
Tia menggoyang-goyangkan lengan Raka,
"Mas,, Mas bangun.." Tia dengan hati-hati berusaha membangunkan Raka yang masih mengigau menyebut nama mantan istrinya. Perlahan Raka membuka kelopak matanya, beberapa kali ia mengerjapkan matanya menajamkan penglihatannya yang masih sedikit kabur. Setelah sepenuhnya sadar dengan sabar Tia membantu membenarkan posisi Raka agar lebih nyaman.
"Makasih Ti" tanya Raka setelah menyedot air minum yang disodorkan Tia. Perempuan itu menatap lekat-lekat manik mata suaminya raut kekecewaan di wajahnya sama sekali tak bisa ia sembunyikan dari suaminya.
"Mas mau ke toilet?" Raka menggeleng memperhatikan istrinya yang tengah sibuk melipat mukenanya.
"Tia, kemarilah" Raka nemepuk-nepuk sisi ranjangnya, dengan enggan Tia mendekati bibir ranjang suaminya.
"Maafkan aku karena sampai detik ini aku belum bisa merelakan Nayuwan" ucap Raka lirih. Tia hanya menunduk, menahan gejolak di d**anya, tenggorokannya terasa meradang begitu mendengar penuturan suaminya itu.
"Aku tahu, tidurlah Mas, kamu harus sembuh, kasian Reza harus di titipkan terus" ujar Tia seolah tidak mendengar apa-apa, tangannya sibuk membenahi selimut Raka lalu mengisi ke dalam gelas yang sudah habis setengahnya berusaha mengalihkan tatapan suaminya. Suasana kembali hening, Raka perlahan tertidur kembali, sedang Tia menatap suaminya dengan perasaan yang ia sendiri sulit mengartikannya. Meski ia merutuki Nayuwan dalam hatinya, namun iapun menyadari jika ini adalah buah dari masalalunya.
Tanpa mereka sadari Nadia ternyata sudah bangun sejak Tia sholat tahajud dan mendengarkan percakapan orangtuanya. Bibirnya tersungging tipis, miris sekaligus iba dengan keadaan sang ibu sambungnya. "Karma itu tidak semanis kurma Mah," ucap Nadia dalam hati, lantas ia kembali membenamkan bola matanya setelah tidak lagi mendengar percakapan apapun dari orangtuanya.
************
Nayuwan terlihat sibuk dengan papan keyboardnya,
Tok Tok tok !! Suara ketukan di balik pintu sedikit membuyarkan konsentrasinya.
"Ini bu, berkas laporan yang tadi ibu minta" Novi meletakan berkasnya di atas meja Nayuwan dengan perlahan.
"PT Bima Putra ada menghubungimu lagi Nov?" tanya Nayuwan sembari mengecek berkas yang diserahkan Novi.
"Iya bu ada baru saja, mereka tetap ingin bertemu dengan ibu"
"Merepotkan saja ! Padahal urusan ini dihandle Fikar pun tidak jadi masalah ada-ada saja mereka itu, lalu Gina belum kembali dari meeting dengan PT Gautama" ujar Nayuwan menunjukan ekspresi ketidaksukaannya. Novi hanya menggeleng menunduk tak berani menatap wajah Nayuwan yang memperlihatkan raut suram.
"Hmm.. Lalu PT Citra Raya sudah mengomfirmasi meeting besok bu, siang ini saya sudah jadwalkan meeting ibu dengan beberapa konten kreator dan editor, dan nanti malam ada undangan perjamuan di Hotel Mulia," jelas Novi.
" Perjamuan di Hotel Mulia jam berapa?" delik Nayuwan.
