
Hujan lebat mengguyur di sepanjang perjalanan yang dilewati bima untuk pulang kerumah. Dia sudah merasa sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya dan juga anak dalam kandungannya. Tapi sepertinya bima akan sedikit terlambat sampai dirumah. Karena jalanan lumayan macet. Bima pun mengambil jalan pintas untuk menghindari macet yang semakin parah.
Kringg.. kriing.. Hp bima berbunyi, tertulis nama istri tercintanya dilayar hpnya. Bima segera menepikan mobilnya untuk menjawab telfon dari istrinya itu.
"Halo sayang, ada apa?"
"Mas udah sampai mana sekarang?"
"Emm masih agak jauh dari rumah, soalnya tadi kejebak macet. Kenapa sayang kamu sakit lagi?" Tanya bima dengan khawatir.
"Enggak mas, aku nggak kenapa-kenapa kok. Vitamin aku habis mas, bisa tolong beliin kan?"
"Oh syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa. Iya aku beliin vitaminnya. Kamu nggak pengen apa gitu sayang biar sekalian aku beliin,"
"Enggak mas, udah itu aja. Kamu hati-hati dijalan ya, soalnya lagi hujan lebat gini. Aku tunggu dirumah."
"Iya sayang."
Diluar hujan sudah reda, Bima sedang antri untuk membayar vitamin yang ia beli untuk istrinya. Di apotek yang sama, kiara sedang membeli beberapa alat test kehamilan. Selesai membayar dia melihat bima. Secepatnya kiara menyembunyikan sesuatu yang baru saja dia beli ke dalam tasnya. Kiara menunggu bima di luar apotek.
"Hai bim, nggak nyangka kita ketemu lagi." Sapa kiara
"Kamu ngikutin aku?" Tanya bima dengan curiga.
"Hah? Ahaha ... Enggak kok. Emang takdir yang mempertemukan kita bim." Jawab kiara
"Aku duluan," Ucap bima, tapi kiara malah memegang tangannya mencegahnya pergi.
"Bim tunggu, aku masih cinta sama kamu." Ucap kiara dengan beraninya. Berharap bima memberinya kesempatan lagi. Tapi ternyata bima malah mengibaskan tangannya.
"Aku udah punya istri dan aku udah nggak cinta sama kamu. Jangan ganggu aku lagi." Ucap bima dengan tegas. Dia melangkah cepat menuju mobilnya mengabaikan kiara.
Kiara merasa kesal bima mengabaikannya begitu saja. Dia berpura-pura kesakitan dan pingsan untuk menarik perhatian bima. Orang-orang dengan cepat mengerubuti kiara. Bima ingin tetap mengabaikannya dan segera pergi meninggalkan tempat, tapi salah satu orang disana memanggilnya.
"Mas mas ini mbaknya pingsan." Ucap orang itu.
__ADS_1
Bima bingung harus bagaimana, dia malas berurusan dengan kiara lagi. Tapi semua orang disana mendesak bima untuk menolongnya. Karena tadi mereka melihat kiara memgobrol dengan bima sebelum pingsan. Akhirnya atas desakan semua orang, bima yang mengantar kiara ke rumah sakit. Dalam hati kiara merasa sangat senang.
Dalam perjalanan kiara membuka matanya. Kiara tidak mau kalau sampai di rumah sakit nanti dia ketahuan pura-pura sakit dan pingsan.
"Aduhh, aku dimana ini," Ucap kiara sambil memegangi kepalanya pura-pura pusing.
"Loh bima kok aku ada di mobil kamu," Ucap kiara berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Kamu tadi pingsan. Sekarang aku mau antar kamu kerumah sakit." Ucap bima dengan tetap fokus menatap ke depan.
"Eh nggak usah bim, anterin aku pulang aja. Ke rumahnya desi, Kamu masih ingat kan?"
"Ya aku masih ingat."
Mereka sudah sampai di depan rumah desi. Bima menyuruh kiara untuk turun karena dia ingin langsung pulang. Tapi kiara berpura-pura tidak bisa jalan sendirian dan meminta tolong kepada bima untuk menuntunnya sampai ke depan pintu.
"Aku panggilin desi aja kamu tunggu disini." Bima turun dan memanggil desi yang berada di dalam. rumahnya.
