
Beberapa staff dan juga resepsionis hotel mulai sibuk menyambut para undangan meeting dan konfrensi RUPS FJC Group dan Bamatara Group dengan senyum tamah ramah sambil membungkuk takzim menunjukan penuh penghormatan. Karena mereka yang datang hadir dalam undangan itu tentu saja adalah termasuk orang-orang dari kelas menengah ke atas, sudah sewajarnya mereka mendapatkan perlakuan penghormatan semacam itu. Acara tersebut akan diadakan selama 2 hari, lalu setelah itu di hari 3 baru akan di adakan pesta syukuran pengukuhan Gavin sebagai Presdir di selenggarakan sebagai puncak juga sebagai penutupan acara akbar tersebut.
Pajero sport hitam terhenti mulus di depan lobby hotel mewah tersebut, tanpa di panggil seorang vallet menyambut mereka guna sekedar membuka pintu mobil atau memarkirkan mobil di tempat parkir khusus yang sudah di sediakan pihak hotel.
"Silahkan, selamat dat..tang.."seorang vallet dengan ramah membuka handle mobil namun keningnya mengernyit heran saat melihat seorang perempuan sibuk membangunkan perempuan yang ada di sebelahnya yang tertidur pulas.
"Teh, bangun, kita udah sampe" tegur Clara sambil menepuk-nepuk kasar pipi kakaknya, dia pun menunjukan wajah kurang nyaman saat vallet itu membuka pintu mobil di saat mereka belum siap, niat hati ingin terlihat elegant seperti di drama-drama, endingnya malah memalukan, karena Nayuwan yang sulit dibangunkan, ingin rasanya Clara membenamkan wajahnya ke dalam tanah.
"Apa sih, ngantuk ge" omel Nayuwan masih dengan mata tertutup, menghempas tangan Clara dari pipinya.
"Bangun teteh, kita harus siap-siap buat meeting sekarang" geram Clara.
"Iya 5 menit lagi" omel Nayuwan masih tidak mau membuka matanya.
"Teh Gina, malam ngevlog sampai jam berapa sih, udah tau ada RUPS malah gadang!" cecar Clara dengan sorot mata kesal pada Gina yang sekarang jadi sasaran.
"Jam 3 bu, maaf bu, saya salah, saya lupa kalau ada RUPS, lagipula saya mana bisa nolaknya, ibu kaya ga tau ibu Nayuwan aja kalau udah ada maunya harus pok torolong" ringis Gina sembari menggaruk kepalanya yang berhijab. Clara mendengkus kasar sembari menatap tajam Gina karena yang tidak bisa mengingatkan kakaknya tentang RUPS hari ini. Dan al hasil sekarang mereka kerepotan membangunkan Nayuwan yang tidur kaya kebo.
Tanpa mereka sadari mobil Gavin terhenti tepat di belakang mobil mereka. Gavin memiringkan kepalanya sembari melihat keributan yang ada di depan mobilnya.
"Bukannya itu mobil Nayuwan, coba turun dan lihat mereka kenapa Sat?" perintah Gavin dengan wajah datar. Satria hanya mengangguk, melepas sitbeltnya lalu keluar mendekati mobil Nayuwan.
" Ada apa?" selidik Satria yang sudah berdiri tepat di belakang vallet. Juru vallet pun mundur ketika sudah di beri isyarat oleh Satria.
"Anu, sebenarnya ngga ada apa-apa sih, cuma... kakak saya tidurnya aja persis kaya kebo" jelas Clara meringis sungkan. Satria melirik jam tangannya sesaat.
"Langsung di bawa ke kamar hotel saja, lagipula RUPS masih 3 jam lagi pembukaan acaranya" ujar Satria memberi saran.
"Tujuan kami datang lebih awal memang bertujuan supaya bisa prepare, eh nih kebo malah pules" sungut Clara sembari memangku tangan kesal karena kakaknya.
