Merpati Hitam

Merpati Hitam
Bunga melati


__ADS_3

"Lajeng urang ayeuna ka acara salajengna nyaeta acara siraman. Mangga ibu sareng bapa apit kenca katuhu na neng Nayuwan, sasarengan urang katampian tempat dimana neng Nayuwan bade disiraman." (Lanjut kita sekarang ke acara selanjutnya yaitu acara siraman. Silahkan ibu dsn bapak dampingi kiri kanannya neng Nayuwan, bersama-sama kita ke tempat pemandian, tempat dimana neng Nayuwan akan disirami) Dalam sesi pengambilan foto-foto keluarga kidungpun kembali melantun namun kini dengan alunan solawat yang membuat hangat sanubari hingga mampu membuat raut kelam di wajah mereka seakan sirna berganti dengan wajah yang lebih berseri dengan senyuman yang mengulas merekah di bibir mereka.


Nayuwan kini sudah duduk di kursi yang disediakan untuk siramannya dengan memakai ronce melati untuk siraman yang membalutnya. Nampak ibu Vina dan pak Hidayat tengah menuangkan air dari 7 mata air kedalam bokor yang disana sudah ada air dengan taburan bunga-bunga.




"Mangga cai na dicampurkeun hela,"( Silahkan airnya dicampurkan dulu) kemudian ibu Vina mencampurkan air yang ada di dalam bejana besar dengan 7 mata air lainnya berikut dengan menambahkan kembali bunga-bunga kedalamnya.

__ADS_1


"Mangga bismillahirrahmanirrahim heula teras siramkeun ti embun-embunana neng Nayuwan, ke ku neng Nayuwan cai na ditampanan ku pangananan anu bari ngadua ka Gusti, ala barokah na geulis" (Silahkan, bismillahirrahmanirrahim dulu, lalu siramkan dari ubun-ubunnya neng Nayuwan, nanti oleh neng Nayuwan akan diterima dengan tangan yang sembari berdoa ke Gusti, ambil berkahna cantik) Ibu Vina mulai menyiramin Nayuwan dengan perlahan-lahan dari pucuk kepala hingga seluruh tubuhnya, kemudian oleh ayah, lalu adiknya dan keluarga lainnya hingga 7 keluarga.


"teras kin saatos 7 siraman sapalih cai na bade dibantun ku neng Clara sareng caroge anu jalaran tos aya anu neang ti pihak pameget, anu bade ngalaksanakeun acara siraman oge, ieu cai saurna bade dihijikeun, anu ngandung harti yen neng Nayuwan sareng cep Gavin bade moal tiasa dipisahkeun deui" (Lalu nanti setelah 7 siraman sebagian airnya akan di bawa oleh neng Clara dan suami, yang sudah ada penjemputan dari pihak mempelai pria. Yang juga akan melaksanakan acara siraman, menurut yang disampaikan air ini akan disatukan. Yang artinya mengandunh arti bahwa Neng Nayuwan dan Cep Gavin tidak akan bisa dipisahkan kembali) Keluarga Nayuwan satu persatu menyirami Nayuwan dengan wajah sumbringah. Clara sudah berdiri dengan menampan kendi yang akan di bawanya ke Sheratton hotel dimana siraman Gavin akan berlangsung.



Dengan diiringi kecapi suling sunda dan lantunan solwatan perlahan Ibu Vina mengisi kendi hingga penuh dengan air dari bejana air siraman Nayuwan. Kemudian secara simbolik Eveline dan suami menerima air tersebut untuk di bawa ke Sheraton dimana acara siraman Gavin akan berlangsung setelah dzuhur. Namun nantinya Clara dan suami harus tetap ikut untuk mengikuti acara siraman Gavin sebagai perwakilan dari keluarga Nayuwan.


Karena Nayuwan berhijab maka tidak perlu dilanjutkan dengan prosesi Ngeningan, yakni menghilangkan semua bulu-bulu halus pada wajah, kuduk, membentuk amis cau atau sinom, membuat godeg serta membuat kembang turi cukup hanya memotong sedikit rambutnya sebagai simbolik saja. Kemudian selanjutnya Nayuwan dipersilahkan untuk berwudhu dengan air dalam kendi yang dikucurkan oleh pak Hidayat yang artinya supaya Nayuwan tidak pernah lupa ibadah dalam kondisi apapun. Setelah selesai Nayuwan kemudian di atas samping atau kain jarik batik sebanyak tujuh lembar yang diharapkan dalam keseharian Nayuwan nanti diberikan kesabaran, ketawakalan, kesehatan, ketabahan, keteguhan, iman yang kuat dan senantiasa menjalankan agama. Dengan memakain bathdrobe yang cukup tebal.

__ADS_1


Kemudian sesi selanjutnya adalah melemparkan baju melati yang tadi dipakainya berikut dengan hiasan dikepalanya. Di sesi ini tentu saja tinggal bagian yang seru dan pastinya rusuh. Nayuwan kemudian melemparkan bekas melati yang tadi dipakainya ke ibu-ibu yang hadir di sana. Ala-ala pelemperan buket bunga. Bayangkan betapa bar-barnya para emak-emak sampai ada yang kerudungnya lepas!( hahahaha author ngga jahat kan ya namanya juga saking serunya 😆) Kias mitosnya mereka cepat diberi mantu.


Rebutannya tidak cuma hanya ronce melati, tapi juga ada ubi, singkong, kacang dan talas yang disediakan. Sesi ini memiliki arti untuk calon pengantin wanita dilancarkan rezekinya, cepet dapet keturunan, dan selalu berpikiran positif saat mendapat masalah. Meski author kurang paham korelasinya apa dengannrebutan ubi sama mikir positif tapi yaudahlah ya hahaha namanya juga adat istiadat😁


Nayuwan nampak sedikit menggigil karena pakaiannya yang basah, kemudian Nayuwan dipersilahkan untuk mengganti baju dengan yang kering.Dan sesi ini adalah sesi yang paling berkesan karena saat masuk kamar Nayuwan harus di gendong ayahnya dulu meski agak kasian ayahnya namun sekilas Nayuwan kembali teringat kenangan manis masa kecilnya dengan sang Ayah.


Setelah siap Nayuwan dan keluarga kembali ke acara selanjutnya pemotongan tumpeng kemudian ibu Vina dan pak Hidayat menyuapi Nayuwan secara bergiliran.


Hari itu meski menguras emosi, karena banyak nangis kemudian diakhiri dengan canda tawa, terasa cukup panjang padahal cuma dari jam 7.30 sampe jam 11 aja. Tapi semua perasaan tertumpah lepas dan lega. Nayuwan juga sangat bersyukur karena untuk pertama kalinya seluruh keluarga dan kerabat hampir semuanya hadir. Acara ini benar-benar menjadi temu kangen-kangenan sanak keluarga.

__ADS_1


Nayuwan sangat berterima kasih kepada ibu Ririn juga semua vendor yang telah sangat kooperatif untuk acara pengajian dan siraman, sehingga acaranya lancar tanpa hambatan. Alhamdulillah.


...****************...


__ADS_2