
Suasana hening kembali setelah pelayan itu kembali ke tempatnya. Gavin, dan yang lainnya ragu untuk menyantap hidangan yang tersedia, bisa dikatakan mereka masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu.
"Kalian makanlah, jangan mubadzir makanan, aku jamin makanan ini aman, jangan lupa berdoa dulu, benarkan pak Mahendra? Ah Pck,, bukan.. Kanjeng Gusti?"ucap Nayuwan sembari menyeringai pada lelaki tengah menatapnya lekat-lekat dengan raut wajah datar yang sulit diartikan maknanya. Semua otang terperangah saling memandang satu dengan yang lainnya lantas menatap ke arah Mahendra, menilik apakah benar jika yang bersama mereka kini bukanlah Mahendra yang asli kecuali Gusman, dia nampak terdiam berkuat dengan pemikirannya sendiri.
Nayuwan mengambil potongan steak yang sudah ia potong kecil-kecil dengan menggunakan garpu ke dalam mulutnya. Lantas di ikuti oleh yang lainnya.
"Apa kamu tidak makan?" tanya Nayuwan sembari mengacungkan pisau ke arah Mahendra.
"Tentu saja aku akan makan, tapi aku lebih suka untuk memakanmu di atas ranjang" Gavin hampir saja berdiri menghajar pria yang dengan lantangnya berani merendahkan Nayuwan di muka umum jika saja perempuan yang ada di sampingnya itu tidak menahannya.
"Oiya Diajeng, apa kau yakin untuk menikahi pria seperti dia?" ujar Mahendra mulai menyulut kembali emosi Gavin yang raut mukanya sudah tak bisa ia kontrol lagi. Sedang yang lain hanya memperhatikan tanpa banyak pergerakan.
"Ah tentu saja, kenapa harus tidak yakin? Calon suami ku ini tampan, mapan secara beliau adalah presdir FCJ Bamantara Grup. Tanpa aku melakukan perjanjian terkutuk dengan makhluk seperti mu pun, aku tetap akan bisa kaya lebih dari tujuh turunan ku di masa depan. Lagi pula calon suami ku ini dia manusia nyata, bukan makhluk parasit seperti mu" ujar Nayuwan seraya meminum air putih miliknya. Gavin yang mendengar hal itu sedikit banyak mulai berkurang emosinya.
"Ciih !! Dasar manusia baru diagungkan segitu saja sudah tersipu malu"cibir Mahendra.
"Sirik tanda tak mampu" balas Gavin.
"Apa?!" Mahendra meninggikan suaranya sembari memukul meja.
"Kalian berdua berhenti !!" hardik Nayuwan dengan nada menekan seraya melempar tatapan tajam pada Mahendra dan Gavin bergantian. Rongga dad* ke dua makhluk berbeda alam itu terlihat kembang kempis karena emosi yang siap meledak.
"Tidak bisa begini terus, aku harus segera membawa keluarga ke dunia paralalel. Artinya Mahendra akan mati suri selama di dunia paralel. Hmmmm tidak masalah justrru bukankah itu akan bagus aku bisa menekan Gusman untuk mengatakan di mana Mahendra yang asli." ucap Nayuwan dalam hati sambil terus menatap tubuh Mahendra yang tengah disemayami makhluk itu.
"Bodoh!" gumam Nayuwan
"Apa kau bilang?" ujar Mahendra menatap tajam mengeraskan rahangnya sembari berdiri seakan menantang Nayuwan berduel.
Nayuwan mendongak dengan tatapan tak kalah menusuk kepada Mahendra, lantas melempar serbet makan yang ia gunakan untuk melap sisa saus steak di bibirnya dengan kasar seraya berdiri dengan perlahan. Semua orang ikut mendongak menatap ke dua orang itu dengan tatapan bingung harus berbuat apa, karena melerai mereka tentu bukan ide yang tepat saat ini.
__ADS_1
"YUSUF SEKARANG !!!!" teriak Nayuwan seraya membungkuk lantas menggebrak meja makan dengan kencang. Sepersekian detik kemudian Nayuwan dan yang lainnya sudah berpindah tempat ke dunia paralel miliknya sontak membuat semua orang terperanjat kembali dibuat bingung karena mereka tidak lagi berada di restoran. Untuk sesaat Gavin, Gina, dan Satria sama herannya dengan berpindahan mereka ke dunia paralel tanpa ada instruksi apapun dari Nayuwan sebelum.
Terlihat di ujung meja Nayuwan masih menunduk, punggungnya terlihat naik turun saat menenangkan energinya sendiri, hingga iapun melepas nafasnya dengan perlahan. Keluarga Mahendra yang masih kebingungan kembali dibuat terkejut saat melihat Mahendra terkulai di atas meja. Mati suri.
Sementara masih di dunia manusia Yusuf menarik ke daerah gunung Salak. Makhluk yang menyebut dirinya Kanjeng Gusti yang padahal dirinya adalah sejenis dengan jin ifrit.
"Cih makhluk seperti mu ingin menikahi manusia seperti Diajeng Ayu," decih Yusuf tersenyum mengejek pada makhluk itu.
