Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 128


__ADS_3

Tiriiring... Hp Sarah berbunyi, dia melihat sekilas layar hpnya. Tertulis nama Kiara. Bukan menjawabnya, dia malah mereject telefon dari Kiara.


Tiriiring.. Hp Sarah berbunyi lagi tapi dia masih mengabaikannya. Hingga untuk keempat kalinya Sarah baru menjawab telefon itu. Dia menyisih jauh dari teman-teman arisannya.


"Halo kenapa sih, nggak bisa ya kamu nggak ganggu saya sedetik aja?!" Ketus Sarah


"Bima udah inget semuanya, sekarang dia udah kembali sama cewek miskin itu."


"Apa kamu bilang? Kok bisa, itu nggak mungkin. Jelas-jelas obat Bima udah kuganti dengan vitamin biasa. Dokter kan juga bilang kalau sepertinya masih butuh waktu lama buat Bima ingat kembali dengan sempurna."


"Aku nggak mau tahu tentang itu, yang jelas pokoknya lusa aku harus tetep nikah sama Bima. Kalau enggak, aku akan langsung nyerahin bukti ini ke polisi biar tante di penjara."


"Heh gimana caranya kalau Bima aja udah ingat semuanya. Kia.. Kia.."


Kiara mematikan teleponnya, dia membuat Sarah sangat kesal. Sarah harus pusing sendiri memikirkan cara agar Bima mau meninggalkan Vella dan menikahi Kiara.


"Jeng jeng semua, aku pamit duluan ya lagi ada urusan penting dirumah." Pamit Sarah pada teman-temannya.


"Loh jeng Sarah kok buru-buru aja, padahal jeng hesti mau traktir kita shopping loh. Yakin mau pulang aja," tukas Sita


"Iya sebenarnya pengen ikutan tapi ini beneran ada urusan penting." Ucap Sarah


"Yasudah hati-hati dijalan ya jeng,"


.


.


Saat dalam perjalanan Sarah bingung harus pulang kerumah atau kemana. Dia pasti akan dihakimi oleh Bima nanti karena sudah memisahkannya dengan sang istri.


"Apa yang harus kulakukan, bukti yang dipunyai Kiara tidak bisa ku musnahkan. Dia sudah mengcopy ke banyak tempat. Aku tidak mau dipenjara. Tapi Bima tidak mungkin mau menuruti semua kemauanku untuk menikahi Kiara. Aaah aku pusing." Gumam Sarah


"Berhenti di apotek terdekat." Pinta Sarah pada sopirnya.


"Baik bu,"


Sarah ingin membeli obat pereda sakit kepala. Rasanya kepalanya seperti mau pecah memikirkan masalah ini. Saat sedang antri, Sarah melihat kearah tv yang ada di apotek itu. Disana menayangkan sinetron, adegannya seorang ibu yang sedang sakot keras dan meminta anaknya untuk memenuhi permintaan terakhirnya.


"Ide bagus, ya aku harus pura-pura sakit parah kemudian meminta Bima cerai dari Vella. Toh perempuan itu sudah melahirkan sekarang. Ahaha ada aja jalan buat aku." Batin Sarah kegirangan.


Setelah dari apotek dia berpura-pura sakitnya semakin parah dan meminta untuk diantar ke rumah sakit. Dia meminta sopirnya untuk menghubungi Ferdi. Sarah sendirian masuk ke dalam ruangan dokter.

__ADS_1


Dokter langsung memeriksa Sarah, tapi semuanya normal tidak ada sesuatu yang serius.


"Bu mungkin anda hanya kelelahan, saya resepkan vitamin aja ya."


