
Lisa akhirnya kembali ke jakarta lagi. Dia sudah pasrah dengan hubungannya bersama Fadly. Dia ingin fokus mengurus perusahaan papanya. Hari pertama pulang dari singapura, Lisa dipertemukan dengan Fadly dalam meeting yang diadakan di perusahaan argantara group. Bima tentunya juga ada disana. Bima merasa aneh melihat Lisa dan Fadly yang saling cuek bahkan seperti tidak kenal satu sama lain.
"Apa mereka udah putus?" Tanya Bima dalam benaknya.
Meeting selesai Lisa langsung buru-buru pergi dari sana, tapi Fadly mengejarnya. Dia ingin menyelesaikan masalah mereka berdua.
"Lisa tunggu, kita harus bicara."
"Ya silahkan bicara."
"Lis aku minta maaf aku udah nyakitin kamu, Aku sayang kamu tapi aku juga nggak bisa kontrol perasaan aku untuk Vella. Aku tahu dia udah punya suami, tapi rasa ingin memilikinya itu datang lagi." Ucap Fadly
"Oke kalau gitu, semuanya udah jelas. Aku akan ngomong sama orang tuaku kalau pernikahan kita dibatalkan." Ucap Lisa, matanya sudah berkaca-kaca.
"Enggak bukan gitu maksud aku lis,"
"Udah cukup fad. Aku cuma minta satu cukup hubungan kita yang hancur. Jangan kamu hancurin hubungan orang lain karena keegoisan perasaan kamu itu."
Lisa pergi meninggalkan Fadly dengan airmata yang membasahi pipinya. Bima yang berada tak jauh dari tempat Fadly berdiri mendengar semua percakapannya bersama Lisa. Ternyata benar dugaannya selama ini kalau sabatnya ini masih menyimpan perasaan untuk Vella istrinya.
.
.
.
Hari ini butik vella lumayan ramai, pesanan onlinenya juga masih banyak seperti biasanya. Paketnya juga sudah diambil oleh karyawan Fadly. Vella duduk merenung memikirkan buku diary mamanya. Dia penasaran apa lanjutan tulisan mamanya itu. Dia juga merasa aneh kenapa bisa ada sobekan di buku diary itu. Padahal saat pertama memegangnya Vella sudah membuka-buka buku itu dan terlihat semua lembarannya utuh.
"Hey Vella kok ngelamun aja sih,"
"Eh mas Fadly, Enggak kok aku nggak ngelamun."
Fadly tiba-tiba datang ke butik Vella padahal paketnya sudah diambil oleh karyawannya.
__ADS_1
"Butik kamu rame banget hari ini." Ucap Fadly
"Iya mas, ya alhamdulillah. Oh iya tapi paketnya udah diambil sama karyawan mas Fadly tadi. Mas kesini ada keperluan apa? Apa ada masalah sama paket dari butik aku?"
"Oh udah diambil, Aku kira belum." Ucap Fadly berbohong. Padahal dia sebenarnya sudah tahu itu, dia kesana hanya untuk bertemu Vella.
Namun saat Fadly mulai duduk di sebelah Vella. Bima datang kesana. Membuat Fadly tidak jadi duduk. Vella langsung berdiri menyambut kedatangan suaminya. Bima dengan sengaja memeluk dan mencium istrinya di depan Fadly.
"Ihh mas ada mas Fadly loh nggak enak ah," Bisik Vella
"Nggak papa dong sayang, Kamu kan istri aku. Jadi bebas mau peluk cium kapan aja. Iya kan bro?" Ucap Bima sambil tersenyum kearah Fadly.
"Iya bro," Balas fadly dengan senyum juga. Padahal dalam hatinya dia merasa harusnya dialah yang ada di posisi Bima saat ini.
Mereka duduk, Fadly duduk di sofa lain. Bima duduk satu sofa dengan Vella. Bima sengaja bersikap romantis pada vella di depan Fadly. Bima menciumi tangan istrinya dan terus merangkulnya.
