Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 115


__ADS_3

Dengan langkah yang lemas setelah sadar dari pingsannya. Vella menuju ruang kerja suaminya. Dia mencari map berisi kertas yang mirip sobekan diary mamanya.


Tapi sayangnya Bima sudah memindahkannya. Vella mencari keseluruh laci yang ada disana. Tersisa tempat terkahir yang belum dia buka, yaitu brankas. Tapi brankas itu terkunci, Vella tidak mengetahui apa sandinya.


Dia mulai mencobanya mulai dari tanggal lahir Bima, tanggal lahirnya tapi tidak bisa. Akhirnya dia mencoba dengan tanggal pernikahan. Brankas itu berhasil terbuka. Vella menemukan apa yang dia cari di dalamnya. Tangannya gemetar kala membuka map itu. Memang benar itu sobekan diary yang dia cari selama ini.


"Mas Bima kamu tega udah bohong sama aku." Ucap Vella sambil menangis.


Tanpa basa-basi lagi Vella mengemasi barangnya. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan pulang kerumah ayahnya.


Vella menyeret kopernya dan berjalan dengan buru-buru. Anis dan bi inah langsung berlari mengejarnya.


"Mbak, mbak mau kemana?"


"Aku mau pulang ke rumah ayah."


Nino masuk ke dalam dan berniat mengantarkan Vella tapi dia menolak, Vella memilih naik taksi saja.


"Non mau kemana, non kan baru pingsan tadi, Biar saya bawakan kopernya." Ucap Nino


"Enggak usah saya bisa sendiri, Kamu juga nggak perlu antar saya mau naik taksi." Ucap Vella sambil sesekali menghapus air matanya.


Nino, Anis, dan bi inah kebingungan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Mas mbak Vella kenapa? Tadi pulang pingsan, sekarang malah pergi bawa koper sambil nangis lagi." Ucap Anis


"Tadi itu samar aku lihat sebelum non Vella nangis histeris di makam, Ada sosok perempuan mirip mantan istrinya pak bos itu." Jawab Nino


"Waduh kayanya ada yang nggak beres nih mas. Mas telpon pak Bima aja deh," Ucap Anis


Nino menelfon Bima, namun tidak dijawab. Di singapura Bima masih sibuk dengan pekerjaannya disana.


"Nggak dijawab terus nis, bi. Kita harus gimana nih sekarang, Kalau terjadi apa-apa sama istrinya. Pasti Kita yang akan kena marah sama pak bos." Ucap Nino


"Coba terus mas,"


.


.

__ADS_1


.


Vella sampai dirumah ayahnya. Dira menyambutnya dengan kaget. Dia yang tadinya sedang menyuapi anaknya langsung memberikan piringnya pada suaminya. Vella memeluk Dira sambil menangis sesenggukan.


"Loh loh, Kamu kenapa dek, kok nangis sih?" Tanya Dira


"Papa ate kok nangis," Ucap naya


"Enggak kok, sayang kita main di halaman belakang aja yuk." Ardan menggandeng anaknya ke dalam agar tidak melihat Vella yang sedang menangis.


Dira menuntun Vella untuk duduk di kursi ruang tamu. Dia juga membawa masuk koper yang dibawa Vella.


"Mbak suamiku jahat ... Aku benci sama dia." Ucap Vella


"Jahat kenapa? Bima kan baik banget dek selama ini sama kita semua." Ucap Dira bingung tidak paham apa yang Vella maksud.


"Kebaikan mas Bima dan Kakeknya sama kita itu karena mereka ingin menebus rasa bersalahnya. Istri kakek Surya lah yang membakar pabrik ayah dulu, sampai mama meninggal mbak."


"Jadi kecurigaan bang ardan kalau kakek surya itu ada apa-apanya ternyata benar. Soalnya waktu itu bang ardan memergoki kakek menangis sambil terus meminta maaf sama jasad ayah." Ucap Dira


"Aku nemuin lembaran diary mama yang hilang. Mas Bima yang udah menyobek dan menyembunyikannya." Ucap Vella bercucuran air mata.


*Surya argantara. Istrinya yang bernama Sukma itu sangat cemburu denganku. Kemarin dia mendatangiku lagi. Dia berkata kalau suaminya berubah semenjak mengenalku. Dia mengancamku lagi dengan kata-kata yang lebih jahat. Dia berkata akan membunuhku kalau aku tidak menjauhi suaminya.


