Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Part 25


__ADS_3

Happy Reading All...


Saat ini Joseph sedang sibuk menonton adegan seorang anak dengan calon ibunya. Semenjak kedatangan Winda ke kantornya, Arka pun sibuk dengan mommynya itu dan Joseph pun dilupakan begitu saja.


"Ini udah waktunya jam makan siang, mendingan kalian hentikan kegiatan kalian dulu. Ayo kita makan siang." Ujar Joseph yang langsung membuat Winda dan Arka menoleh ke arahnya.


"Bentar lagi, dad. Arka masih belum selesai kangen-kangenannya sama mommy." Kata Arka sambil memeluk Winda.


"Nanti kamu bisa sakit kalau telat makan, kangen-kangenannya lanjutkan nanti saja." Ujar Joseph.


"Daddy kamu benar nak, nanti kamu bisa sakit." Ucap Winda.


"Oke kalau gitu ayo kita makan mommy." Ucap Arka.


Joseph membulatkan matanya tak percaya, Arka dengan mudahnya mengikuti kata-kata Winda. Hanya sekali Winda bicara, Arka langsung menurut.


"Kita makan bareng sama mommy kan, dad?" Tanya Arka.


"Iya. Tapi nggak cuma sama mommy aja, tapi juga sama abang kamu." Jawab Joseph.


"Nggak, kalian bertiga aja makannya. Mommy bisa sendiri kok." Tolak Winda.


Winda masih belum terbiasa dengan Varrel, karena anak itu tidak menyukainya. Memang terakhir kalinya Varrel tidak menatap Winda dengan tatapan tidak sukanya, tapi itu tidak menjamin Varrel sudah menyukainya kan.


"Kok gitu sih, mom?" Tanya Arka.


"Iya Win, kamu menolak makan bareng sama Arka? Kamu jahat banget ya." Ujar Winda.


"Bukan begitu, tapi ---"


"Tapi apa mom? Mommy kok jahat sih sama Arka? Arka kan masih kangen sama mommy, tapi mommy nggak mau makan bareng sama Arka." Ujar Arka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya nih Win, kamu kok gitu sih sama Arka. Liat tuh gara-gara kamu Arka jadi mau nangis. Kamu tega ya kalau anak saya nangis?" Ucap Joseph mempanas-panasi.


"Tapi ---"


"Ya udah kalau mommy nggak mau ikut, Arka nggak usah makan aja sekalian. Arka bakal mogok makan." Ancam Arka.


"Dan kalau sampai anak saya mogok makan lalu sakit dan harus dirawat di rumah sakit, siap-siap saja kamu saya nggak akan maafin dan saya akan menuntut kamu atas tudu---"


"Baik-baik, saya akan ikut."


Joseph yang mendengar ucapan Winda, langsung tersenyum menang. Akhirnya perempuan itu mengalah dan memilih ikut makan siang.


Begitu pun dengan Arka, ia juga langsung tersenyum. Tak sia-sia Arka akting seperti itu untuk membujuk mommynya.


"Yeay, gitu dong." Ucap Arka.


Winda hanya pasrah melihat anak sama bapak sama aja. Sama-Sama suka mengancam.


.


.


.

__ADS_1


Di restoran...


Joseph, Arka, dan Winda sudah sampai di restoran favorit Arka dan Varrel. Mereka sedang menunggu kedatangan Varrel. Joseph sudah menugaskan supir untuk mengantar Varrel ke sini.


"Dad, abang kok lama banget ya?" Tanya Arka.


"Daddy juga nggak tau, mungkin abang kamu ke jebak macet." Jawab Joseph.


"Arka, kamu turun ya dari pangkuan mommy. Duduk di bangku aja." Ujar Joseph.


Arka menggelengkan kepalanya. "Nggak mau."


"Nak, kasian loh mommy. Masa harus pangku kamu terus sih, nanti mommynya malah jadi pegal." Bujuk Joseph.


"Mommy pegal ya pangku Arka?" Tanya Arka pada Winda.


"Enggak kok." Jawab Winda.


"Tuh kan, mommy aja nggak keberatan. Kok daddy yang ribet sih?" Ujar Arka.


"Nak mommy nggak pegal, tapi emangnya kamu nggak malu?" Tanya Winda.


"Malu?" Ulang Arka.


"Iya nak, tuh lihat banyak banget kan yang ngeliatin. Arka kan sudah besar, masa duduknya harus dipangkuan mommy sih." Kata Winda.