"Mas kamu kenapa sih kok aneh banget hari ini." Ucap Vella
"Iya bro, Yaudah gue pamit ya. Gue tadi kesini mau ngambil paket tapi ternyata udah dibawa karyawan gue."
Fadly pergi meninggalkan butik karena sudah merasa tidak nyaman melihat kemesraan Bima pada Vella.
Kemudian Bima mengajak Vella untuk pulang kerumah. Dia berkata ingin melanjutkan kemesraannya itu di rumah. Tapi Vella ingin mengajak Bima mampir dulu ke rumah ayahnya. Dia ingin mencari dua lembar sobekan buku diary mamanya. Bima menurutinya saja.
.
.
.
Sampai dirumah ayahnya Vella langsung to the point, dia membongkar koper tempat diary itu tersimpan. Tapi ternyata tidak ada lembaran sobekam diary mamanya itu. Vella merasa kecewa, padahal menurutnya pasti di dua lembar itu ada informasi penting.
"Duh kok nggak ada sih, Padahal aku yakin dalam dua lembar itu pasti ada informasi penting. Oh iya ayah tau nggak siapa nama asli pak Bejo yang diceritain mama di buku diarynya?"
__ADS_1
"Nggak tahu Ayah nak, Setahu Ayah namanya ya Bejo itu."
"Dalam diary mama tertulis kalau istri pak Bejo ini ngancam mau menghancurkan pabrik kita yah, Apa mungkin mereka ada hubungannya pabrik kita yang terbakar yah," Ucap Vella, Bima langsung berkeringat dingin mendengar ucapan istrinya.
"Sudahlah nak kejadian itu udah lama banget. Siapapun yang ngelakuin itu ayah udah maafin. Mama kamu juga udah beristirahat tenang disana. Ini memang sudah takdirnya." Ucap Arman, Bima langsung sedikit merasa lega. Itu artinya ketika nanti kebenarannya terbuka, posisinya akan tetap aman.
"Aku tahu ini takdir, Tapi kalau kebakaran itu memang disebabkan oleh seseorang. Aku akan sangat membencinya karena gara-gara dia aku kehilangan mama." Ucap Vella.
Baru saja merasa lega, Bima malah mendengar ucapan istrinya yang seperti itu. Bima jadi tak ingin mengungkapkan kebenarannya. Dia ingin menyimpannya rapat-rapat saja.
.
.
.
Dua orang berbadan kekar sedang berbicara dengan Sarah di depan sebuah pertokoan. Mereka sedang mendengarkan arahan yang diberikan oleh Sarah. Setelahnya Sarah juga memberikan segebok uang kepada mereka. Setelah menerima uang itu mereka pergi.
"Bagus, ternyata nggak usah sulit-sulit nyingkirin Vella. Dan video ini bisa gue jadiin ancaman buat Mama mertuaku tersayang ini. Hahaha." Ucap Kiara yang sedari tadi sudah berdiri tak jauh dari tempat sarah berada. Dia merekam semua obrolan Sarah dan kedua orang berbadan kekar tadi. Sarah menyuruh dua orang tadi untuk mencelakai Vella terutama kandungannya.
Kiara segera menyingkir bersembunyi di balik tiang listrik untuk menghindari penglihatan Sarah. Untung saja Sarah tidak melihatnya disana. Hari ini Kiara benar-benar senang. Menurutnya keberuntungan memihak padanya hari ini. Kiara pulang dengan perasaan yang bahagia.
"Na na na na.." Kiara bersenandung saat memasuki rumah. Desi melihatnya dengan heran.
"Beb lo kok kayanya seneng banget gitu? Lo udah berhasil balikan sama Bima??"
"Belum sih," Jawab kiara yang langsung menyaut jus ditangan desi.
"Trus lo seneng kenapa beb? Kalau gara-gara davin nggak mungkin deh lo kan udah gamau sama dia."
"Jangan sebut nama dia lagi! Gue seneng banget karena nggak usah capek-capek buat nyingkirin perempuan miskin itu." Ucap Kiara dengan senyum bahagia.
Desi tidak paham dengan semua yang dikatakan Kiara itu. Tapi selama temannya itu senang dia ikut senang saja.
__ADS_1