Merpati Hitam

Merpati Hitam
Gavin dan Freya


__ADS_3

Gavin Harraz Widjaya adalah sosok pria tampan dengan kharismanya sebagai pebisnis handal, pembawaannya tenang juga berwibawa, namun seperti kebanyakan CEO iapun memiliki sikap tegas, dingin, arogan, segala aturan yang telah ditetapkan adalah mutlak dan wajib ditaati. Meski begitu nama besarnya makin mencuat setelah menjadi Presdir FJC Bamantara grup, ia makin dikenal hampir disemua kalangan masyarakat, bahkan dari usia 25tahunan wajahnya sudah kerap muncul menjadi cover majalah bisnis, artikel tentangnya selalu berhasil menarik banyak perhatian publik. Yang paling banyak menjadi incaran para pemburu berita dan paparazi tentu saja kisah percintaannya, karena setelah kematian Freya 13 tahun lalu karena sebuah insiden, Gavin yang dulu dikenal sebagai seseorang yang hangat, ceria berubah menjadi sosok yang tertutup dengan media masa, meski beberapa kali di terpa gossip dengan beberapa selebritis dan model cantik faktanya mereka tak lebih dari sekedar urusan pekerjaan semata.


Tak ada satupun yang benar-benar yang bisa membuktikan bahwa mereka sempat atau tengah menjalin hubungan serius dengan Gavin. Sampai di satu insiden Gavin menggendong Nayuwan yang tengah pingsan dengan ekspresi penuh kekhawatiran, sontak menjadi perbincangan hangat bukan hanya dalam negeri, tapi juga manca negara. Nayuwan sempat dibuat risih karena beberapa kali harus berhadapan dengan wartawan yang terus memburunya selama beberapa minggu. Dalam beberapa judul artikel bahkan ada yang menuliskan jika mereka adalah "Tom & Jerry yang tengah mencari cinta", bukan tanpa sebab judul artikel tersebut bisa headline news, karena dalam beberapa kesempatan mereka memang menunjukan sikap yang selalu bertolak belakang dan terkesan tak pernah akur. Meski begitu banyak juga yang mendoakan mereka agar bisa bersama bukan hanya sebagai partner bisnis tapi juga menjadi partner hidup.


*********


13 tahun lalu


Pagi ini terasa tidak seperti biasanya, sejak dari subuh Freya sudah berkutat di dapur menyiapkan bekal yang akan di bawa Freya untuk piknik bersama Gavin, dia sengaja membuatnya sendiri karena dia sendiri memang hobbi memasak. Beberapa hidangan, cemilan, buah-buahan serta minuman telah rampung Freya tata dengan rapi dalam keranjang rotan yang segaja di pilihnya supaya menambah kesan aestetik pada pikniknya kali ini.


Freya menghembuskan nafasnya dengan perasaan puas setelah memeriksa kembali bahwa semua tidak ada yang kurang.


"Fre, udah siap? Mas udah di jalan nih," ujar seseorang di sebarang sambungan telephon milik Freya.


"Udah sih, tapi belum mandi,, hahhahaa" jawab Freya dengan nada ceria seperti biasa.


"yeee, buruan mandi"


"iya iya,, aku pastiin pas kamu sampe aku udah nyambut kamu di depan pintu"


"ok, see you beb" Freya segera bergegas menuju kamar mandi, dia juga tak ingin membuat kekasihnya menunggu lebih lama jika dirinya tidak segera bersiap.


Freya Arsita Gunawan, begitu nama berparas gadis cantik itu, dirinya terlihat sederhana untuk ukuran anak seseorang pengusaha yang terbilang cukup sukses di kotanya, Umurnya baru menginjak 21tahun kala itu, muda belia, sedang mengenyam pendidikan untuk menjadi seorang dokter di kampus yang sama dengan kekasihnya, Gavin Harraz Widjaya.


