Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 94


__ADS_3

Sarah sedang menyirami tanaman hiasnya di taman belakang rumah. Bima dan vella datang menghampirinya.


"Mah lagi sibuk ya," Sapa vella mendekat ke mama mertuanya itu.


"Ngapain kamu kesini? Mau cari-cari kesalahan mama lagi?" Sarah sangat sinis terhadap vella.


"Enggak mah, oh iya boleh aku bantuin nyiram tanamannya mah?" Vella coba mendekati mertuanya sekalian mencairkan suasana, tapi tetap saja sarah sinis padanya.


"Enggak usah! Nanti aku dimarahin suamimu lagi. Dituduh nyelakain kamu. Udahlah nggak usah, lagian semua tanaman disini mahal jangan sentuh!"


Melihat sikap mamanya yang seperti itu, bima jadi enggan meminta maaf padanya. Tapi vella terus meyakinkannya. Ini demi memperbaiki hubungan mereka. Siapa tahu dengan mengalah mamanya akan sadar dan bisa baik dengan vella. Perlahan bima mendekat.


"Mah aku minta maaf, nggak seharusnya aku keterlaluan sama mamah, sampai nggak ngebolehin mama datang kerumah." Ucap bima


"Iya mama udah maafin kamu. Mama juga minta maaf sama kamu vell," Sarah juga minta maaf tapi sepertinya hanya pura-pura.


"Iya mah, vella udah maafin mamah kok."


Setelah saling bermaaf-maafan vella merasa sangat lega. Dan bima berharap mamanya tak akan mengulangi kesalahannya lagi. Setelah itu mereka langsung pamit, karena bima ada meeting pagi.


"Sayang kamu ke butik sama nino ya, aku berangkat bareng kakek aja." Ucap bima


"Iya mas, semoga meetingnya lancar." Vella memberikan senyuman manis untuk suami tercintanya. Dia mencium punggung tangan bima. Sementara bima mendaratkan ciumannya di kening vella.


"Kek vella pamit duluan ya," Ucap vella pada kakek surya. Kakek mengangguk dan tersenyum kearahnya.


Dari kejauhan, sarah melihatnya dengan tatapan tidak senang. Benar saja, dia hanya berpura-pura minta maaf kepada vella tadi. Dia malah sedang merencanakan sesuatu lagi untuk menyingkirkan vella.


🌼


🌼


Dalam perjalanan menuju kantor, kakek dan bima membicarakan masalah rahasia kematian ibu vella. Kebetulan mereka berangkat tanpa sopir, jadi bisa bebas mengobrol tentang itu.


"Bim apa vella sudah kamu kasih tahu masalah meninggalnya ibunya?"

__ADS_1


"Emm belum kek, aku nggak tahu gimana nanti reaksinya saat dia mengetahui semuanya."


"Secepatnya kita harus menceritakan semuanya. Kakek tidak mau kalau sampai vella tahu dari orang lain. Takutnya dia salah paham."


"Nanti kalau dia sudah melahirkan aja kek, sepertinya saat ini waktunya belum tepat. Tidak baik kalau membebani pikirannya saat hamil." Usul bima.


Sampai di kantor mereka langsung menuju ruang meeting. Siska yang sedang bermalas-malasan langsung berpura-puran mengelap-ngelap kaca dengan rajin. Dia juga menyapa bima dan kakek surya. Siska masih tetap menjadi ob di perusahan milik keluarga bima.


"Hmm kapan gue jadi orang kaya? Udah lumayan lama kerja disini nggak ada satupun bos atau karyawan yang kepincut sama gue." Keluh siska.


"Lo sih nikah sama gue aja gamau." Sahut billi staff biasa yang sudah lama mengagumi siska.


Siska yang merasa jijik dengan billi langsung pergi begitu saja. Dia berpindah mengelap kaca luar kantor. Siska sangat malas mengerjakan pekerjaannya itu.


"Siska kamu itu kerja yang bener!" Suara seorang laki-laki mengagetkan siska. Dia pikir itu adalah kepala obnya.


"Iya pak maaf saya..." Karena kaget siska reflek langsung minta maaf, tapi dia sadar ternyata bukan kepala ob yang menegurnya. Ternyata dia adalah aryo yang kebetulan sedang mengantar paket kesana. Aryo tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi siska yang ketakutan.


"Hiihh elo, ngagetin gue aja. Ngapain lo kesini? Kangen sama gue?"


