
Dari sekian banyak rencana yang sudah Nayuwan siapkan untuk menghadapi keluarga Mahendra akhirnya Nayuwan memilih untuk membantu mereka memutuskan mata rantai perjanjian gaib dengan makhluk itu. Meski ia sendiri sempat ragu jika keluarga Mahendra akan mau dia bantu dengan caranya sendiri. Namun di sisi lain iapun tak bisa membiarkan Gavin dan yang lainnya terlalu masuk ke dalam masalah ini, terutama Moya, gadis itu bisa menjadi sasaran empuk para makhluk tak kasat mata itu, meski Nayuwan sudah mengajari mereka bahkan menyuruh Haidar berpuasa untuk berjaga-jaga jika rencanya kali ini gagal.
"Apa Anda masih akan membiarkan keponakan anda seolah mati suri Paman Gusman?!" tanya Nayuwan tiba-tiba membuat keluarga Mahendra hening seketika yang kemudian beralih menatap ke arah Gusma yang diam menatap piring yang terisikan steak yang sama sekali belum ia sentuh sejak tadi, Gusman diam seolah patung. Namun di sisi lain dirinya pun sedang dilema. Ia takut jika ia melawan kehendak makhluk yang selama ini ia sembah selama kurun waktu 3 generasi secara turun temurun, meski hati nuraninya sendiri sudah jengah dengan segala ritual yang sudah dilakukan selama ini. Lama pria tiga perempat abad itu berkutat dengan pemikirannya sendiri. Ia pun menghela nafas pasrah.
"Jika kau bisa melindungi keluarga ku, dan membebaskan kami dari jerat makhluk terkutuk itu, aku akan menuruti apapun yang kau perintahkan padaku" ungkap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Gina, berikan padanya" seru Nayuwan sembari duduk kembali dengan tenang. Segera Gina pun mengambil 2 gulungan seperti kain berwarna gading dengan tulisan bertinta emas. Gusman yang melihatnya terperanjat begitu melihat gulungan tersebut.
"Diajeng ini ..?" lidah Gusman terasa kelu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Benar itu adalah gulungan perjanjian yang dibuat kakek anda di masa lalu. Dan yang satu lagi adalah perjanjian yang akan anda lakukan dengan saya."bjelas Nayuwan sembari kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Begitupun dengan Gavin, Gina dan Satria.
"Lalu bagaimana dengan suami saya Diajeng, kenapa dia bisa seperti ini?" ratap istri Mahendra.
"Suami anda baik-baik saja, tapi jika dibiarkan mati suri terlalu lama di dunia paralel ini maka saya tidak akan bisa menjamin dia akan hidup kembali setelah kita kembali ke dunia manusia nanti" terang Nayuwan menakut-nakuti keluarga Mahendra, ia sengaja melakukan hal itu agar Gusman mau menyerahkan roh Mahendra yang ia simpan. Gavin menghentikan kegiatan makan malamnya begitu mendengar penuturan Nayuwan, begitupun Satria juga Gina, baru kali ini mereka benar-benar merasakan aura Nayuwan yang begitu berbeda, seolah-olah Nayuwan adalah seseorang terbiasa membunuh tanpa menyentuh, auranya begitu dingin dan lebih mengerikan.
Meski mereka sudah mulai terbiasa dengan vibes horor seperti ini namun tetap saja sebagai orang yang awam dengan hal gaib tentu memberikan mereka sensasi yang cukup membuat mereka sulit menelan saliva mereka. Dalam benak Gavin dan Satria, jelas mereka mengatakan mereka lebih memilih berurusan dengan para mafia, gengster atau semacamnya. Itu lebih mudah mereka hadapi, karena jelas mereka akan menggunakan kontak fisik, entah itu dengan senjata, otot, adu strategi, atau perang digital. Tapi melahan hal gaib semacam ini jelas mereka hanya bisa mengandalkan perlindungan Tuhan dan siasat yang dilakukan Nayuwan.
