
"Hey mau kemana kamu?" Tanya weni kepada sopir firman, sopir kanza sekaligus orang suruhan Sarah untuk mengawasinya.
"Ya mau susul nona Kanza lah. Ada apa memangnya?"
"Emm tadi non telepon katanya hari ini ada pelajaran tambahan. Pulangnya nanti sorean." Ucap Weni, dia berbohong atas suruhan Kanza karena sepulang sekolah kanza akan pergi kerumah Vella. Weni gugup, dia takut kalau firman tak mempercayainya.
"Kamu yakin? Tapi bukannya nona Kanza nggak punya hp, dia bisa telepon pakai apaan?" Firman bertanya penuh kecurigaan, membuat Weni semakin gugup.
"Ee wali kelasnya tadi yang telfon, non Kanza kasian sama kamu kalau nanti nunggu lama disana. Jadi dia minta tolong ibu gurunya buat telepon saya." Jawab Weni mengarang saja. Dia berharap semoga Firman percaya dan tidak nekat datang ke sekolahan Kanza.
"Yaudah kalau gitu saya mau tidur ngantuk." Ucap Firman. Untungnya dia percaya begitu saja dan berlalu pergi begitu saja masuk kedalam kamar kecilnya yang berada didalam apartemen tempat Kanza tinggal juga.
Weni menghela nafas lega, dia berhasil membantu Kanza lolos dari pengawasan mamanya.
.
.
Verrel dan Kanza sudah berdiri di depan rumah Vella. Mereka masih berseragam sekolah lengkap dengan tas dipunggung mereka.
Tokk... Tokkk... tokkk.. Kanza mengetuk pintu rumah kakak iparnya. Terdengar jawaban dari dalam dan juga suara langkah kaki yang terdengar mendekat kearah pintu.
"Kanza kamu kok bisa kesini?" Pungkas Vella setelah membuka pintu. Dia langsung merangkul adik iparnya itu. Tanpa menunggu jawaban darinya, Vella langsung menuntunnya masuk kedalam. Begitu juga dengan Verrel.
"Emm kamu temen sekolahnya Kanza ya?" Tanya Vella saat mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Iya kak, saya Verrel."
"Kak kakak kembali ke rumah ya, kak Bima butuh kakak. Kak Vella jangan bercerai dengan kak Bima ya, aku sayang kalian aku tahu kalian saling mencintai." Ucap Kanza sambil memegang erat tangan kakak iparnya itu.
"Iya dek, maunya juga begitu. Tapi kalau ingatan kak Bima belum pulih dan mengingat semuanya, Buat apa kakak kembali kerumah." Ucap Vella dengan raut wajah yang sendu.
"Emm dek kamu kan bisa bantu kak Bima buat mengingat semuanya, dengan menceritakan sedikit-sedikit tentang kakak." Pungkas Vella merasa ada solusi untuk masalah ini.
"Masalahnya akses buat aku ketemu sama kak Bima di tutup rapat kak. Aku dipindahin sama mama ke apartemen. Mbak weni juga ikut pindah sama aku. dua asisten rumah tangga dan sopir kakak juga sudah di pecat. Semua yang berhubungan dengan kak Vella disingkirkan oleh mama." Tukas Kanza
__ADS_1
"Segitunya mama pengen mas Bima sama aku berpisah." Gumam Vella dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini semua salahku sendiri, kalau saja nggak bertengkar dengan mas Bima semuanya pasti tidak akan terjadi." Vella kembali menyalahkan diri sendiri. Kanza merangkul kakak iparnya yang mulai menangis. Dia mencoba menenangkannya.
"Ini bukan salah kak Vella kok. Tenang aja kak Bima itu cinta banget sama kak Vella. Ingatan tentang kakak pasti akan cepat kembali." Ucap Kanza
"Iya dek, semoga saja begitu. Sebelum anaknya ini lahir mas Bima sudah kembali seperti dulu."
"Amiin kak, Aku akan bantu kakak sebisa mungkin. Aku nggak bisa lama-lama disini, soalnya mama nyuruh orang buat jadi sopir aku sambil ngawasin aktivitasku kak. Tadi aja aku alesan masih di sekolah. Kak Verrel ini yang bantuin aku sampai kesini." Ucap Kanza
"Emm makasih ya dek, yaudah kamu cepetan balik ke sekolah. Hati-hati dijalan ya, Maaf karena kakak kamu jadi susah seperti ini dek." Ucap Vella
"Nggak papa kok, ini bukan salah kak Vella. Kita pamit dulu."
Mereka kembali ke sekolah. Mereka sampai tepat waktu, Karena tak lama kemudian Firman sampai disana juga.
...****************...
Hari berlalu begitu cepat, Kini usia kandungan Vella sudah memasuki usia 8 bulan. Artinya sudah hampir dua bulan Bima amnesia. Namun sampai saat ini Bima masih belum kembali mengingat apapun tentang dirinya. Sudah berkali-kali Kanza dibantu oleh Verrel mengirimkan foto dan juga barang kenangan yang dimiliki Bima bersama Vella. Namun barang itu selalu di buang sebelum diterima oleh Bima. Sarah sudah menyuruh satpam untuk tidak menyerahkan paket yang datang langsung kepada Bima.