" sekitar jam 7.30 malam bu," Nayuwan menghela nafasnya, baru kemarin dia merasakan libur dan hari ini sejak pagi dia sudah disibukan dengan tumpukan kertas dan juga sudah harus mengikuti schedule yang sudah diatur atur oleh Novi. Sebenarnya itu bagian dari tugas Gina namun akhirnya Nayuwan memutuskan untuk membaginya. walau meski begitu Gina tetap harus mengecek dan menyiapkan segala keperluan Nayuwan di kantor maupun di luar kantor, adanya Novi jelas sangat membantu pekerjaan Gina yang harus standby hampir 24jam. Sebagai bawahan langsung Nayuwan, Gina juga memiliki kuasa untuk menjadi wakilnya meeting dengan klien seperti hari ini. Nayuwan menyuruhnya meeting dengan PT Gautama.
__ADS_1
Nayuwan memainkan pulpen yang ada di jarinya,
"Pck, hhh... Ok siapkan semuanya dengan baik, kamu boleh kembali mengerjakan tugasmu" kata Nayuwan setelah berpikir beberapa saat kemudian.
" Baik bu, apa ibu mau saya buatkan sesuatu, sepertinya ibu agak lelah?" Nayuwan hanya menggeleng dan tersenyum tipis menolak halus tawaran Novi.
"Kalo begitu saya kembali ke meja saya" pamit Novi sembari membungkukan sedikit tubuhnya, mundur beberapa langkah sebelum berbalik di menuju pintu keluar ruangan bossnya itu.
"Hmmm" balas Nayuwan yang sudah kembali tenggelam pada pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Satu jam berlalu Nayuwan berkutat dengan tumpukan berkas yang harus diperiksanya, mencatat dan menandai bagian yang harus di revisi oleh Novi,serta menandatangani beberapa file kerja sama degan klien. Wanita itu memang terkenal gila kerja, dia bahkan sanggup berkutat dengan layar monitor komputernya semalaman hingga esok harinya. Entah bagaimana cara ia membagi waktunya istirahatnya, karena seakan ia tidak pernah kehabisan energi jika sudah menyangkut dengan pekerjaannya, maka sudah sewajarnya jika IC grup bisa berkembang pesat dengan cepat mampu bersaing dengan pemain lama.
Nayuwan menyandarkan tuduhnya pada sandaram kursinya kerjanya yang empuk, lalu merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sambil mengistirahatkan pingganggnya yang terasa panas akibat terlalu fokus dengan komputernya Nayuwan mengambil lalu menghidupkan ponselnya yang sejak semalam ia sengaja mematikannya. Bersandar santai menunggu dengan sabar sambil meminum air putih yang selalu tersedia di sudut mejanya. Ujung netra Nayuwan menatap datar layar ponselnya, berbagai notifikasi mulai memenuhi layar ponesl Nayuwan seakan berebut tempat agar segera terbaca oleh Nayuwan.
"Hehhhh! Padahal cuma semalaman doang ni ponsel gue matiin, sekalinya dinyalain udah kek mau ngalah-ngalahin layanan customer service area." ungkapnya kesal. Belum juga Nayuwan memeriksa satu persatu notifikasi dalam ponselnya, benda itu sudah berdering duluan, Nayuwan dengan berleha-leha mengambil ponselnya "KAMPRET calling" begitulah nama yang tertera dilayar ponselnya,
"Hallo Assalamualaikum,," ucap Nayuwan begitu sambungan teleponnya ia terima.
"Waalikumsalam Queen, "jawan Gavin di sebrang sana.
"Tuan Gavin tidak sedang sibukkah, jam segini telepon saya? "
"Maaf Tuan, saya sudah terbiasa bicara seperti ini pada Tuan" Nayuwan seolah tak peduli dengan rengekan Gavin.
"Pck ! Ya sudah terserah kamu saja"
"Hmmm" balas Nayuwan
"Queen, siang ini kamu sudah ada janji dengan klien ngga? Kalo belum ayo kita makan siang bersama ?" tanya Gaviin to the point.
