
Sabtu malam, suasana hedonisme langsung menyeruak saat Ardilla memasuki area club malam Southbank Club setelah dirinya menyerahkan kartu identitas dan sedikit berbohong kepada penjaganya, dia mengatakan dia sedang mencari kakaknya karena ayahnya sedang di rumah sakit tapi kakaknya malah tak bisa dihubungi, dengan sedikit usaha memelas dan beberapa tetes air mata akhirnya dia diizinkan masuk oleh manager Club tersebut.
Gelas-gelas berbagai jenis minuman beral kohol memenuhi tiap meja bar yang hampir semuanya terisi oleh pengunjung. Musik up beat yang menghentak-hentak, sinar lampu yang berkerlap kerlip khas lampu disko yang mengikuti alunan musik Dj, bau roko dan al kohol sedikit membuat Ardillah sedikit pening karena kekurangan menghirup oksigen.
Untuk sesaat Ardilla yang memakai hijab sempat menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang tidak umum untuk berada di sebuah club malam, terlalu "ukhty", beberapa menatap aneh, ada juga yang menatap heran, " "eh eh,, coba lihat ada "ukhty" nyasar hahaha" ujar seorang pengunjung,
"Alah paling juga ntar itu tudung lepas pas ketemu gadun" timpal pengunjung lainnya.
" Atau mungkin juga dia lagi nyari lakinya yang nyari service lain ,, hahahahahaa" Ardilla memoleh dengan tatapan tajam kepada sekumpulan wanita yang keliatan sudah teler berat.
Ardilla mengdengkus dengan kasar, berlalu acuh tak menghiraukan orang-orang tersebut.
Pikiran mereka memang sepenuhnya tidak salah, hanya saja kurang tepat karena Ardilla sedang mengintai mencari bukti kebusukan Johan, tunangannya.
Ardillah mengedarkan pandangannya, berkali-kali dia menghela nafas dengan serius.
"Aku yakin kamu di sini b*****n !" gumam Ardilla dengan nada kekesalan. Netranya sibuk memindai satu persatu wajah para pengunjung.
Ardilla melihat jam dengan frustasi, dia masih mencari-cari sosok Johan diantara kumpulan orang-orang yang mencari hiburan di Club tersebut. Malam kian larut, suasana makin ramai pengunjung. Ardilla menghela nafas, betisnya sudah mulai terasa pegal. Tepat saat itu meja bar kecil untuk 2 orang kosong di pojokan club dengan penerangan lampu yang remang-remang, tempat yang cukup strategis untuknya melanjutkan pengintaiannya. Dia menunggu dengan gelisah dan masih berharap jika kabar mengenai Johan hanyalah gossip belaka.
Harapannya ternyata hanya harapan hampa, seseorang yang dia tunggu datang dengan wajah sumbringah tapi Johan tidak sendirian. Mata Ardilla memicing tajam ke arah Johan memastikan sekali dengan mata kepalanya sendiri Johan tengah membelit pinggang seorang wanita
"Heh? bukankah dia sekertarisnya? Kurang ajar kalian!" geram Ardilla berapi-api. Hatinya luluh lantak ketika mengetahui perempun yang jadi selingkuhan Johan ternyata adalah Arni,sekertaris Johan. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya terlihat naik d**anya terasa sesak, amarahnya meradang dan siap meledak.
"K*****T!! Kalian berani-beraninya menusuk ku dari belakang dasar A****G !!" umpat Ardilla memaki dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, sempat terlintas dalam benaknya untuk melabrak dua pengkhianat itu, namun dia urungkan. Dia lebih memilih cara lebih halus untuk membalas sakit hatinya.
Ardilla tersenyum seperti iblis "Kena kalian s***n ! Silahkan nikmati buah dari perbuatan kalian !!"
Ardilla mengarahkan kamera ponsel pintarnya pada pasangan yang tengah meliuk-meliuk erotis di lantai dansa. Dengan rakus sesekali Johan sang sekertaris tanpa peduli orang-orang di sekitar mereka, toh bukan hal yang tabu jika mereka melakukannya di sana.
