
Happy Reading...
Di lain tempat,
Joseph saat ini sedang memikirkan hadiah apa yang harus dia berikan pada Winda. Seperti kata Rey, ia harus melakukannya agar Winda tidak terus marah padanya. Walaupun cara ini belum tentu berhasil, tapi ia akan mencobanya.
Joseph tidak mungkin hanya membawa Arka untuk bertemu dengan Winda. Mungkin saja Winda tidak akan marah di depan Arka, tapi setelah Arka pergi?
Sebenarnya Joseph benar-benar bingung sekarang. Jika perempuan di luar sana akan dengan sukarela memberikan tubuhnya pada Joseph, maka lain halnya dengan Winda. Joseph sudah berbaik hati menciumnya terlebih dahulu, tetapi ia malah marah. Padahal ini pertama kalinya Joseph mencium perempuan setelah bertahun-tahun lamanya. Karena yang sering Joseph lakukan dengan perempuan bayarannya hanyalah s*x tanpa ada ciuman.
Joseph menekan tombol di telponnya dan memanggil sekretarisnya. Tak lama pintu kantornya pun diketuk dan menampilkan sosok Hani.
Hani menghampiri Joseph yang duduk dengan santai di kursi kebesarannya.
“Maaf pak, ada apa bapak memanggil saya?” tanyanya dengan sopan.
“Duduk dulu, Han.”
Hani pun duduk di kursi yang ada di hadapan Joseph.
“Saya mau tanya sesuatu sama kamu.” Ujar Joseph.
“Tentang apa, pak?” tanya Hani.
“Kamu udah punya pacar kan?” tanya Joseph.
“Hah?” kaget Hani.
Karena tidak biasanya bosnya itu menanyakan tentang hal pribadi.
“Nggak usah kaget gitu, kamu tinggal jawab aja.” Ucap Joseph.
“Maaf, pak. Iya saya udah punya pacar.” Sahut Hani.
“Kalau kamu lagi marah atau kesal sama pacar kamu, biasanya apa yang dia lakuin atau kasih apa ke kamu?” tanya Joseph.
Hani benar-benar bingung dengan bosnya ini. Kenapa ia bertanya tentang hal ini. Apakah bosnya ini sudah punya pacar dan pacarnya itu sedang marah dengannya.
“Hani, kok kamu malah diam aja sih?” ujar Joseph.
“Maaf, pak. Biasanya kalau saya lagi marah atau kesal, pacar saya akan belikan saya barang kesukaan saya. Itu dia lakuin supaya saya nggak marah lagi sama dia.” Sahut Hani.
“Terus kamu berhenti marah sama dia?” tanya Joseph penasaran.
“Iya, pak.”
“Berarti kamu perempuan matre dong?” ujar Joseph yang membuat Hani menunduk malu.
“Maaf, saya keceplosan. Abaikan aja ucapan saya tadi.” Kata Joseph.
“Iya pak, nggak apa-apa.” Ucap Hani.
“Biasanya apa yang pacar kamu kasih ke kamu?” tanya Joseph.
“Biasanya dia kasih saya tas, perhiasan, atau barang-barang yang limited edition.” Jawab Hani.
“Ooh.”
Joseph mengeluarkan kartu black cardnya, lalu memberikannya pada Hani.
"Ini kamu beli barang-barang yang tadi kamu sebutkan tadi!" Perintah Joseph.
"Maksudnya pak?" Bingung Hani.
"Kamu tolong belikan saya perhiasan, tas, dan barang-barang yang limited edition! Apa kurang jelas?" Ujar Joseph.
"Memangnya untuk siapa pak?" Tanya Hani penasaran.
__ADS_1
"Udah deh Han kamu nggak usah kepo sama urusan saya. Kamu silahkan tinggal menjalankan perintah saya saja." Kata Joseph.
"Baik pak. Sekarang saya harus belinya?" Tanya Hani.
"Tahun depan Han." Ucap Joseph menahan emosi.
"Ooh tahun depan ya pak?" Kata Hani dengan polos."
"YA SEKARANG DONG, HANI." Ucap Joseph dengan emosi.
Hani langsung berdiri dan keluar dari ruangan bosnya, sebelum ia terkena amukan sang bos.
"Sabar... sabar." Ujar Joseph pada dirinya sendiri.
.
.
.
Dua jam kemudian...
Tok... Tok... Tok
"Masuk." Ujar Joseph.
Pintu ruangan terbuka dan terlihat Hani yang menenteng paper bag.
Joseph bangun dan menghampiri Hani, lalu mengambil paper bag itu dan meletakkannya di meja.
"Thanks, Han."
"Sama-sama, pak."
Hani menyerahkan black card yang tadi ia pakai ke Joseph.
"Udah simpan saja dulu, pakai buat kamu belanja. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya ke kamu karena sudah bantu saya." Ujar Joseph.
Joseph pun mengambil kartu black cardnya. "Yakin nih kamu menolaknya?"