"Juga siapa yang mau angkat kakak saya" lanjut Clara mendengkus putus asa, ingin minta tolong Satria untuk membopong kakaknya tapi sungkan karena mereka tidak terlalu kenal.
"Kalau begitu tunggu sebentar saya akan izin kepada atasan saya untuk mengantar kalian ke kamar kalian" ucap Satria, Clara hanya mengerecutkan bibirnya kemudian mengangguk tanda setuju, meski segan tapi mereka memang tengah membutuhkan bantuan tenaga seorang pria untuk membopong kakaknya yang tertidur pulas seperti orang pingsan masuk ke kamar hotel.
Supir Gavin segera membuka kaca mobil otomatis begitu Satria mendekati jendala mobil Gavin , Satria dengan takzim membungkuk pada Gavin saat kaca jendela mobil terbuka lebar.
"Pak, saya mohon izin untuk mengantar ibu Nayuwan ke kamarnya" pinta Satria tanpa basa basi,sejurus mata elang Gavin terlempar pada Satria.
"Ada apa memangnya?" selidik Gavin.
__ADS_1
"Ibu Nayuwan sepertinya kelelahan, sekarang beliau tertidur sangat pulas bahkan seperti orang pingsan, karena sulit dibangunkan oleh adiknya, jadi saya berinisiatif untuk membopongnya sampai ke kamar hotel, karena tidak ada pria yang bisa membantu mereka untuk mengantar ibu Nayuwan ke kamar hotel." jelas Satria, untuk sesaat dia menmbungkuk sigap di luar mobil mewah milik bossnya, menunggu izin atasannya tersebut untuk menolong para wanita di sana. Dengan isyarat lewat kaca spion dalam mobil Gavin meminta pintu agar kunci otomatisnya di buka.
"Bikin repot saja" keluh Gavin sambil keluar dari mobilnya sambil membuka jasnya. Kemudian melangkah menuju mobil Nayuwan terparkir di ikuti oleh Satria dibelakangnya.
"Clara, kakakmu kenapa bisa sampai tepar begini?"tanya Gavin dengan wajah datar disertai sorot mata yang tajam penuh selidik pada Clara dan Gina. Clara dan Gina terkejut sekaligus bergidik ngeri ketika mendapati sosok Gavin yang tengah menatap mereka dengan penuh selidik, bukan Satria yang tadi menawarkan diri untuk membantu mereka membopong Nayuwan ke kamar hotel, sedang Satria berasa di belakang Gavin. Dengan susah payah Gina dan Clara menelan salivanya agar bisa menetralkan keterkejutan mereka saat itu.
"Kakak saya semalam ngevlog sampai subuh, jadinya seperti ini pak" jelas Clara dengan sungkan menjelaskan kenapa kakaknya bisa sampai tidur seperti orang mati.
"Yuwan, Yuwan bangun" Gavin menepuk-nepuk pipi Nayuwan, namun Nayuwan kita benar-benar pulas. Gavin mendengkus kasar melihat tingkah Nayuwan.
"Kakak kamu memang biasanya begini ? Tidur seperti orang mati ?" delik Gavin bertolak pinggang.
"Tidak pak, meskipun pola tidur kakak saya berantakan tapi biasanya ngga begini, meskipun sedang lelap juga dia biasanya akan terganggu meskipun dengan tetesan air di keran. Dia pasti akan bangun"
ucap Clara lirih tertunduk memandangi wajah Nayuwan polos. Karena terlalu panik juga salah tingkah tanpa sengaja dia menjatuhkan tas milik kakaknya dan menghamburkan isi tasnya.Mata mereka seketika terbelalak membulat sempura ketika mendapati botol kecil berwarna coklat. Gavin dan Clara sama-sama mengernyitkan dahinya, dengan perasaan campur aduk, wajah Clara seketika berubah pucat pasi ketika membaca keterangan yang tertempel pada botol tersebut. Apalagi mereka menemukan isi botol tersebut hanya tinggal beberapa butir saja.
