Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
27


__ADS_3

Winda menenteng 6 paper bag itu di kedua tangannya. Ia akan mengembalikan semua barang-barang itu pada Joseph. Winda sudah sampai di depan ruangan milik Joseph dan disambut oleh sekretarisnya.


"Hani, Josephnya ada di dalam kan?" Tanya Winda.


"Pak Joseph sedang ada di ruang rapat. Kamu mau ketemu dia?" Ujar Hani yang langsung mendapat anggukan dari Winda.


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu aja, palingan sebentar lagi rapatnya juga selesai kok." Kata Hani.


"Oke deh. Tapi saya tunggu di sini aja ya." Sahut Winda.


"Eh jangan di sini, di dalam aja Win. Soalnya sebentar lagi saya harus ke lantai bawah buat urus sesuatu, kasian kamu kalau harus tunggu di sini." Ucap Hani.


"Ya udah kalau gitu saya masuk dulu ya."


Winda masuk ke ruangan Joseph, lalu duduk di sofa yang ada di sana dan meletakkan paper bag itu.


*****


Joseph baru saja selesai rapat dengan beberapa karyawannya. Ia pun segera menuju ke ruangannya.


"Hani, Winda udah datang?" Tanya Joseph saat berada di depan meja Hani.


"Udah pak. Saya suruh dia tunggu di dalam seperti perintah bapak." Sahut Hani.


Joseph langsung masuk ke ruangannya tanpa membalas ucapan sekretarisnya. Sebenarnya Hani sangat penasaran dengan hubungan Winda dan bosnya itu. Winda sangat yakin jika tadi Winda membawa paper bag yang kemarin Hani beli untuk Joseph.


Apakah Winda perempuan yang sedang marah dengan bosnya sehingga bosnya itu membelikan itu semua untuk Winda. Itu artinya Winda memilik hubungan spesial dengan bosnya?


Joseph melihat Winda sedang memainkan ponselnya dengan duduk santai di sofanya.


"Udah lama minggunya?" Tanya Joseph.


Winda langsung menoleh ke asal suara itu. "Belum terlalu lama."


Joseph duduk di samping Winda dan melonggarkan dasinya. Joseph sadar jika Winda membawa barang-barang yang ia berikan untuk Winda.


"Kok di bawa ke sini lagi paper bag nya?" Tanya Joseph penasaran.


"Saya mau balikin semua ini ke kamu." Ujar Winda.


"Kenapa di balikin?"

__ADS_1


"Ya saya mau mengembalikannya aja." Ujar Winda.


Joseph menghembuskan nafasnya kasar. "Saya udah kasih ini semua ke kamu dan itu artinya barangnya udah jadi milik kamu. Saya juga nggak terima kalau barang yang sudah saya kasih ke orang lain di balikin begitu saja."


"Tapi ini semua berlebihan."


"Apanya yang berlebihan? Ini belum seberapa sama yang pernah saya kasih ke orang lain. Bahkan saya pernah kasih lebih dari ini ke perempuan lain." Kata Joseph.


Winda membulatkan matanya tak percaya saat Joseph mengatakan itu. Sekarang Winda tak bisa meragukan lagi kekayaan Joseph.


"Win, kok kamu melamun sih? Kebiasaan banget deh kayak gitu kalau lagi sama saya." Ujar Joseph.


"Ah, maaf."


"Nggak masalah. Tapi kamu harus bawa balik lagi paper bag itu ya." Kata Joseph.


"Nggak, saya tetap nggak mau." Tolak Winda.


"Kenapa sih kamu susah banget? Padahal tinggal terima aja."


"Ya susahlah, soalnya ini sangat berlebihan. Kalau kamu mau saya maafin, kamu tinggal minta maaf aja secara tulus dan berjanji nggak akan mengulangi lagi. Nggak perlu kasih saya barang-barang mewah kayak gini. Apala---"


Tapi ia kalah cepat dengan Joseph yang sudah lebih dulu menekan tengkuknya agar ciu*annya semakin dalam. Tak lupa juga Joseph memeluk pinggang Winda dengan satu tangannya.


