
Happy Reading...
Winda saat ini sedang berada di dalam mobil milik Joseph. Sebenarnya Winda ingin menggunakan mobilnya sendiri, tapi Joseph melarangnya. Winda hanya bisa pasrah, karena baginya percuma juga berdebat dengan Joseph.
"Winda, kamu kemarin udah baca benar-benar kontrak kita kan?" Tanya Joseph sambil tetap fokus menyetir.
"Udah." Jawab Winda dengan singkat.
"Berarti kamu sudah tau kan peraturan yang saya buat di dalam kontraknya?" Kata Joseph.
"Iya, saya sudah tau."
"Kamu nggak boleh melanggar peraturan yang telah saya buat. Jangan khawatir juga soal gaji karena saya bisa bayar kamu 6 kali lipat dari gaji yang tertera di dalam kontrak."
"Saya nggak mikirin masalah gaji." Ujar Winda.
Joseph tidak menghiraukan ucapan Winda, ia fokus pada kemudinya. Sampai mobilnya berhenti di rumahnya.
"Loh, kok kita ke sini?" Tanya Winda.
"Kamu tunggu di sini dulu, saya nggak akan lama." Perintah Joseph.
"Di tanyain malah memerintah." Gerutu Winda.
Setelah 15 menit Winda menunggu, akhirnya Joseph datang juga. Tapi ia tak datang sendirian, melainkan bersama Varrel. Entah apa yang di dalam pikiran Joseph sekarang. Jelas-jelas ia sudah tau jika Varrel tak menyukai Winda, tapi ia malah mengajak Varrel bersamanya.
Joseph masuk ke kursi kemudinya, sedangkan Varrel di kursi belakang. Kemudian Joseph melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju tempat tujuannya.
Winda sangat heran dengan Varrel, biasanya ia tidak suka jika melihat Winda. Tapi ini, bahkan ia tidak mengatakan apapun.
Sedangkan di sisi lainnya Joseph sedang tersenyum senang. Ia mengira pasti Winda memikirkan tentang Varrel yang berbeda. Untunglah tadi Joseph sudah berbicara dengan Varrel tentang kehadiran Winda.
Awalnya Varrel tidak terima, tapi setelah mendengarkan penjelasan dari Joseph ia menjadi setuju. Joseph hanya mengatakan jika Winda bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah Varrel.
***
__ADS_1
Mobil Joseph berhenti di sebuah rumah sakit swasta yang ada di Jakarta. Joseph segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dari sana yang diikuti oleh Winda dan Varrel.
Varrel menggandeng tangan daddynya dengan erat, begitupun dengan Joseph.
"Loh, kok kita ke rumah sakit sih? Tadi kamu bilang kamu mau bawa saya ke tempat sekolah kamu." Bingung Winda.
"Udah kamu ikut saya aja deh, nggak usah bawel." Ucap Joseph sambil masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke sebuah kamar rawat.
Kamar melati yang menjadi tujuan Joseph sudah ada di depan mata. Saat akan membuka pintu, tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Varrel. Joseph pun mengurungkan niatnya.
"Kenapa Nak?" Tanya Joseph.
"Varrel takut, dad."
"Kamu nggak perlu takut, kan ada daddy."
Sekarang Winda bertambah bingung, sebenarnya ada hubungan apa antara rumah sakit, Varrel, dan rasa takut Varrel. Itu membuatnya semakin penasaran.
Joseph membuka pintu tersebut dan langsung menampilkan sosok anak laki-laki yang masih kecil berbaring di ranjang rumah sakit. Dan seorang laki-laki dewasa yang duduk di samping ranjangnya.
"Ngapain kamu kesini?" Ucapnya dengan ketus.
"Dio, nggak boleh gitu." Nasihat laki-laki dewasa itu.
Winda merasa familiar dengan suara itu, ia pun mendongakkan kepalanya. Dan tatapannya langsung berpapasan dengan Wisnu, orang yang tadi menasehati Dio.
"Loh, Winda?" Kaget Wisnu.
"Wisnu." Kata Winda tak kalah terkejutnya.
"Ehem.. saya ke sini mau minta maaf sama Dio, atas nama anak saya." Ujar Joseph.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Wisnu.
"Pa, itu anak yang udah buat aku kayak gini." Adu Dio.
__ADS_1
Winda semakin tidak mengerti dengan keadaan seperti ini.
"Jadi kamu yang udah buat anak saya kayak gini?" Tanya Dio pada Varrel.
Varrel yang ditanya hanya bisa bersembunyi di belakang tubuh Daddynya.
"Iya, anak saya yang ngelakuinnya." Jawab Joseph.
Winda yang mendengarnya tidak percaya, tidak mungkin Varrel yang melakukan itu. Melukai kakak kelasnya hingga masuk rumah sakit.
"Tapi anak saya melakukan itu ada sebabnya, kamu tanya sendiri sama anak kamu. Kenapa anak saya sampai pukul dia." Tambah Joseph.
Wisnu mengalihkan pandangannya kepada Dio. "Emang apa yang kamu lakukan sampai dia pukul kamu?"
"Dio nggak ngelakuin apa-apa kok, Pah." Ucap Dio dengan gugup.
"Kamu dengar sendiri kan kalau anak saya nggak ngelakuin apapun. Anak kamu aja yang sikapnya kayak preman." Ucap Wisnu.
"Jaga mulut kamu itu ya! Sekarang saya tau dari mana Dio punya sikap kayak gitu, ternyata dari papanya sendiri. Nggak bisa jaga ucapannya. Anak kamu itu udah membully anak-anak saya. Dia bilang kalau anak-anak saya itu pembawa sial, sampai mereka nggak punya ibu." Ujar Joseph dengan emosi.
"Anak saya tidak mungkin seperti itu, iya kan Dio?" Ucap Wisnu.
Dio hanya mampu menundukkan kepalanya dan tidak menjawab ucapan papanya.
"Kamu udah lihat sendiri kan. Bahkan dia nggak berani jawab karena dia salah." Kata Joseph.
"Dio! Papa nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu." Bentak Wisnu yang membuat Dio menitikkan air matanya.
"Maaf, Pah." Ucapnya.
"Udah, saya ke sini bukan untuk menonton drama antara anak dan ayahnya. Saya cuma mau minta maaf, walaupun secara terpaksa. Dan saya juga mau menyampaikan satu hal kalau kamu nggak bisa membully Varrel ataupun Arka. Karena mereka itu punya ibu, dan ini adalah mommynya Varrel dan Arka." Kata Joseph pada Dio sambil menarik Winda agar mendekat padanya.
Winda yang sedari tadi hanya diam pun kaget tak percaya dengan apa yang dikatakan Joseph.
Bersambung...
__ADS_1