
Gavin merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size miliknya, menaruh kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya. Matanya menatap langit-langit kamar menerawang beberapa kejadian manis yang baru saja dia alami. Bibirnya terkembang manis saat mengingat penuturan Nayuwan pada suster yang cukup mencubit harga diri seorang perempuan, tapi terdengar menggemaskan di telinga Gavin.
"Ceklek"
Eva mengintip menatap heran kakaknya yang tengah senyum- senyum sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu minimalis. Melihat tingkah Gavin terbitlah ide untuk mengerjai kakaknya. Bibir Eva tersenyum jahil. Dia berjalan mengendap-endap mendekati Gavin yang masih asyik menatap langit-langit kamarnya.
"Bang, minta duit dong ?" Eva memulai aksinya, Gavin tanpa sadar menyerahkan kartu kreditnya yang berlimit 10juta. Eva terkejut karena biasanya Gavin akan memberinya ceramah terlebih dulu, dan paling memberinya beberapa lembar uang kertas bergambar Presiden RI yang pertama, Pak Soekarna.
"Haih? Ini ngga salah abang gue ngasih gue kartu kredit?" gumamnya dalam hati, berkali-kali dia melirik ke kartu dan kembali memperhatikan abangnya dengan bingung.
"Bang, boleh pinjem mobil lo ngga?" kembali Gavin menyerahkan kunci mobilnya,
"Wah beneran ke sambet ni orang ?" lirih Eva, tepat di saat itu Dewa lewat di depan pintu kamar Gavin kemudian mundur kembali saat Eva melambai tangan kepadanya agar ikut masuk ke kamar Gavin. Dewa mnegernyit netranya fokus pada noda darah yang banyak terciprat kontras di kemeja putih Gavin, Dewa yakin itu bukan berasal dari Gavin.
" Coba tanyain dia abis dari mana?" bisik Pak Dewa merasa cemas. Eva mengangguk karena dia juga pesaran dari pada noda darah itu berasal. Baru akan bertanya ponsel Gavin berdering membuat Eva kembali mengatupkan bibirnya. Sepasang mata Dewa memicing memastikan nama yang tertera di layar ponsel Gavin.
"Nayuwan? Sejak kapan mereka seakrab itu?" gumam Dewa dalam hati.
"Napa? Lu mau gue bawain apa?" tanya Gavin saat menerima sambungan telphon itu, Dewa menyilangkan tangannya di d**a sambil tersenyum-senyum karena bisa mendengar percakapan Gavin yang menekan tombol loudspeaker dan menaruh ponselnya di atas d**a bidangnya karena Gavin belum menyadari kehadiran Dewa dan Eva di kamarnya.
" Vin, gue males nginep di rumah sakit, luka gue bisa gue rawat di rumah"
"Udah deh lu ngga usah protes,"
" Ck ! Vin kan tadi dokter juga bilang ke elu gue bisa di rawat jalan."
"Cerewet ! Lu di situ dua - tiga hari doang juga"
" Vin, "
"Mau gue telphone ade lo?"
" Ngga, ngga, tar dia laporan ke nyokap gue kalo gue ampir kena begal"
"Ya udah makanya nurut !"
" Tapi Vin,.."
" Tar gue ke situ awas aja kalo ntar gue ke sana lu ngga ada di kamar rawat inap lu"
" Ck , Vin tapi ini berlebihan"
" Protes mulu, nurut dikit ama laki lu napa sih?" Dewa dan Eva saling melempar pandangan satu sama lain seakan mereka sedang bertelepati
" Laki?? Maksud lu?"
" Bukannya tadi lu ngakuin gue laki lu sama suster yang nawarin diri buat jadi istri ke dua gue?"
" Itu kan cuma sarkas doang tuan Gavin?" geram Nayuwan terdengar kesal di sebrang sana.
