Merpati Hitam

Merpati Hitam
bertemu ukhti bar-bar


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Nayuwan terlihat sedang melap motornya yang baru saja ia cuci, rencananya hari ini Nayuwan hanya ingin di rumah saja, sudah lama juga setelah pulang dari Korea dirinya tidak pulang ke Bandung. Nampak dari belakang siapa yang akan mengira jika dia adalah perempuan berusia pertengahan 30an, bahkan sudah memiliki dua orang putri yang sudah gadis.


Nayuwan mengenakan Cap sleeve T-shirt berwarna hitam di padu dengan celana panjang training Merk Ad***s, bahunya nampak lebih lebar karena efek dari lengan t-shirt lebih membentuk siku, rambutnya yang digelung cepol asal-asalan malah makin memberi efek lehernya makin jenjang dan seksi saat matahari menerpa bagian yang berkeringat. Santai, kasual, dan sexy, itulah gambaran yang tepat tampilan Nayuwan saat ini.


" Pagi bu" Sapa Ardilla bersemangat sembari menutup pintu mobil Reva, Nayuwan menoleh dengan tatapan heran pada ketiga sahabatnya yang tiba-tiba sudah di rumahnya.


"Geus rek berang bel ayeuna mah (udah mau siang bel sekarang mah" sahut Nayuwan acuh sembari meneruskan pekerjaannya.


"Diih si ibu mah" Ardilla menghentakan kaki disertai bibir bebek,


"Da emang geus berang sateh ( kan emang udah siang) "ujar Nayuwan tetap sibuk sendiri.


"Bu, orang pada kemana?" Moya celingak celinguk ke dalam rumah.


"Ada di dalem,"jawab Nayuwant tetap acuh melap dengan apik motornya, kemudian ia berdiri, berjalan memutari motornya sambil memeras kanebo yang ia gunakan untuk menyeka sisa air di rangka depan motornya.


"Si ibu keur masak naonnya? (Si ibu lagi masak apa ya?)" tanya Moya berbasa basi, Nayuwan melirik pada Moya kemudian kembali fokus pada kegiatan melap motornya.


"Liat aja ke dalem tadi sih bilangnya mau bikin sayur asem" Nayuwan menjawab dengan malas.


"Bu,," ucap Dilla dengan nada merengek


"Iissh apa sih Dil, Moy Moy, si Dilla urus nih kumat kayaknya dia" ujar Nayuwan mendelik geli pada Dilla yang bersikap sok manja padanya.


"Udah lah ngga usah di gubris dia paling dia mau minta ngajak jalan-jalan ke Jogja itu" ucap Moya seraya menjatuhkan bokongnya pada lantai teras rumah.


"Ngapain ke Jogja?" Nayuwan merengurkan keningnya.


"Ish ibu ini lah, kan kemarin itu janji loh kita mau camping di daerah Jogja atau kita muncak kemana gitu" rajuk Dilla menghenntak-hentakan kakinya lantas membanting b****gnya ke kursi kayu yang tersedia di sana.

__ADS_1


"Rev, kamu sama Vito gimana? Lancar?" ujar Nayuwan mengalihkan obrolan. Reva dan Moya mengulum senyum saja saat Nayuwan mengusili Ardilla dengan seolah mengabaikannya.


"Al hamdulillah, semua baik dan lancar" jawab Reva seraya melirik-lirik pada Ardilla yang masih mendumel kesal karena Nayuwan mengabaikan.


"Eh bu, ngomong-ngomong insiden kemarin malam itu gimana? Ibu beneran mau di jadiin sajen?" tanya Moya dengan wajah serius. Nayuwan mendongak ke arah pintu memastikan tidak ada siapa-siapa di sana, refleks ketiga sahabatnya pun menoleh ke arah yang sama.


"Kalian denger siapa?" tanya Nayuwan sembari duduk di lantai teras dan menumpukan kedua tangannya diatas lututnya.


"Siapa lagi kalo bukan si Gina? Eh tumben tuh anak kagak ada kemana dia?" jawab Moya sembari mencari-cari sosok Gina di sekitar sana.


"Kagak ada, dia lagi aku suruh ke suatu tempat" sahut Nayuwan, sebenarnya ia enggan menceritakan kembali insiden kemarin malam. Nayuwan menghela nafas lantas menghembuskannya dengan percuma.