Mereka bertemu pertama kali, di sebuah acara bazzar amal yang setiap tahun selalu diadakan di sana. Pertemuan yang membuat Gavin jauh cinta pada pandangan pertama pada gadis berhijab yang notabennya adalah adik angkatannya, saat itu Gavin adalah mahasiswa tingkat akhir, sedang Freya mahasiswa semester 4. Rencananya hari ini Gavin ingin memberi sebuah kejutan dengan melamar gadis itu, ia merasa sudah cukup baginya mengenal Freya selama 2tahun ini.


Senyum Freya terlukis manis di bibirnya yang nampak berwarna peach segar. Menyambut kedatangan Gavin sesuai janjinya 30 menit yang lalu. Sudah menjadi kebiasaan Freya mencium tangan Gavin dengan takzim ketika mereka bertemu, hal-hal semacam inilah yang membuat Gavin mantap untuk segera melamarnya walaupun usianya masih terbilang sangat muda. Gavin segera mengambil keranjang rotan yang tersimpan apik di atas meja.


"Papa sama mama belum pulang?" tanya Gavin karena melihat suasana rumah yang cukup sepi, karena para pekerja di rumah itu yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


" Iya,, kata mama besok baru pulang,"

__ADS_1


" Ya udah jalan sekarang yuk, takutnya malah kejebak macet" Freya memangguk kemudian mengikuti langkah Gavin menuju mobil Gavin.


Kurang lebih 3 jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Orchid Forest Cikole, sebuah tempat wisata yang memiliki koleksi bunga Anggreknya. Bahkan bunga Anggrek langka yang sulit ditemukan seperti anggrek hitam atau Coelogyne pandurata, anggrek kantong semar atau Paphiopedilum glaucophyllum dan juga jenis paraphalaenopsis laycocky terpajang di sini. Gavin sengaja memilih tempat ini karena tahu Freya sangat menyukai bunga yang satu ini.


Freya turun dari mobil dengan wajah nampak lebih berseri, senyumnya tak henti menghiasi bibirnya, Gavin yang melihatnya pun ikut tersenyum.


Freya begitu excited menikmati keindahan beragam bunga anggrek, mereka juga dapat menikmati indahnya pohon pinus yang berjejer dan hawa yang luar biasa sejuk. Suhu yang dingin ini membuat bunga anggrek tumbuh dengan sangat baik.


"Mas, aku suka tempat ini, makasih ya" untuk pertama kalinya setelah dua tahun Freya mencium pipi Gavin, Gavin sontak terbelalak dengan perasaan campur aduk, gejolak dirinya seakan meledak begitu saja, kupu-kupu yang beterbarngan sejak tadi makin terasa menyeruak dari dalam dirinya. Bagaimana tidak sepanjang hari ini Freya terus menerus menggenggam tangannya seakan ia benar-benar tak ingin melepaskan Gavin, padahal sebelum-sebelumnya, Freya selalu menolak, Gavin dapat merasakan halusnya tangan gadis itu hanya saat Freya mencium tangannya saja. Saat mereka yang katanya kencanpun tak pernah sekalipun Gavin menyentuhnya kecuali atas izin Freya sendiri dan sayangnya Freya tak pernah mengizinkannya. Freya selalu mengatakan meski mereka menjalin sebuah hubungan, namun jika Gavin ingin menyentuhnya dengan bebas maka Gavin harus menjadikannya istri terlebih dahulu, Gavin yang bucin menyetujui dan menghormati apa yang menjadi keinginan Freya, selama Freya mau menerimanya sebagai kekasih.


Dan hari ini, tepat di saat Gavin akan melamarnya, Freya malah nyolong start dengan mencium pipi Gavin tanpa aba-aba.


"Fre, kamu.."


