
Kebesokan harinya…
Winda sudah selesai bersiap-siap dan sedang sarapan dengan nasi dan ayam kecap buatannya. Setelah selesai, Winda berangkat menuju kantor Joseph. Ia tidak ingin terlambat ke sana karena pasti pria itu akan seenaknya saja akan menghukumnya. Apalagi dengan ciu*an.
Tidak sampai dua puluh menit Winda sudah sampai di kantor Joseph. Ia segera memarkirkan mobilnya lalu masuk ke gedung itu.
Banyak karyawan laki-laki yang tersenyum saat berpapasan dengan Winda, karena mungkin mereka sudah tau jika Winda adalah seorang guru yang bekerja di sekolah milik Joseph. Sedangkan karyawan perempuan? Jangan ditanya lagi, kebanyakan dari mereka menatap Winda dengan tatapan tidak suka.
“Kenapa sih sama karyawan perempuan disini, ngelihatinya kayak gitu banget. Apa mungkin aku terlalu cantik kali ya sampai mereka iri sama aku.” Ucap Winda dalam hati sambil terkekeh geli di akhir ucapannya.
“Selamat pagi, Win.” Sapa Hani begitu melihat Winda.
“Pagi juga, Han.” Sahut Winda dengan tersenyum.
“Kelihatannya kamu lagi bahagia banget deh. Ada apa nih?” tanya Hani.
“Kamu tau aja deh, Han. Gimana saya nggak senang coba, sekarang kan saya bakal mengajar di sekolah milik Joseph.”
“Wah, selamat ya.” Ujar Hani.
Hani memang sudah tau pekerjaannya Winda. Ia juga tau mengenai Winda yang belum pernah diberikan pekerjaan oleh Joseph.
“Iya, makasih ya. Oh ya, Joseph ada di dalam kan?” tanya Winda.
“Iya, pak Joseph ada di dalam.”
“Ya udah kalau gitu saya masuk dulu ya.” Pamit Winda.
Hani menganggukan kepalanya dan Winda pun berjalan memasuki ruangan Joseph. Winda membuka pintunya, lalu masuk. Ia mengedarkan pandangannya, tapi Winda tak melihat Joseph. Padahal tadi Hani bilang kalau Joseph ada di ruangannya.
Suara gemericik air langsung menjawab pertanyaan yang muncul di benak Winda. Mungkin pria itu sedang berada di dalam kamar mandi.
Winda menoleh saat terdengar bunyi decitan pintu. Nampak Joseph yang berdiri di depan kamar mandi itu dengan senyum. Joseph berjalan mendekati Winda dengan tersenyum.
"Wah, kamu udah datang Win. Saya kira kamu bakal terlambat dan sebagai hukumannya saya cium kamu."
Winda memutar bola matanya jengah. "Tapi kenyataannya saya datang tepat waktu. Oh iya sekarang cepat kasih tau saya kapan saya bisa mengajar di sekolah kamu?" Tanya Winda.
"Maksudnya?" Bingung Joseph.
"Maksud saya, tadi malam kan kamu kirim pesan ke saya untuk datang ke kantor kamu karena ada yang mau dibicarakan."
Joseph mengambil sebuah map dan memberikannya pada Winda. Perempuan itu dengan semangat mengambilnya dan membacanya dengan teliti.
Winda membulatkan matanya tak percaya apa yang ia baca. Sedangkan Joseph sangat menikmati ekspresi Winda.
"Kamu mempermainkan saya ya? Maksudnya apa ini?"
"Memang kamu mainan apa yang bisa saya mainin. Disana kan udah jelas apa yang saya maksud." Ujar Joseph dengan santai.
"Seharusnya kamu senang dong udah saya kasih kerjaan, kan kamu sendiri yang minta." Tambah Joseph.
__ADS_1
Winda menghembuskan nafasnya. "Tapi ini bukan kerjaan saya. Saya itu guru bukan pengasuh anak, jadi kerjaan ini nggak cocok sama saya."
"Saya juga tau kamu itu guru, tapi apa salahnya coba buat terima ini."
"Saya nggak akan mau." Tolak Winda.
"Kamu lupa Win, kalau saya sudah kontrak kamu? Jadi kamu nggak bisa tolak kerjaan yang saya kasih." Ucap Joseph.
Winda berdiri dari duduknya. "Ya udah kalau gitu batalkan saja kontraknya, karena sampai kapan pun saya nggak akan mau."
Winda berbalik dan berjalan menuju keluar ruangan. Ia baru saja akan membuka pintu itu sebelum suara Joseph terdengar.
