
Sejak pertemuan mereka yang kedua mereka pun menjadi lebih akrab dan lebih sering bertemu, tentu saja kedekatan mereka mulai menjadi buah bibir para pekerja di kedai karena Raka selalu memperlakukan Tia agak berbeda dengan pelanggan yang lain.
Kamis sore itu, suasana kedai memang tidak terlalu ramai seperti hari sabtu dan minggu, seorang pelayan berlari menuju tempat pengambilan makanan yang tinggal di sajikan dengan sedikit berlari, ia nampak terengah-engah dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
"Napa lo Di, muke lu pucet amat abis liat setan lo?' tanya pegawai yang nampak sibuk membulak balik sosis dan sate seafood yang sedang di panggangnya.
"Bukan anjirr, ini mah malaikat maut" ucap Handi sambil meminum segelas air yang disodorkan Nia kepadanya. Belum ia menjelaskan apa yang dilihatnya, Nayuwan sudah menepuk pundaknya dari belakang, sontak membuat Handi menjadi latah
"Gossip aja !!"
"Kuntilanak beranak !!!" teriak Handi yang tentu saja membuat semua orang tergelak dibuatnya.
"Emang saya kaya kuntilanak beranak ya?" kekeh Nayuwan saat melihat ekspresi Handi yang seperti benar-benar habis melihat hantu.
"Ah ibu bikin kaget aja" gerutu Handi sambil mengelus d**anya, Nayuwan mengulum senyum.
" Lagian bukannya kerja malah ngegossip. Kalian kenapa? kok terkejut gitu ngeliat saya? Saya terlalu cantik ya? " goda Nayuwan.
"Iya bu, ibu selalu cantik, malah hari ini kelihatan lebih cantik kaya malaikat hehehehe" ujar Fajar mencoba mencairkan suasana.
" Bisa aja kamu," sahut Nayuwan tersenyum sambil mengibaskan tangannya.
" hmmm, Bytheway kalian liat suami saya?"
"Bapak tadi sedang di depan bu melayani seorang Tamu bu spesial bu" sahut Nia dengan nada menekan mengambil kesempatan memberi kode pada Nayuwan jika Raka sedang berselingkuh dengan wanita lain,
"OK, kalo gitu saya ke depan dulu ya, Handi nanti tolong antarkan sumur buat saya ya" ujar Nayuwan ngeloyor pergi begitu saja ke depan mencari keberadaan suaminya.
"Lo gila Nia? " tegur Fajar yang peka dengan sikap Nia barusan.
"Iya gue gila, tapi yang lebih gila itu suami yang selingkuh padahal udah dapet istri yang punya speck bidadari, feeling gue bentar lagi boss kita bakal ngilang liat aja " umpat Nia.
"Kalo pak Raka ilang usahanya bangkrut dong" sahut Handi polos, Nia yang mendengar ucapan Handi langsung berbalik badan dengan menghentakan kakinya karena geram dengan tingkah bossnya sudah beberapa kali ketahuan selingkuh tapi bukannya kapok malah selalu diulanginya lagi. Nia dari jauh-jauh sudah mulai antisipasi kalau-kalau benar-benar usaha bossnya gulung tikar, entah kalau yang lainnnya.
Nayuwan beranjak menuju meja-meja pengunjung, hingga langkahnya pun terhenti tepat di belakang meja Raka yang memunggunginya dan kebetulan ada meja kosong di sana. Lantas Nayuwan duduk dengan tenang, diam memperhatikan suaminya yang tengah bersenda gurau atau lebih tepatnya tengah bermesraan di meja pelanggan dengan seorang wanita yang tentu saja tidak Nayuwan kenal.
__ADS_1
Ia mengambil ponsel blackberrynya, lalu mengirim pesan via BBM pada suaminya itu.
Raka merogoh ponselnya yang bergetar saat pesan dari Nayuwan masuk ke ponselnya.
Nayuwan : [" Kak, di mana? Aku bosan di rumah, aku mau ke Koji ya"], raut wajah Raka seketika berubah setelah membaca isi pesan BBM dari Nayuwan.
