
Sampai di kantor siska bertanya kepada salah satu temannya tentang meeting di lantai dua. Ternyata meeting itu sudah selesai 15 menit yang lalu. Siska bergegas menuju lobby, dia berharap lisa masih ada di depan sana. Siska senang ketika melihat lisa masih berdiri di depan lobby.
"Jadi kamu nggak bisa makan siang sama aku fad, Yaudah deh nggak papa. Tapi kamu jangan lupa makan ya." Ucap lisa yang sedang menelfon fadly. Di belakangnya siska menunggunya selesai menelfon.
Siska tersenyum menyeringai saat lisa menoleh kearahnya. Tapi setelah melihatnya, lisa bergegas pergi. Lisa tidak ingin berurusan dengan siska.
"Mau kemana sih kok buru-buru banget," Ucap siska. Akhirnya lisa menghentikan langkahnya dan kembali mendekat kearah siska.
"Sorry kaya ada yang ngomong tapi kok nggak kelihatan ya?" Ucapan lisa ini sedikit membuat siska kesal. Tapi siska ingat tentang tujuannya jadi dia menahan amarahnya.
"Hmm gue nggak mau ngajak ngobrol sih sebenarnya. Cuma mau ngucapin rasa kasihan aja buat cewe cadangan kaya elo." Ucap siska menyindir lisa.
Lisa bingung dengan maksud perkataan siska itu. Tapi dia tak mau menanggapinya karena nanti pasti akan membuat moodnya rusak.
"Dahlah gue males nanggepin cewe yang angannya ketinggian. Cewe yang belum move on dari calon suami gue hahaha." Lisa membalas perkataan siska, kemudian kembali melangkah pergi menuju mobilnya. Sopirnya sudah menunggu tepat di depan lobby kantor.
"Calon suami lo kali yang belum move on dari seseorang." Ucap siska sangat lantang. Perkataannya itu membuat lisa kembali berhenti.
"Apa maksud lo? Jangan sembarangan ngomong ya," Ucap lisa tidak terima.
"Upss.. Jangan marah dong. Gue bicara fakta kok. Tadi yang katanya calon suami lo itu beli bucket bunga besar tuh. Buat lo bukan? Ekspresinya itu loh, uuu sumringah gitu. Tapi kalau itu buat elo ya syukurlah berarti gue yang salah paham." Ucap siska memanaskan hati lisa
"Eh tapi tunggu, dia kan gak mau ya lo ajak makan siang hari ini. Kemana tuh? Kalau gue sih bakal selidikin sih." Imbuh siska yang kemudian pergi meninggalkan lisa yang terdiam.
Lisa tak ingin mempercayai perkataan siska. Tapi fadly hari ini memang beda. Biasanya sesibuk apapun dia selalu menyelangkan waktunya. Ya memang fadly punya dua kerjaan di ekspedisi dan perusahaan papinya.
"Tadi kan fadly bilang mau meeting sama klien, gantiin papinya. Aku coba telfon sekretarisnya deh." Lisa menelfon sekretaris kantor fadly. Kebetulan dia punya nomornya.
__ADS_1
Hatinya langsung galau gundah setelah mendengar jawaban sekretaris kantor fadly. Tidak ada jadwal meeting yang diwakili oleh fadly hari ini. Bahkan fadly tidak datang ke perusahaan papinya sejak pagi. Kemudian lisa menelfon admin jaya ekspedisi, admin mengatakan pagi tadi fadly disana tapi menjelang jam makan siang fadly berkata akan pergi menemui temannya.
"Gimana? Dia bohong kan sama elo? Coba deh lo resapi omongan gue tadi." Siska kembali lagi mengompori lisa. Lisa langsung pergi masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kantor. Siska tertawa senang melihat lisa terpengaruh dengan kata-katanya. Dia berharap setelah ini hubungannya dengan fadly putus.
🌷🌷🌷
Hari kedua dirawat kondisi vella masih tetap sama. Bahkan dokter tidak yakin janinnya bisa selamat. Tapi vella tetap optimis untuk mempertahankan bayinya. Bima pun selalu memberikan support kepada istri tercintanya itu.
"Mas kamu makan siang sana dulu, udah jam setengah satu loh. Aku nggak papa kok sendirian disini." Ucap vella
"Nanti aja sayang, nunggu mbak dira sama ayah datang. Aku nggak tega ninggalin kamu sendirian."
