
Nayuwan menghela nafas panjang, melempar pandangannya ke arah jalan raya. Sesekali dia mengaduk-aduk jus alpuket dengan jengah. Ia ingin segera angkat kaki dari sana jika Raka tidak menahannya.
"Mau sampai jam berapa nahan aku? Aku harus pulang, aku mau mandi, mau istirahat, besok aku masih harus kerja." jelas Nayuwan dengan ketus.
"Bentar lagi ya yang, aku masih kangen." pinta Raka dengan wajah memelas tak memperdulikan tatapan dari Nayuwan yang seakan ingin membunuhnya.
"Buang-buang waktu tau ngga sih, tau gini tadi mending aku langsung pulang" Nayuwan makin kesal.
"Ok, ok kita bicara. Ini soal kita, kamu mau kan kita balik lagi, kita damai lagi kaya dulu, aku ngga mau kehilangan kamu yang"
"Kita udah pisah, dan kalaupun kamu mau kita rujuk, kenapa ngga kamu harus menikahi perempuan itu?"
"Aku tau aku salah, aku khilaf, aku mohon kita rujuk ya"
"Dengar Kak, aku ini udah mati saat kemarin kamu talaq aku, kamu tau rasanya.. hancur. hiks.. Dan kamu sekarang dengan entengnya minta rujuk? Egois kamu Kak!" pekik Nayuwan setengah berteriak.
"ok, aku akan perbaiki semuanya.."
"Perbaiki? Perbaiki dengan cara apa? Kamu sekarang jelas-jelas udah jadi suami orang, apa yang masih kamu harapkan dari aku? Aku tau pasti bahwa aku ini perempuan yang menolak dipoligami !"
"Tapi kamu masih istri sahku Nayuwan !"
"Hah??! Apa??! Kamu sekarang berani lantang memanggil mana ku?! Apa apa?? Aku ? Masih sah istri kamu kak?! Kamu udah talaq aku Kak! dan kamu sudah tidak menafkahi ku selama 2tahun. Aku kita itu cukup supaya aku bisa meminta Talaq 3 di pengadilan."
"Nah benarkan? kamu masih istri Sah ku, buktinya kamu belum mempunya akta cerai, artinya secara negara kamu masih istri sah ku, dan buku nikah kita masih legal !" Nayuwan menggelengkan kepalanya dia tak lagi membalas Raka, hanya buang-buang waktu. Kali ini Raka menang, karena memang benar mereka masih sah suami istri secara hukum. Raka hanya menceraikannya secara agama.
"Lalu kapan kamu akan mendaftarkan penceraian kita ke pengadilan, aku juga ingin kepastian Kak, kasihan istri kamu, bukan kah dia sedang hamil besar?" kali ini Nayuwan menurunkan oktaf suaranya, mencoba melemah berharap Raka mau melepaskan dirinya dari belenggu pernikahan itu.
"Ngga akan !!"
__ADS_1
"Kak !!"
"Sampai matipun kamu itu istri ku! aku ngga pernah merasa menceraikan kamu !!" tekan Raka dengan tatapan tegas. "Tid tid" bunyi klakson dan kilatan lampu sen mobil milik Theo sesaat menghentikan perdebatan sengit antara mereka berdua.
"Aku kan udah bilang, nanti aku yang anter ku pulang ke kosant, ngapain si a*****g ini ada di sini??"
"Dia pacar ku ! Kenapa memangnya?"
"Aku suami kamu !" terlihat jelas Raka begitu emosi begitu Theo menghampiri mantan istrinya itu.
"Kayanya udah ngga ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua udah jelas kita udah pisah, aku sengaja ngga mengurus akta cerai kita karena masih menghormati kamu semua mantan suami yang punya adab. Aku ngga minta apa-apa cuma tolong daftarkan saja ke PA biar selanjutnya aku yang tangani sendiri. Aku pulang, Assalamualaikum" baru beberapa langkah tangannya di tarik oleh Raka, membuatnya terpekik kaget. Theo yang melihat hal itu langsung pasang badan saat meliat Nayuwan seperti meringis kesakitan akibat cengkraman Raka.
"Lepaskan tangan pacar saya!" sembari memajukan tubuhnya berhadapan tepat di depan Raka sekarang, sedang tangan kanannya menghempaskan cengkraman Raka dari tangan Nayuwan. Mereka saling melemparkan tatapan seakan ingin saling menelan hidup-hidup.
"Theo, biarkan orang gila ini, kita pergi sekarang !" Nayuwan berlalu sambil menarik kasar tangan Theo, dalam hatinya ia masih tidak rela jika mantan suaminya akan habis dihajar sampai babakbelur oleh Theo, meskipun Nayuwan sendiri yakin keduanya adalah lawan yang seimbang. Tapi jika perkelahian itu sampai terjadi ia takut bahwa hatinya akan lebih berat pada mantan suaminya.
Lagi, kejadian ini juga mengundang banyak mata yang memperhatikan mereka. Mereka satu sama lain saling berbisik dengan mengungkapkan praduga masing-masing. Ada beberapa juga yang masa bodo meskipun tetap mencuri dengar.
Telak, Raka kali ini tidak mampu lagi membantah apa yang Nayuwan cecarkan pada dirinya. Perasaannya bercampur aduk, kerinduannya pada Nayuwan juga bukan sekedar pura-pura, ia memang masih sangat mencintai Nayuwan, namun ia pun menyadari penyesalannya sudah tidak berarti apa-apa lagi. Wajah Nayuwan kini memberi menahan gejolak emosinya.
