
Vella melangkah dengan perlahan di halaman rumahnya bersama Bima. Dia merasa ragu untuk kembali ke rumah itu. Tapi ada barang penting yang harus dia ambil.
"Mbak nanti kalau mas Bima ada gimana? Aku nggak mau ketemu dia. Aku tunggu di luar aja mbak yang masuk ya,"
"Vella kalau mbak yang masuk mbak nggak enak ah masuk ke dalam kamar kamu. Apalagi kalau ada Bima dirumah."
Kebetulan rumah dalam kedaan pintu yang tidak terkunci. Vella meyakinkan diri untuk masuk kedalam. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Vella langsung masuk saja ke dalam kamar, sementara Dira menunggu di luar kamar. Tak lama kemudian Vella keluar dengan membawa tas berisi buku nikah dan berkas lainnya. Dia mengambilnya untuk keperluan pengajuan perceraian di pengadilan agama.
"Udah dek?" Tanya Dira
"Udah mbak, eh tapi kok sepi banget ya rumahnya mbak?"
"Iya vell, dari tadi mbak juga nggak lihat ada orang. Tapi kok pintu rumahnya nggak dikunci?"
Saat mereka sibuk bertanya-tanya, bi inah datang dari arah belakang rumah.
"Non vella, akhirnya non kembali kerumah." Ucap Bi inah yang terlihat senang majikannya ada disana.
"Enggak bi, aku kesini cuma mau ngambil sesuatu."
Bi inah langsung berubah ekspresi, yang semula sumringah menjadi sedih.
"Emm bi mas Bima ke kantor ya kok sepi banget, Anis juga nggak kelihatan." Ucap Vella
"Jadi Non vella belum tahu kalau aden kecelakaan?"
"Apaa?" Sontak Vella dan Dira yang sama-sama terkejut saling bertatapan.
"Iya non, den Bima kecelakaan sampai koma sudah 6 hari ini. Anis diantar Nino ke rumah sakit barusan disuruh bu Sarah anterin keperluan den Bima."
Kebencian di hati Vella seketika mereda mendengar suaminya kecelakaan hingga koma. Air matanya menetes deras di pipinya. Anak di dalam kandungannya pun merespon seakan menyuruh ibunya untuk datang menemui ayahnya.
Dira merangkul pundak adiknya yang terlihat sangat syok. Tidak bisa dipungkiri meskipun saat ini ada rasa benci namu di lubuk hatinya yang paling dalam Vella mempunyai cinta yang besar untuk Bima. Vella pun melangkah pergi meninggalkan rumahnya itu tanpa berkata apa-apa. Dira pun mengikutinya.
"Dek dek kamu mau kemana?"
"Mbak aku harus ke rumah sakit temuin mas Bima. Mungkin kalau aku mau dengerin dia waktu itu, kecelakaan ini nggak akan terjadi." Ucap Vella sambil menangis. Dia merasa sangat bersalah.
"Mbak juga salah sih nggak nengahin kalian, Yaudah ayuk kita cari taksi di depan. Hati-hati jalannya."
.
.
"Tante tunggu," Teriak Kiara memanggil Sarah.
"Ngapain kamu panggil-panggil saya,"
"Kita harus bicara berdua. Vin lo tunggu sini dulu ya." Dengan beraninya Kiara menarik tangan mantan ibu mertuanya ke tempat yang sepi.
"Heh lepasin tangan saya, jijik saya dipegang sama perempuan kotor seperti kamu ini."
__ADS_1
"Tante jangan gitu dong sama menantunya sendiri."
"Jangan harap kamu jadi istri Bima lagi!" Ketus Sarah, kemudian dia berniat pergi. Dia malas mengobrol dengan perempuan yang sangat tidak disukainya.
"Tante yakin mau pergi gitu aja? Kalau gitu aku akan kasih tau semua orang kalau tabrak lari yang dialami Vella dan ayahnya itu ulah tante." Ucap Kiara sambil tersenyum menyeringai.
Sarah langsung syok mendengar perkataan mantan menantunya itu. Tapi dia mencoba berpura-pura tidak paham dengan apa yang didengarnya itu.
"Hah omong kosong macam apa itu. Saya nggak mgerti apa maksud kamu." Ucap Sarah sambil tersenyum tipis untuk menutupi ketakutannya.
Tanpa berbasa-basi lagi Kiara menunjukkan rekaman video saat Sarah bersama dua preman suruhannya.
"Beraninya kamu! Sini hp kamu!" Sarah langsung merebut hp Kiara dan menghapus video itu. Dia juga membanting hp kiara.
"Ahaha hancurin aja tante nggak papa kok, videonya udah aku salin banyak banget." Ucap Kiara diiringi tawanya.
"Kita buat kesepakatan aja deh, Tante jodohin aku lagi sama Bima trus rahasia ini aman."
"Tapi kalau nggak mau yaudah aku bisa kasih bukti ini ke Vella. Dia pasti langsung laporin tante ke polisi dan.. duaarr tante dipenjara ahaha."
"Licik kamu!" Hardik Sarah
Tanpa menjawab tawaran Kiara, Sarah pergi begitu saja.
