Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Part 17


__ADS_3

Saat ini Joseph sedang berada di ruangannya. Ia sedang menunggu kedatangan tamunya.


Tok... Tok... Tok


"Masuk." Ucap Joseph.


Pintu ruangan Joseph terbuka dan menampilkan sosok tamu yang di tunggunya dari tadi.


Joseph langsung berdiri dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya. Dia juga mengajak tamu itu untuk duduk di sana. Sebelum itu ia juga menyuruh sekretarisnya itu untuk membawakan minum.


"Selamat siang Pak Barno." Sapa Joseph.


"Selamat siang juga Pak Joseph." Balas tamu yang bernama Joseph itu.


"Pasti bapak bingung kan, kenapa saya memanggil anda ke sini." Kata Joseph.


"Tentu saja saya bingung, pak. Karena orang terhormat seperti anda memanggil saya ke sini." Ucap Barno.


"Saya hanya ingin membuat perjanjian dengan anda." Ujar Joseph to the point.


"Perjanjian?"


"Iya, perjanjian yang saling menguntungkan. Anda hanya perlu menandatangani surat ini." Ucap Joseph sambil menyodorkan sebuah map.


Barno mengambil map itu dan membacanya dengan teliti. Ia pun membulatkan matanya, "Anda yakin? Ini jumlah yang sangat besar."


"Saya sangat yakin, itu tidak ada apa-apanya bagi saya. Bagaimana apa anda setuju?" Tanya Joseph.


"Tapi pak kenapa harus Winda?" Kata Barno penasaran.


"Anda tidak perlu tau alasannya. Tinggal bilang aja iya atau tidak." Ucap Joseph dingin.


"Baiklah, pak. Saya setuju." Ujar Barno.


"Oke, saya akan tunggu. Yang penting anda tanda tangani dulu perjanjiannya." Kata Joseph.


Barno mengangguk dan menandatangani surat perjanjian itu. Kemudian Joseph dan Barno sama-sama meminum minuman yang sudah dibawakan sejak tadi.


Joseph lalu berdiri yang diikuti langsung oleh Barno.


"Terima kasih atas kerja samanya." Ucap Barno sambil menjabat tangan Joseph.


Joseph mengangguk dan membalas jabatan tangan Barno.


***


Joseph sudah pulang dari kantornya satu jam yang lalu. Saat ini ia sedang makan malam bersama kedua anaknya.

__ADS_1


"Dad, mommy belum balik dari luar kota ya?" Tanya Arka.


Varrel yang mendengar pertanyaan adiknya itu hanya bisa mendengus kesal. Ia melanjutkan makannya tanpa menghiraukan ucapan Arka.


"Belum." Jawab Joseph dengan singkat.


"Kok lama banget sih?"


"Ya mana daddy tau, nak. Mungkin aja study tour nya belum selesai." Sahut Joseph.


"Udah, sekarang habiskan makanan kalian. Terus ke kamar, tidur!" Perintah Joseph.


"Daddy, besok kan libur. Jadi Varrel mau nonton bola dulu." Kata Varrel.


"Iya, dad. Bang Varrel benar, besok kan kita libur. Arka mau nonton juga." Sahut Arka.


"Iya.. Iya terserah kalian aja. Yang penting tidurnya jangan malam-malam." Nasihat Joseph.


"Siap, dad." Ucap Varrel dan Arka kompak.


***


Di lain tempat,


Drrt... Drrt... Drrt


"Halo Winda."


"Ya, halo. Ada apa Nu?" Tanya Winda.


FYI: Wisnu merupakan seorang duda yang sudah mempunyai seorang anak dan beliau adalah teman Winda semasa kuliah dulu. Dan dari dulu, Wisnu juga sudah menyukai Winda.


"Aku mau ngajakin kamu makan malam nanti, kamu mau kan?"


"Makan malam?"


"Iya. Makan malam biasa."


"Oke, jam berapa?"


"Jam 7 malam saya jemput kamu. Kamu kirimin alamat kamu ya."


"Aku bisa berangkat ke sana sendiri, kamu tinggal kasih alamat tempatnya aja." Tolak Winda.


"Enggak usah, biar saya aja yang jemput kamu. Lagian kan aku yang ngajakin kamu."


"Oke, nanti aku kirim alamatnya."

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu aku tutup telponnya."


Sambungan telponnya pun terputus. Dan Winda segera bersiap-siap untuk makan malam. Karena jam sudah menunjukkan pukul 6. Itu artinya ia hanya punya waktu satu jam untuk bersiap-siap.


Winda sudah mengirimkan alamat apartemennya pada Wisnu. Ia juga sudah selesai bersiap-siap dengan menggunakan dress selutut dan high heels.


Pintu apartemen Winda berbunyi dan itu pasti Wisnu. Winda segera mengambil tasnya dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Dan benar saja, sosok laki-laki tampan ada di sana. Yang tak lain adalah Wisnu, orang yang ditunggunya. Wisnu sempat terdiam selama beberapa saat, ia sedang mengagumi penampilan Winda.


"Wisnu, kamu nggak kenapa-napa kan?" Ucap Winda sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Wisnu.


"Ah, iya. Aku nggak kenapa-napa kok. Aku cuma lagi mengagumi ciptaan Tuhan yang ada di hadapan saya." Sahut Wisnu.


"Aku mau jujur sama kamu, Win. Sekarang kamu cantik banget." Tambah Wisnu.


Pipi Winda langsung memerah mendengar ucapan Wisnu. "Kamu bisa aja."


"Beneran, saya nggak bohong." Kata Wisnu


"Udah ah. Jadi pergi atau nggak nih?" Tanya Winda.


Wisnu tersenyum, "Jadi dong."


Winda langsung mengunci pintu apartemennya.


"Berasa kayak lagi di jemput pacar." Batin Winda.


Winda jadi senyum-senyum sendiri memikirkan itu. Karena ini baru pertama kalinya ia makan malam dengan laki-laki, apalagi di jemput. Tidak seperti Joseph yang menyuruhnya untuk datang sendiri.


"Aduh, kok jadi mikirin dia lagi sih." Gerutu Winda.


"Kamu ngomong sesuatu?" Tanya Wisnu.


"Eh, enggak. Aku nggak ngomong apa-apa." Jawab Winda.


Wisnu membukakan pintu mobilnya untuk Winda dan mempersilahkannya untuk masuk.


"Padahal aku bisa sendiri loh." Ucap Winda tak enak.


"Enggak apa-apa. Spesial buat kamu." Ujar Wisnu sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Winda kembali merona mendengarkan ucapan Wisnu, ia segera masuk ke dalam mobil agar Wisnu tidak dapat melihat pipi merahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


Wisnu mengitari mobilnya dan masuk ke tempat mengemudi. Lalu ia melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2