
"Saya agak lama disini. Kalau mau ngopi silahkan, tapi jangan jauh-jauh. Nanti saya telfon kalau mau ke butik." Ucap vella pada nino.
"Baik non,"
Vella disambut oleh ayahnya dengan pelukan hangatnya. Kemudian mereka masuk ke dalam. Arman senang dengan kedatangan vella kesana. Apalagi vella terlihat sudah sehat seperti sedia kala.
"Ayah kemarin sore aku kesini, tapi nggak ada siapa-siapa." Ucap vella
"Oh kemarin kamu kesini nak, kemarin itu ada acara syukuran di rumah pak rt, anaknya baru pulang dari jerman. Semua orang diundang. Jadi ayah, dira, ardan dan naya kesana." Jawab arman
Vella celingukan melihat sekeliling rumah, tidak terlihat siapapun disana selain ayahnya. Dia sedang mencari dira. Tapi belum sempat bertanya, dira datang mengagetkannya.
"Astaga mbak dira! Aku kaget, dia juga kaget loh." Ucap vella sambil mengelus perutnya.
"Oww maaf maaf, iya aku lupa kamu sedang hamil. Maafin tante ya sayang." Dira ikut mengelus perut vella.
Vella ingin langsung mengajak bicara dira, tapi dia canggung karena ada ayahnya disana. Sangat kebetulan tetangga bertamu ke rumah vella mencari ayahnya. Vella memanfaatkan waktu itu untuk mengobrol dengan dira meninggalkan ayahnya di ruang tamu dengan tentangganya.
Dira mulai menyiapkan bahan kue untuk membuat pesanan hari ini. Vella ikut membantunya, dia masih bingung ingin mulai bertanya.
"Mbak, mbak kan udah lama nikah nih udah punya anak juga. Aku mau tanya sesuatu boleh?" Vella mulai bertanya sambil membantu menata cetakan kue.
"Boleh, tapi tumben kamu nanyanya gitu. Ada apa? Kamu bertengkar sama bima?" Dira langsung menghentikan aktifitasnya dan fokus pada vella. Dia takut sedang ada apa-apa dalam rumah tangga adiknya itu.
"Enggak mbak enggak kok aku baik-baik aja sama mas bima."
Kemudian vella menjelaskan semuanya. Mendengar penjelasan vella, dira langsung tertawa terbahak-bahak. Menurutnya pertanyaan vella padanya ini sangatlah konyol diluar dugaannya. Vella bertanya cara memuaskan suami ketika hamil.
"Astaga dek, kamu ini emang masih polos banget ya, hahaha." Ucap dira sambil tertawa.
__ADS_1
"Ah mbak dira kok malah ketawa sih, aku serius loh." Ucap vella malu-malu.
Dira pun membisikkan sesuatu kepada vella. Seketika wajah vella berubah memerah memdengar bisikan dira. Vella sama sekali belum berpengetahuan luas tentang masalah ranjang. Dia tidak yakin apakah bisa melakukan hal yang dikatakan oleh dira. Vella menelan ludah membayangkannya.
"Hei hei nggak usah tegang gitu lah, katanya mau muasin suami. Cuma itu tips dari aku." Ucap dira sambil mengaduk adonan.
"Hemm.. Aku nggak yakin bisa kaya gitu. Tapi makasih tipsnya mbak. Aku pamit mau ke butik." Ucap vella
"Okey dek, jangan lupa nanti malam sesuai tips aku." Ucap dira sambil tersenyum.
🌷🌷🌷
Di butik vella melamun, dia terus kepikiran perkataan dira tadi. Dia sampai tidak sadar kalau lisa datang ke butiknya. Lisa duduk di sebelahnya membuyarkan lamunan vella.
"Hei bumil ngelamun aja, kenapa nih?" Sapa lisa
"Enggak kok, cuma lagi mikirin model baju terbaru buat butik ini." Jawab vella berbohong, karena tidak mungkin dia menceritakan apa yang sebenarnya ada difikirannya kepada lisa.
"Eh lo kok tumben rapi banget, udah kaya manager kantoran aja." Ucap vella
"Yah sebenarnya gue terpaksa berpenampilan begini. Gue harus bantu urus perusahaan papa gue mulai sekarang. Soalnya dia lagi sakit dan cuma bisa kerja dari rumah." Ucap lisa
Vella turut prihatin dan mendoakan papa lisa cepat sehat. Lisa tidak menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada papanya. Ini semua aib keluarganya. Jadi lisa tak ingin siapapun tahu mengenai itu.
