
Tanpa disadari siapapun Alea menekan tombol merah yang terletak atas ranjang tempat ayahnya terbaring, alasannya tentu saja untuk agar dokter jaga datang ke kamar rawat ayahnya untuk melerai atau bahkan mengusir para orang tua yang berisik itu. Mereka para orang dewasa benar-benar egois dan seakan tidak tahu sitauasi, mereka malah bertengkar di kondisi kurang tepat, seolah tidak sadar sedang ada di mana dan apa tujuan mereka ke tempat tersebut.
"Yuwan.." seketika seisi ruangan menjadi hening tatkala samar terdengar Raka memanggil nama Nayuwan dengan suara yang lirih dan lemah. Tia berhambur menghampiri ranjang Raka dengan perasaan lega karena suaminya telah siuman yang berarti dia sudah melewati masa kritisnya, meski disaat yang sama dia harus kecewa saat Raka menyebut malah menyebut nama Nayuwan, mantan istrinya. Alea terheran saat mendengar ayahnya mengigau menyebut nama ibunya, kembali tersadar ketika tubuhnya mundur beberapa langkah karena terdorong oleh Tia yang berhambur mendekati ranjang Raka, beruntung dibelakangnya ada Gina hingga Alea tidak sampai terjengkang ke belakang, jika sampai itu terjadi sudah dipastikan Nayuwan akan mengamuk dan mengusir mereka semua dan tak mengizinkan Alea untuk datang menjenguk ayahnya lagi esok hari.
Manik mata Nayuwan berkaca-kaca, darahnya berdesir cepat hingga membuat bulu roma seketika meremang, tubuhnya mendadak terasa dingin sampai telapak tangannya berkeringat dingin. Gavin segera merangkul bahu perempuan yang kini resmi menjadi kekasihnya itu, saat melihat tubuh Nayuwan yang nampak menggigil. Nayuwan menoleh pada Gavin yang berusaha menenangkan kondisinya.
"Ngga apa-apa ada aku" bisik Gavin dan tersenyum lembut kepadanya memberi dorongan pada Nayuwan untuk menghadapi traumanya saat berhadapan langsung dengan Raka.
Kembali Raka memanggil Nayuwan dengan suara lirih, dengan dipapah oleh Gavin, Nayuwan pun mendekati bibir ranjang di mana Raka terbaring lemah. Jelas hatinya terkoyak melihat keadaan Raka yang tak berdaya, sayu mata Nayuwan nampak iba melihat keadaan mantan suaminya yang tergolek lemah dengan selang menancap hampir di seluruh tubuhnya, ditangannya selang infus dan selang darah pun tumpang tindih, kaki kanannya memakai gips karena tulangnya patah hingga harus dilakukan operasi saat itu juga, Nayuwan melangkah dengan ragu untuk lebih mendekati ranjang Raka.
Kembali Gavin tersenyum mengangguk perlahan meyakinkan Nayuwan dan mengusap perlahan lengan perempuan itu agar lebih menguatkan hatinya agar mau mendekat pada lelaki yang memanggil namanya dengan lemah.
"Aku di sini Kak," bisik Nayuwan lembut di telinga Raka. Tepat di saat Raka membuka matanya seorang dokter jaga datang dengan tergesa karena seseorang menekan tombol emergen**cy. Niat hati Alea memanggil dokter jaga itu untuk melerai para orang tua yang heboh sendiri seolah tidak perduli dengan keadaan Raka, tak diduga ayahnya siuman dari pengaruh obat bius pasca dirinya operasi.
Perlahan Raka mulai membuka matanya kemudian dokter Adi ddngan sigap segera melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan, mencatat dan memastikan bahwa organ vital di tubuh Raka berfungsi dengan normal.
"Bagaimana dok keadaan suami saya?" tanya Tia nampa cemas yang sudah berdiri di sampingnya. Adi menatapnya sekilas kemudian tersenyum ramah kepada Tia.
"Al hamduillah semua normal bu, dalam 4-5 hari ke depan, suami ibu sudah bisa di ajak pulang, tapi selama 3 bulan tetap harus kontrol dan terapi untuk kakinya" jelas Adi dengan singkat. Dokter itu kemudian beralih pada Nayuwan, yang sejak tadi terus menggenggam tangan pasieunnya, lebih tepatnya Rakalah yang terus menggenggam tangan Nayuwan, netranya menatap hera pada sosok Gavin di belakang Nayuwan.