Ciu*an Joseph sangat pelan dan lembut, sehingga membuat Winda tak memberontak. Tanpa sadar, Winda membalas ciu*an Joseph yang langsung membuat pria itu tersenyum tipis di sela-sela ciu*annya.


Ciu*an Joseph kini di penuhi oleh na*sunya. Joseph terus mel*mat bibir Winda setelah melihat respon yang diberikan perempuan itu.


Bahkan sekarang tangan Joseph yang sebelumnya memeluk pinggang Winda, kini sudah berani mengge*ayangi paha perempuan itu. Winda tersentak saat merasakan tangan Joseph mengge*ayangi pahanya. Saat itu juga Winda langsung tersadar bahwa ini salah.


Winda mendorong Joseph dengan sekuat tenaga dan langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu ia merapikan penampilannya yang sudah berantakan akibat ulah Joseph.


Sedangkan Joseph? Laki-laki itu dengan santainya duduk bersandar di sofa. Joseph menatap Winda yang sedang merapikan penampilannya.


"Kenapa kamu cium saya lagi?" Tanya Winda dengan emosi.


"Karena saya suka sama bi*ir kamu, rasanya manis." Jawab Joseph dengan santai.


"Kamu pikir bibir saya gula apa? Manis-manis, saya lagi nggak bercanda ya Joseph."


"Saya juga lagi nggak bercanda Winda." Sahut Joseph.

__ADS_1


"Susah ya kalau ngomong sama duda mesum kayak kamu."


"Kenapa kamu panggil saya duda mesum?"


"Karena itu sesuai sama sikap kamu yang mesum. Kenapa, kamu nggak senang kalau saya panggil gitu?"


"Nggak, justru saya senang. Anggap aja itu sebagai panggilan sayang kamu ke saya." Kata Joseph.


"Terserah apa kata kamu deh, saya capek kalau harus debat sama kamu."


"Saya juga capek kalau berdebat sama kamu. Tapi kalau kamu mau mengulang kejadian tadi, saya akan senang hati melakukannya." Goda Joseph sambil menarik turunkan kedua alisnya.


"Apaan sih, siapa juga yang mau ngulang. Saya nggak ngerti lagi deh sama kamu. Kamu baru aja minta maaf sama saya tentang masalah ci*man itu di dalam mobil, tapi sekarang kamu udah ngulangi lagi.


"Saya juga nggak tau kenapa saya ngulangi itu. Kayanya bibir kamu itu ada ga*janya deh jadi buat ketagihan. Dan sebagai pria yang normal, saya pun tidak tahan. Lagi pula pasti kamu juga ketagihan kan pengen rasain bibir saya." Ucap Joseph.


"Ga*ja? Kamu pikir bibir saya itu apaan sampai buat kamu ketagihan. Dan satu lagi kamu jangan kepedean deh kalau saya ketagihan sama bibir kamu." Kata Winda.


"Saya nggak kepedean ya, buktinya tadi kamu balas ciu*an saya kan." Ujar Joseph.


"Itu... emm itu tadi..."


"Itu apa? Kamu nggak bisa ngelak kan?" Ujar Joseph.


"Udahlah, saya mau pergi aja dari sini."


"Loh kok pergi? Saya belum suruh kamu pergi dan itu artinya kamu harus tetap di sini dulu." Kata Joseph.


"Kalau gitu saya tunggu di luar aja." Ucap Winda dengan cepat.


"Kenapa harus di luar kalau bisa tunggu di sini?" Tanya Joseph.


"Karena di sini berbahaya." Ujar Winda.


"Bahaya kenapa?" Tanya Joseph.


"Bahaya karena ada duda mesum kayak kamu. Kamu aja udah berani cium saya dua kali, dan itu nggak menjamin kamu bakal nggak ngapa-ngapain saya selama di sini." Jawab Winda.


Joseph tertawa mendengar ucapan Winda. Jadi perempuan ini takut jika Joseph melakukan hal lebih terhadapnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2