"Sebenarnya bukan aku, tapi Gavin." ujar Nayuwan dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Gavin, kenapa Gavin ?" ujar seseoang menyambar pertanyaan pada Nayuwan. "Deg" Nayuwan terhenyak begitu mendengar suara tersebut, karena tentu saja itu bukan suara Moya atau teman-temannya yang lain, seolah segan ia pun menoleh ke arah sumber suara, tubuhnya seolah membeku untuk beberapa saat, perlahan ia bangkit berdiri beranjak dari tempat duduknya. Dengan susah payah ia menelan salivanya saat Gavin berjalan menuju ke arahnya di ikuti oleh 5serangkai lainnya bersamaan memutup pintu mobil yang mereka kendarai.


"Sudahlah yang penting kamu kan sudah tidak apa- apa tuan, dan orang-orang yang kemarin malam ikut dalam perjamuan juga aku pastikan mereka juga selamat." ucap Nayuwan ketus.


"Itu tidak cukup menjawab semua pertanyaan yang ada didalam pikiran kami sekarang Nay" ujar Rendra. Nayuwan mendongakkan kepalanya, terpaku pada sosok yang berdiri tepat dihadapannya. Dia melirik pada sahabat-sahabatnya yang juga telah berdiri di belakangnya. Sedang Gavin melihat ke arah Nayuwan kembali ia melihat wajah datar khas milik Nayuwan, sangat sulit untuk menebak apa yang sedang Nayuwan pikirkan saat itu.


Dalam keheningan suasana canggung itu, netra Haidar mendapati sosok perempuan bar-bar yang pernah ia ketemui tempo hari di clum malam.


"Ah benar, kamu ..." celetuk Haidar memecah kesunyian siang itu, jari telunjuknya membentik menunjuk Ardilla yang baru sadar jika ada Haidar dalam rombongan Gavin. Ardilla yang bingung melirik ke kanan dan kiri sampingnya dengan wajah terkejut.


"A.. aku? Aku kenapa?" tanya Dilla masih kebingungan kenapa tiba-tiba laki-laki itu menunjuk ke arahnya seolah mereka saling kenal.


Iya kamu, kamu perempuan live steaming itu kan? Pck siapa itu... Ah Johan" ucap Haidar sembari memijat keningnya serta bertolak pinggang.


"Ahhh ya saya ingat" sahut Ardilla masih kekih dalam situasinya tersebut.

__ADS_1


"Kalian saling kenal?" selidik Vito melirik secara bergantian ke arah Haidar dan Ardilla.


"Ini lho Vit, yang aku ceritain dulu itu, cewek bar-bar berhijab masuk Club cuma buat ngegap pacarnya selingkuh"celoteh Haidar menaik turunkan alisnya menggoda Ardilla yang nampak sudah mengerucutkan bibirnya.


"Buu" Dilla merajuk pada Nayuwan seolah mencari pembelaan pada perempuan yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu.


"Diih anak mamih ngetek sama emaknya" ledek Haidar makin menjadi.


"Terserah gue lah," ujar Ardilla merangkul lengan sahabatnya itu. Nayuwan memutar bola matanya sembari menghela nafas dengan kasar.


"Kemarin aja belagak sok bar-bar sekarang sok anak manja, dasar kepribadian ganda" seru Haidar makin meledeki Ardilla.


"Pck ! Udah-udah ribut aja kayak bocah" lerai Nayuwan.


"kayak keluannya siapa tuh, dulu sih kaya kucing dan anjing kalo katemu, eh sekarang malah saling dukung dalam membucin" sindir Rendra tersenyum julid pada Moya yang tengah mengulum senyum.


"Maksud ?!!" geram Nayuwan menatap tajam ke arah Rendra, sedang Rendra segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Eh emang ada cerita sepertu itu ya? " ujar seorang wanita dari arah dalam rumah, Nayuwan berdecak kesal sambil mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Ahhhh, muncul satu lagi biggos ikut nimbrung,, isshh" ucap Nayuwan berpasrah diri tatkala melihat ibunya keluar dengan membawa nampan minuman dan cemilan dibantu Narti yang mengekorinya dari belakang.


"Yang sabar ya bu" celetuk Reva sembari menepuk-nepuk pundak Nayuwan yang menatapnya jengah.


*********


sarangheo


*******

__ADS_1


__ADS_2