
"Hemm mbak aku pamit dulu ya, masih ada urusan soalnya. Salam aja buat Vella ya, semoga dia bisa tegar menghadapi semua masalah ini." Ucap Fadly
"Iya makasih ya,"
...****************...
Di rumah sakit Kiara terua memanfaatkan kesempatan untuk masuk lagi dalam kehidupan Bima. Davin yang berada disana juga berniat membongkar langsung semua kebohongan Kiara itu, namun dengan cepat Kiara mengusirnya.
"Sayang dia siapa sih?" Tanya Bima
"Oh iya sayang besok katanya kalau hasil pemeriksaan baik kamu bisa rawat jalan dirumah loh," Ucap Kiara, Bima hanya mengangguk.
"Semoga kamu cepet pulih biar bisa melangsungkan acara pernikahan kita." Ucap Kiara dengan antusiasnya.
"Emangnya sebelum kecelakaan kita udah ada rencana nikah?" Tanya Bima
"Udah dong sayang, kita bakal ngadain pesta di ballroom hotel terbesar milik keluarga kamu. Acaranya itu harusnya bulan ini sesuai permintaan kamu sendiri." Jawab Kiara berbohong.
"Oh ya, kenapa aku nggak ingat apa-apa ya?"
"Kamu kan habis kecelakaan sayang, dokter bilang kamu sedikit lupa ingatan. Tapi nggak papa kok, aku bakal nunggu sampai kamu benar-benar sehat. Kita undur acaranya juga nggak papa."
Lagi-lagi Bima hanya mengangguk saja, sebenarnya dia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Namun dia tidak tahu itu apa.
Keesokan harinya tepatnya sore hari Bima sudah pulang kerumah. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Sarah sudah memerintahkan Weni untuk membereskan semua barang yang terkait dengan Vella. Bahkan foto pernikahan yang dulunya terpajang di tembok kamar Bima, kini sudah tak ada. Kamarnya kembali seperti saat Bima masih perjaka dulu.
__ADS_1
Bima duduk di kursi roda di dorong oleh Nino. Kiara berjalan di sebelahnya membawakan tas Bima. Semuanya sudah di setting oleh Sarah atas dasar kesepakatan dengan Kiara. Ferdi pun tak kuasa melawan istrinya. Dia hanya berharap ingatan Bima segera kembali.
Weni, Anis dan Nino wajah mereka sama sedihnya dengan kejadian ini. Mereka hanya bisa diam menyaksikan drama yang sedang dibuat nyonya besar mereka.
"Kak Bima... " Kanza berlari memeluk kakaknya yang duduk di kursi roda. Bima membalas peljakn adik tersayangnya itu.
"Kenapa kakak pulang sama kakak jahat ini? Kak Vella mana?"
Bima menatap bingung, kenapa adiknya menyebut Kiara jahat, dan siapa Vella, Bima benar-benar tidak mengingat semua tentang Vella.
Sarah langsung melirik Weni untuk membawa Kamza pergi dari hadapan Bima.
"Non ke kamar yuk katanya tadi ada pr," Ucap Weni sambil menggandeng paksa Kanza pergi darisana.
"Tapi mbak wen ..."
"Masuk Kanza." Bentak Sarah,
"Mah Vella siapa ya?" Tanya Bima
"Bukan siapa-siapa Bim, Nino bantu Bima masuk ke kamarnya. Kamu harus banyak istirahat sayang." Ucap Sarah, Kiara menyerahkan tas yang sedari tadi dia bawa kepada Anis.
Setelah semuanya pergi, Kiara menarik tangan Sarah keluar dari rumah untuk berbicara empat mata dengannya.
"Hei kamu beraninya narik-narik saya!" Ketus Sarah
"Udahlah ini bukan waktunya basa-basi. Tante sadar nggak anak perempuan tante yang nyebelin itu bisa ngegagalin rencanaku. Kalau sampai rencana ini gagal karena dia, aku akan bongkar rahasia tante. Ingat itu!" Ucap Kiara dengan tegas,
"Iya kamu tenang aja, dia bakal saya urus. Nggak perlu mengancam berkali-kali saya masih ingat dengan itu semua."
"Oke bagus, kalau gitu aku pamit dulu. Bye calon mama mertua tercinta." Ucap Kiara sambil memberikan kiss bye pada Sarah.
Sarah langsung masuk ke dalam untuk menemui Kanza. Dia langsung masuk ke kamar Kanza. Disana masih ada Weni yang mencoba mengalihkan pembicaraan Kanza. Karena sedari tadi Kanza terus bertanya kenapa Vella tidak ada. Kenapa kakaknya terlihat tidak mengenali Vella dan dia malah datang bersama Kiara.
"Mama kebetulan mama kesini, aku mau tanya kak Bima kenapa bareng sama kakak jahat itu lagi? Kak Bima kan udah punya istri yaitu kak Vella." Ucap Kanza
"Cukup Kanza! Mulai sekarang kamu tinggal di apartemen. Weni kemasi semua barang-barangnya. Kamu juga ikut, temani dia selama disana." Ucap Sarah
"Tapi kenapa Mah tiba-tiba aku harus tinggal di apartemen?"
__ADS_1
"Selama kakakmu disini, kamu nggak boleh pulang kerumah titik. Stop bertanya lagi!"
Weni paham maksud Sarah memindahkan Kanza ke apartemen, karena Kanza akan membantu Bima mengingat kembali tentang Vella. Sementara Nyonya besarnya itu berencana menikahkan putranya dengan mantan istrinya dulu. Sebenarnya Weni pun bertanya-tanya, kenapa Nyonya besarnya menikahkan kembali putranya dengan perempuan yang dulu telah berhianat.