Dengan panik Clara mengguncang-guncangkan tubuh kakaknya. "Teteh, teh bangun! Teteh !!" teriak Clara di sertai tangis kepanikan.
"Kakak kamu sering minum obat seperti ini?"delik Gavin wajahnya berubah khawatir, tapi Clara hanya menggeleng terisak, meski tahu Kakaknya pernah berkali-kali menggunakan obat tidur sebagai alat bunuh diri, tapi itu dulu kakaknya mengalami depresi akibat ulah mantan suaminya. Dia sendiri bingung kenapa kakaknya kembali meminum obat tidur lagi, karena dia yakin kakaknya tidak sedang mempunyai masalah berat hingga mencoba untuk bunuh diri seperti dulu. Netranya yang memerah menyalang pada Gina yang juga ikut menangis, dia terlihat sangat gugup dan khawatir melihat kondisi bossnya itu, padahal subuh tadi Nayuwan masih baik-baik saja.
"Teh Gina?" suara Clara terdengar berat karena tercekat gondok tangis yang tertahan di tenggorokannya.
Tanpa menunggu lagi penjelasan panjang dari Gina, Gavin langsung membopong tubuh Nayuwan tanpa ragu, dan memerintahkan Satria untuk memanggil seorang dokter untuk memeriksa Nayuwan.
Sontak saja kejadian tersebut menjadi keributan dan buah bibir para tamu undangan dan staff hotel yang kebetulan tengah riuh di lobby hotel, mereka sulit mempercayai dengan apa yang mereka lihat sekarang, dengan mata kepala sendiri seorang Gavin kini tengah membopong seorang wanita dengan kedua tangannya. Padahal bukan rahasia umum lagi jika Gavin terkenal dengan sikap apatis, tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya, perangai dingin seperti kulkas 10 pintu dan kaku seperti kanebo. Namun hari ini mereka dibuat terheran-heran karena bisa melihat kejadian langka tersebut secara live.
Terpampang jelas dari raut wajahnya, Gavin terlihat seperti sangat cemas dengan keadaan perempuan yang ada dipangkuannya tersebut.
Lima menit berlalu kini mereka sudah berada di depan kamar hotel, seorang roomboy dengan gemetar membantu membuka pintu kamar. Gavin segara masuk dengan setengah berlari menuju tempat tidur dengan ukuran King size.
"Satria, kenapa dokternya belum datang juga?" Bentak Gavin melalui saluran telponnya.
"kami sedang dalam perjalanan pak"
"Sepuluh menit, dalam sepuluh menit, pokoknya kamu harus sudah ada di sini" ujar Gavin tanpa menurunkan intonasi suaranya. Beruntungnya Satria sudah di dekat hotel ketika Gavin menelponya barusan, jadi kurang dari sepuluh menit mereka sudah berada di dalam kamar hotel tempat dimana Nayuwan tertidur pulas.
Tanpa menerima perintah, dokter Evan segera memeriksa keadaan Nayuwan, sambil melalukan sesi tanya jawab singkat riwayat kesehetan Nayuwan dengan Clara dan Gina, dokter Evan hanya menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Gavin dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Dia hanya tertidur efek dari obat tidur yang dia konsumsi, namun tidak perlu cemas kondisinya cukup stabil, mungkin dalam 1 atau 2 jam dia pasti akan segera terbangun, kalau mengingat dari riwayatnya yang sepertinya cukup kebal dengan obat tidur," jelas dokter Evan santai setelah selesai memeriksanya keadaan Nayuwan.
"Namun saya akan memasangkan infus agar Ibu Nayuwan tidak merasa lemas saat bangun nanti" lanjut dokter Evan sembari memasangkan jarum infus di punggung tangan Nayuwan, ia sengaja memasangkan infus karena melihat Nayuwan sepertinya kelelahan, juga agar pasien tidak mengalami dehidrasi.
"Ok kalau begitu" ucap Gavin sembari memperhatikan dokter Evan yang memasang infusan.