"Bu dokter saya ingin dirawat disini," Ucap Sarah


"Tapi ibu sehat loh nggak perlu perawatan dirumah sakit. Hanya perlu istirahat yang cukup saja dirumah." Ucap sang Dokter


"Dok saya minta tolong, kasih saya rujukan untuk dirawat disini. Nanti juga kalau suami dan anak saya datang, bilang kalau saya ini sakit parah. Emm sakit kanker darah misalnya pkoknya bilang kalau umur saya ini tidak lama lagi." Ucap Sarah, Dokter mengernyitkan dahinya. Dokter tidak habis pikir kok ada pasien yang ingin berpura-pura sakit di depan keluarganya.


"Maaf bu saya tidak bisa melakukan itu, Saya ini dokter saya harus mengatakan dengan jujur apapun keadaan pasien kepada keluarganya." Ucap dokter menolak permintaan Sarah.


Tiba-tiba Sarah menangis tersedu-sedu membuat dokter merasa bingung.


"Bu kenapa kok menangis?"


"Hiks.. hikss.. dok saya mohon bantu saya. Anak laki-laki saya sudah menghamili seorang perempuan. Dia tidak mau menikahi perempuan itu. Saya sebagai ibunya merasa sangat malu. Mungkin saja dengan mengetahui saya sakit keras dia mau menuruti perintah saya. Kasian juga perempuan yang dihamili anak saya dok," Sarah bersandiwara dengan sempurna sehingga membuat dokter iba.


"Emm baiklah kalau begitu saya bantu ibu," Ucap Dokter, Sarah pun tersenyum sumringah. Dengan mudahnya dokter mempercayainya.


Tak lama kemudian Ferdi datang bersama Bima. Sarah masih berbaring di brankar dengan infus yang sudah terpasang ditangannya. Tapi jarum infus itu tidak benar-benar menusuk ke punggung tangan Sarah. Infus itu hanya untuk penunjang sandiwaranya.


Bima ikut masuk kedalam tapi dia enggan menatap kearah mamanya. Bima masih merasa kesal dengan apa yang dilakukan mamanya padanya.


"Bu Sarah mengidap kanker darah ini hasil labnya pak. Untuk melihat seberapa penyebarannya masih perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jadi untuk sementara bu Sarah harus dirawat disini. Melihat kondisinya yang lemah juga." Ucap Dokter berbohong mengikuti perintah Sarah.


"Astaga mama kok bisa begini," Ferdi langsung menghampiri istrinya yang terbaring di brankar. Sarah sangat pandai dalam berakting. Dia memasang wajah yang sangat lesu.


"Mas ini anaknya bu Sarah ya, Kebahagiaan bu sarah itu salah satu kunci kesembuhannya. Kalau bisa dalam saat-saat seperti ini penuhilah semua permintaannya. Karena penyakit yang dideritanya bisa merenggut nyawanya kapan saja." Ucap Dokter


...****************...


Bima merenung di kursi sofa yang ada di dalam kamar rawat Vella. Entah mengapa dia tidak bisa mempercayai kalau mamanya itu betulan sakit.


"Mas, kenapa kok merenung, mikirin apa?" pungkas Vella yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Emm sayang kamu udah bangun, kenapa perutnya sakit lagi?" Bima langsung mendekat


"Enggak mas, Aku nggak papa. Mas belum jawab pertanyaan aku. Mas lagi mikirin apa?"


"Mama sakit kanker darah, tapi aku kok nggak percaya ya, Rasanya kaya ada yang aneh gitu." Ucap Bima

__ADS_1


"Astaga mamah sakit separah itu. Tapi kamu jangan gitu mas, ya memang mama sifatnya begitu, tapi masak buat suatu penyakit dia harus bohong juga mas. Lagian buat apa juga mama bohong." Ucap Vella yang selalu berfikir positif.


Dua hari kemudian


"Bima udah percaya kalau aku sakit, Aku akan buat dokter berkata kalau umurku nggak panjang lagi biar Bima mau menuruti semua perintahku. Aku sudah sangat risih di ancam terus oleh Kiara."


"Mumpung Bima dan papa belum datang aku mau pesan makanan diluar aja. Bosan makanannya hambar nggak enak. Lagian aku kan nggak sakit."


