Merpati Hitam

Merpati Hitam
Meminta bantuan kecil


__ADS_3

Hah !! Dunia paralel apanya? Dimensi di tengah-tengah dunia manusia dan Gaib? Takhayul berbau mistis? Tumbal?? Ini jaman apa kenapa percaya dengan hal-hal semacam itu.Mereka benar-benar tak habis pikir kenapa Nayuwan menjelaskan sesuatu yang jauh dari kata logika. Tapi mau dipikirkan bagaimanapun caranya menolak atau menbantahnya dengan penjelasan yang lebih masuk akalpun mereka tak bisa menemukan titik terangnya.


Gavin nampak membuang nafas berat ketika mendengar jawaban-jawaban dari Nayuwan yang memang sulit diterima dan dipercaya oleh nalar logika biasa, mau tidak percaya kenyataannya sekarang dia sedang mengalaminya sendiri seperti sekarang. Di bawa ke tempat antah berantah yang Nayuwan sebut sebagai dunia paralel.


"Jadi tujuanmu mengajak kami ke sini untuk apa?" selidik Vito, dari kerut di antara ke dua alisnya, jelas Vito atau mungkin Satria, Gavin, Rendra serta Haidar masih belum mencerna apa yang Nayuwan jelaskan.


Rendra memegang kepalanya dengan kedua tangannya merasa frustasi, ia tertunduk menggeleng-gelengkan kepalanya, kepalanya serasa ingin meledak dengan semua yang di tuturkan Nayuwan tapi... Demi meyakinkan dirinya, sekali lagi ia mengedarkan panca indranya untuk melihat sekali lagi ke sekelilingnya, dengan pasrah akhirnya ia pun harus mau terima kenyataan bahwa apa yang dikatakan Nayuwan adalah kebenaran.


"Aku ingin minta bantuan kalian" ucap Nayuwan, menatap wajah mereka satu persatu, sekilas ada riak kecemasan dari binar matanya saat mengatakan kalau dirinya ingin meminta bantuan pada mereka.


"Apa ini ada hubungannya dengan insiden Mahendra kemarin malam?"ucap Gavin dengan tertunduk ke permadani, Nayuwan menelan salivanya dengan susah payah. Sejurus kemudian Gavin menoleh pada Nayuwan


"Queen aku tanya sekali lagi, apa ini ada hubungannya dengan insiden kemarin malam" suara Gavin terdengar datar, tatapannya menyipit tajam pada Nayuwan. Perempuan di sampingnya itu nampak seperti sedang mencari penjelasan yang tepat dituturkan pada Gavin.


"Bu,.." Nayuwan menoleh pada Moya yang terlihat khawatir juga dengan dirinya. Nayuwan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghempasnya dengan perlahan.


"Ak.. Aku tidak pasti, tapi jelas mereka sekarang pasti sedang mengincarku" ucap Nayuwan menunduk dalam.


"Maksudmu kamu sekarang ingin menjerumuskan kami?"ucap Haidar sinis.


"Aku sudah menyelamatkan ratusan nyawa orang kemarin malam termasuk sahabatmu, apa tidak boleh sekarang aku meminta sedikit bantuan saja? Itupun aku masih menjamin 100% keselamatan kalian semua" ujar Nayuwan menekan nada ucapannya.


Gavin menatap tajam pada Haidar yang terlihat begitu frustasi, ia merasa sudah dijebak untuk terlibat dalam kekacauan ini.


"Apa yang bisa kami bantu Yuwan?" tanya Vito, meski sebenarnya ia sendiri ragu apakah bisa membantu Nayuwan dalam hal seperti ini.

__ADS_1


Benar kata Haidar, lebih baik mereka menghadapi mafia, gengster, preman atau semacamnya. Lawan yang bisa dihadapi dengan fisik dan senjata, tapi melawan hal mistis yang tak kasat mata, ini baru kali pertama mereka menghadapinya secara langsung. Meski Vito tahu, di negara ini hal-hal yang berbau mistis, kelenik,supranatural semacam ini bukanlah hal aneh, tergolong lumrah saja terjadi dilakukan oleh siapa saja, apalagi duni bisnis memanglah bukan dunia yang bersih, banyak intrik tipu muslihat di dalamnya.


Nayuwan menganggukan kepalanya kepada Yusuf. Seperti tipuan sulap, tiba-tiba di tengah-tengah mereka kini tersedia sebuah kotak kayu yang di hiasi dengan ukiran di sekelilingnya, serta tali berwarna merah dan putih tergeletak di samping kotak kayu itu.


Yusuf dengan takzim beringsut mengambil kotak beserta tali berbeda warna tersebut, kemudian menaruhnya di depan Nayuwan. Nayuwan membuka kotak itu dengan perlahan, lantas mengambil beberapa gulungan dari dalamnya. Gulungan tersebut terlihat memiliki semacam serat yang timbul, memiliki warna gading keemasan.


Setelah Nayuwan mengeluarkan seluruh isi dalam kotak kayu tersebut, lantas Nayuwan beranjak dari tempatnya bersila, semua mata tertuju padanya. Ia kini berdiri tepat di belakang Gavin. Nampak ia bertekuk di belakang punggung Gavin yang lebar, lalu dengan hati ia membuka gulungan tadi, mengambil sesuatu mirip jarum dari dalam gulungan tersebut.