__ADS_1
" Sarkas? Padahal lu tinggal bilang aja kalo gue ini orang yang kebetulan lewat pas lu dibegal tadi"
" Empet aja gue ama perempuan yang hobi goda laki orang"
" Terus maksudnya apa nyodorin gue? Emang tampang gue ganteng sih tapi asal lo tau gue ngga ada niat buat poligami, satu aja bikin pusing apa lagi lebih dari satu"
" Terserah lu aja dah"
" Emang lu mau kalo gue poligamiin elu, hah?"
"Apaan sih, ngga lucu deh Vin?" jawab Nayuwan terdengar lebih kesal.
" Dah ah gue mau mandi tar malem gue ke situ mastiin lu kagak kagak kabur dari Rumah Sakit !" tutup Gavin kasar, tapi raut wajahnya menunjukan hal lain, Dewa yang melihat gelagat Gavin mengulum senyum menatap punggung putranya.
" Jadi kapan kita datang ke rumah Nayuwan buat silahturahmi Vin?" goda Dewa, Gavin terkejut mematung sesaat begitu mendengar suara Dewa ada di belakangnya. Gavin memutar kepala ke samping dan mendapati sepasang ayah dan anak perempuannya tengah menatapnya dengan senyuman penuh arti.
" Papih? Eva ngapain di sini?" selidik Gavin menatap Dewa dan Eva bergantian.
" Lagi ngepoin orang lagi kasmaran" jawab Dewa mengusili putranya.
" Dih siapa juga yang lagi kasmaran" sanggah Gavin salah tingkah. Dewa dan Eva saling melirik dan memberikan senyum julid pada Gavin.
"Bay the way ini darah siapa bang?" tanya Eva kembali fokus pada kemeja Gavin yang di penuhi noda darah.
" Ini darahnya Nayuwan, tadi lengannya dia kena sabetan dari orang yang mau begal dia."
" Aku pindahin dia ke Rumah Sakit Healty care-nya om Ryo Pih, meskipun awalnya dia nolak, Papih tau sendiri dia itu perempuan macam apa, makanya Gavin ancem bakal bilang kejadian ini ke adenya, meskipun pasti nantinya Gina bakal bilang juga ke adenya, minimal mereka ngga akan terlalu cemas kalau tau Nayuwan di rawat di Rumah sakit punya Om Ryo " jelas Gavin. Dewa dan Eva hanya mengangguk menyimak dengan serius.
" Ya udah sekarang kamu mandi, nanti kalo kamu mau ke Rumah sakit, ayah juga mau ikut jenguk"
"Aku juga bang pengen ikut, siapa tau ketemu dokter Liam" ujar Eva cengengesan. Sementara Gavin berdecak memutar matanya malas.
************
Gavin, masuk ke ruang rawat inap Nayuwan begitu saja tanpa mengetuk pintu. Tepat di saat Nayuwan sedang terduduk di bibir ranjang rumah sakit.
" Lo mau kemana?" todong Gavin mendekati Nayuwan yang berusaha menggapai sandal dengan kakinya.
" Pengen ke toilet, pengen pipis" jawab Nayuwan
" Gina kemana? Kok ngga jagain lo?" selidik Gavin sembari menyodorkan sandal pada Nayuwan.
" Gue suruh beli sesuatu buat dia makan malem, sama cemilan, kasian kan nungguin tapi kelaperan" ujar Nayuwan sambil memegangi tiang yang menyangga infusnya. Tanpa di minta Gavin membantunya menuju toilet.
" Perlu gue bantu ngga di dalem?" Nayuwan mengdengkus sebal menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke toilet dengan hati-hati.
" Lho Vin, Nayuwannya mana?" tanya Dewa karena tak mendapati yang mau di jenguknya.
" Dalem toilet" jawab Gavin singkat. Tanpa di persilahkan Dewa dan Eva duduk di sofa yang tersedia di sana. Maklum saja kamar yang di tempati Nayuwan memang kelas VVIP jadi wajar jika berfasilatas sekelas hotel bintang 5.
__ADS_1
Gavin masih berdiri di depan pintu toilet, Nayuwan keluar dengan wajah lebih segar setelah mencuci muka dan memakai skincare-nya. Dengan sigap Gavin sekali lagi membantu Nayuwan membawa tiang infusnya.