Setelah mengobrol cukup lama lisa pamit. Dia beralasan akan mengantar undangan lagi ke tempat lain, tapi sebenarnya dia akan pergi kerumah dimana kiara tinggal saat ini. Lisa ingin mengambil kembali seluruh barang dan uang yang sudah papanya berikan untuk kiara.
Lisa pergi kesana ditemani oleh beberapa bodyguard papanya.Sampainya disana, dia sudah sangat emosi sehingga mengetuk pintu rumah itu dengan cukup keras.
"Dbarr...dbaaarr.." Suara ketukan yang sangat keras di pintu.
__ADS_1
Di dalam rumah kiara sedang menata perhiasan yang dibelikan oleh om ramon. Baru sebentar dia sudah banyak mendapatkan keuntungan. Kiara sudah dengar kabar tentang om ramon. Tapi dia malah merasa senang.
"Semuanya berkilauan, gapapa deh si tua bangka itu koid sekalian yang penting gue udah dapet banyak. Hahaha." Ucap kiara saat belum mendengar gedoran pintu di luar.
"Dbbbbaaaarr...gddduuuarr.." Ketukan pintu semakin keras. Lisa diluar sudah sangat geram karena belum juga dibukakan pintu.
"Itu siapa sih ngetuk pintu kerasa banget?! Nggak tahu orang lagi mau nyantai." Ucap desi merasa kesal, dia baru saja ingin duduk di kursi sofa sambil menikmati segelas jus yang dia bawa ditangannya. Desi bergegas membukakan pintu. Sementara kiara masih sibuk dengan perhiasannya.
"Yaa sebentar, biasa aja keless ngetuknya. Kaya nggak punya sopan santun aja deh." Omel desi sambil membukakan pintu. Desi langsung mengenali siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Oh jadi elo yang punya rumah ini?! Lo yang selingkuh sama cowo gue itu kan?" Melihat desi lisa langsung ingat kalau dia adalah perempuan yang berselingkuh dengan mantan pacarnya dulu.
"Heh lo dateng kerumah orang nggak sopan trus main tuduh aja! Maksud lo apa?!!" Ucap desi ngegas,
"Stop gak penting bahas itu, gue kesini nyari cewe gatel itu. Kiara tinggal disini kan? Gue mau ambil semua hak milik papa gue. Mana dia mana?"
Lisa ingin menerobos masuk ke dalam, tapi terus dihadang oleh desi. Kiara yang mendengar suara ribut langsung membereskan perhiasannya dan segera keluar. Melihat lisa disana, kiara langsung paham maksud kedatangannya. Kiara bersikeras tak mau mengembalikan apapun pada lisa. Mereka beradu mulut, sampai kiara pun kalah. Karena lisa mengerahkan bodyguardnya untuk mengambil paksa kunci mobil, kartu kredit, juga semua perhiasan kiara.
"Hey lo gabisa ambil semuanya gitu aja. Papa lo udah nidurin gue! Gue juga udah ngasih dia sesuatu dong. Lo nggak berhak!" Teriak kiara tak terima.
"Plakk..." Satu tamparan keras mendarat di pipi kiara.
Tanpa berkata apa-apa lagi lisa pergi dengan membawa semua milik papanya. Kiara menatap dengan sinis sambil memegangi pipinya yang tetasa ngilu setelah ditampar oleh lisa.
"Beb lo nggak papa kan?" Desi mengkhawatirkan kiara yang diam tanpa kata sejak lisa pergi membawa semuanya.
"Aaaaaargggh!! Sial! Gue rugi dong. Gue udah dipake berkali-kali sama tua bangka itu!" Teriak kiara kesal. Tapi kemudian dia teringat sesuatu. Dia lari ke kamarnya mengambil satu kartu atm di bawah bantalnya.
"Untung aja ini nggak ikut diambil juga," Ucap kiara merasa sedikit lega, dia masih punya simpanan uang meskipun semua barang berharganya diambil oleh lisa.
__ADS_1
Setelah kejadian ini, kiara merasa kapok menjadi simpanan om om. Dia tak mau lagi mendengarkan arahan dari desi. Kiara merenung, dia teringat tentang bima. Kalau saja dia tidak selingkuh, mungkin sekarang masih menjadi istri seorang pengusaha kaya. Tiba-tiba terbesit niatan untuk kembali merebut bima kembali ke pelukannya.
"Tapi apa itu mungkin?..." Kiara sendiri tidak yakin.