"Kamu yakin mau dibatalkan? Kamu nggak baca kontraknya dengan jelas ya, berapa uang yang harus kamu bayar."
Winda menghembuskan nafasnya kasar, sekarang ia benar-benar menyesal sudah berurusan dengan pria ini.
Winda berbalik menghadap Joseph. "Tapi kenapa harus ini kerjaannya? Kamu kan punya banyak pelayan yang bisa jaga anak-anak kamu, kenapa harus saya?"
Joseph berjalan mendekati Winda dengan kedua tangannya masuk ke saku celananya.
"Karena saya maunya kamu yang jaga mereka, bukan orang lain. Kamu juga udah kenal sama mereka kan?" Kata Joseph.
"Saya memang udah kenal dan akrab tapi hanya Arka saja bukan Varrel. Bahkan Varrel saja tidak menyukai saya."
"Kalau gitu kamu buat Varrel suka sama kamu. Mudah kan?" Ujar Joseph.
"Apanya yang mudah? Udahlah saya capek bicara sama kamu." Kata Winda dengan kesal lalu meninggalkan ruangan Joseph.
*****
Winda meninggalkan kantor Joseph dengan kesal. Winda mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tiba-tiba ponsel Winda berbunyi dan ia segera menepikan mobilnya.
Wisnu
Nama itu tertera dengan jelas di layar ponselnya. Wajah Winda yang semula kesal kini berganti dengan raut senangnya.
"Hallo Winda."
"Iya Nu."
"Saya ganggu kamu nggak?"
"Enggak kok, nggak ganggu sama sekali kok."
"Baguslah. Jadi gini Win, hari ini kamu ada waktu nggak sekarang?"
"Ada kok. Memangnya kenapa?"
"Saya mau ajak kamu ke cafe."
"Ooh boleh. Dimana Nu?"
__ADS_1
"Saya kirim alamatnya lewat Whatsapp ya, Win. Maaf saya nggak bisa jemput kamu."
"Iya nggak apa-apa kok."
"Oke, kalau gitu saya tutup telponnya. Sampai ketemu disana."
Sambungan telponnya pun terputus. Winda jadi senyum-senyum sendiri memikirkan ia akan bertemu lagi dengan Wisnu.
Ponsel Winda berbunyi lagi dan itu adalah pesan dari Wisnu. Ia segera melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah di kirimkan oleh Wisnu.
*****
Winda sudah sampai di tempat yang ditujunya, ternyata sebuah cafe yang cukup terkenal. Winda masuk dan memilih tempat duduk itu di dekat jendela sambil menunggu Wisnu.
"Udah lama nunggunya?" Tanya seseorang.
Winda yang semulanya sedang asyik bermain ponselnya kini mendongakkan kepalanya, dan ia melihat Wisnu yang sangat tampan dengan balutan jas kerjanya.
"Enggak kok, saya juga baru sampai." Jawab Winda sambil tersenyum.
Wisnu duduk berhadapan dengan Winda dan memanggil pelayan di cafe tersebut.
"Mau pesan apa mas, mbak?" Tanya pelayan laki-laki yang di panggil Wisnu dengan ramah.
"Saya pesan macchiato, kalau kamu Winda?"
"Saya pesan flat white." Sahut Winda.
"Pesanannya satu macchiato dan satu flat white. Baik silahkan di tunggu." Ujar pelayan itu, lalu berlalu meninggalkan Winda dan Wisnu.
"Gimana kabar kamu Win?" Tanya Wisnu.
"Seperti yang kamu lihat, saya baik. Kalau kamu sendiri?"
"Kurang baik, soalnya ada sedikit masalah di kantor." Ucap Wisnu.
"Kamu yang sabar ya, semoga masalahnya cepat selesai."
"Iya, makasih. Oh iya kamu udah izin kan kesininya sama suami kamu?" Kata Wisnu.
Winda menghembuskan nafasnya kasar, lagi-lagi suami yang Wisnu bahas.
"Nu sebenarnya Joseph itu bu---"
Ucapan Winda terpotong karena ada pelayan yang membawakan pesanan mereka.
"Nanti aja ngomongnya, sekarang kita nikmati aja kopinya."
Winda menganggukan kepalanya dan ia menyeruput sedikit kopinya. Begitupun dengan Wisnu.
"Jadi kamu di sini Win?" Suara seseorang terdengar oleh Winda dan Wisnu.
__ADS_1
Bersambung...