" Pak Dewa, ini...?" Nayuwan menyalami Dewa dan Eva sopan,
" Hallo kak, aku Eva, baby sugarnya papih" canda Eva, Nayuwan menatap tajam Gavin seakan bertanya apa benar gadis muda itu simpanan Dewa.
" Jangan didengarkan, saya bukan orang yang tega mengkhianati istri saya, ini anak bungsu saya, dia memang suka usil" ujar Dewa sambil merangkul Eva yang tersenyum riang karena berhasil menjahili Nayuwan. Nayuwan tersenyum hambar karena dirinya sudah terkena prank adik Gavin di awal perkenalan mereka.
" Tadi papih kepo kenapa kemeja gue banyak noda darahnya, ya udah gue cerita terus minta ikut jengukin elu" Gavin menjelaskan singkat.
" Maaf Pak, saya jadi ngerepotin Bapak, sampe bawa buah tangan segala," ringis Nayuwan sungkan karena merasa sudah merepotkan pria paruh baya itu.
" Ngga kok, saya memang ingin jenguk kamu setelah tadi Gavin cerita kamu hampir kena begal" ujar Dewa menatap Nayuwan hangat. Ada desir hangat di relung hati Nayuwan saat menerima perhatian Dewa, perhatian seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya.
" Hmmm kakak beneran sempet bikin tumbang 2 orang yang mau begal kakak?" Eva mulai bawel. Nayuwan tersenyum mengangguk mengiyakan.
"Daebak ! Kalo aku pasti udah kejer nangis bingung mau ngapain" Eva memang begitu selalu Excited dengan hal-hal yang menurutnya menarik, termasuk Nayuwan, perempuan cantik itu kini banyak menarik perhatiannya. Dan beruntungnya Nayuwan juga seseorang yang bukan pelit berbicara.
Di tengah obrolan hangat, Gina muncul bersama Moya dengan membawa beberapa kantong plastok berisi cemilan dan beberapa minuman.
" Ceklek" semua orang yang ada di ruangan itu menatap Gina dan Moya yang membeku, jelas mereka kebingungan saat keluarga Gavin ada di kamar Nayuwan meskipun itu wajar untuk menjenguk Nayuwan yang sedang rawat inap.
" Ups hehehe maaf, kirain ngga ada tamu" ringis Gina membungkuk permisi kemudian meletakan plastik yang di tentengnya di atas meja sebelah buket bunga dan buah yang di bawa Gavin dan keluarga. Dewa dan yang lainnya hanya tersenyum melihat Gina yang salah tingkah begitu mendapati sosok Dewa dan Gavin, sedang Moya menatap Gavin dengan tatapan penuh selidik.
Jam di dinding menunjukan jam 10 malam kurang sedikit, Gavin, Dewa, dan Eva bersiap pamit pulang meski pada awalnya Gavin berniat menginap meski sudah ada Gina dan Moya yang akan bergiliran menjaga Nayuwan. Niat Gavin tentu di tolak mentah-mentah oleh Nayuwan selain sungkan pada Dewa, dia juga risih kalau sepanjang malam harus berada dalam pengawasan Gavin, toh mereka tidak dalam hubungan sedekat itu. Nayuwan berusaha meyakinkan Gavin bahwa dirinya akan baik-baik saja dan tidak akan kabur dari rumah sakit, memaksakan diri untuk pulang malam itu juga. Selain dirinya merasa sangat mengantuk pengaruh obat yang diminumnya tadi, dia juga tidak enak pada Dewa yang sudah sengaja menjenguk dirinya. Sungguh tidak tahu diri bukan jika dirinya tetap memaksa pulang.
" Ya udah gue balik, kalo ada apa-apa cepet kasih tau gue. Gina??" Gavin melempar tatapan mengintimidasi pada Gina dan Moya, karena mereka lah yang malam ini akan menemani Nayuwan. Gavin mendekati bibir ranjang Nayuwan dan menatap wajahnya lekat, Nayuwan tertunduk mati kutu, tengkuknya terasa lebih dingin padahal tempratur AC di setel cukup hangat. berkali-kali dia menelan salivanya, jengah dan bingung dengan perlakuan Gavin sejak tadi siang tapi untuk menolaknya secara terang-terangan juga Nayuwan masih nalar, jika bukan karena Gavin dia mungkin mengalami hal buruk dari sekedar sabetan di lengannya.
