
Anak Vella dan Bima kini sudah berada dalam gendongan Kiara. Kiara menyelinap masuk ke dalam ruangan bayi. Tidak ada perawat disana. Penjaga yang ditugaskan oleh Bima pun sedang tak ada disana. Dia sedang berada di wc karena kopinya sudah diberi obat pencahar oleh Kiara.
"Astaga kenapa lo lucu banget sih, tapi sorry ya kelucuan lo ini nggak akan buat gue luluh buat enggak nyulik lo. Gue akan habisin lo kalau Bima nggak mau nikahin gue." Ucap Kiara pada bayi yang tak berdosa itu. Kiara segera membawa pergi bayi itu. Namun belum sampai keluar ruangan, Bayi itu menangis sekeras-kerasnya. Suster yang berada tak jauh dari ruangan itu langsung bergegas menuju kesana.
"Husst.. jangan berisik, bisa gagal rencana gue." Ucap Kiara, dia bergegas pergi. Tapi sayangnya terlambat. Dua suster sudah sampai kesana.
"Hey kamu siapa? Mau dibawa kemana bayi itu?" Teriak salah satu suster,
Kiara akhirnya kembali menaruh bayi itu dan dia berlari untuk kabur dari sana. Bahkan dia menabrak salah satu suster hingga terjatuh.
"Hey mau kemana kamu, penculik.. penculik." Teriak suster mencoba mengejar Kiara. Kali ini keberuntungan tidak memihak pada Kiara. Saat berlari Kiara menabrak orang suruhan Bima yang sudah kembali kesana.
"Pak jangan lepaskan dia, dia mencoba membawa pergi bayi bu Vella. Bahkan dia melepaskan paksa oksigen yang membantu bayi itu." Ucap suster
Dua orang suruhan Bima pun mengamankan Kiara. Mereka membawa Kiara ke pos satpam rumah sakit sesuai arahan pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit pun langsung menghubungi Bima.
Tak lama kemudian Bima datang bersama Vella, Kakek Surya dan juga Ferdi. Sebelum kejadian ini mereka memang sedang berkumpul membicarakan masalah Sarah. Kakek Surya sudah matang ingin melaporkan Sarah ke polisi. Ferdi pun pasrah dengan keputusan mertuanya itu. Mengingat kelakuan istrinya yang sangat jahat.
Saat bertemu Kiara di pos satpam, Bima benar-benar marah. Dia tidak habis fikir kenapa Kiara tidak berhentinya mengusik kehidupannya.
"Kiara apa maksud kamu melakukan semua ini? Pertama kamu ancam mamaku, kamu manfaatin aku yang sedang amnesia, kedua kamu dorong istriku sampai dia pendarahan. Dan sekarang kamu culik anak aku? Nggak capek kamu ganggu aku terus," Ucap Bima penuh amarah
"Jadi kamu udah tahu tentang mama kamu yang nyebabin ayah cewek miskin ini meninggal?"
"Ingat Kiara dia ini Vella istriku. Kamu panggil istriku seperti itu, aku juga bisa panggil kamu cewek matre." Tegas Bima
"Ya aku sudah tahu semuanya. Kakek Surya udah melaporkan mama ke polisi. Sebentar lagi kamu juga akan aku laporkan ke polisi atas tindakan kamu ini." Ucap Bima dengan tegas.
"Apa?! Bim pliss jangan masukin aku ke penjara, aku begini karena aku cinta sama kamu." Ucap Kiara sambil menangis.
__ADS_1
"Itu bukan cinta, kalau cinta itu kamu nggak akan nyakitin aku ataupun orang disekitarku. Semoga kamu dapat pelajaran dari sana nantinya. Pak bawa aja ke kantor polisi biar dia tidak lagi melakukan kejahatan." Ucap Bima
"Bim.. jangan bim aku gak mau dipenjara." Teriak Kiara merengek saat ditarik oleh satpam untuk dibawa ke kantor polisi.
Setelah urusan Kiara selesai, Bima dan lainnya langsung menuju ke ruangan Bayi. Mereka semua tampak khawatir.
"Suster saya Vella, boleh saya melihat anak saya, bagaimana keadaannya sekarang?" Ucap Vella pada suster yang baru saja keluar dari ruangan bayi.
"Alhamdulillah bayi ibu tidak apa-apa, meskipun tadi ada seseorang yang berniat jahat melepas paksa oksigennya bayi ibu tidak ada masalah apa-apa. Dokter sudah memeriksanya. Bayi bu Vella sudah tidak lagi berada dalam inkubator. Semua organnya sudah berfungsi normal."
"Jadi anak saya sudah boleh dibawa pulang sus," Ucap Vella sangat gembira.