Raka : [" kakak, ada di Koji yang baru yang,"]
Nayuwan : [" Oh kirain kakak ada di Koji yang di Jaksel"] balas Nayuwan. Di sudut meja kasir nampak beberapa pegawai mulai berkumpul di sana, beberapa bersiaga takut-takut akan ada keributan besar nantinyam. Namun nyata mereka semua malah dibuat salut dengan ketenangan Nayuwan yang jelas-jelas sudah menangkap basah suaminya yang tengah berselingkuh dengan wanita lain tepat di depan matanya.
Handi meletakan sumur greentea coklat kesukaan Nayuwan dengan sangat hati-hati, Nayuwan menoleh padanya.
"Makasih Di" ucap Nayuwan sembari tersenyum rama padanya, namun entah kenapa senyuman itu malah terasa lebih mencekam dari pada saat dirinya terkunci di toilet tempo hari karena kunci toiletnya ternyata memang rusak.
"I ii iya bu, ada yang lain lagi?" tanya Handi terbata-bata, nampak dahinya sudah berkeringat dingin sebesar jagung. Nayuwan menghela nafas menaruh kedua tangannya di atas meja lalu menggeleng ramah pada Handi yang terlihat sudah sangat ketakutan. Lantas Nayuwan kembali fokus pada gawainya membiarkan Handi kembali bekerja.
Raka: [" Kalo kamu mau ke Koji nanti malam aja, kalo malam kakak ada di Koji"]
Nayuwan : [ Ya udah lepas magrib aku ke Koji ya?"]
Raka : [ " Ok sayang, sekalian kita makan malam di restoran Favorite kamu gimana?"]
Raka : [" Ya udah kalo gitu, sayang aku balik kerja dulu ya, lumayan rame nih"]
Nayuwan : ["OK"]
Raka menghembuskan nafasnya dengan penuh kelegaan, Tia yang mulai jengah memperhatikan kegusaran kekasihnya itu.
"Chat dari siapa kok kamu tegang gitu?" tanya Tia dengan tampang kesal.
" hmm bukan apa- apa kok, tadi istri ku yang ngechat katanya bete di rumah pengen main ke sini" Tia yang mendengar penjelasan Raka tentu saja langsung merasa kesal, walau sejak awal mereka berkenalan Raka sudah menjelaskan jika dirinya sudah menikah, namun tetap saja begitu mendengar jika istrinya mau datang ke Koji moodnya langsung rusak begitu saja.
"Ya udah aku pulang kalo gitu, dari pada nanti aku di jambak-jambak sama istri kamu kesayangan kamu itu!!" ucap Tia seakan merajuk pada Raka.
"Sayamg jangan gitu dong, dia kan emang istri aku" Raka mencoba menenangkan Tia yang terlihat sangat kesal. Sambil mengaduk dan menyuruput sumur pesanannya Nayuwan tersenyum geli melihat pertengkaran sepasang kekasih yang bertengkar karena dirinya.
__ADS_1
"Terserahlah, Aku emang harus tau diri kok, aku ini cuma selingkuhan kamu, jelaslah istri kamu pasti jadi prioritas kamu mas !!" cecar Tia marah-marah dan bersikap impulsif pada Raka,
"Sayang ngga gitu, coba pelanin dikit suara kamu, ngga enak di denger pelanggan yang lain" ujar Raka segera meraih kedua tangan Tia karena merasa tak enak menjadi pusat perhatian. Bukannya menjadi tenang Tia malah malah makin merasa kesal karena menganggap Raka tidak peduli dengan perasaannya, ia meraih tas dan bersiap meninggalkan Raka, tujuannya tentu saja agar Raka merasa bersalah dan kemudian mengejarnya, membujuknya lalu lebih memilih pergi bersama dirinya ketimbang menemani istrinya.
"Jangan gitu dong sayang." ujar Raka yang mencekal lengan Tia yang beranjak dari kursinya.
"Udah lah Mas, kamu urus aja istri kamu itu, ngga usah peduliin aku " bentak Tia menghempaskan cekalan tangan Raka yang mencegahnya untuk pergi. Namun kembali di raih oleh Raka.
