
Motor melaju dengan kecepatan stabil, hanya kisaran 60 sampai 70km/jam, Nayuwan sadar diri kalau dirinya masih di jalan raya besar jika kecepatannya melebihi kecepatan standar bisa-bisa dia menuju alam baka lebih cepat. Dia mendengkus seraya tersenyum miring di balik helm full pressnya begitu mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya mencoba bunuh diri karena Raka, mantan suami yang begitu ia cintai hingga membuat dirinya bergedik geli sendiri.
Memasuki kawasan Cipayung, Depok. Nayuwan sudah merasakan bahwa dirinya nya di ikuti dua motor yang berboncengan, dari ekor matanya jelas jika kedua motor itu memang mengikuti pergerakan laju motor Nayuwan.
"Ck! Masa gue di begal sore-sore sih?" gerutu Nayuwan saat tubuhnya memberi respon tanda bahaya, meskipun Nayuwan juga tahu persis daerah itu memang kerap terjadi pembegalan.
Lalu dia menekan asal smartwatchnya tanpa mengurangi kecepatan karena kebetulan Nayuwan memang selalu memakainya di sebelah kanan. Entah siapa yang dia hubungi Nayuwan sudah tidak peduli, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah meminta bantuan secepatnya. Meski Nayuwan sempat belajar bela diri tapi jika harus melawan empat orang itu sekaligus artinya sama saja dia mencari malaikat Izroil.
"Halo" terdengar suara seorang pria di sebrang sana, saliva Nayuwan tercekat begitu ia mendengar suara Gavin. "Ck, kenapa mesti si Kampret sih?" gumamnya dalam hati.
"Halo Vin, Vin lu di mana? Kalo lu ngga sibuk, bantu gue." suara Nayuwan terdengar panik di telinga Gavin. Gavin langsung menyadari seperti Nayuwan berada dalam bahaya.
"Shareloc bisa ngga?"
" Ng.. Gue ngga bisa shareloc, tapi harusnya lu bisa bisa lacak gue dari GPS sambungan Telpone ini, yang jelas gue di daerah Cipayung, gue di ikutin sama dua motor sejak keluar dari lampu merah. Gue dari tadi nyari yang rada rame sialnya di sini cukup sepi.. Tut tut tut.." sambungan telpon terputus begitu saja, entah karena jaringan entah karena di putus sepihak oleh Gavin.
" Haiiisssh si Kampret malah di matiin" rutuknya saat sambungannya terputus saat dirinya masih bicara. Nayuwan sedikit panik karena daerah yang di lajunya makin sepi jauh dari pemukiman, di tambah rimbunan pohon bambu di kiri kanan badan jalan makin menaikan tensi panik dalam diri Nayuwan. "Sial ! Malah makin sepi gue masuk jebakan mereka !" rutuknya lagi.
Gavin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia menatap layar ponselnya memastikan GPS nya masih memantau pergerakan Nayuwan dengan gusar, berbagai pikiran buruk mengenai perempuan itu tak bisa dia singkirkan sepanjang perjalanan.
" Minggir a****g !" Gavin memaki pengguna jalan lain yang tidak sengaja menghalangi jalan, berkali kali dia juga memukul mukul stir mobilnya karena kecemasan dalam hatinya makin membuncah.
Nayuwan turun dari motornya saat satu dari 2 pembegal berhasil menghadangnya. Nayuwan mendengkus kasar, saat menurunkan standar motornya. Menaikan kaca helm dan menatap para pembegal dengan sorot mata menyalang menatap tajam pada mereka.
"Cepat serahin semua barang berharga lu, dan juga kunci motor lu !" teriak salah satu pembegal sepertinya mereka belum sadar jika orang yang mereka begal adalah seorang perempuan. Nayuwan tak bergeming, menatap satu persatu para pembegalnya.
" Dari pada lu ngebegal gue, tapi cuma hasil dikit, mending lu pada rampok tuh rumah koruptor!" ledek Nayuwan dengan nada datar. Para pembegal saling bertatapan satu sama lain begitu tahu Nayuwan seorang perempuan. Nayuwan membuka helmnya dan kembali menatap mereka dengan tajam seperti mata pedang.
"Cih !! Banyak B***T lu " tiba-tiba salah satu dari mereka menyerang Nayuwan, sedang Nayuwan masih tak bergeming, di saat yang tepat helm yang sengaja dia lepas menghamtam kepala pembegal yang akan menyerangnya.
