Merpati Hitam

Merpati Hitam
"Adik kecil"


__ADS_3

Matahari pagi sudah terbit dari 3 jam yang lalu, semua manusia di ruangan itu masih tertidur karena kelelahan mengurusi orang-orang yang menyantroni villa mereka semalam. Ardilla terduduk kepalanya tertunduk berusaha mengumpulkan rohnya yang masih mengawang. Kemudian dia mendengkus perlahan lalu menguap sambil menggeliat menstretching tubuhnya yang terasa sedikit kaku, dengan wajah khas, sambil menggaruk kepalanya yang tertutup inner namun sudah tak karuan tempatnya serta mata yang masih setengah terbuka ia menengok ke kanan dan ke kiri mengedarkan pandangannya hingga terhenti pada sepasang makhluk yang sedang berpelukan.


Ardilla menyipitkan matanya, lalu mengerjapkannya beberapa kali memastikan apa yang dilihatnya benar begitu keadaannya. Setelah benar-benar sadar, sebuah senyuman penuh artipun menyungging jahil. Dia segera mengambil ponselnya kemudian mengambil beberarapa foto sepasang manusia yang masih terlelap. "Lumayam buat bahan gibah" pekiknya tersenyum puas.


"Moy, Moyaa" bisiknya perlahan sambil menggoyangkan tubuh Moya. Moya yang merasa terusik pun mendengkus kasar, keningnya berkerut, netranya perlahan menyesuaikan cahaya di sekitarnya.


" Eeeungh" jawab Moya malas,


"Moya bangun dulu, " ujar Dilla sekali lagi sambil mengguncang tubuh Moya yang akan terlelap kembali.


"Naon sih Dill, urang masih tunduh, (Apa sih Dill, gue masih ngantuk)" keluh Moya dengan suara yang terdengar agar serak. Netranya kini terbuka setengah menatap Dilla dengan perasaan gusar karena tidurnya di usik.


"Benta ih, tinggali heula eta gigireun maneh! (melek iih, lihat dulu itu di samping elu)" Moya yang mendengkus kesal, tanpa berajak dari tempatnya berbaring Moya lalu menoleh ke sampingnya tepat di mana Nayuwan masih tertidur.


"Kamjagiya!" reflek Moya terkejut dengan mata membulat sempurna ketika melihat pemandangan yang merusak matanya di pagi itu.


"Deuh, berasa lagi honeymoon kali yee, ngga bossnya ngga asistennya sama aja !" rutuk Moya, sedang Ardilla terkekeh melihat wajah Moya yang di tekuk karena moodnya rusak.


Tanpa merasa berdosa Nayuwan malah makin menelusup ke pelukan Gavin. Moya yang jengah juga kebelet pipis kemudian beranjak menuju ke toilet, sedang Ardilla sibuk mengambil foto dari berbagai sudut. Moya yang sudah selesai dengan urusan kamar mandinya segera mengambil segelas air dapur dan meneguknya hingga tandas, lalu dia duduk di sofa di sisi ruangan itu lalu menyalakan Tivi. Gina yang terbangun karena suara berisik tivipun mau tak mau harus bangun meski matanya masih berat dan dia masih betah berada dalam pelukan Satria.


"Tolong hargai kita yang ngga bawa pasangan ya non" tegur Moya, Gina yang mendengar teguran tersebut langsung terduduk tegap, setelah seutuhnya sadar dia segera berlari ke kamar mandi dan tanpa sengaja menginjak perut Satria yang tentu saja langsung membuat Satria mengaduh sambil memegangi perutnya yang terinjak Gina.


" Untung gue sayang, kalo ngga.."


"Kalo ngga apa?" tegur Moya memotong ucapan Satria yang tengaj berbicara sendiri.

__ADS_1


"Kalo ngga pasti di cium" jawab Satria ngasal sambil menyugar rambutnya. Namun tiba-tiba kilat netranya menangkap sepasang makhluk yang masih berpelukan dibawah selimut. Kemudian melemparkan tatapannya pada Ardilla dan Moya secara bergantian dengan kening berkerut seakan minta penjelasan.


"Bangunin aja kalo penasaran mah, " ujar Moya yang paham dengan tatapan Satria kepadanya. Satria hanya cengir kuda seraya menggaruk kepala bagian belakangnya dengan salah tingkah. Mana berani dirinya membangunkan singa jantan apalagi tengah memeluk singa betinanya.


"Dill, nggeus ih, ke ngamuk siah" ( Dill, udah ih, tar ngamuk lho). Moya mencoba mengingatkan Ardilla yang masih sibuk mengambil foto Nayuwan dan Gavin. Beberapa memit kemudian Nayuwan mulai mengeliatkan tubuhnya karena telinganya mulai menangkap suara berisik disekitarnya, lengannya masih melingkar di tubuh Gavin yang juga terusik karena gerakan Nayuwan kembali membangunkan adik kecilnya yang sudah susah payah ia tenangkan.