Gavin menatap Nayuwan dengan lembut kali ini, dengan cepat dia meraih tengkuk Nayuwan dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening Nayuwan. Bukan hanya Nayuwan yang matanya membulat sempurna, tapi semua orang yang melihatnya. Gina, Eva, dan Moya mengerjapkan matanya beberapa kali, mulut merekapun sampai ternganga kompak mencerna dan meyakinkan diri dengan apa yang dilakukan Gavin itu adalah nyata, sedang Nayuwan hanya diam saja tanpa ekspresi. Lebih tepatnya bingung harus berbuat apa.
Dewa berdiri memasukan tangannya ke dalam saku celananya, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lega melihat kelakuan putranya itu, karena setelah sekian lama akhirnya Gavin mau kembali membuka diri kepada seorang perempuan.
" Abaaang !! Kalo mau adegan romantis kira-kira dong masa di depan kita semua, ngga sopan banget sih sama kita yang masih jomblo, belum muhrim juga maen sosor aja !!" tegur Eva mengerucutkan bibir sambil menyilangkan tangan dj atas d**anya. Moya dan Gina saling melirik satu sama lain kemudian meringis mendengkus sebal ketika mendengar kata Jomblo , karena faktanya predikat yang masih mereka sandang hingga saat ini. "Jones jones" sindir Author😂
Nayuwan yang mendengar protesan Eva seketika wajah dan telinganya memanas, dia membuang muka dengan salah tingkah. Gavin memutar kepalanya tanpa melepaskan kedua tanganya yang masih memegang kepala Nayuwan yang masih mematung canggung. Gavin menatap mereka bergantian dengan tatapan datar, Gavin menaikan satu alisnya sambil tersenyum miring saat melihat Gina, Moya, dan Eva yang masih cengo dengan kejadian barusan, lalu kembali fokus pada Nayuwan yang juga masih tertunduk menyembunyikan rona wajahnya.
" Gue balik.. Hmm" Gavin pamit sekali lagi, tangannya nampak pengusap puncak kepala Nayuwan yang berbalut kerudung geblus. Nayuwan mengangguk perlahan tanpa berani menatap wajah Gavin.
Nayuwan akhirnya bisa bernafas lega, ketegannya tubuhnya berangsur berkurang bersamaan dengan undurnya Gavin, Dewa, dan Eva dari kamar inap Nayuwan. Kini hanya tinggal mereka bertiga saja. Moya sudah berdiri di bibir ranjang Nayuwan dengan tatapan menyipit menyilidik, pun dengan Gina bersilang tangan dengan menaikan satu alisnya menunggu penjelasan Nayuwan.
Nayuwan menghela nafas lebih panjang dan berat, menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian memutar matanya dengan jengah menghadapi asisten dan sahabatnya yang sudah pasti sangat kepo kenapa bisa seorang Presdir Gavin Harraz Widjaya dengan entengnya mencium kening Nayuwan begitu saja.
" Besok aja ceritanya, gue ngantuk !" ujar Nayuwan sambil menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya, jujurnya dia sendiri salahtingkah, malu, sekaligus bingung harus cerita apa dan memulainya dari mana. Gina dan Moya hanya bisa berdecak, mendengkus dengan pikiran yang di penuhi berbagai pertanyaan tapi tidak mungkin memaksa Nayuwan bercerita malam ini juga karena memang bukan waktu yang tepat untuk bercurhat ria. Mau tidak mau mereka harus menunda rasa penasaran dan berbagai pertanyaan mereka keep dulu hingga esok hari karena sudah malam, mereka butuh istirahat untuk mendinginkan otak mereka yang serasa mau meledak.
**************
Sarang heo
***************
__ADS_1