
Surat panggilan persidangan perceraian untuk kiara sudah sampai kerumah orangtuanya. Bu ina yang menerimanya langsung kaget berteriak memanggil suaminya. Kebetulan pak haris sedang ada dirumah.
"Pah.. pah... papah, sini. Buruan!"
"Ada apa sih mah? Kenapa teriak-teriak begitu?" Tanya pak haris dengan penasaran.
"Ini papah baca sendiri." Ucap bu ina dengan menyerahkan selembar kertas yang berisi surat panggilan perceraian.
"Apa?! Kiara mau bercerai sama bima? Apa maksudnya, kenapa kiara nggak cerita apa-apa sama kita?" Ucap pak haris kebingungan.
Bu ina langsung mencoba menghubungi kiara. Tapi tidak dijawab olehnya. Saat ini kiara sedang menikmati perawatan di salon. Hpnya berada di dalam tas. Kiara sengaja mematikan nada deringnya agar tidak ada yang mengganggunya sekarang. Kemudian pak haris menelfon kakek surya meminta penjelasan, apa sebenarnya yang terjadi, sampai bima dan kiara harus bercerai.
"Halo pak surya, Kenapa cucu anda menceraikan anak saya?"
"Oh jadi surat panggilannya sudah sampai. Untuk alasannya silahkan kamu tanyakan sama anakmu sendiri." Jawab kakek surya dan setelah itu kakek langsung menutup telfonnya.
"Gimana pah? Apa katanya?" Tanya bu ina penasaran.
"Pasti kiara buat kesalahan besar ini mah, Apa jangan-jangan bima tahu kalau kiara ingin menguasai hartanya?"
Pak haris penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sampai saat ini kiara belum juga menjawab telfonnya.
...----------------...
Di rumah bima sudah membereskan semua barang milik kiara dan dimasukkan ke dalam koper. Bima dibantu oleh weni dan juga kanza. Saat ini kiara sudah selesai melakukan perawatan di salon. Dia akan membayar semua tagihannya dengan kartu kredit yang difasilitasi oleh bima. Tapi ternyata kartu itu sudah dinonaktifkan.
"Mbak maaf kartunya nggak bisa, sepertinya sudah tidak berlaku." Ucap kasir salon
__ADS_1
"Masak sih, ini kartu baru loh unlimited. Jangan ngada-ngada kamu." Ucap kiara dengan sombongnya.
Kemudian kiara menggantinya dengan kartu kredit yang lainnya, itu juga fasilitas dari bima. Hasilnya pun sama, tidak bisa juga. Semua kartu kreditnya tidak bisa digunakan.
"Jadi gimana mbak? Mau bayar pakai kartu atau cash aja. Totalnya 19 juta 230 ribu rupiah." Ucap kasir salon
Akhirnya kiara membayarnya dengan cara mentransfer lewat m-banking. Untung saja saldo di rekening miliknya sendiri cukup. Dia merasa sangat malu karena semua kartu kreditnya tidak bisa dipakai. Tapi untung saja dia masih punya uang di dalam rekeningnya.
"Kenapa kartunya jadi nggak bisa dipakek semua? Bima ngeblokir kartu ini?"
Kiara tidak memperdulikan panggilan tak terjawab dari mamanya sebanyak 35x itu. Sekarang dia ingin cepat sampai kerumah dan minta penjelasan pada bima. Apa benar bima memblokir semua kartu kredit yang difasilitaskan untuk dirinya. Sepanjang perjalanan kiara terus bertanya-tanya.
Jam menunjukan pukul lima sore. Kiara sudah sampai dirumah bima. Dia melihat ada mobil bima terparkir di garasi. Dia langsung berlari masuk ke dalam ingin segera menanyakan masalah kartu kreditnya. Tapi alangkah terkejutnya kiara saat masuk ke dalam rumah. Banyak koper berjejer disana. Bima dan kakek duduk di kursi sofa.
"Sayang ini koper siapa?" Tanya kiara
"Apa maksudnya?" Tanya kiara dengan wajah kebingungan. Tapi belum sempat bima menjawab hp kiara berbunyi, mamanya menelfon lagi. Kiara langsung menjawabnya. Setelah mendengar penuturan mamanya wajah kiara langsung memucat.
"Sayang kamu bercanda kan? Nggak mungkin kamu ceraiin aku." Kiara tidak percaya
"Ya aku serius aku nggak pernah bercanda untuk masalah seperti ini." Jawab bima dengan tegas.