"SRREEEEEETTTT.."lantas Yusuf mendorong makhluk itu yang kini sudah berubah ke bentuk aslinya yang lebih mirip centaurus dalam mitologi Yunani. Centaurus adalah makhluk legendaris yang berbentuk setengah manusia setengah binatang. dari kepala sampai pinggang berwujud manusia, sedang dari pinggang hingga tubuh bagian bawah berwujud kuda. Namun makhluk ini terlihat lebih menjijikan dari yang Yusuf ketahui. Giginya bertaring, dengan bola mata hampir keluar seluruhnya, kulit wajahnya keriput dan berkulit memenuhi wajahnya. Dan entah dari tubuh atau dari mulutnya mengeluarkan bau yang amat menyengat, yang membuat Yusuf sedikit mual, tangannya besar dan memiliki kuku hitam yang runcing siap mencabik Yusuf jika sedikit saja Yusuf lengah.
Serigala melolong di tempat yang jauh. Angin dini hari menghempas. Dingin. Hening. Tak ada percakapan. Sunyi sementara.
"AAAARRRRRRGGGHHH !! KURANG AJAR KAU!! SIAPA KAU BERANI MENGGANGGU KESENANGANKU KEPAR*T!!" geram makhluk itu seraya mengayunkan tangannya yang berkuku hitam dan runcing, ia hendak mencakar Yusuf. Yusuf melompat ke salah satu puncak pohon di hutan tersebut.
"AAAARGGGGHHH, SET*N KECIL LARI KE MANA KAU!"
"Pck! Main-main denganmu sepertinya hanya akan membuang waktu ku ! Dasar cecung*k kekanak-kanakan!"
"Berhenti berteriak seperti itu" sahutYusuf terlihat mengorek telinganya yang tidak gatal, lantas melompat kemudian berdiri di hadapan makhluk itu.
"Mau bertarung tidak?! Jika tidak aku mau pulang, tidur" lanjut Yusuf menoleh ke sembarang arah seraya memutar bola matanya dengan malas pada seolah tak peduli dengan sosok menyeramkan makhluk itu. Yang tentu saja makin menyulut kemarahan makhluk itu.
" Maju kau BERENGS*K, akan ku buat memohon untuk ku lebur menjadi debu !!" teriak makhluk itu bersiap menyerang Yusuf yang masih berdiri acuh tidak terlalu menanggapi gertakan makhluk itu.
"SSRRAAAKK SRAAKK SREEKK !!" makhluk itu mulai menyerang dengan cakarnya secara membabi buta. Yusuf masih tak bergeming dari tempatnya, tepat jarak diantar mereka hanya beberapa senti saja secepat kilat Yusuf melesat ke langit-langit hutan belantara yang nampak suram.
"Yang BERENGS*K ITU.." sedetik kemudian ia seperti meteor jatuh dari langit menukik tajam tepat menghujam makhluk itu tanpa sempat makhluk itu menghindar. "BUGGH !!"
"ADALAH KAU !!" " TAAKK !!"Tubuh makhluk itu terbelak dua dengan sempurna,
__ADS_1
"AARRAAAGGGGHHHHHH " ia mengerang seraya berusaha menyatukan kembali tubuhnya yang terpisah.
"Heh, cuma segini doang," ujar Yusuf bersedekap angkuh melipat kedua tangannya di depan da** bidangnya.
"keretek.. kerettek, sraatt"perlahan tubuh mulai kembali bersatu.
"Oh hebat juga kamu bisa menyatukan kembali tubuhnya dengan cukup singkat" cibir Yusuf mencibir tanpa merubah posisinya berbiri.
Kembali ke dunia paralel
Belum hilang rasa keterkejutan mereka dengan perpindahan dimensi yang Nayuwan lakukan kembali Ayah, ibu, serta istri Mahendra dibuat lebih terkejut begitu mendapati tubuh Mahendra seolah tak bernyawa, mereka bergegas berhamburan ke tubuh Mahendra yang tengah mati suri melupakan sejenak rasa penasaran mereka bagaimana caranya mereka bisa berpindah tempat hanya dalam sekejam mata.
"Nak, bangun Nak kenapa bisa begini nak," ratap ibunya seraya meraba wajah Mahendra yag meraka sandarkan pada kursi yang tengah Mahendra duduki,
"Mas bangun mas,.. mas jangan buat aku takut mas,,, mas.." ucap istri Mahendra sembari menggoyangkan tubuh Mahendra. Keluarga itu saling sahut menyahut berusaha membangun. Nayuwan masih berdiri dalam menunduk menatap kosong ke arah meja makan yang digebraknya tadi.
"Apa Anda masih akan membiarkan keponakan anda seolah mati suri Paman Gusman?!" tanya Nayuwan tiba-tiba, karena Gusman sejak tadi hanya diam seperti patung.
Dirinya dilema antara ia masih takut dengan makhluk yang selama ini ia sembah meski terkadang hati nuraninya sudah jengah dengan segala ritual yang sudah dilakukan selama 3 generasi keluarga mereka.
""""""
***********
ada yang bingung?
****
😄 sabar....
__ADS_1
********