Merpati Hitam

Merpati Hitam
Hadiah untuk Rizal


__ADS_3

Nayuwan kemudian memberi tanda pada Gina untuk mematikan lampu meetingroom kemudian menyalakan proyektor.


"Queen" pekik Gavin yang hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dari layar proyektor. Di sana mereka melihat Rizal sedang berbicara dengn seseorang di sebuah sebuah lorong diantara deretan kontainer. Dari gerak geriknya terlihat jika mereka sedang membicarakan seseuatu yang cukup penting. Dan Pria itu tidak lain tidak bukan adalah Frank wakil ketua klan Tiger.


Rizal terhuyung dikursinya, ia sekarang sudah tidak bisa berkelit lagi dengan bukti rekaman CCTV yang entah dari mana Nayuwaan bisa mendapatkannya hanya dalam waktu kurang dari seminggu sejak Clara mendapatkan perintah untuk membatalkan kontrak kerjasama mereka.


"Awalnya saya hanya mengira ini hanya kasus monopoli KKN biasa yang terjadi dalam sebuah perusahaan. Saya benar-benar tidak menyangka, jika kerjasama Austin dengan Cahaya Gemilang hanya sebuah alibi untuk anda. Sejujurnya jika saja putri anda tidak tiba-tiba menyerang saya dengan menyiramkan sisa minuman orang kepada saya di caffe tempo hari itu saya juga tidak akan mendapat bukti sebanyak ini. Jika anda bertanya apa hubungannya perusahaan dengan putri anda itu apesnya dia menyerang saya kebetulan ketika saya sedang bersama Faldo yang kalau tidak salah saya ingat anak itu masih berkerabat dengan anda" ucap Nayuwan sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kedua lengannya berasa dilengan kursi terlihat santai namun aura menyeramkan dari dirinya malah makin terasa.


"Dan secara kebetulan jug waktu saya sedang melakukan web video call dengan teman lama saya dari Hongkong, melihata hal itu tentu ia sangat marah karena melihat temannya diperlalukan dengan tidak hormat di area ruang publik" suasana makin hening kecuali suara Nayuwan sedang yang lain hanya menyimak tanpa ada yang berani menyela. Ekor mata Clara melirik Rizal dengan tatap yang tidak kalah menghujam, berkali-kali ia membuang nafasnya dengan tampang gusar sekaligus kesal karena benar-benar merasa ditusuk dari belakang oleh Rizal.


"Saya juga bukan orang yang suka mencampur aduk masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Tapi sayangnya teman saya itu tidak bisa mentolerir perbuatan putri anda itu. Tapi karena saya kenal betul tabiat teman saya itu akhirnya saya ya... meminta bantuan padanya untuk menyelidiki anda sedetail mungkin." Nayuwan menarik nafasnya agak lama kemudian menghembuskan seolah sedang melepas beban sedikit demi sedikit. Kelegaan untuk dirinya, namun terasa makin menghimpit rongga dad* Rizal dan Terresia.


"Dan !!! Boom !! Saya seolah mendapat jakpot berkali-kali. Karena selain saya mendapatkan data terperinci mengenai tindak KKN saya juga mendapat bukti otentik keterlibatan anda dengan mafia untuk penyelundupan narkob* Metamfetamina atau sab*-sab* dari luar ke dalam negeri. Jika saya bisa menebak sepertinya kegiatan itu baru terjadi setelah Cahaya Gemilang saya ambil alih.." kalimat Nayuwan terjeda karena ponselnya berdengung, sebuah pesan masuk ke ponsel. Lagi sebuah seringai mengulas di sudut bibirnya, dan setiap kali Nayuwan melakukan hal itu, tekanan dalam diri mereka makin mereka rasakan. Nayuwan kembali memberi tanda pada Gina untuk menyalakan kembali lampu meetingroom.


"Maaf terjeda, barusan teman saya dari Hongkong mengabari jika mereka baru saja tiba di lobi kantor. Gin, tolong jemput mereka ke lobi, hmmm boleh abang Satria temani Gina, soalnya kalo Gina yang turun sendiri takutnya malah Gina nanti dengan senang hati mau diculik sama mereka" gurau Nayuwan kemudian terkekeh begitu melihat reaksi kikuk seorang Satria. 11-12 dengan atasannya yang mirip kanebo kering. Gina dan Satria segera keluar setelah pamit dengan takzim.


"Hmm untuk nona Terresia sebenarnya saya sudah memimta Tuan Gavin untuk menyelesaikan masalah diantara kalian berdua, namun ternyata perbuatan anda dan ayah membuat saya tidak bisa membuat saya menunggu lagi ahar tuan Gavin yang menghandlenya sendiri. Dalam hal ini saya akui, saya agak emosional. Dan harusnya anda bisa menyadari satu hal. Anda berhak memilik untuk mencintai siapapun, tapi perihal jodoh Tuhanlah yang sudah menggariskan, dan anda tidak bisa memaksakan hal itu. Yang alami seperti saya dan Tuan Gavin saja belum tentu mulus apalagi anda yang berusaha untuk memaksakannya. Padahal anda itu cantik,seksi, menawan sayangnya obsez anda kurang tepat " Nayuwan kemudian beranjak dari tempat duduk lantas berjalan menuju pintu.