__ADS_1
"BHUUGH !"
"Jangan pikir karena gue cewek terus ngga bisa ngelawan kalian semua B******T ! " pekik Nayuwan setelah menendang bagian ************ pembegal satunya lagi.
"A****G lu ye.." pekik pembegal meringis ngilu memegangi area sensitif yang Nayuwan tendang keras.
"TIIIIIDDD,, TIIIIIIIDD"
Gavin masih bergelud terjebak kemacetan lampu merah, dia merutuki dirinya kenapa malah memakai mobil, daripada membawa motor yang mungkin akan lebih efisien dalam keadaan seperti ini.
"A****G ! Kalo begini Nayuwan bisa beneran celaka !" Gavin memukul stir mobilnya sekali lagi, otak dan hatinya sinkron diliputi kecemasan untuk perempuan yang selalu dia bully itu.
Bagh bugh Nayuwan masih berusaha memberikan perlawanan, mengulur waktu dan berharap Gavin datang menolongnya meski harapan itu tipis. Nayuwan sudah mulai kewalahan, beberapa pukulan mampir di wajah mulusnya, darah mengalir segar dari pelipis juga sudut bibirnya yang pecah terkena bogeman pembegal yang mengeroyoknya.
Menghadapi empat orang pria yang membegalnya sekaligus tentu bukan solusi, tapi membiarkan dirinya di begal, bisa saja paling buruk terjadi dirinya diperkosa oleh mereka tentu hal itu lebih mengerikan dari pada dibunuh para begal. Dua diantara begal masih meringis memegangi perut dan bagian alat vitalnya, hantaman helm dan tendangan kaki Nayuwan yang cukup kuat saat mengenai mereka. Dua pembegal lainnya bersiap untuk menyerang Nayuwan.
"Bugh !" satu bogeman lagi mengenai rahang satu dari dua pembegal yang terus menyerang pertahanan Nayuwan yang mulai limbung. Satu dari pembegal lainnya mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku jaketnya.
Nayuwan terhuyung limbung ketika Gavin keluar dari mobil, ia merasakan tubuhnya menjadi luruh lemas, Gavin setengah berlari menyerang para pembegal tanpa ampun.
" A****G !! Lu berani nyentuh cewek gue, mati kalian B*****D !!" Gavin terus menyerang menghajar dua pembegal yang masih tersisa dengan membabibuta. Tidak sampai 10 menit para pembegal tumbang tak berkutik begitu saja di tangan Gavin.
"Vin, " suara lirih Nayuwan membuyarkan emosinya. Gavin segera berbalik menghampiri Nayuwan, tensinya menurun drastis saat memeluk tubuh Nayuwan yang ambruk dalam pelukannya.Tubuh dan tangan Gavin ikut bergetar saat mengambil sapu tangan dari saku celananya, netranya berkaca-kaca saat membebat luka sabetan di lengan kanan Nayuwan.
" Maaf gue telat !" pekiknya lirih memeluk tubuh Nayuwan yang melemas setelah selesai mengikat sapu tangan di lengan Nayuwan, kembali Gavin memeluk tubuh Nayuwa, nafasnya terdengar memburu, Gavin menciumi puncak kepala Nayuwan penuh kelegaan. Sedang Nayuwan kebingungan merengut sebal dengan sikap Gavin, namun tak bisa menolak membiarkan saja dirinya diperlakukan demikian oleh Gavin, tubuhnya terlalu syok untuk melakukan pemberontakan pada Gavin yang sudah menolongnya. Selang beberapa menit, seperti lakon film india beberapa warga dan polisi mulai berdatangan untuk menolong mereka.
"Pak, mending istrinya cepet di bawa ke klinik deket sini aja dulu, takutnya lukanya kena infeksi" usul seorang warga yang terlihat ngeri dengan luka sabetan di lengan Nayuwan yang terus mengalirkan darah segar. Gavin yang tersadar dengan keadaan Nayuwan segera membopong lalu memasukan tubuh Nayuwan ke dalam mobil diikuti dua orang warga yang bersedia membantunya untuk membawa motor Nayuwan sekaligus mengantar mereka sampai ke klinik terdekat.
"Yuwan, Lu masih bisa denger gue kan Yuwan ?!" Gavin masih terdengar gugup saat Nayuwan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ngeh,, gue masih sadar kok Vin" jawab Nayuwan lemah.