Lelah berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik DJ, Johan menarik tubuh Arni ke sebuah meja yang tak jauh dari tempat mereka menari tadi, di sana sudah tersedia gelas berisakan vodka dan wiski, Arni terlihat begitu lihat saat menggoda Johan, terbukti karena Johan tak membiarkan bibir Arni kering oleh salivanya.
Mereka masih belum sadar jika aksi panas mereka tengah di tonton ribuan pengikut Ardilla secara live. Ardilla semakin tersenyum miring, licik. Terpampang jelas dari raut wajah Ardilla merasa cukup puas saat tayangan live streamingnya sepertinya akan viral.
Icon love berwarna warnipun beterbangan dilayar ponsel Ardilla, kolom komentar terus bergerak naik tanpa henti sejak Ardilla menayangkan live streamingnya itu. Sesekali Ardilla menjawab komentar, dia sudah tak peduli lagi tentang isi komentar dalam Live nya itu yang penting tujuanya membalas dendan tercapai. S**mirk liciknya makin terkembang saat tautan link-nya ikut di share para pengikutnya dengan berbagai caption.
"Anjir kalo gue jadi ka Dillah udah abis tuh cwe"
"poor girl, jangan sedih kak, lelaki masih banyak stok"
"daebak! pacar selingkuh dijadikeun bahan konten, goodjob Kak"
"anjjiiirr si bang jo lagi siap2 bercocok taman kek nya"
__ADS_1
" gila sih ini mah"
" kamu mau selingkuh sama gue ngga? buat balas dendam dil?"
"Cowo kelakuan macem kek ee"
" Diiihh tuh cowo buta apa ya, slingkuhnya ama tante-tante hahahah"
"Harus viral sih ini mah"
"ngga tau malu"
" Auto di pecat dari Ekadanta ini mah"
" CEO Ekadanta tau ngga nih boss? 😈😈"
"bang Jo, setelah ini kau di coret dari daftar mantu idaman 🤣🤣🤣"
"Waw kabag keuangan kantor gue ini mah 🙈🙈"
"penggerebekan paling gokil"
"Jangan kasih kendor teh Dilla"
"Eh bukannya dia Kerja di
"Dill, lu di mana?" Reva ikut komen
"Gue lagi di Southbank Club " ujar Ardilla menjawab komen Reva.
"Ish kok bisa lu ke situ, gue masih di Jogja, lu oke kan ?" Reva berkomentar lagi.
"Ya bisa atuh Non, kan punya KTP " ungkapnya enteng "iish iissh Anda kurang beruntung Nona Reva." lanjut Ardillah berceloteh Ardillah dengan menirukan gaya bicara Upin dan Ipin. "Gue ok, lagian emang udah lama kok gue niat pengen putusin ini cowok cap sendal jepit, cuma belum punya bukti aja" lanjut Ardilla lagi dengan nada santai.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartement mewah kawasan Cicendo. Dari balik sebuah kamar yang tidak tertutup pintunya, samar terdengar suara lenguh yang terengah-engah masih saling bersahutan.
"Sayang,.. bisa.. lebih cepat.. aaahhh" Rara memekik diantara ritme ******* yang makin erotis, tangannya melingkar makin erat di tubuh Haidar yang telah dibanjiri keringat.
"Tahan sayang, sebentar lagi sampe"sahut Haidar terdengar bergetar, Haidar mempercepat ritme gerakannya., hingga satu hentakan di puncak kenikmatan sekaligus memuntahkan kenikmatan dunia.
"Aaaaaahhh, love you Ra, cup" ucap Haidar seraya mencium bibir Rara dengan nafas yang masih belum teratur. Haidar tergolek lemas di samping Rara menelusup ke ceruk Haidar sembari menarik selimutnya unutuk menutup bagian tubuhnya yang masih polos. Haidar tersenyum, tangannya mengusap lembut pucuk kepala Rara dengan lembut, dan mencium kening Rara sekali lagi. Rara hanya tersenyum merona, perlahan gadis itu mulai terlelap karena kelelahan.
Drrttt Drrrtttt Haidar memicingkan sebelah matanya "Gavin Calling" untuk sesaat ia mengerutkan saling menautkan alisnya, dengan enggan dan masih menyisakan sisa lenguhan mau tak mau dia harus mengangkat telphone itu.
