Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 119


__ADS_3

Sarah menunggu di depan ruang operasi. Dia terduduk cemas menantikan operasi anaknya selesai. Ferdi datang ke rumah sakit dengan langkah gontai mencari keberadaan anaknya dirawat. Dia menemukan istrinya di kursi ruang tunggu depan kamar operasi.


"Papa... " Ucap Sarah sambil memeluk suaminya.


"Gimana keadaan Bima mah?"


"Bima masih dioperasi pah, dia terluka sangat parah dikepalanya." Jawab sarah dengan air mata yang bercucuran.


"Ini semua gara-gara perempuan miskin itu. Karena Bima pasti sibuk memikirkannya sampai tidak fokus menyetir. Menurut saksi mata, Bima mengemudi dengan sangat kencang pah."


"Mama gak boleh nyalahin siapa-siapa, ini sudah takdir.


Akhirnya mereka berdua berdebat karena Sarah tidak terima suaminya seperti membela Vella. Sarah tetap ngotot kalau semua ini terjadi karena Vella. Dia menyebutnya sebagai wanita pembawa kesialan dalam keluarga.


"Wanita sialan itu harus keluar dari keluarga kita. Aku juga nggak akan sudi nama keluarga diberikan kepada anaknya." Ucap Sarah


"Sudahlah mah kita fokus ke Bima dulu aja."


Setelah 2 jam menunggu, lampu di pintu kamar operasi sudah padam itu artinya operasi selesai. Dokter keluar diikuti perawat yang mendorong brankar Bima.


"Bima.. yaampun sayang." Ucap Sarah meringis prihatin melihat keadaan anaknya.


Perban menyelimuti kepala Bima. Luka-luka kecil juga banyak terlihat di sekujur tubuhnya. Banyak kabel dan juga selang oksigen yang terpasang di tubuhnya. Bima dibawa ke ruang ICU karena kondisinya yang masih terbilang mengkhawatirkan.


"Dok gimana keadaan anak saya? Operasinya berhasil kan?" Tanya Ferdi


"Operasinya berhasil tapi kondisi pasien sangat lemah. Mungkin dia akan baru sadar sekitar 3 hari kedepan." Jawab Dokter


"Setelah itu anak saya bisa sehat dan normal kembali kan dok, nggak ada masalah apa-apa?" Sarah ganti bertanya.


"Semoga saja begitu, Saya dan tim perawat sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun ada satu kemungkinan buruknya."


"Apa dok?" Serentak Sarah dan Ferdi bertanya.


"Sebagian besar ingatannya akan hilang. Namun semoga itu tidak terjadi." Jawb dokter dengan jelas.


Sarah dan Ferdi menyusul Bima di ruang ICU tempatnya dirawat sekarang. Sarah menatap anaknya yang terbaring lemah disana dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya.


"Aku nggak akan biarkan perempuan miskin itu mengganggu kehidupan anakku lagi. Setelah dia sadar aku akan memproses perceraian mereka." Ucap Sarah


"Kamu tidak bisa melakukan itu Sarah, pikirkan perasaan anakmu juga. Bima itu sangat mencintai istrinya. Dalam masalah ini Vella hanya sedang salah paham dengan Bima. Dia menganggap Bima menikahinya karena disuruh oleh kakeknya. Padahal Bima ini memang tulus mencintainya." Ucap Ferdi

__ADS_1


"Udahlah pah kamu nggak perlu ikut campur dalam masalah ini. Kamu ini nggak tahu apa-apa!"


"Tapi kan ma..."


"Husst stop udah, cukup ya pah!"


Sarah pergi dari ruangan Bima meninggalkan suaminya. Dia kesal suaminya selalu saja sok menasehatinya.


...****************...


Kabar kecelakaan Bima sampai juga ditelinga Kiara. Bima cukup terkenal sebagai kalangan pengusaha muda sukses. Jadi tidak heran kalau berita kecelakaannya banyak dimuat di kabar berita televisi. Namun berita itu malah belum sampai ke telinga Vella.


"Astaga Bima kecelakaan, aku harus kesana." Ucap Kiara. Dia mengambil tas dan bergegas pergi ke rumah sakit.


"Hey mau kemana kamu sayang?" Tanya Ina


"Aku mau kerumah sakit jengukin Bima mah, dia kecelakaan." Jawab Kiara


"Yaampun, yaudah tapi kamu hati-hati."


"Iya mah,"


Namun saat ingin berangkat Kiara tidak juga mendapatkan taksi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya.


Tanpa basa-basi lagi Kiara langsung masuk saja ke mobil Davin. Karena dia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Bima dirumah sakit.