Nayuwan yang masih terpejam mengerutkan dahinya saat tangannya meraba roti sobek milik Gavin, "Gluk !" dan sepertinya dia merasakan sesuatu bergerak-gerak dipahanya. Nayuwan menelan salivanya dengan susah, sesuatu di bawah sana terus bergerak-gerak dipahanya, Nayuwan hanya bisa meringis setelah dirinya menyadari sebuah kesalahan yang fatal saat melihat bagaimana posisi dirinya dan Gavin saat ini.


Dengan gerakan perlahan, Nayuwan mulai beranjak melepas diri dari pelukan Gavin dan duduk di samping pria bertubuh jangkung yang sekiranya lebih tua beberapa tahun dari dirinya.


"Maafkan saya,pak Gavin, saya ngga sadar udah meluk anda saat tidur kayanya" cicit Nayuwan meringis dengan kalimat formal, manik matanya melirik ke arah arah Gavin yang masih terbaring menyamping menatap dirinya.


Menghembuskan napas kasar, lelaki itu kemudian duduk dengan menumpukan satu tangannya dilututnya.


" Tidak tahukah anda, anda sudah merepotkan saya, semalaman harus menahan diri agar tidak menyerang anda? Dan sekarang anda dengan entengnya meminta maaf, padahal anda sudah membuat saya hampir mati rasa karena kram! " ucap lelaki itu, membuat Nayuwan yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya mengerjapkan matanya dengan polos. Moya, Ardilla, dan Satria nampak kompak menahan gelak tawa mereka ketika mendengar Gavin mulai menggoda Nayuwan. Namun malah membuat Nayuwan malah menyinggungnya saat Gavin membalasnya dengan sebutan "anda-saya",


"Tapi kan bukan salah gue Vin, elu ngapain tidur disamping gue, jadinya kan gue kira lu itu guling, makanya gue peluk-peluk, lagian kan bisa lu tidur di sofa!" rutuk Nayuwan dengan nada sedikit meninggi karena tidak terima Gavin memojokannya, padahal bisa saja Gavin tidur di sofa, kenapa harus tidur di sampingnya. Wajah polos khas bangun tidurnya kini sirna entah kemana. Nayuwan memberi jeda sembari melirik ke arah lain saat ia mendapati ekspresi dingin dari wajah Gavin.


"Bukannya dari semalam anda juga tau saya tidur disamping anda?"


"Ngga.. gue ngga tau,," kalimatnya tercekat saat Nayuwan mengingat lagi ketika semalam Gavin meminta izin dirinya sudah mulai tertidur dan menganggap itu cuma mimpi, namun faktanya semalam Gavin memang meminta izin dan Nayuwan mengiyakannya saat setengah sadar,


"Ah terserahlah,, La..Lagian tadi gue udah minta maaf juga kan sama lo, gue juga minta maaf kalo tanpa sengaja ngebangunin "adek" lo, tapi kan bukannya cowok emang begitu alaminya kan kalo pagi-pagi" lanjut Nayuwan kembali dengan bibir mengerucut. Satria yang mendengarnya merasa terbelalak sekaligus malu sendiri, meski hal itu benar adanya tapi rasanya tidak perlu dikatakan sefrontal itu pikirnya.


"Jadi buat apa di besar-besarin, "lanjut Nayuwan melirik ke arah lain, ekor matanya menangkap Ardilla dan Moya yang sedang mengulum senyum menahan tawanya. Gavin menatapnya dengan intens sambil meyembunyikan perasaannya yang ingin tergelak saat melihat wajah Nayuwan yang terlihat menggemaskan ketika sedang merasa terpojok

__ADS_1


Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nayuwan hingga berjarak beberapa inci saja. Nayuwan yang kurang nyaman dengan tatapan tersebut berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Gavin.


"Sabar King, sabar. Kamu nanti pasti dapet dari Queen kalo udah ijab kabul ! Sabar king sabar !" batin Gavin menahan tawa sekaligus berusaha menetralkan adik kecilnya.


Huff ...


Gavin menghela napasnya kasar, menutup matanya beberapa saat sebelum dia kembali menatap Nayuwan dengan tatapan mengintimidasi.


"kamu!! kali ini selamat, tapi tidak di lain waktu, dan saya pastikan ketika waktu itu datang kamu tidak akan saya lepaskan meski kamu memohon ampun" Nayuwan yang mendengar ancaman Gavin kemudian menyengir tanda tak suka.


"Ijab kabul dulu pak, biar jadi pahala" sela Gina ujug-ujug begitu saja, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Pffttt,buahahahahaaa, jadi kapan sebar undangannya bu?"akhirnya Ardilla tak kuat lagi menahan gelaknya lebih lama lagi dan malah ikut menggoda Nayuwan.


Nayuwan yang tadi menatap tajam pada Gina kini beralih menatap Ardilla lalu ke Moya, sedang Gavin hanya menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring, menggelengkan kepalanya dengan jumawa karena merasa mendapat dukungan dari orang-orang di sekitar Nayuwan.


"Sial" pekik Nayuwan kesal kemudian beranjak ke kamar mandi.


""""


sarangheo


🥰🥰🥰


*******

__ADS_1


__ADS_2