"Eeehh, ya sudah pak kalau bapak memaksa, saya pun juga nggak berani menolak." Ucap Hani sambil mengambil kartunya itu.
"Makasih ya pak. Kalau gitu saya balik dulu ke meja saya." Pamit Hani.
"Dasar sih Hani malah pura-pura dia." Ujar Joseph.
Sekretarisnya itu hanya cengengesan dan keluar dari ruangan Joseph. Joseph pun langsung melanjutkan pekerjaannya, masih ada waktu sebelum Winda datang.
*****
Drrtt... Drrtt
Ponsel Joseph berbunyi dan yang meneleponnya adalah supirnya. Joseph pun segera mengangkatnya. Belum sempat Joseph berbicara, sudah ada seseorang diseberang sana yang mendahului untuk berbicara.
"Halo daddy, ini Arka. Anak daddy yang tampan, bermesin, dan juga cerdas. Daddy ingat kan sama suara Arka yang indah ini? Awas aja kalau daddy sampai lupa, nanti Arka bakal marah sama daddy. Bisa-bisanya belum pisah 12 jam udah lupa sama anaknya." Cerocos Arka.
"Nak, kamu bicara apa sih? Baru daddy angkat telponnya, kamu langsung bicara panjang lebar. Biasakan ucapkan salam dulu." Ujar Joseph.
"Maaf, dad. Ini bawaan suasana hati, dad." Ucap Arka.
"Maksudnya?" Tanya Joseph.
"Maksudnya Arka itu lagi senang banget, soalnya mau ketemu sama mommy. Arka udah nggak sabar mau ketemu sama mommy, soalnya udah rindu banget sama mommy." Ucap Arka.
"Iya tapi lain kali nggak boleh lupa lagi."
"Siap, daddy."
__ADS_1
"Kamu udah pulang?" Tanya Joseph.
"Udah dong, dad. Kalau belum pulang, Arka nggak bisa telpon daddy." Jawab Arka.
"Oh iya daddy lupa." Kata Joseph lalu meminum kopinya.
"Ya wajarlah kalau daddy suka lupa, namanya juga faktor usia." Ujar Arka dengan santai.
Uhuk… Uhuk…
Joseph yang sedang minum pun tersedak akibat ucapan anaknya itu.
“Kamu ngatain daddy tua?” tanya Joseph tak percaya.
“Nggak, Arka cuma bilang itu karena faktor usia.”
“Terus apa bedanya, Arka.”
“Ya beda dong daddy.”
“Terserahlah.”
“Daddy tungguin Arka di ruangan daddy ya. Soalnya Arka lagi menuju ke sana dan jangan rapat. Atau daddy akan lihat pintu ruangan rapat di kantor daddy akan rusak.”
“Apa-apaan kamu mengancam daddy?”
“Enggak.”
Joseph menghembuskan nafasnya kasar. “Oke, daddy tungguin kamu.”
“Nah gitu dong. Baru daddynya Arka itu, jadi makin sayang deh. Arka tutup telponnya ya dad. Bye.”
Tut… Tut… Tut
Belum sempat Joseph membalas ucapan Arka, anak itu sudah memutuskan panggilannya secara sepihak.
“Anak siapa sih, gitu banget sama bapaknya.” Ujar Joseph pada dirinya sendiri.
Joseph kembali melanjutkan pekerjaan, tapi sebelum itu terjadi pintu ruangan Joseph terbuka dengan keras.
“Daddy, Arka udah di sini.” Teriak Arka dari ambang pintu.
Arka menghampiri daddynya, lalu mencium kedua pipinya secara bergantian. Joseph mendudukan Arka di meja kerjanya.
“Kok kamu cepat banget sih sampainya?” tanya Joseph.
“Daddy kok gitu nanyanya? Daddy nggak suka ya kalau Arka sampainya cepat?” ujar Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bukan gitu nak, daddy cuma heran aja. Belum ada 3 menit kamu telpon daddy, tapi udah main sampai aja.” Kata Joseph.
"Oh, Arka kira daddy nggak suka. Tadi waktu Arka telpon daddy, Arka udah di kantor tapi lagi di lift." Ucap Arka.
Joseph belum sempat membalas ucapan Arka, karena tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk." Perintah Joseph.
Pintu ruangannya pun terbuka dan ada Winda yang berdiri di sana. Arka yang melihatnya, langsung turun dari meja dan berlari menghampiri Winda. Arka memeluk Winda dengan sangat erat, begitu pun sebaliknya.
"Arka kangen banget sama mommy." Ujar Arka.
"Mommy juga kangen sama kamu." Sahut Winda.
...Bersambung......
...Haii semuaaa.....
...Jangan lupa ya dukung karya ini dengan klik like, comment, gift🌹 dan votenya....
__ADS_1
...Bantuan jari tangan dari kalian semua bisa menambah Author untuk lebih semangat menulis🤗...
...Kalau perlu tambahin favorite dengan cara klik tombol ❤ biar nggak ketinggalan up terbarunya....