__ADS_1
Gusman kembali menghela nafas pasrah, lantas ia merogoh sesuatu dari balik jas hitamnya. Ia mengeluarkan seperti kotak yang dililit kain putih atau lebih tepatnya kain kafan serta untaian melati kering yang membelitnya. "Sreeeeetttt" perlahan Gusman mendorong kursinya lantas mendekat pada tubuh Mahendra yang mulai terlihat makin memucat.
"Tuan, dan kamu Satria bantu paman Gusman membaringkan tubuh Mahendra di sana" seru Nayuwan seraya memberi isyarat kepada Gavin dan Satria kemana Mahendra harus dibaringkan. Gavin dan Satria segera menghampiri tubuh Mahendra yang memang terlihat seperti sudah mati. Tanpa menunggu perintah lagi mereka di bantu ayah Mahendra membopong tubuh Mahendra di tempat dimana mereka pernah berkumpul sebelumnya.
Setelah tubuh Mahendra dibaringkan di atas karpet, lantas Gusman duduk bersila di samping kepalanya. Ia nampak merahpalkan sebuah doa, lalu membuka kotak yang dililit kain tadi seraya menyentuh puncak kepala Mahendra. Seluruh anggota keluarga Mahendra ikut duduk bersila di dekat tubuh Mahendra yang tengah didoai Gusman.
Sedang Nayuwan nampak seperti acuh melanjutkan sesi makan malamnya.
"Queen kau baik-baik saja?" bisik Gavin karena setelah ia menyadari air muka Nayuwan sedikit lebih pucat.
"Mas, kamu sudah sadar Mas? " terdengar istri Mahendra masih mengisak saat memanggil nama suaminya. Segera ayah dan paman Mahendra membantunya bangun untuk duduk. Lantas netranya mengedar ke seluruh sudut ruangan tempat itu, asing tapi terasa hangat dan nyaman.
"Ekhem" suara deheman dari Nayuwan memecah keheningan sekaligus membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Nayuwan? Presdir Gavin?" Mahendra baru menyadari dua sosok yang makin akrab dipenglihatannya belakangan ini setelah perisriwa tempo hari. Nayuwan lantas beranjak dari tempat duduk berjalan menuju keluarga Mahendra tengah bersila.
"Minumlah, ini akan membuat anda lebih segar dan mengembalikan energi anda lebih cepat, tapi jangan lupa baca bismillah dulu" ujar Nayuwan tersenyum ramah sembari menyodorkan segelas air putih pada Mahendra yang terlihat masih bingung dengan situasi dan tempat ia berada sekarang. Ia melirik takut-takut pada Gusman sebelum menerima gelas berisi air itu. Gusman hanya mengangguk kecil menandakan tidak apa-apa jika ia mengambil air itu. Dan benar saja, saat ia meminum air itu, tubuhnya terasa lebih hangat, darahnya seolah mengalir lebih cepat, dan kakinya sudah tidak terasa sakit lagi, bahkan ia merasa kakinya sudah bisa digerakan dengan bebas.
__ADS_1
"Bisa jelaskan sesuatu pada saya?" tanya Mahendra dengan polos, namun ekspresi semacam itu terlihat sangat menyebalkan dari sudut ekor mata seorang Gavin.
"Ah tentu saja. Biar saya jelaskan sedikit ini adalah dunia paralel, letaknya ada di antara dua manusia dan dunia uka-uka" seloroh Nayuwan untuk sedikit mencairkan suasana.
"Karena ini adalah kawasan saya jadi makhluk itu tidak bisa masuk ke sini tanpa izin saya." jelas Nayuwan, ekor matanya melirik sekilas pada Gusman yang mungkin mencoba berkomunikasi dengan makhluk itu.
"Apapun yang anda usahakan itu akan percuma saja paman, saat ini Yusuf pasti tengah bermain-main dengan kaum ifrit itu" sindir Nayuwan sembari bersedekap, menegakan punggungnya seoalah ia ingin memberi tahu pada Gusman jika makhluk itu tidak akan bisa melawan dirinya yang memang di beri semacam anugrah dengan rusaknya cakra dalam dirinya. Namun menyebabkan ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang-orang pada umumnya.
********
Nayuwan Gava Pramesty
sarangheo
*************
__ADS_1