"Ahahaha.. tante Sarah, dianya licik gataunya aku lebih licik. Lucu juga ahaha." Ucap Kiara,
.
.
"Tadi sih bilangnya mau ke depan ambil perlengkapan kamu yang dibawakan Anis."
"Siapa Anis pah? Apa dia Art baru dirumah kita? Apa mbak weni udah nggak kerja sama kita?"
"Dia Art istrimu Bima." Jawab Ferdi
"Apa? Aku udah punya istri pah? Aku sudah menikah dengan Kiara?"
Belum sempat Ferdi menjawab, Sarah sudah masuk ke dalam ruangan itu. Diikuti oleh Kiara yang juga ikut masuk ke dalam.
"Sayang ini mama bawain perlengkapan kamu selama dirawat disini." Ucap Sarah
"Iya mah, Mah Anis itu siapa? Kata papa dia Art istriku, jadi aku dan Kiara sudah menikah?"
Kiara tersenyum mendengar perkataan Bima, dia senang yang diingat Bima hanyalah dirinya. Bima tidak mengingat tentang Vella.
"Astaga papa ngapain sih pakek bilang gitu. Aku nggak sudi kalau harus mengakui perempuan ular ini sebagai menantuku. Tapi aku juga nggak mau mengatakan yang sebenarnya."
"Mama kok diam?" Tanya Bima membangunkan lamunan Sarah,
"Em...." Baru ingin bersuara Kiara memotongnya.
__ADS_1
"Sayang kita belum menikah, mungkin maksud om ferdi calon istri. Iya Anis itu Art aku. Weni kan nemenin Kanza jadi aku minta tolong Art aku buat bantuin ambil keperluan kamu dirumah." Ucap Kiara sambil memegang tangan Bima. Dia sangat menggunakan kesempatan ini.
"Aku sedih banget sayang kamu kecelakaan, padahal kita lagi siapin acara pernikahan." Ucap Kiara memanfaatkan keadaan.
Ferdi ingin mengatakan kebenarannya, tapi malah ditarik keluar oleh Sarah.
"Mama apa-apaan sih biarin Kiara begitu sama Bima? Dia itu perempuan nggak baik mah,"
"Udahlah biarin aja, lebih baik dia kembali dengan Kiara daripada dengan perempuan miskin itu. Aku udah nggak mau denger komen dari papa apapun itu." Ucap Sarah, Dia kemudian pergi entah kemana.
Sarah sebenarnya tidak setuju, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia takut rahasianya dibongkar oleh Kiara. Dia tidak mau sampai di penjara.
Sementara Ferdi mencari cara untuk bisa menghubungi papa mertuanya. Karena hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah ini.
.
.
"Suster ruangan pasien atas nama Bima argantara dimana ya?" Tanya Vella pada suster jaga disana.
"Sebentar ya bu saya cekkan dulu."
"Iya,"
"Ruangannya di VIP 3, dari sini lurus aja belok ke kanan ikuti petunjukknya."
"Iya sus terimakasih."
Wanita yang tengah hamil besar itu berjalan dengan semangat menuju kamar suaminya berada. Kakaknya senantiasa mengirinya dan berkali-kali berkata hati-hati padanya.
Namun sampainya disana dia malah melihat pemandangan yang sangat menyayat hati. Suaminya tengah berpelukan dengan perempuan lain.
"Mas Bima.." Ucap Vella dengan gemetar.
Kiara melepaskan pelukannnya dari Bima. Bima menatap kebingungan kearah Vella. Dia tidak mengenali sosok Vella. Memorinya bersama Vella sudah hilang semuanya.
Sebelum Vella menghancurkan semuanya, Kiara buru-buru menyeretnya keluar. Tapi Bima memegang tangannya.
"Sayang kamu mau kemana?" Ucap Bima
"Bentar aku nggak lama kok."
Vella syok mendengar suaminya memanggil Kiara dengan sebutan sayang. Sebelum di paksa keluar oleh Kiara, Vella sudah lebih dulu melangkah keluar diikuti oleh Kakaknya.
"Hikss.. hikss.. apa ini mbak? Yang kulihat tadi apa? mas Bima kenapa begitu?" Vella menangis dalam pelukan Dira.
"Aku pikir aku cuma salah paham, tapi ternyata benar mas Bima tidak benar mencintaiku. Bahkan tadi dia tidak menganggapku ada dan mengabaikan kedatanganku."
Dira mengelus pundak adiknya, dia hanya bisa menyuruh adiknya sabar dan tenang. Dira juga mengingatkan kalau saat ini dia sedang mengandung. Kesedihan terlalu dalam akan berimbas juga kepada kandungannya.
"Bagus deh kalau ternyata lo sudah paham. Kan udah gue bilang kalau Bima selama ini itu hanya pura-pura cinta sama lo."
__ADS_1
"Sekarang gue udah kembali sama Bima. Jadi gue mohon jangan ganggu hubungan kita. Bima itu pantesnya sama gue. Jadi lo cewe miskin nggak usah berharap banyak dari Bima. Karena dia nggak selevel sama lo." Ucap Kiara, perkataanya ini benar-benar membuat goresan didalam hati Vella.