"Tapi kan aku nggak pernah menandatangani surat persetujuan untuk cerai, Nggak bisa! kita nggak bisa cerai!" Ucap kiara
Kemudian bima menceritakan semua bagaimana bisa dia mendapatkan tanda tangan kiara. Ternyata saat itu bima memberikan surat itu untuk ditandatangani oleh kiara. Kiara tidak membaca dulu itu surat apa. Dia pikir itu surat pengesahan atas nama rumah yang baru saja dibeli bima sesuai keinginan kiara. Bima sudah menyuruh kiara untuk membacanya dulu, tapi saking senangnya kiara bilang tidak usah. Dia langsung menandatanganinya begitu saja. Bukan hanya itu, kiara juga menandatangani surat perjanjian kalau dalam perceraian itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Semua fasilitas sebagai istri bima akan diambil kembali. Kecuali cabang butik, mobil, dan barang-barang yang sudah diberi bima sebagai hadiah. Kakek surya juga menghentikan suntikan dana ke perusahaan papa kiara. Mendengar itu semua kiara seakan ingin pingsan. Tapi, dia masih bisa saja mengelak dengan membela diri.
"Emangnya apa salah aku sama kamu? Oh jadi kamu nikahin aku cuma buat nikmat sesaat aja. Mentang-mentang kamu kaya gitu bosen trus kamu buang aku seenaknya." Ucap kiara membuat bima jadi emosi.
__ADS_1
Bima mendekat pada kiara, dia memegang dagu kiara agar tepat menatap kearahnya.
"Apa kamu bilang?! Kamu pikir aku nggak tahu selama ini kamu udah bodohin aku. Kamu bilang nikmat sesaat? Nggak malu kamu ngomong begitu?!" Ucap bima, kemudian bima berbalik arah bertepuk tangan sambil tertawa.
Sikap bima yang seperti itu membuat kiara jadi takut. Dalam pikirannya pasti semua kelakuannya selama ini sudah diketahui oleh bima dan posisinya sekarang sudah terpojok.
"Ini apa?!!" Tanya bima sambil menunjukkan botol berisi obat tidur dosis tinggi. Bima juga menunjukkan sebotol pewarna yang kiara gunakan sebagai darah palsu. Kiara terlihat syok melihat bima memegang itu.
"Apa it..tu aa..pa? Aku nggak tau." Ucap kiara gugup
"Kamu sudah tidur dengan pria lain semenjak sebelum kita menikah. Terus kamu tega bohongin aku dengan ini! Setiap malam kamu kasih aku obat ini biar aku nggak ingat apapun. Lalu kamu mensetting seolah-olah kita pernah melakukannya." Ucap bima dengan kesal.
"Itu nggak bener sayang. Kamu dengerin aku dulu." Ucap kiara dengan mencoba memegang tangan bima.
Bima mencoba mengendalikan emosinya. Matanya sudah berkaca-kaca. Sedangkan kakek surya hanya diam menyaksikannya saja. Dia sebenarnya juga sangat geram pasa kiara, tapi dia ingin cucunya mengatasi masalah ini sendiri.
"Istri macam apa kamu yang memilih melayani pria lain, dan meracuni suaminya dengan obat tidur dosis tinggi yang jelas sangat berbahaya!" Ucap bima dengan mengibaskan pegangan tangan kiara.
Bima sudah tidak kuat lagi, dia mulai meneteskan airmatanya. Bima mengeluarkan semua koper kiara keluar rumah dan memintanya untuk pergi sekarang juga. Bima menyeret tangan kiara agar segera keluar dari rumahnya.
"Aku sudah sangat tulus mencintai kamu. Tapi ini balasan kamu. Mulai hari ini kamu bukan istriku. Aku sudah sangat kecewa sama kamu!" Ucap bima yang kemudian langsung menutup pintu rumahnya.
"Sayang.. sayang.. dengerin aku dulu.. arrgghh!!" Teriak kiara
Akhirnya mau tidak mau kiara pun pulang kerumahnya. Dia sangat tidak percaya semuanya terjadi tidak sesuai rencananya. Setelah memasukkan semua koper sendirian, kiara langsung tancap gas menuju rumah orang tuanya.
"Arrghh sial! Gue udah terlanjur mutusin davin. Terus sekarang bima ceraiin gue. Masak gue kehilangan dua-duanya sih. Kira-kira davin masih mau terima gue nggak ya? Ya oke nggakpapa gue diceraiin bima. Masih ada davin, dia kan juga kaya meskipun nggak sekaya bima. Davin pasti terima gue kembali, secara dia cinta banget sama gue." Kiara berbicara sendiri sambil menyetir.
__ADS_1