Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 113


__ADS_3

"Bapak Arman, silahkan masuk." Ucap perawat


Giliran Arman masuk ke dalam ruangan dokter saat ini. Vella senantiasa menggandeng tangan ayahnya itu masuk kedalam. Arman melakukan chek darah lengkap dan beberapa pemeriksaan kesehatan lainnya.


"Dari hasil pemeriksaan alhamdulillah semuanya baik, tapi tetap bapak Arman harus banyak istirahat. Melihat riwayat sebelumnya pernah sampai koma. Tetap harus menjaga makanan, kurangi makanan yang mengandung minyak dan tinggi kolestrol." Ucap dokter


"Tuh kan yah, harus banyak istirahat. Saya akan pastikan ayah saya cukup dalam beristirahat dok." Ucap Vella


"Kalau begitu saya buatkan resepnya sebentar."


Setelah mendapatkan resepnya mereka keluar dari ruangan dokter. Vella menebus obatnya setelah itu mereka keluar dari rumah sakit untuk pulang.


"Halo Nino saya udah selesai ya, ini saya udah di parkiran."


"Iya nona, saya kesana sekarang."


Tak lama menunggu Nino datang. Namun saat akan membukakan pintu untuk majikannya itu, dia mendapati semua ban mobilnya kempes.


"Astaga ini kenapa bisa kempes semuanya?" Nino kaget mendapati bannya kempes semua. Padahal jelas tadi saat akan berangkat dia sudah mengeceknya dan aman saja.


"Kenapa no? Ada masalah sama mobilnya?"


"Iya non, bannya kempes. Tapi yang saya heran kok bisa? Padahal tadi dirumah saya sudah cek."


"Kamu bawa serepannya kan?" Tanya Vella


"Ada sih non tapi cuma 1, sementar ini 4 kempes semua."


"Ee yaudah kamu urus mobil ini saya pulang naik taksi aja."


"Iya nona, Saya carikan taksi di depan dulu ya,"


"Enggak nggak usah biar saya cari sendiri kamu urusin mobil ini. Saya duluan ya no, yuk yah kota cari taksi di depan sana."


Vella dan ayahnya berjalan menuju pinggir jalan besar di depan rumah sakit itu. Vella menyuruh ayahnya untuk duduk di kursi yang ada di trotoar. Sementara dirinya mencari taksi untuk diberhentikan. Tapi jalanan disana sedikit sepi hari ini. Vella tidak melihat ada satupun taksi yang lewat. Akhirnya dia memesan taksi online, tapi sama saja semuanya penuh.


"Nak sudahlah kamu duduk sini dulu, inget kamu lagi hamil loh, nanti juga pasti ada taksi yang lewat."


Saat akan menuju trotoar untuk duduk bersama ayahnya, Dompet Vella keluar dari dalam tasnya yang belum ia tutup. Dompet itu jatuh terlempat ke tengah jalan. Melihat jalanan yang sepi Vella dengan santai berjalan ke tangah untuk mengambil dompetnya. Namun saat sudah mengambilnya, sebuah mobil melaju dengan kencang kearahnya. Arman yang melihat anaknya akan tertabrak langsung berlari menyelamatkannya.


Brakkk.... Tabrakan tetap tidak bisa dihindarkan, namun korbannya bukan Vella melainkan Arman, ayahnya. Vella meringkuk kesakitan karena didorong oleh ayahnya kepinggir hingga terjatuh. Perutnya terasa sakit. Namun lebih sakit ketika dia melihat ayahnya terkapar di seberang jalan dengan berlumuran darah. Mobil yang menabrak ayahnya itu sudah pergi entah kemana. Orang-orang dengan cepat mengerubuti tempat kejadian.


.

__ADS_1


.


.


"Ayaaaaaahh..." Teriak Vella, dia baru saja sadar dari pingsannya. Di sebelahnya sudah ada Bima yang memegangi tangannya sejak tadi. Bukan hanya Bima, Dira dan Ardan juga ada disana.


"Sayang akhirnya kamu sadar," Ucap Bima sambil menciumi punggung tangan istrinya.


"Mas anak kita gimana? Masih ada kan dalam perut aku?"


"Iya sayang alhamdulillah anak kita baik-baik aja."


Beruntung tidak terjadi masalah pada kandungannya. Vella hanya mengalami luka ringan di lengannya akibat jatuh tadi. Namun Vella segera teringat sebelum pingsan dia melihat ayahnya yang terkapar berlumuran darah. Apalagi Dira terus menangis dipelukan Ardan suaminya.


"Mas ayah nggak papa kan? Kenapa mbak Dira nangis kaya gitu? Ayah nggak papa kan?"


Tak ada satupun disana yang menjawab pertanyaan Vella. Mereka semua terdiam saling bertatapan. Dira seketika berhenti menangis. Dia menatap kearah Vella, ingin berbicara tapi mulutnya sangat terasa berat untuk terbuka.


