Merpati Hitam

Merpati Hitam
Badai sitokin


__ADS_3

Nayuwan memasuki sebuah aula cukup besar, di sana keluarga Mahendra dan juga Gavin sudah menunggunya sejak 15 menit yang lalu.


"Maaf saya terlambat, macet di jalan bukan Jakarta sepertinya jika tidak macet" ucap Nayuwan sembari duduk di samping Gavin. Mereka hanya menyimak mengangguk tanpa memberi sanggahan dengan alasan yang di berikan oleh perempuan yang terlihat agak pucat hari ini.


"Baik ehh,, bapa ibu sekalian seperti yang sudah katakan tempo hari konsekuensi pembatalan perjanjian ghaib itu pastinya keluarga bapak dan ibu akan hilang. Dan kemarin sesuai kesepakatan Tuan Gavin Harraz Widjaya selaku presdir FJC Bamantara grup, bersedia melepaskan satu aset perusahaan konstruksinya untuk dihibahkan kepada keluarga Mahendra sebagai bentuk kemanuasiaan atas kehidupan para pegawai dari perusahaan bapak." Keluarga Mahendra nampak menyimak begitu pun Gusman yang sama sekali tidak mengeluarkan sepatahkatapu.


"Baik Tuan Gavin silahkan" Gavin memberi isyarat pada Satria agar memberikan berkas serah terima yang akan ditandatangani keduabelah pihak. Dan dengan serah terima anak perusahaan Gavin yang berada di Kalimantan itu sekaligus menghilangkan perseteruan antara Mahendra dengan dirinya. Masing-masing dari mereka saling menandatangangi berkasperjanjian sekaligus bukti serahterima kemudian merekapun salaing berjabattangan dan memeluk khas para pria dewasa diiringi tepuk tengah meriah dari orang-orang yang menjadi saksi peristiwa langka itu.


Para Notaris dan pengacara sudah meninggalkan ruangan tersebut, suasana cerah sedikit berubah dengan aura mistis menyelimuti ruangan tersebut. Dan tiba-tiba


"Aaaaaaaaaaakh !!" istri Mahendra menjerit kesakitan sembari memegangi perutnya membuat semua orang berhamburan panik menghampirinya kecuali Nayuwan yang nampak memperhatikan tanpa bergeming.


"Ambilah yang memang hak mu, tapi jangan siksa perempuan itu makhluk terkutuk !!!" bentak Nayuwan. Dan perlahan-lahan perut istri Mahendra yang semula membuncit karena sedang "hamil" sekitar 6 bulan mengempis seperti balon yang kehabisan gas. Jelas membuat semua orang menjadi lebih panik lagi dengan kejadian tersebut terutama istri Mahendra yang meraung histeris saat perut besarnya hilang begitu saja tanpa jejak. Nayuwan menghampiri wanita itu dengan membawa air berisi daun bidara


"Ambil ini baca bismillah terlebih dahulu lalu minum hingga habis dalam satu tarikan nafas." Mahendra segera mengambil air yang disodorkan Nayuwan lalu menyuruh istrinya meminum air itu sesuai dengan instruksi Nayuwan. Beberapa saat setelah istri Mahendra meneguk habis air itu iapun terkulay lemas di dad* suaminya.


"Tenanglah Pak Mahendra, istri anda baik-baik saja sebentar lagi juga dia akan sadar. Dan benar saja 30 menit kemudian istri Mahendra sadar namun nampak bingung dengan semua orang yang sudah berkumpul mengelilingi dirinya dengan tatapan dalam ruangan tersebut.


"Mas ada apa ini?" tanya istri Mahendra dengan raut wajah terheran. Tanpa menjawab Mahendra menangis histeris seraya memeluk tubuh istrinya yang nampak kebingungan.

__ADS_1


"Maaf,, " Nayuwan menepuk bahu Mahendra, lantas pria itu perlahan melepaskan pelukannya.


"Maaf bu, apa ibu mengenal saya?" tanya Nayuwan, lalu istri Mahendra menggelengkan kepalanya. Nayuwan mengulas senyum sembari menghela nafasnya lega.


"Tidak apa-apa, tadi ibu pingsan di depan kantor kami, kebetulan saya mengenal suami ibu. Ibu mungkin anemia jadi pingsan" jelas Nayuwan mengaburkan ingatan istri Mahendra.


"Maaf bu saya.. saya benar-benar tidak ingat" sahut istri Mahendra merasa tidak enak pada Nayuwan yang tersenyum ramah padanya. Setelah pusing yang dirasa istri Mahendra benar-benar hilang kemudian keluarga Mahendrapun pamit dengan perasaan lega.