Aryo masuk ke dalam tak lama kemudian dia keluar lagi. Siska menghadangnya saat hendak pergi. Dia menanyakan kabar fadly. Siska berkata kangen sekali dengan fadly. Tapi aryo memberikan kabar yang membuat siska kesal. Minggu depan fadly mengadakan acara lamaran dengan lisa.


"Apa?! My future husband mo nikah sama cewe penjual bunga itu?!" Teriak siska histeris. Aryo meninggalkannya begitu saja.


🌼


🌼


Bima tengah termenung di ruangannya. Dia memikirkan bagaimana reaksi vella nanti saat mengetahui penyebab kebakaran yang menewaskan ibunya. Bagaimana kalau sampai vella tidak terima dan memilih meninggalkannya? Itu yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.


"Siska siska..." Panggil bima yang melihatnya lewat di depan ruangannya.


Mendengar panggilan bima, siska langsung berhenti. Dia merapikan rambut dan penampilannya. Dia sudah sangat gr dipanggil oleh bima.


"Iya pak ada yang bisa saya bantu?" Tanya siska berdiri tepat di depan meja kerja bima.

__ADS_1


"Kayanya pak bima mulai tertarik sama gue nih. Tumbenan dia manggil gue gini. Kalau butuh minum kan tinggal telfon biasanya." Batin siska kePD an


"Kamu lagi nggak sibuk kan?" Tanya bima


"Waduh mau diajak ngapain nih gue, nanya-nanya gini." Siska semakin kePD an. Dia menggelengkan kepala tanda tidak sedang sibuk.


"Tolong kamu pergi ke anastasya jewellry, sopir saya sudah nunggu diluar. Ini notanya." Ucap bima sambil menyodorkan nota kepada siska.


Mata siska langsung terbelalak melihat isi nota itu. Bima memesan cincin bermata berlian yang nominalnya sangat mahal. 10x gajinya pun belum cukup untuk membeli itu.


"Astaga pak bima beliin ini?" Tanya siska yang salah paham, padahal jelas bima membeli itu pasti untuk istrinya.


"Iya saya mau ada meeting saat makan siang nanti. Jadi saya minta tolong kamu. Soalnya tokonya hari ini tutup jam 1 siang. Saya mau kasih surprise buat istri saya malam ini. Jadi minta tolong ya,"


Mendengar ucapan bima, siska tidak jadi merasa senang. Yang awalnya semangat dia jadi setengah hati mengambilkan pesanan itu.


"Gimana sis kamu mau tidak? Tenang ada feenya kok."


"Baik pak, saya ambilkan. Permisi pak." Siska meninggalkan ruangan bima. Sepanjang lorong kantor dia mengomel sendiri. Merasa tidak terima nasib vella lebih baik darinya. Padahal dulunya vella itu bawahannya.


🌼🌼🌼


Sampai di anastasya jewellry siska langsung memberikan nota itu ke salah satu karyawan disana. Siska disuruh menunggu dulu setengah jam, mereka masih menyiapkan pesanan itu. Siska duduk di kursi yang sudah disediakan. Awalnya karyawan menawarinya untuk melihat-lihat koleksi terbaru disana. Tapi siska memilih duduk saja. Dia hanya akan bisa gigit jari setelah melihat harga-harganya.


Kebetulan sekali lisa dan fadly sedang berada disana. Mereka memesan cincin untuk acara lamaran minggu depan. Bukannya merasa minder, siska malah datang mendekati mereka.


"Hai lama nih nggak ketemu, mas fadly masih inget aku kan?" Sapa siska


"Calon suami aku nggak amnesia jadi masih inget 100%. Aku aja inget, kamu calon istrinya yang gagal itu kan." Lisa menjawabnya dengan sedikit sindiran.


"Nggak usah sinis gitu juga kali, takut mas fadly berpaling sama aku lagi ya hahaha." Ucap siska dengan pdnya. Lisa ingin marah tapi ditahan oleh fadly.


"Permisi mbak ini pesanan atas nama bima argantara sudah siap." Ucap karyawan anastasya jewellry sambil memberikan tas berisi kotak cincin. Siska menerimanya dan berniat langsung pergi. Tapi sebelum itu dia mengeluarkan kata-kata yang membuat lisa kesal.


"Oh iya jangan bangga dulu jadi calon istri, siapa tahu kamu cuma backingan dihatinya upss.. Bey.." Ucap siska sambil berlalu pergi meninggalkan lisa dan fadly disana.

__ADS_1


__ADS_2