Dikamarnya yang mewah nan nyaman Sarah tidak bisa memejamkan matanya setiap malam. Dia terus dihantui oleh ancaman-ancaman dari Kiara.
Sementara Ferdi sedang memikirkan kapan mertuanya akan pulang ke indonesia. Dia sudah berkali-kali mengirimkan email kepadanya namun belum terbaca. Ferdi merasa khawatir dengan keadaan mertuanya di luar negeri, karena hampir dua bulan ini dia tidak bisa dihubungi. Sarah anak kandungnya malah sibuk memikirkan dirinya sendiri.
"Mah papa Surya apa kabarnya ya, apa yang terjadi dengannya. Kenapa sampai sekarang dia belum kembali?"
"Papaku itu pasti baik-baik aja. Biarin ajalah mungkin dia sekalian liburan. Kamu berharap papa cepat pulang biar ngerusak rencana aku kan?" Ketus Sarah
"Mah papa ini cuma khawatir sama papa Surya. Sekretarisnya juga nggak bisa dihubungi soalnya. Apa jangan-jangan papa itu sedang kesusahan disana?"
"Udahlah pah, mama mau tidur udah diem jangan berisik. Susulin aja sana kalau khawatir."
Ferdi terdiam, dia benar-benar tidak habis fikir dengan istrinya itu.
.
__ADS_1
.
Pagi-pagi Kiara sudah datang kerumah Bima. Itu membuat Sarah merasa risih. Karena pastinya dia akan menanyakan masalah perceraian Bima dan Vella.
"Selamat pagi om, tante. Selamat pagi sayang." Sapa Kiara. Dia langsung duduk saja disebelah Bima tanpa menunggu untuk disuruh.
"Ohoo.. Bahkan dia dengan sesuka hati duduk dan ikut sarapan disini. Seakan ini rumahnya sendiri. Sebenarnya aku tidak sudi satu meja dengan perempuan kotor seperti dia!" Ucap Sarah dalam benaknya.
"Tante kenapa? kok natap aku kaya gitu, aku cantik ya? Oh jelas calon istrinya Bima kan harus cantik." Pungkas Kiara setelah melihat tatapan tajam Sarah.
"Rasanya ingin ku bejek-bejek tuh muka!" Batin Sarah kesal.
"Hemm.. Iya kamu cantik banget hari ini. Sampai noda sedikitpun nggak kelihatan. Eh maksudnya jerawat kamu." Balas Sarah dengan senyum tipis dibibirnya.
"Apa nih maksudnya, awas aja kalau aku udah nikah sama Bima. Aku singkirin dia dari rumah ini." Batin Kiara.
Selesai sarapan Ferdi pamit ke kantor. Bima ingin kembali kerja di kantor juga. Tapi Sarah tidak mengizinkannya. Bima hanya boleh bekerja dari rumah untuk sementara ini. Sarah tidak mau kalau diluar rumah Bima akan bertemu dengan Vella lagi atau temannya yang akan membuat ingatannya kembali.
Saat Bima sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Kiara mengambil kesempatan ini untuk berbicara empat mata dengan Sarah. Kiara menghadang Sarah yang akan pergi arisan dengan teman sosialitanya.
"Tunggu tante, aku mau bicara serius."
"Bicara apa kamu? Kan sudah jelas saya nggak bisa urus perceraian itu sendiri karena semua berkasnya ada pada Vella."
"Aku mau jadi istri kedua Bima. Nggak papa nikah siri dulu yang penting Bima jadi suamiku." Ucap Kiara
"Gila ya kamu kia, mau ditaruh dimana muka saya kalau semua orang tahu anak saya pengusaha muda sukses punya istri dua. Apalagi menikahnya tanpa sepengetahuan istri pertama. Kamu ini sabar dulu kenapa sih, biar Bima cerai dulu dari Vella." Tukas Sarah, yang selalu mengedepankan nama baik keluarganya.
"Aku nggak mau tahu. Kalau tante nggak turuti permintaan aku ini, aku akan kasih tahu semuanya kalau tante yang udah nyuruh orang buat nabrak Vella dan ayahnya waktu itu. Sampai membuat ayah Vella meninggal." Ucap Kiara mengingatkan kembali ancamannya pada Sarah. Kemudian dia melenggang pergi menuju ruangan Bima.
"Dasar perempuan sialan! Licik kamu!" Gerutu Sarah yang merasa diintimidasi terus menerus oleh Kiara. Dia pun pergi meninggalkan rumah dengan perasaan kesalnya.
Weni sudah merekam semua percakapan antara Sarah dan Kiara. Kebetulan dia sedang berada disana untuk mengambil keperluan Kanza.
"Nyonya Sarah memang benar-benar jahat. Saya harus kasih tahu non Vella." Ucap Weni
__ADS_1