Merpati Hitam

Merpati Hitam
Cacat seumur hidup


__ADS_3

Gavin melirik Nayuwan melalui ekor matanya, perempuan itu sudah kembali ke ruang tamu dengan wajah nampak lebih segar, dan berseri mungkin karena efek Nayuwan baru saja selesai mandi dan sedikit mempoles wajahnya dengan riasan tipis-tipis hanya agar tidak terlihat pucat. Gavin memperhatikan kejutekan Nayuwan pada Haidar yang terus menggoda Ardilla, entah kenapa perasaan ini benar-benar membuat hatinya terasa lebih hangat.


"Wooy Vin, senyam senyum aja lu, kesambet baru tau rasa lu" Vito menempuk pundak Gavin hingga membuatnya terkejut sekaligus membuyarkan isi kepalanya.


"Ya elah lu ganggu gue aja, lagian kalo gue kesambet mah ada Queen yang pasti nyembuhin gue" ujar Gavin menoleh pada Nayuwan yang menatapnya dengan tajam.


"Anda pikir saya ini dukun?" Sahut Nayuwan tak terima dirinya disamakan dengan cenayang.


"Dukun cinta" jawab Gavin tanpa tahu malu, kompak baik teman-temanya atau teman-temannya berekspresi seperti orang yang ingin muntah.


"Aook,, hoooekk,, " sedang Nayuwan memutar bola matanya malas.


"Neng ajakan sina aremam heula atuh rerencangana, hayooh geura-geura, mumpung haranet keneh"( Neng ajak supaya makan dulu itu teman-temannya, hayooh cepat-cepat, mumpung masih anget)" seru ibu Vina, wanita paruh baya itu nampak masih sangat enerjik untuk wanita sepantarannya, wajahnya pun terlihat sehat meski kerutan-kerutan usia dibeberapa area bagian wajahnya tak menyurutkan semangat dari diri wanita itu.


"Nya bu kedap deui (ya bu bentar lagi)" sahut Nayuwan sedikit meninggikan suaranya.


"Eh Nay mending makan di gazebo gimana, lesehan gitu lebih nikmat kayanya" ujar Haidar tiba-tiba mengide saat tak sengaja melihat gazebo di pekarangan belakang rumah Nayuwan.


"Bu, hoyong mam na di gazebo cenah,( bu pengen makan di gazebo katanya)" teriak Nayuwan.


"Nya ke, sina disiapkeun ku teh Narti (ya bentar, nanti disiapin teh Narti)" sahut ibu Vina dari arah samping rumah, rupanya ibu Vina sedang sibuk menyiapkan tanah untuk koleksi tanamannya, menyampur tanah dengan sekam segar, dan pupuk kandang.


"Aku bantu teh Narti deh" ujar Dilla beranjak ke dapur, kemudian di susul Moya dan Reva.


"Eh kalian para lelaki punya tenaga ngga, kalo punya bantuin kita napa?" sindir Dilla pada Haidar yang mulai sibuk main game, mendengar ejekan tersebut Haidarpun beranjak dari sofa yang didudukinya di susul Rendra dan Vito, lalu Nayuwan dan Gavin paling terakhir.


"Wiih bener-bener serasa makan di restoran khas sunda," ujar Vito terkagum-kagum dengan menu yang a1 selesai di tatarapi dengan bergotong royong oleh mereka, hingga pekerjaan Nartipun jadi cepat selesai.


Tanpa diminta Nayuwan dengan cekatan menyindukan nasi untuk Gavin.


"Segini cukup ?" tanya Nayuwan masih dengan wajah datar, Gavin sudah mulai terbiasa dengan ekspresi semacam itu, terlihat menyebalkan tapi itulah Nayuwan ketus tapi perhatian. Gavin hanya menggangguk, pun begitu saat Nayuwan mengambilkan beberapa lauk, lalapan serta sedikit sambal. Haidar nampak terkagum dengan perhatian Nayuwan yang ternyata cukup telaten melayani Gavin,

__ADS_1


"Heh, mau ini ngga?" tanya Dilla dengan ketus, Haidar menoleh pada Dilla yang telah mengambilkan piring dan nasi untuknya dan menunjuk tumis kangkung untuk tambahan lauknya, Haidar hanya mengangguk mengiyakan semua yang ditunjuk oleh Ardilla. Haidar menatap lekat-lekat pada piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauk yang tersedia. Dia terdiam menatap satu persatu wajah para sahabatnya yang nampak bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Terlihat begitu hangat. Haidar memalingkan wajahnya menyembunyikan kegundahan hatinya yang tiba-tiba saja terasa kosong dan hampa.


Nayuwan dan yang lainnya baru saja menyelesaikan makan mereka saat Nadia dan Alea menghampiri mereka. Nadia duduk di bibir gazebo tepat di sebelah Vito, sedang Alea di sebelah Moya.


"Mau kemana kalian udah pada rapi begini?" tanya Nayuwan setelah menelisik pakaian kedua putrinya dari atas sampai ke bawah.


"Alea mau jalan-jalan sama Rival ke Kawah putih" jawab Alea sembari mencomot potongan timun dari piring yang berisikan lalapan.


"Kamu Nad?" Nayuwan mengerutkan dahinya.


"Kalo Nadia mau ke tempat Papa, mumpung weekend, nanti berangkat kuliah dari sana aja Mom," jawab Nadia mencomot kerupuk yang di pegang Ardilla.