__ADS_1
"Napa Vin?" tanya Haidar suara lirih karena merasa terganggu.
"B*****d lagi abis ngapain lo nyet?" pekik Gavin penasaran
"Pcck, gue abis nanem saham lah, nape lu?" Jawab Haidar sekenanya.
"Lu kapan mau tobat sih Dar?" Gavin sedikit menggeram.
"Lu ngapain malem-malem gini telephone gue, kurang kerjaan lu malem-malem kasih gue ceramah berfaedah?" dengkus Haidar kesal.
"*H*mm... Di kantor lu ada yang namanya Johan?"
"Johan.. Johan..?? " Haidar menaruh tangannya hingga menutup sebagian wajahnya, mencoba mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh Gavin.
"Oh iya gue inget !! Dia Kabag bagian keuangan kalo ngga salah, napa emang lu tiba-tiba nanyain dia?"Haidar balik bertanya kini dia yang penasaran kenapa seorang Gavin sampai menelphone malam-malam dan menanyakan salah seorang pegawainya. Dan yang dia ingat hanya Kabag keuangannya saja, karena kebetulan beberapa minggu ini Johan sedang diselidiki atas dugaan korupsi.
"Coba lu sekarang buka ig, dia sekarang lagi bikin ulah, lu urus tuh " seru Gavin
"Ig?"
"Iya dia lagi ada di live ig orang !" geram Gavin
"Gue ngga mau nama dan citra perusahaan jadi jelek di mata para investor juga para pemegang saham, jadi lu urus masalah ini, gue juga ngga mau tau gimana cara lu buat beresin semua kekacauan yang udah anak buah lu buat sekarang, besok kita adain rapat darurat untuk masalah ini !" perintah Gavin
"Coba kirim link...nya"Haidar berdecak kesal saat Gavin menutup saluran telphonenya dengan kasar tanpa menunggu Haidar menyelesaikan kalimatnya.
"Klunting " sebuah pesan tautan link muncul, segera Haidar mengklik link tersebut. Netra Haidar memicing dan mengerutkan dahinya dalam-dalam saat melihat dua orang sejoli yang tengah memadu kasih dengan erotis di sebuah club malam . Ibu jarinya lincah mengusap layar ponsel pintarnya, terus menscroll beberapa komentar pedas di sana, netra membulat sempurna ketika beralih menatap jumlah angka yang tertera di sana, 10.5K viewers cukup membuat Haidar segera terduduk sambil mengacak-ngacak rambutnya.
" Anjiirr B*****T !! Pantesan si Gavin sampe ngamuk yang nonton sebanyak ini!! " geram Haidar frustasi. Kemudian dia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak butuh lama Haidar keluar daru kamar mandi dengan handuk terlilit dipinggang tanpa lemaknya, wajahnya pun terlihat lebih segar.
"Sayang mau kemana?" rengek Rara.
"Ada urusan bentar" Rara langsung terduduk dengan menutupi dadanya dengan selimut serta menunjukan wajah tidak suka namun Haidar seakan tidak perduli, dia tetap melangkah walk in closet mengambil celana denim berwarna navy dan kaos berwarna senada serta jaket bomber berwarna hitam, lalu kembali ke kamar mengambil dompet, ponsel dan kunci mobilnya.
"Sayaaang iih kamu mau kemana rapi begitu?"kali ini Rara setengah berteriak karena merasa diabaikan. Haidar memutar badannya kembeli setelah menghela nafas kasar.
"Sayang, aku kan tadi bilang ada urusan bentar, aku janji ngga lama, kamu mending bobo gih, nanti aku pulang kita lanjut lagi"bujuk Haidar dengan lembut sembari mengacak-acak puncak rambut Rara dengan gemas, plus ciuman dikening serta bibir Rara, dengan perasaan tak enak Rara akhirnya tetap tak bisa mencegah Haidar untuk pergi meninggalkannya seorang diri di apartement Haidar.
****************
sarangheo( ˘ ³˘)❤
********************
__ADS_1