"Oiya lupa,,Pak Rizal kata teman saya katanya ia punya hadiah untuk anda" pintu pun di buka oleh Nayuwan, di sana ternyata sudah berdiri beberapa orang pria bertubuh tegap dengan wajah tegas serta sorot mata yang tajam kemudian serempak membungkuk memberi penghormatan pada Nayuwan yang membuka pintu. Membuat semua orang tercengang, mereka berdiri kompak berdiri dengan perasaan masih terkesiap melihat pemandangan tak lazim ini. Belum hilang keterkejutan mereka dengan kehadiran orang-orang berpakaian serba hitam, kembali netra mereka dibuat menganga sekaligus terbelalak begitu melihat sosok Feng Ying atau lebih di kenal dengan nama Yardies. Hampir semua orang tahu kecuali Clara dan Terresia, Yardies atau Feng Ying adalah merupakan ketua mafia Black Fox. Kalangan elitpun tahu persis bagaimana kekuatan, kebengisan, serta kekejaman Black Fox di dunia Mafia, bahkan ada yang menyetarakannya dengn Yakuza Jepang.


Terlihat wajahnya tampan namun kaku dan dingin, auranya berkharimatik sekaligus menyeramkan. Tatapannya tak kalah tajam seolah manik matanya bisa membunuh siapapun dengan kilatan matanya. Benar-benar gambaran sosok boss mafia yang tampan, kaku dan pastinya berdarah dingin saat membun*h seseorang yang menjadi musuhnya.


"Ren, gue penasaran si Gavin mentalnya aman ngga nih?" bisik Haidar begitu melihat sosok Feng Ying secara langsung.

__ADS_1


"Masih aman kayanya, malah kayanya mulai kecium bau bakar hati, liat aja tampangnya udah kagak bisa dikondisikan begitu" sahut Rendra


"Ngga nyangka gue, kalo si Nayuwan kenalannya bisa sampe sedark itu. Pantesan pas dari awal ketemu beberapa tahun lalu, uaranya berasa beda ternyata emang banyak kejutannya dia." Vito ikut menyahuti, mereka bergossip tanpa memikirkan orang yang barada di samping Nayuwan seakan sedang memasang kuda-kuda untuk bertarung.


"Funying Keukeu" sambut Nayuwan sedikit membungkuk pada Feng Ying.


"Leii. iisshh.." hardik Feng Ying, Nayuwan hanya tersenyum.


"Keukeu bawa yang aku minta?" tanya Nayuwan dengan gaya seperti seorang adik meminta hadiah pada kakak lelakinya.


"Tentu saja, tunggu sebentar aku panggil dulu Liam kemari" ucap Feng Ying sembari menepuk nepuk pucuk kepala Nayuwan yang terbalut hijab.


"Liaam bawa kemari hadiah untuk adik ku" ujar Feng Ying sedikit berteriak memanggil tangan kanannya untuk segera membawakan apa yang diinginkan adik angkatnya itu.


"Itu yang yang berdiri di dekat kursi utama" tunjuk Nayuwan.


"Nah lho Vin, kelar hidup lu sekarang, lu ada titip wasiat ngga entar gue sampein sama om dan tante" goda Vita begitu melihat Nayuwan menunjuk ke arahnya.


"Sial*n, emang kampret lu pada yeeh"


"Vin bukan apa-apa, mereka mafia beneran anjir" sahut Rendra


" Bukan preman pasar minggu" timpal Haidar.

__ADS_1


"Terus kalo mereka mafia imporan emang kenapa?" ucap Gavin ketus.


Nayuwan dan Feng Ying lantas menghampiri mereka semua. Lalu dengan ramah Feng Ying berjabat tangan dengan mereka satu persatu. Kemudian berhenti di Gavin.


"Hallo tuan Gavin senang bertemu anda kembali" dan sekali lagi semua orang dibuat melongo cengo begitupun dengan Nayuwan yang ikut heran ternyata Gavin dan Feng Ying sudah saling mengenal.


"Keukeu? Keukeu kenal Tuan Gavin?" Nayuwan menautkan alis serta mengerucutkan bibirnya hingga hanya terlihat garis.bibirnya.


"Tentu saja kami kenal, jangan lupa calon suamimu


ini presdir sebuah perusahaan besar, yang terkadang terpaksa harus bergesekan dengan para preman ini, justru aku yang heran kenapa kamu bisa akrab dengan mafia ini ?"


"Bro, preman ini sudah jadi ketua mafia sekarang" ucap Feng Ying berlagak tengil, seolah meremehkan Gavin.


"Ketua mafia ? Mafia perempuan maksudnya?" sahut Gavin seolah meremehkan Feng Ying.


"Hmm boleh juga, bagaimana kalau aku jadikan Nayuwan sebagai wanita ku saja, bukan menjadi adik ku?" tantang Feng Ying.


"Coba saja kalau berani!!?" ucap Gavin maju selangkah seraya mendongak sedikit menerima tantangan Feng Ying.


*******


sarangheo..

__ADS_1


__ADS_2