"Anterin gue ke rumah sakit." Ucap Kiara


"Rumah sakit? Kamu kayanya sehat-sehat aja deh." Davin sedikit heran,


"Iya gue emang sehat, Bima yang sakit. Masak lo gak tahu beritanya sih?"


"Ngapain sih ra kamu masih ngurusin dia. Jelas-jelas dia nggak mau sama kamu." Ucap Davin merasa kesal. Dia yang jelas mencintainya malah dicampakkan.


"Kalau lo nggak mau anterin gue nggak papa. Gue turun sekarang juga."


Davin langsung menjalankan mobilnya sebelum Kiara turun. Dengan setengah hati dia mengantarkan wanita yang disukainya itu menemui pria yang disukainya. Memang menyedihkan.


.


.

__ADS_1


Sudah hampir satu minggu Bima koma. Perkiraan dokter yang katanya 3 hari dia akan sadar ternyata salah. Sampai hari ke-6 dia belum sadarkan diri.


"Lihatlah pah gara-gara perempuan miskin itu sampai sekarang anak kita belum sadar juga. Bahkan dia tidak punya rasa empati sama sekali. Bima masih suaminya loh." Ucap Sarah dengan penuh amarah,


"Kamu ini aneh mah, katanya kalu Bima udah sadar kamu nggak bolehin dia ketemu Bima. Tapi ini dia nggak dateng kamu cariin. Mungkin dia emang nggak tahu Bima dirawat disini."


"Papah kenapa belain dia terus sih, suka ya kamu sama dia?"


"Apa-apaan sih mah, bisa-bisanya ngomong kaya gitu."


"Ah udahlah papa diem aja jangan bikin aku kesel terus dari kemarin-kemarin."


Baru selesai berdebat Kiara dan Davin datang. Kedatangan Kiara membuat mood Sarah semakin jelek. Amarahnya juga memuncak melihat mantan menantunya datang bersama pria yang dulu membuat rumah tangga anaknya hancur.


"Ngapain kamu kesini?!" Tanya Sarah dengan sinis


"Saya mau liat keadaan Bima tante. Saya sangat khawatir denger kabar kalau Bima itu kecelakaan." Ucap Kiara dengan ekspresi sedih.


"Untuk apa kamu sok peduli dengan anak saya. Dulu saja ketika jadi istrinya kamu memilih bersenang-senang dengan pria ini kan? Dasar perempuan nggak tahu malu!" Ucap Sarah dengan kasar. Ferdi memegang pundak istrinya, dia berbisik untuk jangan membuat keributan disana. Namun Sarah menepisnya. Dia berjalan maju kearah Kiara.


Namun belum sempat melanjutkan caciannya kepada Kiara. Perawat dan dokter masuk ke kamar Bima karena Bima sudah sadarkan diri.


"Pah itu ada apa? Kenapa perawat keluar masuk ruangan Bima?"


"Nggak tahu mah yuk kita cek."


Ferdi dan Sarah memasuki ruangan anak mereka. Kiara dan Davin pun mengikutinya. Disana terlihat Bima sudah membuka matanya. Sarah sangat senang sekali, akhirnya anaknya sadar juga.


"Mamah, papah, Kiara, kenapa aku disini? aku kenapa? " Ucap Bima dengan lemas


"Dan dia siapa mah pah?" Bima menunjuk kearah Davin.


Kiara heran Bima kan sudah mengenal Davin sejak perselingkuhannya terbongkar waktu itu. Tapi kenapa sekarang dia tidak mengenalinya.


"Aduhh dok kenapa kepala saya sakit sekali," Keluh Bima


"Mohon maaf lebih baik semuanya keluar dulu biar saya dan perawat memeriksa pasien." Ucap Dokter


Semua keluar menunggu dokter selesai memeriksa Bima. Tak lama kemudian dokter keluar. Dia mengajak kedua orang tua Bima masuk ke dalam ruangannya. Sarah menyuruh Kiara pergi dari sana dan jangan mengganggu anaknya lagi. Namun bukan Kiara kalau dia menuruti perkataan mantan mertuanya itu. Kiara malah menguping percakapan dokter dengan kedua orang tua Bima.


"Dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan keadaan anak bapak dan ibu sudah membaik, lukanya juga sudah sembuh. Hanya saja dia mengalami amnesia. Untuk sementara waktu mungkin dia tidak bisa mengingat sesuatu yang pernah dia alami. Mungkin sebagian memorinya akan hilang."

__ADS_1


"Namun tidak perlu khawatir, seiring berjalannya waktu semuanya pasti akan kembali normal." Ucap Dokter.


"Wow benar-benar sesuatu yang menguntungkan bagiku. Semoga saja memorinya bersama perempuan miskin itu hilang." Batin Kiara


__ADS_2