"Dua hari lagi kemungkinan baru bisa dibawa pulang, karena dokter masih akan melakukan observasi." Ucap Suster
"Kalau mau melihatnya masih tetap lewat kaca itu ya bu, sebentar saya bantu mendekatkan bayinya kesana agar ibu dan keluarga bisa melihat dengan jelas." Imbuh sang suster.
"Cicitku.." Ucap Kakek Surya terharu
"Vella keluarga saya selalu mendatangkan kesedihan untuk kamu dan keluarga, tapi kamu malah mendatangkan kebahagiaan untuk kami. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya." Ucap Kakek Surya dengan airmata yang menetes di pipinya.
"Kakek saya sudah memaafkan semuanya, Ayah dan mama saya pasti juga sudah bahagia disana. Tidak perlu dibahas lagi apa yang sudah terjadi. Kakek juga sudah banyak sekali membantu saya dan keluarga." Ucap Vella
.
.
Di atas brankar, Sarah meringkuk terus menangis. Dia meratapi nasibnya sekarang. Mendengar suara pintu terbuka dia segera memusatkan pandangan kesana. Yang datang adalah polisi. Mereka datang untuk menangkap Sarah.
"Dengan ibu Sarah, Kami ditugaskan untuk menangkap ibu atas dugaan dalang dari tabral lari yang mnghilangkan nyawa bapak Arman." Ucap Polisi
__ADS_1
Mata Sarah menatap tak percaya, dia berfikir Kiara lah yang melaporkannya. Dibelakang polisi datang Bima, Vella, Ferdi dan Kakek Surya.
"Papah tolongin aku, aku enggak salah. Perempuan licik itu melaporkanku kepolisi. Dia memfitnahku." Ucap Sarah pada kakek Surya.
"Bima Tolongin Mamah, Vella mama minta maaf atas semua kesalahan mama sama kamu. Sekarang mama sudah kena karmanya, mama terkena kanker darah." Ucap Sarah sambil menangis, dia masih duduk diatas brankar. Mereka semua diam. Polisi mulai mendekat kearah Sarah, mereka memasang borgol di tangan Sarah.
"Pah kok kamu diam aja sih," Protes Sarah pada Ferdi yang diam saja melihatnya di borgol.
"Bima kamu tolongin mama dong, mama kan lagi sakit parah. Kamu tega liat mama meninggal dipenjara karena tidak dapat pengobatan dari rumah sakit." Protes Sarah pada Bima
"Papah aku ini anakmu, masa papa juga tega aku dipenjara dalam keadaan sakit. Kiara itu menjebakku, dia hanya asal buat laporan polisi. Tolong aku. Aku sakit pah," Protes Sarah lagi, kali ini dengan Kakek Surya.
"Karena kamu anakku, maka dari itu aku melaporkanmu kepolisi. Kamu itu sudah jahat membuat nyawa Ayah dari menantumu sendiri hilang. Yang kamu bunuh itu besanmu. Aku itu malu mengakui kamu sebagai anakku. Bisa-bisanya kamu melakukan hal sekeji ini hanya karena Vella anak dari keluarga sederhana. Kamu tahu kan Kalau mamamu yang menyebabkan kehidupan Vella dan ayahnya menjadi sulit. Tapi kamu malah mengikuti jejak almarhumah dengan membuat Ayah Vella meninggal." Ucap Kakek Surya meluapkan amarahnya.
"Tapi kan pah, aku tidak sengaja melakukan itu. Vella mama mohon maafkan mama,"
"Aku sudah memaafkan mama." Jawab Vella yang sebenarnya tidak tega melihat ibu mertuanya akan dipenjara.
"Vella sudah memaafkanku pah, jangan penjarakan aku. Aku ini sakit pah," Sarah memohon pada Kakek Surya
"Bima bujuk kakekmu ini, mama kan masih harus melakukan pengobatan." Imbuh Sarah
"Udah pak bawa aja, mama saya tidak sakit." Ucap Bima pada polisi.
"Maksudnya gimana bim?" Tanya Sarah merasa bingung.
"Mama pikir yang bisa bersandiwara hanya mama saja. Yang bisa membuat rencana hanya mama saja, tidak. Aku pun juga bisa. Aku sudah menyuruh dokter untuk memberi mama pelajaran. Bagaimana ma rasanya dibohongi? Lagipula kebohongan mama yang ini itu cukup keterlaluan. Orang yang sakit saja ingin sehat, tapi mama malah bersandiwara sakit kanker darah. Jadi aku ikuti saja jalan cerita mama itu. Bagus bukan aktingku." Ucap Bima,
Sarah pun dibawa oleh polisi, kini dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebentar lagi dia akan menebus semua kesalahannya itu dengan mendekam dibalik jeruji besi. Sarah hanya bisa menangis.
__ADS_1