Sarah menelfon sopirnya, dia meminta untuk dibelikan makanan di restoran cepat saji. Dia bosan makan makanan rumah sakit. Hari ini Vella sudah diperbolehkan pulang jadi Bima sibuk mengurusnya. sementara Ferdi masih mengurus pekerjaan di kantornya. Jadi kesempatan ini Sarah gunakan untuk bisa makan bebas.


"Permisi bu, ini makanan yang ibu Sarah pesan."


"Ya, lama banget sih keburu Bima dan suami saya datang. Oke pesanan saya lengkap kamu boleh pergi. Tapi ingat jangan bilang siapa-siapa."


"Baik bu, saya permisi." Sopir Sarah keluar, dia sendiri heran katanya majikannya itu sakit kanker darah tapi kenapa malah makan makanan cepat saji.


Sarah menikmati semua makanan yang ada dihadapannya itu. Steak dengan kematangan sedang dan juga ayam kulit crispy super pedas. Sarah juga membeli dua minuman yaitu milkhsake coklat dan jus apel.


"Aku akan habiskan ini semua, biar nanti aku bisa kembali berakting menolak makan dan pura-pura mual. Ahaha." Ucap Sarah sambil menikmati makanannya.


Bima dan Vella ternyata tidak langsung pulang, mereka ingin pergi ke kamar Sarah dulu. Bima membuka sedikit pintu kamar tempat mamanya dirawat, dia takut akan mengganggu mamanya kalau saat ini sedang tidur. Tapi alangkah terkejutnya, Bima melihat mamanya makan makanan yang menjadi pantangan penyakitnya itu dengan sangat lahap. Bima tidak jadi masuk, dia kembali menutup pintunya.


"Kenapa mas? Mama sedang tidur ya, emm yaudah kita kesini lagi nanti. Kan kasian mama susah tidur ya sejak sakit." Ucap Vella, padahal sebenarnya penyebab sarah susah tidur itu karena menahan rasa laparnya.


"Sayang ikut aku sebentar yuk, aku temui dokter yang menangani mama." Bima menggandeng tangan Vella mencari dokter yang merawat mamanya.


Kebetulan sekali mereka berpapasan dengan dokter itu, Bima menatap penuh curiga dengan dokter itu.


"Oh mas Bima anaknya bu Sarah ya, emm ini calon istrinya yang sudah mengandung itu ya? Selamat ya akhirnya kalian bisa bersatu. Dan mas Bima nggak lari dari tanggung jawab." Ucap Dokter


"Maksud dokter apa ya? Ini itu istri saya, dia memang habis melahirkan tapi dia nggak hamil diluar nikah. Kita sudah menikah lama." Ucap Bima


"Loh kata bu Sarah mas Bima ini belum menikah.Malahan mas Bima menghamili seorang perempuan dan tidak mau bertanggung jawab. Makanya bu Sarah berpura-pura sakit parah agar mas Bima mau menuruti permintaannya." Ucap Dokter kelepasan, dia jadi mengatakan kebenarannya pada Bima.


"Astaga mas ternyata kecurigaan kamu bener, mama bohongin kamu dan kita semua." Ucap Vella


"Terima kasih sudah jujur sama saya dok, Saya butuh bantuan dokter untuk memberi mama saya pelajaran. Asal dokter tahu semua yang dikatakan mama saya itu bohong. Saya sudah menikah dan nggak ada ceritanya saya menghamili seseorang. Saya nggak akan tuntut dokter dan rumah sakit ini karena memberikan keterangan palsu asal dokter mau membantu saya."


"Saya mohon maaf mas, baik saya akan bantu. Tapi setelah ini saya nggak mau berurusan apa-apa lagi." Ucap Dokter.


"Mas apa yang akan kamu lakukan sama mama?" Tanya Vella

__ADS_1


"Tenang aja sayang aku cuma mau ikutin permainan mamahku terdrama itu." Ucap Bima seraya tersenyum menyeringai.


__ADS_2