"Tuan, tolong tegapkan tubuh anda."seru Nayuwan, tanpa bertanya Gavin langsung menuruti apa yang Nayuwan suruh. Gavin merasakan Nayuwan menuliskan sesuatu di punggungnya menggunakan benda yang mirip jarum tadi. Tidak perih tidak sakit namun ia merasakan ada aliran hangat menjalari nadi-nadinya. Setelah selesai dengan Gavin Nayuwan bergeser pada Reva, Vito, Moya, Rendra, Gina, Satria, Ardilla, dan terakhir Haidar.


"Bukalah telapak tangan kalian" seru Nayuwan. Ajaib! Dari dalam telapak tangan mereka muncul seberkas cahaya di susul dengan adanya tulisan arab, berwarna merah dan hitam. Rendra mengerjapkan matanya beberapa kali memastikan hal semacam ini memang tengah terjadi.


"Tulisan yang berwarna merah itu dikhususkan untuk memanggil Yusuf, sedang yang hitam nanti kalian rahpalkan saat sudah berkumpul di sini."


"Nanti kalian duduk di sini dengan posisi sama seperti sekarang urutannya. Namun..." Nayuwan berhenti sejenak ia nampak ragu kembali.


"Namun apa?" tanya Gavin mulai merasakan kecemasan luar biasa dalam dirinya.


"Namun harus ada satu orang yang menjadi central duduk di tengah-tengah sana, dan orang itu lah yang akan..." Nayuwan lagi terlihat ragu.


"Jelaskan Queen !" Gavin mulai tidak sabar.


"Orang itu yang akan bertanggungjawab dengan nyawaku" ucap Nayuwan tertunduk lemas. Semua orang seolah tersambar petir begitu mengetahui nyawa Nayuwan yang kini mereka incar. Gavin menatap tajam pada Nayuwan yang masih tertunduk, rahangnya nampak mengeras, dengan luapan emosi mencengkram lengan Nayuwan dengan kuat


"Kenapa orang itu yang akan bertanggungjawab atas nyawamu Queen?" bentak Gavin.

__ADS_1


"Lepaskan aku dulu Tuan" pinta Nayuwan karena merasa lengannya sakit efek Gavin yang mencengkram terlalu kuat.


"Tidak sebelum kamu jelaskan semuanya Queen!!" emosi Gavin makin menjadi-jadi, riak wajah Nayuwan nampak getir karena Gavin terus meneriaki dirinya.


"Iya aku jelaskan Tuan, tapi tolong lepaskan aku, kamu menyakiti ku Tuan" pinta Nayuwan sambil meringis. Perlahan Gavin melepaskan cengkraman namun sorot mata tajamnya tetap tak berpindah dari Nayuwan.


"Selama ini aku tidak pernah ikut campur dalam urusan semacam ini, anggap saja kali ini mereka sedang apes berurusan dengan ku. Dari awal mereka sudah salah karena menyerangku tanpa tau aku siapa sebenarnya. Sewaktu memasuki area Hotel kemarin malam mereka berusaha membawaku,.."


"Jadi itu sebabnya kamu seperti orang sakit tepat saat kita tiba di parkiran bawah." potong Gavin, Nayuwan hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Gavin.


"Aku kira setelah aku memberi mereka peringatan di awal mereka akan berhenti, tapi ternyata tidak. Tapi saat kita masuk ke aula perjamuan mereka seolah-olah tidak melihatku. Awal aku pikir itu bagus, karena artinya aku tidak perlu ikut campur dalam masalah itu" ekor mata Nayuwan sekilas melirik pada Gavin yang masih memasang wajah setan padanya.


"Sial kenapa dia memasang wajah yang membuatku begitu ngeri" pikir Nayuwan menelan salivanya.


"Sampai mereka mulai menyajika makanan, baru aku sadar yang jadi tadi mereka hanyalah 7 orang saja. Salah satunya adalah hidangan yang seharusnya untuk ku, namun mereka menukarnya dengan milik Gavin." bola mata Gavin melotot sempurna, seolah-olah bola matanya akan keluar saat itu juga.


"Akhirnya aku mengisyarat padamu, Gina, dan Satria agar keluar dari Aula tersebut. Ketika sudah di luar aku sebenarnya bingung harus menjelaskan apa saat aku memintamu untuk tidak makan dan minum apapun yang ada di sana. Tapi ya sudahlah, kamu juga waktu itu mau menurutiku tanpa banyak bertanya. Setelah itu aku meminta mu untuk keluar dari aula, dan menyuruh mu, Gina, dan Satria menungguku di lobi. Maaf waktu itu aku tidak berpikir panjang, aku hanya berpikir aku juga harus menyelamatkan yang lainnya."


"Makanya kamu sok jagoan masuk kembali ke dalam aula, dan membuat keributan dengan membakar aula ?!!" potong Gavin berapi-api mencecar Nayuwan.


*******


sarangheo


********

__ADS_1


__ADS_2