"Iya juga sih. Ya udah Arka turun." Ujar Arka sambil turun dari pangkuan Winda.


"Daddy!" Panggil seseorang.


"Kamu udah datang Nak, sini duduk di samping daddy." Ujar Joseph pada putra sulungnya.


"Daddy ngajak dia juga?" Tanya Varrel.


"Ih abang, jangan panggil dia-dia! Panggil mommy!" Ujar Arka.


"Nggak, abang nggak mau. Dia bukan mommy kita." Tolak Varrel.


Winda sudah menduga ini akan terjadi, ternyata anak itu masih tidak menyukainya.


"Daddy, bilang ke abang supaya panggil mommy." Adu Arka.


"Daddy, bilang ke Arka juga kalau Varrel nggak mau panggil dia mommy." Adu Varrel juga.


"Udah-udah kalian ini. Arka, biarkan aja kalau abang kamu nggak mau panggil mommy. Dan kamu Varrel, kalau kamu nggak mau panggil mommy setidaknya jangan panggil dia-dia. Panggil aja tante!" Perintah Joseph.


"Oke dad." Ujar Varrel dengan lesu.


Joseph memanggil seorang pelayan, dan memesan makanan untuk mereka berempat.


Makan siang mereka dihiasi dengan canda tawa Arka, dan tingkahnya yang jahil menggoda abangnya.


.


.

__ADS_1


.


Joseph sudah mengantarkan kedua anaknya pulang ke rumah. Awalnya sangat sulit membujuk Arka agar mau pulang, tetapi Arka langsung setuju untuk pulang saat Winda yang menyuruhnya.


Joseph sampai heran pada putra bungsunya itu. Sebenarnya Arka itu anaknya atau anak Winda. Bahkan sekarang Arka lebih menuruti kata-kata Winda.


Saat ini Joseph sudah berada di kantornya bersama Winda.


"Sekarang saya harus kerjakan apa?" Tanya Winda.


"Maksudnya?"


"Maksudnya tadi kan kamu suruh saya kesini karena mau kasih saya kerjaan kan?" Ujar Winda.


"Iya, kamu benar sekali. Sekarang kamu duduk dulu di sofa itu!" Perintah Joseph.


Winda mengikuti perintah Joseph. Sedangkan Joseph kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB dan Joseph sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Winda sudah duduk di sofa dengan tatapan kesalnya. Sejak tadi ia terus saja menggerutu ke Joseph karena telah membohonginya. Joseph sama sekali tidak memberikan pekerjaan pada Winda, tapi ia malah menyuruh Winda untuk tetap duduk diam menunggunya menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu kenapa sih, kok mukanya ditekuk gitu?" Tanya Joseph.


"Pakai nanya lagi, ini semua gara-gara kamu. Kamu bilang mau kasih saya kerjaan, tapi malah suruh saya duduk saja."


"Justru seharusnya kamu senang dong, karena kamu nggak perlu capek-capek kerja." Ucap Joseph.


"Terus untuk apa kamu mengontrak saya kalau kayak begini?" Tanya Winda.


"Kamu bakal tau jawabannya nanti." Kata Joseph dengan misterius.


Winda pun hanya diam saja, lalu Joseph pun memakai jas nya kembali. Kemudian Joseph mengambil paper bag itu dan memberikannya pada Winda.


"Untuk kamu." Kata Joseph.


"Untuk saya?"


Joseph menganggukan kepalanya.


"Tapi kenapa kamu kasih ini ke saya?" Tanya Winda.


"Sebagai tanda permintaan maaf saya tentang kejadian kemarin waktu di mobil. Waktu saya ci---"


"Udah-udah nggak usah dilanjutkan." Potong Winda.


"Kenapa? Kamu malu mengingat kejadian kemarin?"


"Enggak." Elak Winda.


"Tapi kok pipi kamu merah begitu?"


"Mana sih, nggak ada. Pipi saya nggak merah." Ucap Winda.


"Iya deh terserah kamu aja, saya yang ngalah."


"Saya udah maafin kamu soal masalah itu, jadi kamu nggak perlu kasih saya ini." Ujar Winda.

__ADS_1


"Kamu nggak usah menolak, karena saya tidak terima penolakan sedikitpun." Ucap Joseph dengan tegas.


Bersambung...


__ADS_2