"Gue kira tadi lo ngga bakal dateng nolongin gue, pas lu tutup telphone tadi,.."Gavin hanya diam mengernyitkan dahinya, raut wajah masih tergambar jelas kekhawatiran pada Nayuwan.
"Sorry gue jadi ngerepotin lu, tadi gue asal mencet kontak di smartwatch gue, ternyata nyambung ke elo, makasih lo mau dateng" ringis Nayuwan menyandarkan dirinya pada jok mobil Gavin, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya, sesekali wajahnya terlihat meringis mungkin efek lebam dan luka sabetan di lengan kanannya mulai terasa nyeri. Akan sangat tidak wajar jika dirinya tidak memperlihatkan dirinya tengah kesakitan di saat wajahnya babakbelur di beberapa bagian, meski begitu dia tetap memaksakan diri tersenyum pada Gavin untuk berterimakasih dan sekaligus menunjukan dirinya baik-baik saja.
"Bagus telphone lu nyasar ke gue bukan si Rendra atau lain" gumam Gavin riang dalam hati.
"Lo tadi emang mau dari mana mau kemana kok bisa sampe kena begal" tanya Gavin menggerutu.
" Gue tadi abis ketemu sama Theo, terus lanjut mau ke Bogor, males macet jadinya lewat jalan tikus malah kena begal" sorot mata Gavin langsung berubah mendelik tajam saat Nayuwan menyebut nama pria lain.
Sepuluh menit berlalu mereka sudah sampai di klinik terdekat rujukan warga setempat. Gavin lagi-lagi membopong Nayuwan saat memasuki klinik tersebut, sontak menjadi tontonan pasien juga suster di sana.
Mereka jelas iri melihat perlakuan Gavin yang kelewat romantis untuk ukuran dunia nyata. Gavin membaringkan Nayuwan dengan perlahan di atas blankar pasien, membiarkan dokter dan suster melakukan tugasnya.
"Bukan dok, saya tidak kena KDRT, saya tadi kena begal.." jelas Nayuwan, yang menyadari kecurigaan dokter dan suster saat melihat dirinya yang babakbelur, dan luka sabetan di lengan kanannya.
"Gue keluar bentar ya, mau ngurus orang yang tadi bantu bawa motor lu, administrasi, sama mau ngomong dulu sama polisi di depan, ada apa-apa panggil gue ya" pamit Gavin. Kali ini dengan sadar Gavin mengecup kening Nayuwan tanpa perduli dokter yang sedang menjahit luka sabetan di lengan Nayuwan, dokter dan suster saling melirik satu dengan yang lain seketika merasa canggung, melihat adegan bak drama korea secara live. Nayuwan sama canggungnya dengan dokter dan suster yang berada dalam satu ruangan dengannya, wajah dan telinganya terasa memanas untuk sesaat, nentranya membulat sempurna saat membiarkan bibir Gavin menempel beberapa saat di dahinya.
"Haah.. tolong hargai yang masih jomblo pak," sindir seorang suster pada Gavin. Gavin tersenyum miring mencelos keluar dari ruangan tersebut mengurus administrasi dan bertemu warga serta polisi yang membantunya tadi.
"Bu, semisal ibu mau dipoligami boleh lho saya daftar jadi istri kedua?" seloroh suster dengan tanpa malu. Maksud hati ingin bercanda malah membangunkan singa betina tidur. Bisa dibayangkan wajah Nayuwan yang tadi sempat merona langsung berubah suram ketika mendengar ucapan suster yang membantu dokter merawat lukanya. Nayuwan mendengkus sebal dan kesal, mendelik dengan sorotan mata seorang pembunuh pada suster itu.
"Tanyain sendiri gih sus, siapa tau dia mau buka pendaftaran buat poligami, saya sih gampang bisa nyari lagi suami yang lebih ganteng, lebih kaya, dan pastinya setia!" sindir Nayuwan tanpa ekspresi diwajahnya, namun berhasil membuat wajah sang suster merah padam, begitu mendengar jawaban Nayuwan yang menohok harga dirinya.
Gavin mendengar ucapan Nayuwan tersenyum puas begitu mendengar ucapan Nayuwan dari balik pintu sebelum dirinya benar-benar meninggalkan ruangan itu, alih-alih dia merasa tersinggung Gavin justru merasa senang, entah dari mana datangnya tapi seperti ada beberapa kupu-kupu sedang beterbangan dalam dirinya.
*************
__ADS_1
sarangheo
************