"Oya, dulu kamu mengatakan padaku jika aku tidak akan bisa apa-apa tanpamu, dan aku katakan itu benar, dan aku sudah membunuhnya berkali-kali saat aku mengalami depresi. Dan aku pastikan aku menikahi lelaki yang memang dia bisa menjadikan ku ratu dihidupnya, dan memperlakukanku lebih dari berlian." tandas Nayuwan sembari masuk ke dalam mobil, membiarkan Raka yang masih diam seribu bahasa. Theo yang hanya menatapnya tajam tanpa berkomentar apapun.
Theo memundurkan mobilnya kemudian melaju meninggalkan area restoran. Tangan Raka mengepal penuh amarah juga cemburu yang mengusai hati dan pikirannya saat itu, alih-alih dia langsung pulang dia malah pergi minum-minum bersama teman-temannya. Hati dan harga dirinya benar-benar terluka.
******************************
"Tok ! Tok ! Tok .. Teh.. kita jadi berangkat ngga nanti kesorean lho" seruan Clara membuyarkan lamunan Nayuwan tentang deretan masalalunya. Pipinya pun telah basah, ada sedikit sisa isak tangis yang berusaha ia hapus. "Aku masuk ya?" kepala Clara muncul sebagian Nayuwan hanya mengangguk perlahan mengizinkan adiknya yang sudah memasukan kepalanya ke kamar kakaknya. Nayuwan menghela nafas panjang, tanpa menyembunyikan raut wajahnya yang masih menyimpan pilu pada mantan suaminya.
"Kenapa?" tanya Clara. Nayuwan mengangkat bahu juga memberi ekspresi menye pada adiknya itu.
__ADS_1
"Bentar Teteh ganti baju dulu terus kita langsung jalan." Nayuwan beranjak menuju lemarinya, mengganti cepat pakaianya dengan pakaian yang lebih santai, tunik berwarna coksu di padu celana dan kerudung hitam, tak lupa tas sesuai dengan fungsinya menyimpan barang-barang yang dia anggap harus atau perlu di bawa . Dia menghembuskan nafasnya lalu menggangguk mantap! Dia wajib melakukan hal itu karena dia akan menjalani hari yang cukup panjang dan mungkin akan ada sedikit ketegangan nantinya.
Di sepanjang perjalanan Nayuwan tidak banyak bicara hanya sesekali saja dia bertanya pada adiknya itu pun soal pekerjaan.
"Kirain ngga jadi?" Nadia berseloroh sembari menarik handle mobil.
"Ate sih males Nad, mending ngurus hal-hal lain dari pada ketemu sama bapa kamu" ketus Clara tanpa menolah pada Nadia. Nadia faham betul dengan situasi ini, sesat kemudian fokusnya sudah teralihkan pada hp-nya.
Pak Nanang mematika mesin mobil dan memarkirkan mobil dengan leluasa kebetulan di sana memang masih tersedia lahan kosong. Terlihat beberapa anak laki-laki sedang bermain kelereng dengan serunya. Tanpa di aba-aba salah satu dari anak itu berlari ke arah Nadia.
"Teteh," seru anak laki-laki itu sejurus saja Nayuwan sudah bisa memastikan anak itu pasti anak mantan suaminya. Ada sedikit getir karena dulu dia sangat menginginkan kehadiran sosok anak laki-laki. Ia menghela nafas dengan susah payah dan kembali tersenyum.
Mereka berjalan beriringan, kehadiran sosok Nayuwan tentu saja langsung membuat heboh pemukiman itu. beberapa tetangga langsung bergossip soal masa lalu mereka. Nayuwan menggeleng halus kepalanya juga memutar matanya malas, jengah dengan keadaan. Mungkin itulah sebabnya Nayuwan ketika dulu sempat 1 rumah dengan mertuanya dia jarang sekali mau keluar dari rumah dia hanya tidak terlalu nyaman dengan sosial yang selalu kepo atau bergunjing tentang aib orang.
"Assalamualakum Pak.." Nadia selonongboy masuk begitu saja tanpa dipersilahkan oleh tuan rumah sambil menggendong adik lelakinya.
"Waailakum salam" dari dalam terdengar suara bariton khas pria dewasa. Nadia langsung mencium pungguh tangan lelaki itu.
"Nadia? Tumben ke sini? Sama siapa? Pacar kamu?" Lelaki itu langsung memborondong Nadia dengan berbagai pertanyaan khas seorang ayah pada anak perempuannya. Nadia tidak menjawab 1 pun pertanyaan ayahnya itu.
"Nadia, ngga kuliah Nad?" tanya seorang perempuan yang keluar dari bilik kamar dengan tampilan seadaanya khas emak-emak berdaster. Nadia menyalami perempuan itu dengan takzim. Meskipun dia sebenarnya kurang menyukai wanita itu, namun dia harus tetap menghormatinya karena dialah yang sekarang jadi istri sang ayah. sebelum Nadia menjawab, seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu memberi salam
"Assalamualakum kak, " sembari melepar senyum, baik Raka atau pun istrinya seketika mematung begitu netra mereka mengenali sosok Nayuwan.
*********************
sarangheo...( ˘ ³˘)❤
__ADS_1
***********
_( ˘ ³˘)❤