"Itu hadiah karena selama ini kamu Mas, karena selalu memperlalukanku seperti ratu, hadiah karena kamu udah ngajak aku ke tempat seindah ini, dan itu hadiah karena kamu sudah bertahan menjadi kekasihku tanpa mau melanggar aturan yang aku berikan selama dua tahun ini, semoga kedepannya bisa jadi kekasih halal jadi aku ngga segan kasih kamu hadiah lebih dari ciuman di pipi" ujar Freya makin melebarkan senyum di wajahnya, Gavin masih terdiam dengan wajah cengo karena begitu banyak kejutan yang diberikan Freya hari ini, padahal seharusnya Gavinnya yang memberi kejutan kepada Freya. Melihat kekasihnya masih mematung, Freya berhambur memeluknya , menatap dengan sungguh ke manik mata Gavin tanpa canggung Freya berkata


"Kamu mau ngga jadi imam aku Mas?" Gavin yang mendengar ucapan Freya mengkerutkan keningnya di bumbui wajah cemberut tak suka.


"Fre, ini salah!"


"Kok salah, emang kita mau begini terus?"


"CK !! " Gavin mencebik tanda tidak suka. Freya makin bingung dengan tingkah Gavin.


"Ia salah, harusnya Mas yang melamar kamu, kok malah kamu yang ngelamar Mas?" Freya yang mendengarnya malah terkekeh gemas.


"Abisnya nunggu kamu action mah lama" kekeh Freya.


"Yakan mas harus siap lahir bathin dulu, selama ini kan papa ku yang kaya mas ngga mau lah setelah nikah Mas malah nelenatarin kamu, minimalnya mas selesaikan dulu kuliah terus punya kerjaan." Freya menghirup nafas dalam dalam, kemudian mengambil potongan buah melon dengan garpu lalu menyodorkannya pada Gavin yang terlihat masih kesal.


"Ngga mau nih?" Freya mendelik Gavin, dengan ogah-ogah Gavin tetap memakan buah melon yang di sodorkan Freya.

__ADS_1


"Ya udah aku minta maaf," Gavin tersenyum miring dengan jahil, kemudian mencuri ciuman pipi kiri Freya.


"Iiih mas kok cium aku?" pekik Freya


"Itu balasan soalnya tadi kamu udah cium Mas tiba-tiba, untuk Mas ngga punya penyakit jantung" ujar Gavin merasa puas karena berhasil membalas Freya. Freya mencelos melempar pandangannya ke arah lain sambil menyilang kedua tangankan.


"Udah jangan ngambek gitu, suruh siapa kamu hari ini kasih mas banyak kejutan," Freya masih tak bergeming.


"Fre,, coba balik badan" dengan perlahan Freya memutar tubuhnya kembali menghadap Gavin yang duduk menyila, ternyata pria itu sedang menyodorkan sebuah kotak berisikan cincin bermahkotakan berlian.



"Well you marry me?" ucap Gavin dengan cepat.


"Hh?? aku ngga denger Mas," goda Freya. Gavin mendelik sebal pada Freya yang tersenyum jahil padanya. Gavin kemudian menegakan tubuhnya, tanpa beranjak dari tempatnya bersila. Menghembuskan nafasnya agar makin memantapkan dirinya, sejujurnya tubuhnya sudah tremor sejak Freya mencium pipinya tadi.


" Ekhem,, Bismillahirohmanirohim.. Freya Arsita Gunawan, bersediakah kamu menjadi istriku, dunia akhirat meskipun aku tidak bisa berjanji bisa membahagiakanmu, tapi aku akan berusaha untuk melakukan segala hal agar kamu bahagia berada di sisiku" manik mata Gavin bergetar.


"Bismillahirohmanirohim,, atas izin allah dan ridho orangtua ya aku mau mas" ucap Freya tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang tersusun rapi dan putih. Gavin yang mendengar jawaban yang sebenarnya sudah pasti itu segera menyematkan cincin yang telah ia siapkan sejak 6 bulan lalu.



"Boleh Mas peluk kamu?" tanya Gavin malu malu setelah ia menyematkan cincin di jari manis Freya. Freya hanya mengangguk menyetujui permintaan Gavin untuk memeluk dirinya. Gavin segera meraih tubuh kekasihnya dan merangkul dengan hangat penuh kelegaan, dalam pelukan Freya lirih samar terdengar isak Gavin larut dalam keharuan.


*********


saragheo


( ˘ ³˘)❤


"*****

__ADS_1


__ADS_2