"Gavin? Ngapain lo di sini?" Adi berjalan ke arah Gavin begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Adi? Lo kerja di sini?" merekapun saling berjabat dan merangkul khas pria dewasa.
"Ia baru 6 bulan, lo belum jawab, ngapain lo di sini, pasien sodara lo," Adi nampak menasaran.
"Nemenin bini gue jenguk kakaknya" seloroh Gavin dengan sengaja agar Raka tahu jika Nayuwan sekarang adalah miliknya.
"Hah?? Bini?? Gila lo nikah tapi ngga ngundang gue"tapi ujung mata Adi melirik Nayuwan nampak kesulitan saat ingin melepaskan genggaman Raka. Gavin yang peka segera merangkul pinggang Nayuwan hingga membuat perempuan itu terjerembab dalam pelukannya. Raka hanya bisa diam menyaksikan mantan istri dirangkul pria lain.
"Ini.. Ngga, ngga mungkin, kalo kalian nikah ngga mungkin ngga ada yang liput" sanggah Adi, Nayuwan tersenyum simpul lalu menyodorkan tangannya pada Adi.
"Saya baru tunangannya kok dok," ujar Nayuwan menjelaskan.
"Padahal dari artikel gossip yang saya baca, kalian malah dapet julukan Tom and Jery" ledek Adi terkekeh pada Nayuwan.
"Sat set dong, lagian susah nyari perempuan gunung es kaya dia, makanya ada kesempatan langsung tancap gas saingan gue banyak soalnya" ungkap Gavin seakan membanggakan dirinya sendiri karena berhasil mencairkan seorang Nayuwan.
"Ok deh kalo gitu, gue masih ada jam kerja, kapan-kapan kita ngopi-ngopi lah Vin, reuni kecil-kecilan gitu.." ujar Adi menjabat tangan Gavin dan menepuk-nepuk lengannya.
"Gampang, nanti gue atur biar lo juga bisa ketemu sana Haidar, Rendra dan Vito" ujar Gavin sembari merangkul Adi yang kemudian pamit kepada semua orang yang ada di ruang tersebut.
"Hmm sayang, kamu masih di sini?" tanya Gavin kepada Nayuwan setelah perawat terakhir menutup kembali pintu kamar tempat Raka di rawat.
__ADS_1
"Tuan mau pulang? " Nayuwan balik bertanya.
"Agak ngantuk" ujar Gavin manja menyandarkan kepalanya ke bahu Nayuwan.
"Ya udah kita pulang sebentar aku pamit dulu" Gavin kembali menegakan tubuhnya.
"Nad, mau ikut Mommy pulang atau mau di sini dulu?"
"Di sini dulu Nda, tapi nanti tolong kirimin Nadia baju ganti ya, Nadia mau nginep di sini" sahut putrinya menunjukan masih ada kecemasan dari raut wajahnya. Nayuwan mengangguk sembari memeluk putri sulungnya itu.
"Karena Kak Raka seperti sudah terlihat membaik kalo begitu kami pamit dulu ya mah, besok-besok insya allah kita nengok lagi,"Nayuwan berpamitan pada semuanya, hingga ia berdiri tepat di samping Raka.
"Kak, aku pulang dulu ya, kasian Tuan Gavin udah kecapean kayaknya" pamit Nayuwan, namun begitu akan berbalik tangan Nayuwan di jegal oleh Raka hingga langkah Nayuwanpun harus tertahan.
"Yuwan, tolong maafkan aku" ungkap Raka dengan suara lirih. Nayuwan menutup matanya, rahangnya mengeras menahan gejolak dalam bathinnya, sesaat kemudian ia menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik mendekati telinga Raka.
"Sejak aku menyerahkan salinan akta cerai kita, aku sudah memaafkanmu lahir bathin Kak, tapi tolong maafkan aku, luka di masa lalu itu sudah menyebabkan aku jadi orang yang cacat seumur hidupku, dan aku tidak bisa menghilangkan jejak trauma itu. Jadi tolong jangan jadikan kecelakaan ini untuk menjadi jalan kamu mendekati hanya karena tau aku adalah orang yang mudah iba, toh di sisi mu ada istrimu."
*****
sarangheo
__ADS_1
͡° ͜ʖ ͡°
*********