"tapi dokter tidak boleh kemana-mana sampai dia bangun" perintah Gavin menatap dingin dokter Evan. Dokter Evan hanya mengangkat bahunya sambil melengos keluar kamar kemudian duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu, kamar sweet room tersebut.
Sudah hampir 3 jam Nayuwan masih tertidur pulas efek dari obat tidurnya, seharusnnya kini hanya tersisa 15 menit lagi sebelum acara pembukaan di mulai.
"Eeuh! Huaaah" Nayuwan terduduk dan menguap, kemudian memendarkan penglihatannya ke sekeliling tempat dia terbangun. Dengan wajah tanpa dosa dia menguap sekali lagi dan menggeliat khas orang baru bangun tidur, dia menggaruk-garuk kepalanya yang masih terbungkus iner hijab. Dia mengerjap-ngerjapkan netranya agar terbiasa dengan cahaya dan pemandangan di ruangan tersebut
"Jam berapa de?" tanya Clara pada adiknya yang tengah menatapnya tajam.
"Jam 12.45" jawab Clara singkat,bersamaan dengan jawaban adiknya Nayuwan yang masih setangah sadar melirik ke sebelak kiri ujung tempat tidurnya, netranya langsung membelalak membulat ketika mendapati sosok Gavin yang sedang berdiri sambil memangku tangan.
"Baiklah, karena nyonya Nayuwan sudah bangun dan cairan infusnya juga sudah habis, jadi tugas saya selasai. Saya mau kembali ke Rumah sakit kalau begitu."ujar dokter Evan sambil melepaskan jarum infus dipunggung tangan Nayuwan. Nayuwan jelas bingung kenapa dia sampai di infus segala, ia memberi isyarat pada Clara dan Gina untuk menjelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya.
"De, kok teteh di infus ?" tanya Nayuwan berbisik pada adiknya namun tatapannya tetap menatap tajam pada Gavin.
"Teteh niat bunuh diri lagi atau gimana? Bikin orang panik aja" ujar Clara dengan nada menyolot dengan kesal dia melempar bantal sofa pada kakaknya itu yang sudah sepenuhnya sadar namun belum menyadari kesalahannya.
"Emang teteh kenapa?" tanya Nayuwan lagi masih bingung dengan sikap adiknya, namun tiba-tiba tubuhnya merasakan aura dingin karena terus mendapatkan tatapan tajam dari Gavin.
"Teteh minum obat tidur berapa banyak?" Clara balik bertanya.
"Aiiiiissh!" Nayuwan menutup wajahnya dengan gusar ketika mengingat soal obat tidur. Dia ingat saat setelah sholat subuh dia memang meminumnya karena dirasa kurang mempan lalu dia meminum lagi beberapa entah berapa banyak, kemudian mulai tertidur setelah 10 menit perjalanan menuju Shangri La.
"Makasih pak, udah mau nolong saya" ungkap Nayuwan menunduk namun dengan ekspresi wajah dingin.
"Kamu tahu, gara-gara ini saya membatalkan beberapa meeting penting" tukas Gavin seraya mengeraskan rahangnya, dengan kasar dengan mengambil jas yang tersampir di sofa, kemudian melangkah keluar kamar dengan gusar.
"Satria, selidiki kenapa dulu Nayuwan sempat mencoba bunuh diri?" perintah Gavin pada Satria, begitu mereka keluar kamar Nayuwan.
Di dalam kamar Nayuwan sibuk sendiri karena melihat jam sudah menunjukan waktu pembukaan acara RUPS, sedang Clara dan Gina hanya memperhatikan saja, karena mereka sudah tahu sebenarnya Gavin sudah memundurkan acara selama satu jam, yang seharusnya acara dimulai pada jam satu siang jadi jam 2 siang. Namun karena kesal mereka diam saja. berkat itu beberapa tamu yang datangnya agak terlambat karena berbagai alasan jadi bisa lebih prepare untuk acara RUPS tersebut. Beruntung.
**********
sarangheo ಥ⌣ಥ
__ADS_1
***************