"Sayangnya udah Tuan. Nanti sambil makan siang saya mau meeting sama beberapa konten creator dan juga editor. Lain kali kalo mau ajak saya makan siang hubungi Gina atau Novi dulu, kan mereka yang atur schedule harian saya 24 jam." jelas Nayuwan, jelas terdengar Gavin menghela kecewa karena gagal mengajak Nayuwan makan siang padahal ia sudah sangat merindukan wanita workaholik itu, ia sangat ingin bertemu paahal baru kemarin sore mereka berpisah setelah gavin mengantar Nayuwan ke apartementnya.
"Nanti malam Tuan di undang ke perjamuan di Hotel Mulia kan?" tanya Nayuwan mencoba menghilangkan kekecewaan Gavin karena tidak bisa makan siang bersama hari ini.
"Iya, apa kamu juga di undang ke sana?" selidik Gavin.
__ADS_1
"Hmmmm begitulah, tadi Novi memberitahu saya jika saya ada undangan perjamuan di Hotel Mulia nanti malam, tapi sejujurnya saya tiddak tau siapa yang mengundang saya ke sana, Tuan tau sendiri yang biasa menghadiri perjamuan semacam itu biasanya kan adik saya Clara, tapi karena dia belum masuk kerja karena Ayden sakit ya terpaksa saya yang harus memenuhi undangan tersebut" jelas Nayuwan
"Ya sudah, nanti malam aku jemput kamu kita pergi bersama"
"Ok" jawab Nayuwan singkat tanpa ada drama penolakan seperti biasanya, nampaknya Nayuwan memang enggan menghadiri acara tersebut karena pekerjaannya saat ini masih banyak yang harus segera Nayuwan selesaikan.
"Ya udah, kalo gitu sampai jumpa nanti malam"
"Jangan telat saya paling tidak suka dengan orang yang ngaret "
"Queen, kamu lupa bahwa calon suamimu ini seorang presdir yang harus selalu ontime dalam setiap meetingnya?"
"Hmmm maaf saya lupa kalo saya sekarang punya calon suami soalnya dia belum secara resmi datang ke rumah saya untuk melamar saya" goda Nayuwan.
"Oh begitu ya, Ok lah bilang sama ibu mu hari sabtu minggu ini saya akan berkunjung bersama keluarga besar saya untuk bersilahturahmi "jawab Gavin tiba-tiba brbicara formal.
"Tuan saya tadi cuma bercanda lho, tapi kalo dianggap serius, ok nanti saya akan sampaikan pada ibu saya" sahut Nayuwan menahan ledakan jutaan kupu-kupu dari dalam tubuhnya.
"Pokoknya sabtu ini saya pastikan kamu resmi menjadi tunangan saya"
"Udah datang aja dulu, bari koar-koar" cibir Nayuwan menyembunyikan perasaannya.
"Awas kalo kabur !!"ancam Gavin
"Tuan kali yang nanti bakal nyesel karena kekeh mau sama saya"
"Iya saya memang sudah banyak menyesal karena selama ini kita selalu bertemu untuk berdebat"
"Sudahlah jangan di bahas lagi. Kalo gitu sampai bertemu nanti malam, Novi sudah bulak balik ke ruangan saya mengajak saya meeting sekalian makan siang, hhmmm Mas juga harus tetap makan siang meski tanpa saya" tutup Nayuwan tanpa memberi kesempatan untuk Gavin mrnjawab ucapannya barusan.
Sambil tersenyum tersipu sendiri Nayuwan segera bersiap untuk pergi meeting sekaligus makan siang sesuai jadwal yang sudah di atur Novi. Nayuwan keluar dari ruangannya dengan wajah sumbringah, tentu saja sedikit membuat Novi sedikit terheran dengan perubahan mood atasannya tersebut.
"Ga usah heran, boss kamu itu cuma lagi bucin aja" bisik Gina yang berjalan beriringan dengan Novi mengikuti langkah Nayuwan dari belakang. Novi yang polos pun hanya mengangguk tanpa banyak bertanya mengenai kehidupan pribadi bossnya pada Gina.
************
__ADS_1
sarangheo
**********