"Kenapa diem aja? Kalau nggak ada yang mau jawab, Aku bakal cari sendiri ayah dimana." Vella bergegas turun dari brankar, Namun Dira langsung mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Dira tak kuasa menetesak air matanya lagi.


"Ayah udah meninggal vell," Ucap Dira sambil menangis. Sementara Vella langsung diam membeku tak percaya apa yang baru saja dia dengar. Tiba-tiba Vella melepaskan pelukan Dira. Dia beralih kepada Bima.


"Mas yang dikatakan mbak Dira itu bohong kan? Ayah nggak mungkin ninggalin aku."


Tangis Vella langsung pecah mendengar penjelasan suaminya. Dia sangat histeris tidak percaya. Padahal baru saja tadi dia melihat orang kehilangan ayahnya. Sekarang hal itu terjadi padanya juga. Vella menangis di pelukan Bima hingga akhirnya dia pingsan lagi.


"Dokter, suster," Teriak Bima memanggil perawat karena panik dengan keadaan istrinya. Dokter memeriksanya, Vella hanya pingsan biasa mungkin karena syok. Selebihnya dia tidak apa-apa.


Bima menunggu istrinya sampai sadar, sementara Dira dan Ardan mengurus kepulangan jenazah Arman. Mereka berdua menuju kamar jenazah untuk memastikan yang akan dibawa pulang itu benar jenazah Arman.


"Bang aku tunggu disini aja, aku nggak akan kuat." Ucap Dira yang sudah banjir air mata lagi.


"Kamu harus kuat sayang, yaudah kamu duduk disini dulu aku mau ke kamar jenazah." Ucap Ardan, dia akhirnya pergi sendiri ke kamar jenazah sesuai perintah pihak rumah sakit.


Saat melangkah masuk ke dalam ruang jenazah, Ardan mendengar suara orang tengah menangis. Langkahnya terhenti ketika melihat ada seseorang yang menangisi jenazah Ayah mertuanya itu.


"Kenapa kamu harus pergi secepat ini, bahkan sebelum aku jujur padamu. Aku berharap saat ini kamu sudah memaafkanku. Aku janji akan membuat Vella selalu bahagia, aku akan menebus segala kesalahan di masalalu." Ucap kakek Surya dengan linangan air mata di pipinya.


Orang yang Ardan lihat itu adalah kakek Surya, tapi dia tidak mengerti apa maksud yang dikatakan kakek itu. Ardan segera menyingkir darisana ketika kakek Surya beranjak pergi.


"Apa maksudnya rasa bersalah di masalalu?" Ardan bertanya-tanya sendiri hingga seorang perawat menepuk bahunya.


"Mas Ardan,"

__ADS_1


"Ah iya saya,"


"Sudah memastikan jenazah ayahnya? Sebentar lagi akan diproses untuk dibawa ke ambulan."


"Oh iya ini saya mau masuk,"


"Yasudah mari masuk mas,"


.


.


Dikamar rawatnya Vella sudah sadar dia menangis histeris lagi. Dira dan Ardan sudah pulang lebih dulu bersama jenazah Arman.


"Mas ayo kita pulang, aku mau lihat ayah. Aku nggak percaya ayah udah meninggal, Nggak itu pasti bukan ayah. Ayo pulang mas,"


"Iya kita pulang, tapi pelan-pelan jalannya. Kamu tadi habis jatuh, ingat juga kamu lagi hamil sayang."


Vella tidak menuruti perkataan suaminya dia berjalan sangat cepat menuju parkiran mobil. Bima terus menuntunya. Ketika sampai di mobil, perut Vella kram dan merasa sakit yang luar biasa.


"Aarrghh..." Pekik Vella sambil memegangi perutnya.


"Sayang kamu sakit lagi? Aku panggilin suster bentar,"


"Enggak mas, Aku mau pulang kerumah ayah. Aku nggak papa kok, aku kuat."


Dirumah Arman sudah berkumpul banyak orang, Aryo juga sudah ada disana. Fadly dan lisa tak sengaja datang bersamaan. Tapi mereka tak saling sapa. Jenazah Arman langsung dimandikan dan dikafani. Tak lama kemudian Vella sampai, dia turun dari mobil dan segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Ayaaahh...." Teriak Vella,


Dia terdiam sejenak di depan pintu saat mendapati jenazah yang terbaring di dalam. Kemudian dia mulai melangkah dengan lemas, dan bersimpuh di sebelahnya. Perlahan Vella membuka penutup wajah ayahnya. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut vella. Air mata membanjiri pipinya. Lisa dan Dira segera memeluknya.


"Tidak, ini bukan ayah, mbak ini bukan ayah!" Ucap vella lemas,


"Vell kamu yang sabar ya, kamu harus terima kenyataan ini." Ucap Lisa


.


.


Pemakaman pun dilangsungkan, Vella memeluk erat foto Ayahnya. Dia sudah tidak menangis lagi. Tapi matanya tidak bisa berbohong atas kesedihannya.


"Hal yang paling menyakitkan dalam hidupku...kehilangan cinta pertamaku,"

__ADS_1


__ADS_2