Tadi siang aku tak sengaja bertemu lagi dengan pak Surya. Aku lantas menghindar darinya. Tapi, dia malah mengikutiku untuk meminta maaf telah berbohong tentang identitasnya dan meminta maaf atas kelakuan istrinya padaku.


Akhirnya kita duduk sebentar di depan perkotoan pasar. Pak Surya meluruskan semuanya. Dia tidak menyukaiku dia menganggapku hanya sebagai seorang adik. Istrinya saja yang terlalu berlebihan. Pak Surya menjauhinya juga bukan karena aku. Tapi karena memang ingin memberi istrinya pelajaran. Istri pak Surya ini suka sekali belanja. Katanya satu hari bisa menghabiskan 20 juta.


Pak Surya mengambil tindakan dengan mengurangi jatah bulanan untuk istrinya. Tapi bu Sukma mengira Pak Surya ini membagi keuangannya untuk selingkuhannya. Sehingga saat melihatku di pasar dia langsung salah paham.


Setelah mengobrol itu kita langsung berpisah menuju jalan pulang kerumah masing-masing. Tadi di jalan aku di cegat oleh dua orang berbadan kekar. Mereka membawaku ke sebuah kebun yang sepi. Ternyata mereka orang suruhan bu Sukma.


Ternyata mereka memata-mataiku sejak tadi. Bu Sukma melihatku sedang mengobrol asik dengan pak Surya tadi. Itu membuatnya salah paham lagi. Dia kembali mengancamku dengan kata-kata kasarnya*.


"Aku akan membakar pabrikmu beserta dirimu hidup-hidup kalau kamu masih terus bertemu dan berteman dengan suamiku wanita miskin."


*Itulah kata-kata yang dia ucapkan tadi. Aku tak berani bercerita dengan suamiku tentang ini. Aku tak mau membebani pikirannya. Karena saat ini dia sudah dipusingkan dengan urusan pabrik.


Semoga besok aku tidak bertemu dengan pak Surya lagi*.

__ADS_1


Diary Rosaline berhenti disitu, tepat sehari sebelum kejadian kebakaran pabrik yang membuat dirinya meninggal.


"Dek dari tanggalnya ini jelas ditulis satu hari sebelum kejadian kebakaran itu." Ucap Dira


"Disitu udah jelas kan mbak, udah menggambarkan akan terjadinya itu."


Dira pun tidak menyangka dibalik kebaikan keluarga Bima tersimpan rahasia besar tentang kematian ibu Vella. Dira menguatkan adiknya itu.


"Sudah vell sudah, ingat kamu lagi hamil. Kasian dede bayinya kalau kamu nangis terus." Ucap Dira


"Maaf ya de mama nangis terus, Kamu jangan ikut sedih ya, mama janji akan berhenti menangis." Ucap Vella sambil menghapus air matanya. Kemudian dia mengelus perutnya.


.


.


.


Kiara sangat senang telah berhasil mempengaruhi Vella. Dia tinggal menunggu kabar selanjutnya tentang hancurnya hubungan mereka.


"Gue yakin si cewe miskin itu pasti bakal minta cerai dari Bima. Gue harus terus update berita tentang mereka." Ucap Kiara


Dia merayakan sendiri keberhasilannya di sebuah cafe. Dia memesan minuman alkohol padahal hari masih siang.


"Masih siang kamu udah mau mabuk aja sayang," Ucap Davin yang saat ini sudah duduk di sebelah Kiara.


"Lo ngapain sih disini? Bukan urusan lo juga gue mau mabuk siang sore ataupun malem." Ucap Kiara sambil meneguk minumannya.


"Kalau gitu aku temenin ya,"


"Ah si Davin ngapain sih ganggu kesenangan gue aja. Kalau gue mabuk pasti ntar dibawa ke hotel sama dia. Nggak gue gamau hamil sama dia. Yang waktu itu aja syukur gue nggak hamil. Bisa gagal jadi istri Bima kalau gue hamil lagi sama dia. Mending gue pergi aja deh."


"Loh mau kemana sayang? Minuman kamu masih banyak ini loh,"


"Bukan urusan lo! Udahlah lo jangan ganggu gue lagi. Urus aja istri pilihan bunda tercinta lo itu. Bye!" Kiara meninggalkan Davin di cafe itu.


Braakkk.... Davin menggebrak meja membuat pelayan bar kaget.


"Aaarghh..!" Teriak Davin kesal mengingat istrinya sendiri yang tidak dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2