Selama istri Mahendra pingsan, Nayuwan menjelaskan jika bayi yang dikandung oleh istri Mahendra sebenarnya adalah anak makhluk itu. Ia menyamar menyamar menjadi Mahendra saat dirinya keluar kota. Dan alasan kenapa istri Mahendra seakan lupa bahwa dirinya hamil adalah Nayuwan menutup ingatan istri Mahendra hingga 1 bulan dirinya dinyatakan hamil, Nayuwan melakukan hal itu karena ia tidak ingin wanita itu menjadi trauma karena harus kehilangan "janin ghaibnya" dan itu akan lebih fatal akibatnya. Sebagai seorang suami Mahendra tentu syok dan merasa bersalah. Istrinya bisa sampai seperti ini tentu saja akibat lain dari perjanjian ghaib keluarganya, dan iapun berjanji akan benar-benar menjaga, merawat dan mencintai istrinya dengan penuh tanggungjawab.


Kini tersisa hanya tinggal mereka berempat, saat semua duduk terdiam dengan pikirannya masing-masing namun mereka bersyukur karena telah membantu keluarga Mahendra yang kalau dipikir berulang ratusan kalipun tetap mereka masih tidak bisa mencerna seratus persen, tapi kini mereka tahu kenapa banyak kolega mengatakan jika aura Nayuwan berbeda dan aura gelap yang terkadang lebih dominan dibanding Gavin sekalipun. Tetap aura Nayuwan lebih terasa kuat seperti mengandung magis.


Gavin dan Satria menoleh bersamaan dengan kalimat Gina. Gavin penasaran mendekati Nayuwan yang terlihat pucat, lalu perlahan menyentuh kening Nayuwan. Sontak matanya terbelalak dan segera memangku tubuh Nayuwan yang terasa sangat dingin seperti es. Tanpa harus diperintah Satria dan Gina segera berlari menuju parkiran mengambil mobil sesaat setelah Gavin meraup tubuh Nayuwan yang seolah sudah tidak bernyawa. Sepanjang perjalanan Gina menghubungi semua orang dan memintanya datang Ke rumah sakit Healtycare karena tiba-tiba Nayuwan kritis mengalami hipotermia akibat demam dingin yang sejak tadi subuh di tahan oleh Nayuwan.


Sekitar 1 jam kemudian Nayuwan baru dikeluarkan dari ruang ICU dengan berbagai selang menancap ditubuhnya, dokter yang menanganginya menerangkan jika Nayuwan tengan mengalami badai sitokin yang menyebabkan Nayuwan kini koma.


Bak disambar petir disiang bolong, begitulah gambaran tiap-tiap orang yang mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Nayuwan tentu membuat semua orang syok terutama Vina ibunya Nayuwan ia sampai pingsan begitu mengetahui kondisi anaknya yang sedang kritis. Gavin terduduk lemas di lantai rumah sakit begitu ibu Vina di bawa sebuah belangkar guna segera mendapatkan perawatan. Ia lalu dihampiri kedua putri Nayuwan yang tengah menangisi keadaan ibu mereka. Dengan naluri seorang ayah yang harus sigap Gavin menghadapi situasi ini meraih dan memeluk kedua gadis itu.


"Om, mommy ngga apa-apa kan Hiks?" ucap Alea terisak.

__ADS_1


"Bunda hiks baik-baik aja kan Om.. hiks" timpal Nadia, lelaki itu hanya mampu mengganguk untuk menenangkan kedua gadis remaja itu. Padahal ia sendiri tengah dalam keadaan sama syoknya seperti mereka. Dalam keadaan chaos itu tanpa sengaja ekor Moya menagkap sosok seperti Yusuf melintasi tempat itu. Segera ia beranjak dan mengikuti feelingnya menuju sebuah koridor rumah sakit yang cukup sepi.


"Yusuf ?" ucap Moya memberanikan diri memastikan jika sosok itu adalah Yusuf, lantas sosok itu berbalik dan menatap sendu pada Moya. Segera perempuan itu menghampirinya Yusuf yang berdiri tanpa bergeming.


"Yuwan.."


"Kita berdoa saja."


"Kau tau di mana dia sekarang" Yususf menggeleng seraya menunduk menyembunyikan kesedihan dirinya.


" Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Moya sembari menempatkan bok*ngnya pada kursi tunggu di koridor itu.


"Aku juga tidak tau pasti, tapi ada kemungkinan Nayuwan kehabisan energinya."


" Tapi dia kan.."


"Meski ia adalah orang yang memiliki 7 cakra yang terbuka. Namun dia tetaplah manusia biasa. Selama ini ia selalu menyimpan energinya agar dunia paralel bisa aku tempati. Tapi beberapa waktu ini dia terus menerus berurusan dengan dunia ghaib, belum di dunia manusia ia tetap harus menjalani kewajiban dan tanggungjawabnya." mendengar hal itu Moya baru tersadar jika Yusuf yang biasanya tidak bis keluar dari dunia paralel kini ada bersama mereka yang itu menandakan dunia paralel ciptaan Nayuwan juga sedang tidak baik-baik saja.


*************

__ADS_1


sarangheo..


__ADS_2