Merpati Hitam

Merpati Hitam
Mantan


__ADS_3

Suasana halaman caffe yang langsung terhubung dengan lahan parkiran terasa cukup tegang, raut wajah Gavin kini telah berubah gelisah, manik-manik matanya nanar seakan menahan gejolak dari dalam dirinya. Faldo tersenyum kecut melihat perubahan tersebut, menyadari Gavin belum sepenuhnya bisa keluar dari masa lalunya.


"Aku.. Ngga akan membiarkan Nayuwan.. Bernasib sama dengan bibi ku" bisik Faldo pada Gavin yang kini mematung, samar Nayuwan mendengarkan apa yang tengah mereka bicarakan karena jarak mereka cukup dekat. Nayuwan menyadari ada yang tidak beres dengan mereka berdua, entah kenapa Nayuwan meresa perlu ikut campur dalam hal ini, karena dirinya tahu betul bagaimana hidup selalu dibayangi oleh trauma masalalu.


"Aku ngga tau arah pembicaraan kalian kemana? Tapi satu hal pasti, ketika kamu menyerang sisi trauma seseorang, berarti kamu seorang pengecut, karena berani menyerang sisi terlemah lawanmu" sela Nayuwan dengan nada mengejek.


"Dan Gavin, seharusnya ngga mudah terpengaruh orang lain jika saja lo udah bisa berdamai sama masa lalu lo, dsn udah bisa memaafkan diri lo sendiri" silih berganti Nayuwan menatap dengan tajam Faldo dan Gavin.


"Moy ..." bisik Ardilla pada


"Hmm"


" Yakin kita balik? Kayanya lebih seru ikut mereka deh ketimbang rebahan " Moya yang menganggu setuju. Begitu pun dengan Satria yang merasa khawatir jika Gavin kembali terguncang setelah berselesih dengan Faldo, Kecuali Reva dia harus tetap pulang meski harus menggunakan taksi online karena mamanya terus saja menghubunginya agar segera pulang.


Dengan menaiki kendara masing-masing mereka pun segera meninggalkan caffe setelah taksi online yang dipesan Reva datang dan meninggalkan mereka terlebih dahulu beberapa saat yang lalu. Motor Nayuwan melaju dengan kecepatan normal, tidak tergesa-gesa karena mereka memang ingin menikmati perjalanannya. Diikuti Gavin, dan Moya, paling belakang tentu saja mobil yang di kemudikan Satria.


"Ibu Nayuwan sering jalan-jalan tanpa tujuan kaya gini, Gin?" tanya Satria penasaran.


"Kata siapa ngga tujuan" bantah Gina


"Nah, kita mau kemana?"


"Aku emang belum tau kita mau kemana, tapi aku yakin tempat yang kita tuju sekarang mungkin ke daerah perkebunan teh" Satria menarik nafas panjang lega, ia pikir tempat itu sepertinya akan cocok untuk menenangkan Gavin saat ini.

__ADS_1


Belum sampai ke tujuan namun sudah memasuki daerah perkebunan teh tepat seperti dugaan Gina, tiba-tiba dari belakang muncul beberapa motor menyalip mobil yang di kemudikan Satria. Mereka sepertinya ingin menyusul motor Nayuwan yang masih memimpin rombongan mereka. Nayuwan tersenyum miring saat melihat beberapa kendaraan motor seperti ingin menghadangnya. "Masa kena begal lagi anjir" gumamnya pada setelah melihat beberapa motor tengah berusaha menyusulnya, segera ia mengganti gigi motornya, menghindari pengendara motor yang dia curigai itu.


"Cari mati orang" gumam Moya yang melihat Nayuwan menancap gas meninggalkan mereka.


"Dill" panggil Moya sedikit menoleh.


"Iya "


"Pegang yang kenceng ye, gue mau ngebut nyusul si Yuwan sama si Gavin" meski bingung Ardilla tetap menurut. Ia melingkarkan tangannya ke perut Moya, lalu menyandarkan kepalanya pada punggung Moya yang cukup lebar, hal yang yang wajar bagi Moya yang memiliki tinggi 168cm, apalagi notabennya dirinya memang seorang atlit Volly.


Jalanan yang cukup sepi memudahkan Nayuwan untuk melaju dengan kecepatan hampir maksimal. Adrenalinnya makin meningkat saat Nayuwan melihat pengendara motor yang dia curigai ternyata masih berusaha menyusulnya.