"Mas aku nggak papa, kamu kan tadi pagi cuma makan sedikit. Pliss nurut sama aku. Mbak dira sama ayah pasti nanti sorean datengnya. Aku gak mau kamu sampek sakit juga mas." Vella memaksa suaminya itu untuk segera makan siang.
"Yaudah, ini hp kamu aku deketin. Nanti kalau ada apa-apa telfon yah, atau pencet bel itu panggil perawat." Ucap bima yang sebenarnya tidak mau sedetikpun meninggalkan vella.
Tepat setelah bima pergi, fadly datang menjenguk vella. Dia mengetahui letak kamar rawat vella dari resepsionis rumah sakit. Selain bunga tadi, fadly juga membawa satu keranjang buah untuk vella.
"Hai vell, maaf aku ganggu istirahat kamu ya." Ucap fadly
"Aaa enggak kok mas, nggak papa." Jawab vella.
"Emm ini aku bawain buat kamu dan juga calon anak kamu." Ucap fadly dengan kaku.
"Yaampun ngrepotin banget jadinya, makasih ya. Bunganya cantik. Eh bentar mas fadly sendirian? Lisa nggak ikut?"
"Emm lisa tadi lagi meeting, soalnya sekarang dia ngurus perusahaan papanya. Jadi sibuk gitu." Jawab fadly berbohong padahal aslinya dia tidak mengajak lisa. Bahkan lisa tidak tahu fadly kesana.
__ADS_1
Fadly hanya mengikuti kata hatinya. Sejak vella dilarikan ke rumah sakit, dia tak tenang. Dia sendiri pun bertanya-tanya apa perasaan cintanya yang dulu itu kembali bersemi lagi. Kebetulan sekali disana juga hanya mereka berdua. Entah mengapa fadly merasa senang. Dia merasa seperti menjadi suami vella sekarang.
"Astaga mikir apa aku ini, aku ini udah punya calon istri. Tapi kenapa perasaan ini datang kembali? Vella ini istri dari sahabatku sendiri tapi tak bisa ku pungkiri kalau aku masih mengaguminya." Batin fadly
🌷🌷🌷
Dalam perjalanan lisa terus mencerna semua perkataan siska tadi.
"Bucket bunga? Belum move on? Apa jangan jangan... Pak kerumah sakit harapan kasih sekarang."
Lisa langsung tertuju pada satu nama, yaitu vella. Karena setahu lisa wanita yang dicintai fadly sebelum dirinya cuma vella. Lisa sebenarnya susah percaya tentang semua ini. Karena fadly tidak mungkin begitu dibelakangnya.
"Mbak ruang rawat atas nama vella mariska dimana ya?" Tanya vella pada resepsionis rumah sakit harapan kasih.
"Bu vella mariska berada di kamar anggrek vip no 3."
Setelah mengetahui itu, lisa bergegas menuju kesana. Setelah berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Lisa menemukan kamarnya. Dia memperlambat langakah kakinya. Lisa mengatur nafasnya, dia berharap semua yang dibayangkan itu tidak benar. Perlahan lisa memberanikan diri mengintip ke kaca pintu kamar vella. Disana terlihat fadly sedang berbicara dengan asiknya dengan vella. Bunga seperti yang dimaksud siska juga ada di sebelah vella. Lisa mundur perlahan dia menitikkan air matanya.
"Aku nggak percaya fad kamu gini," Batin lisa.
Lisa kembali mengamati fadly di dalam, fadly terlihat bahagia. Bahkan dia terlihat lebih akrab dengan vella dibanding dengannya. Lisa marah dan pergi berlari sambil menahan air matanya yang sudah tak terbendung. Saat itu dia berpapasan dengan bima yang baru selesai makan siang di kantin. Tapi lisa terus berlari tanpa menyapa bima.
"Loh itu kan lisa temennya vella, tapi kok dia diem aja liat aku. Malah malingin muka gitu. Lari-larian lagi, dia kenapa?" Bima bertanya-tanya. Tak mau bingung sendiri dia pun segera kembali ke kamar istrinya untuk mencari jawaban. Karena sepertinya lisa baru saja dari kamar vella.
Tapi, belum sampai bertanya dari depan pintu kamar vella, bima sudah bisa menebak apa yang membuat lisa tadi pergi tanpa menyapanya.
"Apa fadly masih menyukai istriku?"
__ADS_1