"Yeeh dasar bocah," protes Ardilla saat kerupuknya sudah berada di mulut Nadia.


"Kamu jangan pulang terlalu sore, sebelum maghrib udah harus di rumah ingat, atau kalo ngga"


"Uang jajan sebulan aku ngga cair" potong Alea. Nayuwan mendecih sembari mendelik tajam pada putri bungsunya itu.


"Nanti Mommy transfer" sahut Nayuwan sambil membereskan piring-piring kotor supaya nanti Narti y


hanya tinggal mengambilnya ke dapur.


"Makasih Mom, Mommy memang Mommy paling the best" sanjung Nadia.


"Ale ngga di kasih mih?" seloroh Alea dengan wajah memelas.


"Dih ngapain kamu kan mau kencan, pacar kamu lah yang jajanin, masa bawa bekal dari rumah? Ngga ada ngga ada?" tolak Nayuwan tegas.


"Iish Mommy mah, pelit" ujar Alea merajuk sambil menghentak tangannya yang sedang memegangi tali slingbagnya disertai dengan bibir manyun yang malah terlihat menggemaskan karena pipi Alea yang meski sudah remaja tetap terlihat lucu dan imut karena chubbi.


"Oiya Nad, kabar ayah kamu gimana?" tanya Gavin yang sedari tadi hanya menyimak celotahan drama minta jajan Alea dan Nayuwan.

__ADS_1


"Al hamdulillah berkat Om yang membantu papa, papa jadi sembuh lebih cepat," jawab Nadia


"Ah Om cuma bantu sebisa Om aja Nad, syukurlah kalo sudah membaik"


"By the way, Om kok bisa suka sama Mommy kami, padahal Mommy kalo udah ngamuk kayak setan bertanduk empat lho Om" ujar Alea polos sembari mencomot tempe goreng yang masih tersisa tinggal satu dipiring saji.


"Sembarangan!" protes Nayuwan seraya melempar tissu bekas melap mulutnya ke arah Alea.


",, Iish Mommy jorok ah !! Nah, tuh kan Om liat Mommy tuh kayak gitu, macem petasan" sungut Alea.


"Alea anak bunda, kamu masih mau uang jajan anak ku?" ujar Nayuwan tersenyum lebar pada Alea namun auranya terasa menyeramkan.


"Masih bundaku, tapi Ale tetep penasaran aja kok bisa Om Gavin yang seorang Presdir mau-maunya gitu sama Mommy yang cuma tamatan SMA, udah gitu udah punya anak dua lagi. Penasaran aja , ini emang Mommy Ale yang terlalu mempesona atau emang Om Gavin segitu ngga lakunnya sampe "ya udah lah Sama Nayuwan aja, lumayan dapet bonus dua" kan bisa aja gitu mih" ucap Alea acuh saja sontak membuat Gavin menyemburkan air minumnya begitu mendengar kalimat di akhir menyebut dirinya ngga laku, Nayuwan mendelik pada Gavin karena semburannya tepat menegenai wajahnya. Dan sudah pasti kejadian itu membuat semua orang tertawa hingga terbahak-bahak.


"Maaf Queen, Maaf " Gavin segera mengambilkan tissu kering untuk Nayuwan lantas membantu Nayuwan membersihkan sisa air semburan diwajah perempuan yang sepertinya mungkin akan segera berubah menjadi mode iblis jika dibiarkan.


"Pck !! Udah aku bisa sendiri" bentak Nayuwan merebut tissu yang digunakan Gavin untuk melap wajanya.


"Pck !! Sok romantis kalian udah pada tua juga" cibir Alea. Lagi-lagi kalimat tanpa filter yang dilontar Alea dengan eksprsi datar membuat semua orang tergelak, Haidar bahkan sampai terpingkal.


"Hhahahaha Ale, kamu belajar dari mana bicara seperti itu?" tanya Rendra masih terus tertawa sambil mengusap air matanya.


"Kalo gue sih pphhfft ngga heran, paling dari emaknya, si Nayuwan kan kalo ngomong kadang tanpa filter dulu" sahut Haidar menjawab pertanyaan Rendra, sedang Ale menggoyangkan telunjuknya sambil menganggukan kepalanya.


Sebenarnya bukan tanpa sebab Alea menanyakan hal itu, alasannya karena memang kedudukan sosial mereka cukup jomplang, meski Nayuwan kini adalah seorang wanita karier yang sukses dengan segudang penghargaan sebagai seorang entrepreneur yang cukup diperhitungkan di dunia bisnis, namun tetap saja Nayuwan memiliki masa lalu yang cukup kelam yang pernah terlibat pertarungan dengan para preman dan gengster, dari sisi pendidikan Nayuwan juga hanya lulusan SMA, belum lagi ia pernah mengalami depresi saat berpisah dengan Raka. Alea menanyakan hal remeh temeh semacam itu hanya untul memastikan bahwa ibunya tidak akan terluka lagi untuk kesekian kalinya. Alea cukup tahu seberapa kerasnya Nayuwan berusaha untuk keluar dan bangkit keterpurukannya di masa lalu. Dan meski kini Nayuwan nampak tegar dan baik-baik saja, juga bukan berarti Nayuwan tidak bisa move atau gagal dari masalalunya tapi Alea yakin luka di masa lalu Nayuwan pasti meninggalkan trauma yang menjadi cacat yang tidak akan pernah hilang seumur hidup Nayuwan.


********


sarangheo


****""""

__ADS_1


__ADS_2