Hingga akhirnya Nayuwan memutuskan berhenti di pinggir jalan yang terbuka dan cukup ramai oleh mengunjung yang sedang menikmati weekend mereka, bisa diartikan sebuah tempat yang biasa dijadikan rest area bagi para mengendara, atau bagi mereka yang mau berlibur tapi dana pas-pasan, area itu cukup cocok karena menyuguhkan pemandangan hamparan perbukitan teh yang menghijau.


Dugaan Nayuwan sedikit melesat karena ternyata pengendra motor yang sejak tadi mengikutinya pun ikut berhenti, ternyata adalah Diaz dan kawan-kawannya. Lalu di susul oleh Gavin dan Moya, baru mobil yang di kendarai Satria setelahnya.


"Tepat seperti dugaan ku, ternyata benar kamu sayang" goda Diaz.


sambil melirik ke arah teman-temannya, dan dia belum menyadari jika pria di samping Nayuwan adalah Gavin. Diaz Rafael, dia dalah salah satu mantan Nayuwan yang hingga kini masih mengejar Nayuwan, terlebih karena sekarang adalah saingan bisnisnya.


"Mau apa kamu di sini?" tanya Nayuwan sinis.


"Seperti kamulah, menikmati weekend, apalagi?" jawab Diaz memiringkan senyumnya.

__ADS_1


"Tapi tindakan kamu tadi cukup membayahakan pengendara yang lain?" ucap Nayuwan dengan penuh penekanan.


"Sorry, lagian kamu ngga kenapa-kenapa juga kan?" ujar Diaz yang tangannya hampir saja menyentuh pipi Nayuwan yang nampak halus dan segar tanpa kerutan berarti, usianya sudah memasuki kepala pertengahan kepala 3 jika Gavin tidak segera mencekalnya lalu menghempasnya dengan kasar.


"Jangan coba-coba menyentuh Nayuwan meski seujung kuku" pekik Gavin lalu membuka helmnya.


"Huwaahh, putus dariku ternyata dekenganmu boleh juga?" sindir Diaz sambil bertepuk tangan dengan lambat beberapa kali, sedang teman-temannya kini sudah tak berani lagi ikut-ikutan, karena mereka tahu diri jika berurusan dengan Gavin saja dengan menggali lubang kuburan mereka sendiri, karena bisa saja Gavin membuat usaha mereka gulung tikar dalam 1 malam saja.


"Pesona mu sungguh luar biasa Sayang, bahkan seorang Gavin Harraz Widjaya pun kini mengikutimu," cibir Diaz yang sebenarnya mulai terintimidasi dengan kilatan tatapan Gavin yang seperti akan menelannya bulat-bulat. Nayuwan diam tak bergeming mendengar saat mendengar ocehan Diaz tentang dirinya.


" Oia, dengan kedudukan Tuan Gavin sebagai presdir FJC Bamantara Grup sepertinya mudah bagimu untuk tidur diranjangnya" Gina, Ardilla, terutama Moya seketika meradang begitu saja. Karena Moya tahu betul kejadian 1 tahun lalu saat Diaz masih menjadi kekasih Nayuwan, Diaz hampir saja memperkosa Nayuwan dengan mencampur obat bius pada minuman Nayuwan, meski waktu itu setengah sadar Nayuwan masih bisa melawan dan berhasil kabur dari Diaz setelah dirinya menendang kantong menyan milik Diaz, lalu kabur menggunakan taksi yang kebetulan terparkir di sana dan meminta segera di antar ke rumah sakit, kebetulan ketika sampai dirumah sakit ia berpapasan dengan Moya yang tengah jaga tunggu ayahnya yang sedang di rawat.


"Bagaimana tuan Gavin, apa Nayuwan cukup memuaskanmu diranjang?" ujar Diaz sambil tersenyum miring pada Gavin yang terlihat mulai emosi. Tiba-tiba sebuah tanganya menempuk punggung Diaz, dan


"BUGH !!" satu bogeman telak dan keras menghantam pipi serta rahang Diaz dan berhasil membuat sobek ujung bibirnya, membuat tubuh Diaz tersungkur ke tanah, samping Gavin tengah berdiri.


**********


sarangheo


*********"


dukung Author ya

__ADS_1


dengan like dan komennya 😊😊


***********


__ADS_2