"Sayang,," kalimat Raka terhenti begitu menyadari jika dirinya tengah di awasi seseorang, tepat ketika ia menoleh , Raka menemukan sosok Nayuwan yang tengah santainya menyeruput sumur kesukaannya seolah ia sedang menonton sebuah tayangan sinetron. Raut wajahnya nampak datar biasa saja, karena ini memang bukan perkara baru yang ia lihat. Untuk beberapa detik Raka masih mematung menatap Nayuwan yang sedang duduk dengan tenang melihat ke arahnya. Nayuwan menghela nafas lantas "Sreeettt" Nayuwan mendorong kursi duduknya ke belakang lantas beranjak dari tempat duduknya mendekati pasangan yang sedang berselisih itu.
"Jangan berantem di sini mbak, ngga enak di liat pengunjung yang lain" sindir Nayuwan, ia berdiri tepat dihadapan Raka dan Tia sambil berlipat tangan dengan anggun seolah ingin menunjukan siapa dirinya pada Tia, tangan Raka yang tadi mencengkram lengan Tia perlahan mengendur hingga akhirnya terlepas begitu saja. Melihat sikap Raka Tia pun meradang, ia terlihat begitu emosi, bahkan nafasnya terlihat makin tidak teratur.
" Siapa kamu berani ikut campur urusan kami!" bentak Tia merasa terganggu karena mendapat teguran dari seseorang yang tidak ia kenal.
" Saya? Saya bukan siapa-siapa." sahut Nayuwan tenang, namun sudut bibirnya menyeringai pada Tia yang sepertinya makin tersulut emosi dengan sikap tenang yang Nayuwan lakukan terhadapnya. Namun sikap tenang inilah yang membuat atmosfir kedai Koji menjadi suram, dan membuat Tia merasa tertekan olehnya padahal Nayuwan tidak melakukakan apa-apa.
"Kalo gitu kamu ngga usah ganggu urusan kami !" cecar Tia masih pura-pura tidak faham situasi.
"Begitu ya? Yakin ?" ujar Nayuwan sembari menyondongkan tubuhnya pada tubuh Tia hingga membuat tubuh Tia doyong ke belakang.
"Iya lah, orang saya ngga kenal kamu !" ucap Tia bernadan makin nyolot sambil menegakkan tubuhnya kembali.
"Kalo gitu saya minta maaf, tapi kalo bisa mbak kalo mau ribut sama pacarnya di luar aja ya, kasian pelanggan yang lain disuguhin tontonan kurang bermanfaat apalagi tempat ini banyak pengunjung yang bawa anak kecilnya." ujar Nayuwan, lagi Nayuwan menunggingkan sudut bibirnya yang terlihat sangat menyebalkan di mata Tia, Tia menoleh pada Raka yang yang sejak tadi hanya diam saja setelah kehadiran perempuan itu.
"Mas jangan diem aja dong, Kamu kenal dia Mas?" bentak Tia menatap Raka lekat-lekat.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya " ujar Raka menarik tangan Nayuwan begitu saja meninggalkan Tatiana tanpa memberi penjelasan apapun padanya. Sontak membuat gaduh pengunjung Koji. Tia masih berdiam, tangannya mengepal menahan rasa kecewa yang amat sangat, cemburu, marah serta merasa sudah dipermalukan oleh Nayuwan, padahal jelas-jelas di sini dialah yang jadi sumber masalah. Tubuhnya bergetar hebat hingga kakinya terasa lemas, dan akhirnya limbung terduduk di kursinya lagi.
"Gimana rasanya ketemu sama istri sah pak Raka mbak?" ejek Nia menyeringai puas padanya yang terlihat syok sekaligus marah. Tia menatap tajam pada Nia yang seolah sedang menatapnya dengan tatapan jijik, Tia memperhatikan sekelilingnya ternyata bukan hanya Nia yang menatapnya dengan tatapan seperti itu, tapi juga para pengunjung. Tia yang kepalang malu, segera menyambar slingbagnya, berdiri dengan mata memerah pada Nia.
"Awas kamu ya, saya pastikan kamu bakal dipecat !" ancam Tia melampiaskan emosinya seraya membentikan jari telunjuknya kepada Nia,
"Maaf yang bisa memecat saya hanya pak Raka, atau ibu Nayuwan istri sah Pak Raka!" sahut Nia mencibir selingkuhan bossnya, Tia menghentakan kakinya lantas ia pun pergi dari sana menuju parkiran hendak menyusul Raka.
************
__ADS_1
sarangheo
************