"Hiih apaan sih bima dia kan bisa bantu aku, kenapa harus panggil desi sih. Gue kan mau ambil kesempatan buat peluk dia." Ucap kiara dengan kesal.
Desi membantu kiara keluar dari mobil, bima hanya terdiam menunggu. Bima ingin segera pergi darisana. Saat keluar dari mobil, kiara malah dengan sengaja menjatuhkan diri ke pelukan bima.
"Aduh maaf ya bim kepalaku pusing banget soalnya. Makasih udah nganterin aku pulang." Ucap kiara
"Iya."
Vella menunggu kedatangan suaminya. Dia terus menatap kearah jam di dinding. Dia berfikir mungkin vitaminnya susah dicari. Tapi rasa khawatir juga menyelimutinya. Baru saja ingin menelfon, terdengar suara mobil datang. Vella langsung membuka pintu untuk menyambut suaminya.
"Mas bima akhirnya kamu pulang, aku khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan." Ucap vella
"Maaf ya nunggu lama sayang, ouu anak papa udah kangennya." Bima langsung mengelus perut buncit istrinya.
Vella membantu suaminya melepaskan jas yang dipakainya. Vella mencium wangi yang berbeda di jaa suaminya. Kemudian dia mengendus aroma tubuh suaminya untuk memastikan.
"Loh kenapa sayang? Aku bau ya?" Tanya bima yang langsung ikut menciumi baunya sendiri.
__ADS_1
"Enggak mas. Tapi aku merasa baunya kok beda ya, ini bukan bau parfum kamu."
"Emm mungkin karena desak-desakan sama orang di apotek tadi sayang." Ucap bima beralasan, sebenarnya dia tahu itu pasti bau parfum kiara yang tadi memeluknya.
Beruntung vella langsung percaya dan tidak membahasnya lagi. Dia langsung memasukkan jas bima ke keranjang pakaian kotor.
Bima sebenarnya merasa bersalah sudah membohongi istrinya, tapi ini demi kebaikannya yang sedang hamil. Masalah yang di restoran saja sudah membuatnya usah tidur, apalagi kalau mengetahui ini bisa makin stress nanti.
"Yes negatif. Aaaaa syukur deh gue nggak hamil anak davin lagi. Dengan begini usahaku buat dapetin bima nggak ada halangan lagi."
Kiara bersorak kegirangan setelah mendapati tespeck yang digunakannya menunjukkan 1 garis merah. Hari ini dia punya rencana brilliant untuk menghancurkan rumah tangga bima dan vella.
"Bima sayang tunggu kejutan aku ya," Ucap kiara dengan senyum licik khasnya.
Pesanan online di butik vella semakin membludak. Itu membuat kerjasamanya dengan fadly terus berjalan dengan lancar. Setiap hari fadly sendiri yang mengambil paketnya di butik vella. Saat ini juga dia sedang berada di butik vella.
"Eh mas fadly udah dateng aja, bentar ya sebagian masih dipacking. Aku bantu cicil bawa ke depan aja ya," Ucap vella
"Enggak usah vell. Kamu kan lagi hamil, udah duduk aja disitu." Ucap fadly melarang demi kebaikan vella.
"Emm silahkan duduk dulu kalau gitu mas, nanti biar karyawanku aja yang masukin ke mobil."
Fadly duduk tak jauh dari vella. Dia kesana bukan dengan tangan kosong, dia membawa kotak yang entah apa isinya.
"Mas fadly bawa apa?"
"Oh iya ini ada paket buat bima. Sampek hampir lupa ngasih."
"Paket dari siapa mas?"
"Kok aku kurang tahu ya vell, disitu mungkin ada nama pengirimnya. Paket itu dateng dari counter jaya ekspedisi jalan mawar."
"Hmm nggak ada keterangan pengirimnya. Tapi makasih ya udah dibawain kesini."
"Iya sama-sama vell,"
__ADS_1
Vella menaruh paket itu dan berdiri hendak mengecek karyawannya yang sedang packing. Tapi dia terpleset karena lantai yang sedikit licin. Dengan sigap fadly menangkap vella, dia tidak jadi terjatuh kelantai. Jantung fadly berdegup kencang menatap mata indah vella.
"Aku senang bisa memandangmu sedekat ini, meskipun aku tidak bisa memilikimu vella." Batin fadly.